
Aku segera keluar dari ruang penjara itu dan pergi menemui Lan yang sedang berdiri menungguku di tangga, Lan menatapku senang mungkin karena perkataan Han yang memberikan kebebasan kepada kaum terkutuk suatu hari nanti. Lan memegang tanganku dan menatapku senang
"Dewa terimakasih, keinginanku untuk bertemu dewa agung akhirnya terwujud"
"Ya tidak masalah, kalau untuk keinginanmu satunya tunggu saja Han dan aku menyelesaikan tugas kami ya" desahku tersenyum ramah
"Baik dewa..."
"Oh ya Lan... Mmm bisa tidak kamu membantuku dan temanku keluar dari lembah kematian itu?"
"Baiklah saya antarkan dewa"
"Tunggu... Kita ke tempat teman - temanku dulu" gumamku pelan
"Oh mmm baiklah" desah Lan menjentikan jarinya dan kami berdua keluar dari wilayah kerajaan kaum terkutuk
"Sani kamu kemana aja?" tanya Candra khawatir
"Oh... Mmm aku baru dari wilayah kerajaan kaum terkutuk"
"Kaum terkutuk?" teriak Huan terkejut
"Ya, ini dia ada disini kok yang mulia raja" gumamku menunjuk Lan
"Disini? Dimana?" tanya Huan bingung
"Disini loh, disamping aku"
"Dewa mereka tidak bisa melihat saya" gumam Lan pelan
"Oh mmm pantas saja, ya sudah deh yang mulia tolong tunjukkan kami jalan" gumamku pelan
"Baik dewa" gumam Lan melangkahkan kakinya mendahuluiku
"Hei kalian ayo..." gumamku berjalan mengikuti Lan
Tiba - tiba Huan memegang tanganku erat, aku menatap Huan dengan tatapan bingung tapi aku hanya terdiam, genggamannya sangat erat bahkan selama kami berjalan Huan sama sekali tidak melepaskan genggaman dan sesekali tersenyum pelan
"Eee... Mmm yang mulia raja" desahku pelan
"Ada apa?"
"Kenapa yang mulia raja... Menggenggam tanganku?" gumamku pelan
"Tidak ada apapun" gumam Huan pelan, setelah kami berjalan dengan waktu yang panjang, akhirnya kami sampai di ujung lembah kematian itu
"Kita sudah sampai dewa" gumam Lan berhenti di depanku
"Oh benarkah? Makasih ya"
"Ya dewa, jangan lupa ingetin dewa agung untuk menepati janjinya" gumam Lan pergi menghilang
"Oke baiklah" desahku pelan
"Eeh kita benar - benar di ujung jalan ya" gumam Steven terkejut
"Ya sepertinya" gumamku pelan
"Setelah ikut survival disini kita boleh pulang kan?"
"Ya, tapi besok disuruh kumpul lagi katanya" gumam Huan membuka gulungan yang ada di tangannya
"Oh baguslah, aku ingin pulang dan beristirahat" gumam Candra pergi menghilang
"Aku juga ingin istirahat" gumamku pelan
"Baiklah, mari kita pulang" gumam Huan menjentikkan tangannya dan berjalan masuk ke kerajaan vampir
"Aku istirahat dulu Sani dan yang mulia raja" desah steven menguap, aku menatap tangan Huan yang masih menggenggam erat tanganku
"Mmmm yang mulia raja, saya ingin istirahat"
"Aku antar" gumam Huan menarik tanganku masuk ke dalam kamarku
"Terimakasih yang mulia raja" desahku membalikkan badanku
Tiba - tiba Huan memelukku erat yang membuatku terkejut
"Ee... Mmm ya.. Yang mulia raja" gumamku pelan
"Huuuussttt.."
"Apa yang anda inginkan?"
"Aku hanya ingin memelukmu dan gak lebih"
"Kenapa ingin memelukku?"
"Ya karena kamu milikku" bisik Huan pelan
"Milik yang mulia raja? Apa yang anda maksud?" tanyaku terkejut
"Ya kamu milikku, kamu istriku"
__ADS_1
"Sa... Saya Sani yang mulia raja bukan Sunny!!"
"Aku tidak peduli Sunny, aku mencintaimu Sani"
"Ke.. Kenapa dia istri anda?"
"Bagiku Sunny sudah lama mati dan di depanku saat ini adalah Sani... Istriku yang aku cintai" bisik Huan pelan
"Tidak bisa seperti itu... Uuukkkhhhh" rintihku kesakitan saat Huan menggigit leherku dengan taringnya dari belakang
"Kamu milikku dan selamanya akan menjadi milikku, tidak akan pernah tergantikan" desah Huan mengangkat daguku tinggi yang membuat gigitan Huan terasa sangat sakit
"Sa... Sakit yang mulia..." rintihku pelan
"Aku haus Sani, aku ingin darahmu" desah Huan pelan
"Uuukkkhhh!!!" teriakku kesakitan saat Huan menggigit leherku lebih dalam lagi
"Darahmu sangat segar Sani" desah Huan terus menghisap darahku
"A... Apa yang anda inginkan yang mulia?" gumamku pelan, Huan melepaskan gigitannya dan memutar badanku. Huan menatapku dengan serius tanpa berkedip
"Aku hanya ingin kamu Sani, hanya menginginkanmu" desah Huan mencium bibirku lembut, pelukannya Huan membuatku tidak bisa melepaskan diriku dari pelukan Huan
"Aku hanya menginginkanmu selamanya Sani..." desah Huan kembali mengigit leherku
"Uuuukkkhhhh Sa... Sakit Huan!!!" teriakku kencang tapi Huan hanya memelukku erat
"Nanti aku kehabisan darah Huan" desahku pelan
"Tidak akan, kamu vampir jadi darahmu tidak akan benar - benar habis istriku" desah Huan terus menghisap darahku
"Kenapa kamu tiba - tiba ingin menghisap darahku?" gumamku pelan
"Yaah aku berterimakasih kepadamu kamu mau menolongku dan kamu mau menyembuhkanku kalau kamu tidak melakukannya pasti aku akan mati"
"Aku hanya..."
"Tidak perlu kamu jelasin istriku. Kamu sudah membuatku jatuh hati kepadamu jadi kamu akan menjadi istriku sampai kapanpun" desah Huan menyibakkan rambutku ke belakang
"A.. Apa? A... Aku... Uuukkkhhhh" rintihku kesakitan saat Huan kembali menggigit di leher belakangku
"Udah jangan protes istriku. Jadilah istri penurut untukku" bisik Huan membungkam bibirku dengan tangan kanannya
"Mmmmmmmmmmm!!!" aku berusaha berteriak tapi bungkaman tangan Huan membuatku tidak berdaya. Huan terus menghisap darahku sampai aku lemas. Huan melepaskan gigitannya dan tubuhku terasa sangat lemas. Huan menggendong tubuhku dan membaringkan tubuhku ke tempat tidur
"Terimakasih ya istriku" desah Huan menciumku
"Ya, kamu istriku mulai saat ini, aku tidak ingin kamu di rebut oleh Tio lagi apapun yang terjadi"
"Emang kamu tidak mencintai Sunny?"
"Ya aku mencintainya, tapi itu dulu. Sunny sangat berbeda denganmu, walaupun sedikit aneh bertemu dengan seorang vampir yang lembut tapi lama kelamaan aku bisa menikmati dan menerimanya bahkan aku jatuh hati denganmu..."
"Ta...Tapi kan!!"
"Huussttt gak ada tapi - tapi. Apapun keinginanku harus aku dapatkan, Tio juga menginginkanmu jadi aku tidak ingin milikku di ambil oleh Tio lagi"
"Kalau suatu hari nanti aku mati terbunuh lagi bagaimana?" gumamku pelan
"Aku akan membunuhnya, aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai lagi. Beratus ribu tahun aku menderita karena kehilangan seseorang yang aku cintai, sudah cukup Sunny yang mati... Aku tidak ingin Saniku juga mati" gumam Huan membenamkan wajahnya di rambutku
"Haish apa yang harus aku lakukan!!!" gerutuku dalam hati
"Sudah lakukan saja dewa, Huan sudah luluh tuh jadi bisa mempermudah dewa menyelesaikan tugas anda" gumam Sunny pelan
"Tapi kalau dia tidak mau melepasku bagaimana?"
"Dewa... Kekasih raja terdahulu akan berujung pada kematian karena raja terdahulu memang di takdirkan seperti itu, walaupun Huan atau Tio berjuang mati - matian untuk melindungi seorang wanita yang di cintainya tapi wanita itu akan tetap mati karena pertengkaran mereka. Kalau dewa bisa meluluhkan salah satu raja terdahulu maka bulan purnama akan kembali ke warna asalnya dewa"
"Oh benarkah?" tanyaku terkejut
"Ya dewa, kesedihan raja terdahululah yang membuat bulan purnama menjadi warna merah"
"Tapi kalau dia benar - benar jatuh cinta dan Han mengembalikan kesadaranku di tubuhku yang satunya bagaimana?" tanyaku bingung
"Tenang saja dewa... Walaupun nanti jiwa anda di ambil oleh Han mungkin tubuh ini bisa bertahan dengan sedikit jiwa anda dan juga bisa hidup dengan kesadaranku jadi Huan tidak akan menyadarinya. Lagi pula aku juga bisa berakting lembut seperti anda..."
"Oh baiklah aku mengerti, Han juga masih lama pertapaannya" desahku pelan
Mendengar ucapan Sunny membuatku sedikit lega, aku mengusap lembut rambut Huan dan sedikit tersenyum kearahnya
"Hmmm ya aku tahu yang mulia raja" desahku pelan
"Jangan tinggalkan aku lagi Sani, aku... Aku...Aku kesepian" desah Huan pelan
"Ya aku tidak akan meninggalkan yang mulia raja kok, yang mulia raja tenang saja ya" desahku berusaha tersenyum
"Makasih istriku" desah Huan memelukku erat
"Yang mulia raja tidak lapar?" gumamku pelan
"Sedikit..."
__ADS_1
"Yang mulia raja makanlah, nanti anda sakit"
"Memang kamu lapar?"
"Mmm ya sedikit" desahku pelan
"Baiklah, makan di kamar saja ya" gumam Huan menjentikan jari tangannya dan muncul dua makanan di tangannya
"Aku suapin ya..." desah Huan meletakkan salah satu piring di meja dan menyuapiku. Huan terlihat begitu senang saat menyuapiku
"Yang mulia kenapa terlihat senang?" gumamku pelan
"Ya, aku senang bisa memilikimu istriku" gumam Huan menyuapiku lagi
"Oh benarkah? Kenapa memilikiku bisa sesenang itu?"
"Karena... Aku sangat menyayangimu" desah Huan mencium keningku
"Udah habis, kamu tidurlah..."
"Yang mulia raja tidak makan?"
"Nanti saja, darahmu sudah ku hisap habis jadi kamu yang harusnya banyak makan" desah Huan meletakkan piring kosong itu di meja
"Mmm seharusnya anda juga makan yang mulia raja" desahku pelan
"Tenang saja, jangan mengkhawatirkanku" desah Huan menyelimutiku dan menatapku dengan tatapan lembut. "Astaga, siapa juga yang mengkhawatirkanmu!!" gerutuku kesal
"Ya sudah tidurlah sayang, aku ada beberapa kerjaan yang harus dilakukan setelah ku tinggal ikut survival itu. Besok kita kembali lagi kesana jadi jangan sampai sakit ..."
"Baiklah..." desahku memejamkan mataku, aku mendengar Huan melangkahkan kakinya pergi dari kamar
Aku membuka mataku dan berjalan ke arah balkon, aku menatap bulan purnama yang indah di depanku
"Han, kau jahat Han!!" teriakku kesal
"Aku? Aku jahat kenapa?"gumam Han yang muncul di belakangku, aku menatap Han yang masih berupa arwah
"Kau ingin aku melakukan permainan ini?" gerutuku kesal
"Ya... Apa kamu keberatan?"
"Pastilah, aku istrimu dan kamu suamiku gak mungkin aku... Me... Lakukannya" desahku terkejut melihat arwah itu berubah menjadi wujud dewa milik Han
"Apa kamu rindu aku istriku?" desah Han tersenyum manis kepadaku, tanpa berpikir panjang aku memeluk tubuh Han dan menangis kencang
"Han bodoh, jelas aku merindukanmu... Aku ingin balik ke alam dewa Han" rengekku menatap kedua mata Han
"Haish istriku jadi manja gini ya..." desah Han membelai rambutku
"Ya nanti aku akan membawamu kembali kok istriku"
"Han kalau kamu bisa mengubah wujudmu, jadi kamu?"tanyaku terkejut
"Ya, aku sebentar lagi selesai bertapa jadi aku bisa merubah wujudku"
"Jadi kamu akan membawaku sekarang"
"Belum, kamu belum menyelesaikan tugasmu disini istriku. Selesaikan dulu baru aku akan membawamu"
"Sulit Han, aku capek!!"
"Membuat Huan luluh kepadamu akan membuat kejadian beratus ribu tahun yang lalu akan terjadi. Akan ada perang besar - besaran antara kaum vampir dan kaum peri, dan disaat itulah aku akan membawamu Sani"
"Berarti salah satu dari mereka akan mati?" tanyaku terkejut
"Tidak, mereka tidak bisa mati. Perang itu akan membuat kekesalan dihati dua raja terdahulu itu sedikit demi sedikit luntur dan menyebabkan bulan di sini akan kembali ke warna asalnya. Jadi itulah caranya agar tugasmu selesai istriku" desah Han memelukku erat
"Oohh... Mmm Han apa kamu sakit hati?" gumamku menatap mata Han yang berkaca - kaca
"Sedikit, tapi ya tidak apalah demi tugasmu selesai sayang"
"Kalau kamu sakit hati, kamu bisa menghukumku Han"
"Tenang saja istriku, aku sudah memiliki hukuman yang pantas untukmu"
"Benarkah? Hukuman apa itu?" tanyaku penasaran
"Rahasialah, yang penting selesaikan tugasmu karena tugas di alam dewamu masih menunggu istriku"
"Tunggu tugas alam dewa? Tugas apa?"
"Kaisar langit dan istrinya..."
"Urusan mereka belum selesai?" tanyaku terkejut
"Ya mereka masih terus bertengkar dan membuat gaduh alam dewa, jadi segera selesaikan tugasmu disini dan urus tugasmu di alam dewa. apa kamu mengerti?" gumam Han membelai rambutku
"Ohh mmm baiklah, Han jangan lupa sering - sering mengunjungiku ya" desahku pelan
"Iya sayang, tenang saja" gumam Han merebahkan tubuhku di tempat tidur dan menghilang
"Makasih suamiku" desahku memejamkan kedua mataku. Walaupun Huan luluh kepadaku tapi aku tidak bisa mencintainya apalagi aku sudah memiliki suami dan anak lagipula kami juga terikat oleh janji suci pernikahan kami
__ADS_1