
Acara eksekusi terus berjalan, semakin lama hukuman para dewa yang melakukan kesalahan semakin banyak. Walaupun aku tidak tega tapi aku berusaha untuk biasa saja dan mengikuti kegiatan sampai selesai
"Baiklah, cukup sampai disini kegiatan eksekusi kali ini. Masih ada banyak dewa yang akan mendapatkan hukuman yang akan dilakukan beberapa hari lagi" ucap dewa alam baka keras
"Para dewa bisa meninggalkan alam baka ini" gumam dewa alam baka merenggangkan tubuhnya
"Huuhh capeknya" desah salah satu dewa
"Ya benar capek banget"
"Main kuy!"
"Kuy ah!!" teriak beberapa dewa pergi dari alam baka
"Sayang hayuk" gumam Han menatapku
"Emang kita mau kemana?"
"Ke suatu tempat"
"Suatu tempat? Kamu mau menghukumku ya?"
"Tidak, hanya mengajakmu ke suatu tempat" gumam Han memegang tanganku
"Hmmm baiklah" desahku dan Han mengajakku di atas gunung yang sangat indah
"Ini dimana?" tanyaku terkejut
"Ini ada di surga"
"Surga? Kenapa kamu mengajakmu kemari?"
"Kan aku dulu pernah bilang kepadamu kan untuk mengajakmu kemari"
"Oh ya aku lupa" desahku terduduk di tanah
"Jangan duduk disitu nanti pakaianmu kotor"
"Tidak apa, tempat ini sangat indah Han"
"Hmmm ya begitulah"
"Kita kesini untuk apa?"
"Aku mau memberikanmu sesuatu, berdirilah di depanku"
"Di sini?" gumamku berdiri di depan Han
"Ya, berbaliklah menghadap ke depanku" gumam Han memegang bahuku
"Udah nih" gumamku menatap wajah Han yang tampan di depanku.
Han menggerakkan bibirnya sambil memejamkan matanya, tidak lama kemudian dia membuka matanya dan menatapku serius
"Kamu baru ngapain?" tanyaku penasaran
"Baru memberikan setengah kekuatanku buat anak kita"
"Oh benarkah?" gumamku menatap perutku
"Ya jadi anak pertama kita bisa menjadi penerusku sebagai dewa agung"
"Oh mmm emang dewa mengandung berapa bulan?"
"Sebenarnya beratus tahun cuma kamu masih ada darah manusia jadi kamu hanya mengandung sembilan bulan sama kayak manusia"
"Heeh beratus tahun? Mana bisa kayak gitu?" tanyaku terkejut
"Ya emang seperti itu, biasanya dewa harus bertapa dulu. Kalau kamu tidak perlu"
"Tapi dewa kesialan itu?"
"Hei dia sudah mengandung saat kamu masih bertapa tahu!!"
"Oh hmmm" desahku pelan
"Ada apa sayang? Kamu takut?"
"Ya, aku masih belum siap jadi ibu" desahku kembali terduduk di tanah
"Tidak apa sayang, nanti kita belajar menjadi orang tua ya" gumam Han mengelus rambutku dan aku hanya menganggukkan kepalaku
"Hmmm aku lebih suka kamu yang imut dan polos seperti ini dari pada dingin dan kejam" desah Han pelan
"Bukannya seharusnya permaisuri dewa agung seperti itu ya?" gumamku pelan
"Tidak, aku malah tidak suka wanita seperti itu"
"Kenapa?"
"Tidak tahu, hanya tidak suka saja. Aku lebih suka wanita yang seperti ini"
"Hmmm... Padahal aku aslinya dingin dan kejam tahu..."
"Ya aku tahu, cuma kan kalau denganku kamu imut dan lugu seperti ini jadi aku suka. Dari pada kaisar langit yang terus diperbudak istrinya"
"Di perbudak istrinya?"
"Ya kamu tidak lihat dia sangat membela istrinya bahkan di marahin terus sama istrinya"
"Hmmm ya, aku kasihan dengan dia"
"Ya seharusnya dewa kesialan itu tidak boleh menikah, kalau dia menikah apalagi menikah dengan kaisar langit pasti sombong yang ada"
"Apa Sony akan terus seperti itu?"
"Tidak, suatu saat dia akan membunuh dewa kesialan itu"
"Mem... Membunuh? Kenapa?"
"Ya laki - laki mana tahan dengan semua itu
Kalau tidak anaknya yang akan membunuh ibunya sendiri"
__ADS_1
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Ya itu takdir dewa kesialan, bukan hanya tugasnya untuk membuat tiga alam mengalami kesialan tapi dirinya sendiri juga akan mengalami kesialan kalau sampai menikah"
"Kalau begitu dia seharusnya tidak menikah?"
"Ya benar, ada beberapa dewa yang tidak boleh menikah"
"Siapa saja?"
"Banyak lah pokoknya, aku lupa siapa saja"
"Hmmm lalu kalau dewa kesialan mati, kaisar langit akan mengincar siapa?"
"Mengincar kamulah"
"Aku?"
"Ya, dia masih mencintaimu. Apa kamu tidak mengerti kalau dia sering menatapmu"
"Hmmm tapi aku sudah menikah denganmu"
"Dia tidak akan peduli, kalau kamu punya rasa dengan dia pasti kamu akan..."
"Tidak, aku tidak akan berselingkuh sayang. Ikatan janjiku denganmu kalau aku hanya ingin menikah denganmu saja udah itu aja"
"Ya tapi kalau masih cinta janji bisa diingkari ..."
"Aku tidak akan melakukan itu Han, kalau aku sampai berpaling darimu. Bunuh aku"
"Apa kamu yakin?"
"Ya kalau aku lenyap kamu juga ikut lenyap kan? Jadi tidak ada yang merebut kamu atau aku"
"Hmmm dasar..." desah Han mendekatkan wajahnya lebih dekat
"Aku tidak akan membunuhmu, kamu istriku tahu!!" gumam Han mencubit pipiku
"Aau sakitlah.." rintihku mengusap pipiku
"Apa kamu mengerti?"
"Ya dewa agung aku mengerti"
"Walaupun kaisar langit dan raja kegelapan tidak bisa di lenyapkan, aku tidak akan membiarkan istriku direbut dariku"
"Mereka gak bisa lenyap?"
"Ya enam dewa tertinggi tidak bisa dilenyapkan, kecuali dewa kehancuran"
"Jadi kamu juga tidak bisa melenyapkan aku?"
"Ya, kamu hanya bisa mati saja bukan lenyap"
"Jadi aku bisa saja lenyap atau inkarnasi?"
"Betul sekali, tapi walaupun inkarnasi bisa saja akan menjadi dewa penyeimbang lagi seperti takdirmu atau akan menjadi manusia biasa selamanya"
"Oh... Mmm apa kamu juga bisa lenyap atau mati?"
"Tapi tentang ikatan janji yang aku ucapkan?"
"Itu ada dua kemungkinan, bisa terjadi atau bahkan sama sekali tidak terjadi. Kalaupun aku punya anak dan dewa agung di wariskan ke anakku dia juga ada dua kemungkinan, dia akan kekal atau sama seperti dewa lainnya"
"Emang kamu gak bosen apa hidup mulu?"
"Kamu kira? Aku juga bosan tahu"
"Apa tidak ada agar kamu lenyap?"
"Kamu ingin aku lenyap?" protes Han kesal
"Tidaklah, kamu suamiku... Aku hanya ingin tahu saja" gumamku pelan
"Hmmm... Aku bisa saja lenyap atau mati kalau kamu membunuhku"
"Apa? Kenapa kalau aku?"
"Ya setengah kekuatanmu adalah kekuatanku apalagi kamu sekarang lebih kuat dari aku, kalau kamu membunuhku dan aku akan mati"
"Dulu aku hampir terbunuh oleh dewa penyeimbang tapi untungnya dewa kehancuran membunuhnya terlebih dulu"
"Kenapa bisa?"
"Ya hasutan kaisar langit"
"Oh... Mmm Membunuhmu? Seperti ini?" gumamku menyentuh dada Han
"Hei kamu mau membunuhku beneran?" protes Han kesal
"Aku hanya menyentuhmu saja bahkan tanpa kekuatan" gumamku pelan
"Hmmm dasar kamu ya, dulu aku hampir terbunuh seperti yang kamu lakukan barusan tahu!!" desah Han mencubit pipiku
"Oh ya? Padahal gitu itu aja" desahku pelan
"Ya aku ada beberapa titik kelemahan, kalau sampai ada yang melukaiku di titik itu aku akan mati"
"Dimana saja?"
"Di dada, leher, dan dahi..." gumam Han menunjukkan kepadaku
"Oh hmmm..."
"Aku sudah memberitahukan kelemahanku kepadamu, kalau kamu ingin membunuhku pasti akan lebih mudah"
"Hmmm dasar bodoh, aku tidak akan melakukan itu tahu. Kamu suamiku" gumamku mencubit pipi Han
"Cubitanmu sakit tahu!!" gerutu Han tersenyum manis
"Sakit tapi kamu masih bisa tersenyum ya" desahku
"Ya bersamamu membuatku terus tersenyum"
__ADS_1
"Hmmm..." desahku tersenyum kearah Han
"Han hari ini tidak ke kampus?"
"Kamu mau ke kampus?"
"Ya begitulah, oh ya kenapa dewa tidak lulus dari kelas itu sih selama berabad - abad?" gerutuku kesal
"Ada batasan waktu tersendiri di setiap dewa"
"Oh benarkah? Kalau aku sampai kapan?"
"Masih lama. Kamu, Candra, Nana, Sony, Steven akan lulus bersama"
"Steven? Bukannya dia kepala kampusnya?"
"Dia masih vampir jadi dia ikut kelas malam"
"Oh ya kelas malam, aku baru ingat" desahku pelan
"Jadi kepala kampus aslinya siapa?"
"Aku... Cuma aku tugaskan Steven untuk menggantikanku, kalau mereka tahu aku kepalanya pasti langsung ketakutan" gumam Han mengangkat bahunya
"Hmmm ya kamu menakutkan sih, kamu mengajar saja mereka takut untuk menggerakkan tubuhnya" ejekku
"Dasar ya malah mengejek suami sendiri" desah Han menggelengkan kepalanya
"Aku hanya bercanda sayang..." gumamku pelan tapi dengan tiba-tiba aku mual yang membuat Han terkejut.
Hhuuueekkk
Tiba - tiba perutku terasa tidak enak dan aku terus saja mual - mual yang membuat tubuhku lemas
"Kamu tidak apa - apa sayang?" tanya Han khawatir
"Ti... Tidak, cuma rasanya aku mual terus" gumamku pelan
"Hmmmm sayang kamu harus menjaga kesehatanmu tahu, kamu sudah mengandung anak kita. Makan makanan manusia yang bergizi tahu, gak boleh diet!!"
"Aku gak diet lah"
"Kamu makan sangat sedikit tahu malah sehari kamu hanya makan eskrim saja"
"Eskrim sangat menggoda" gumamku pelan
"Gak boleh, gak boleh makan makanan siap saji"
"Ya deh sayang, tapi makanan lain boleh?"
"Enggak.. Kamu harus makan makanan yang bergizi, gak boleh asal makan"
"Hmmm baik - baik sayang"
"Kamu sementara ini tinggal di kerajaanku saja sampai anak kita lahir agar aku bisa menjagamu. Kamu gak boleh keluyuran, gak boleh tidur larut, gak boleh kecapekan, gak boleh ketemu orang lain dulu, dan kemanapun harus denganku..."
"Eehh banyak banget gak bolehnya!!" protesku terkejut
"Ya lah, aku harus menjagamu dan anak kita. Aku gak mau kamu atau anak kita terluka"
"Hmmm aku bisa menjaga diriku sendiri tahu"
"Tidak bisa, kalau kamu hamil secara otomatis kekuatanmu juga ikut melemah jadi kamu tidak bisa menjaga dirimu sendiri"
"Oh hmmm baiklah aku akan menurutimu sayang" desahku pelan
"Nah gitu jadilah istri penurut" gumam Han mengacak rambutku
"Baiklah, kita kembali ke kerajaanku" gumam Han menggandeng tanganku dan kami berpindah ke kerajaan dewa agung
"Baiklah kamu istirahatlah, aku ada sedikit urusan" gumam Han berjalan meninggalkanku
"Tunggu..." gumamku menggenggam erat tangan Han
"Temani aku..."
"Hmmm baiklah, aku akan menemanimu" gumam Han terduduk di sebelahku
"Bryan..." teriak Han dan datanglah laki - laki di depan Han
"Bawakan aku makanan dan obat mual untuk istriku"
"Baik dewa agung" gumam Bryan menghilang
"Aku gak mau makan"
"Kamu harus makan tahu, kamu belum makan"
"Tapi..."
"Kamu harus makan!!!" protes Han menatapku dingin
"Baik - baik, tatapanmu lebih menakutkan dari pada dewa lainnya saat memarahiku" gerutuku kesal
"Ini makanan dan obatnya dewa agung" gumam Bryan membawa beberapa piring dan obat di atas nampan
"Baiklah terimakasih, kamu boleh pergi" gumam Han dan Bryan pergi
"Nah duduklah sayang" gumam Han pelan, aku terduduk di samping Han dan Han langsung menyuapiku
"Makan yang banyak tahu"
"Ya aku tahulah" desahku pelan
"Hmmm..." desah Han tersenyum sambil terus menyuapiku makanan itu sampai habis
"Ini diminum obatnya" gumam Han memberikanku obat dan aku meminumnya
"Ya sudah tidurlah sayang" gumam Han meletakkan nampan itu di atas meja
"Temani aku..."
"Ya aku akan menemanimu sayang" gumam Han berbaring di sebelahku sambil mengelus rambutku dengan lembut
__ADS_1
"Han terimakasih" gumamku memejamkan mataku
"Tidak masalah sayang" desah Han pelan dan aku tertidur pulas di sebelah Han