Mengubah Takdir Part II

Mengubah Takdir Part II
Episode 20 : Terpaksa Kembali Ke Kampus


__ADS_3

Sudah hampir sebulan aku mengurung diri di kamarku, walaupun semua pelayanku masih bisa datang memberiku makanan tapi aku hanya menjawab apapun pertayaan yang aku anggap penting jadi pelayan - pelayanku tidak berani untuk menggangguku yang sedang kesal itu


Aku menatap ke jendela kamarku, aku melihat banyak arwah yang sedang berjalan - jalan di kota dan seperti tidak memiliki beban apapun. Aku menundukkan kepalaku dan lagi - lagi menangis


Toookkk .... Tookkk ... TToookkk


Suara ketukan dari luar kamarku dan tiba - tiba Wan masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah surat untukku


"Maaf mengganggu nona muda, ini ada surat dari sekolah dewa untuk nona" gumam Wan memberiku sebuah kertas


"Terimakasih Wan" gumamku pelan


"Nona, hari ini ada kelas untuk para dewa seperti biasa, jadi nona harus masuk sekolah hari ini"


"Tidak mau" gerutuku kesal


"Tapi nona, surat itu berkata kalau nona harus ikut pelajaran khusus ini. Kalau tidak seluruh kekuatan nona akan hilang. Apalagi nona jarang sekali bersekolah nona"


"Siapa yang memberi sanksi penghapusan kekuatan!!" protesku kesal


"Saya juga tidak tahu nona, jadi nona harus sekolah sekarang"


"Tapi Wan..." desahku kesal


"Nona saya mohon, saya tidak ingin nona kehilangan kekuatan nona" gumam Wan memohon


"Hmmm baiklah kalau kamu yang meminta" desahku mengalah dan merubah pakaianku


"Jaga kerajaan, Wan..." gumamku menunjukkan wajah dingin dan melangkahkan kakiku berpindah ke lorong kelas


Di lorong kelas aku melihat kelas lainnya tidak seperti pelaksanaan pelajaran yang dimaksud, "apa ini akal - akalan si Steven dan si Sony itu. Kalau sampai ini bohongan aku akan membunuh mereka." guamku kesal


Aku melangkahkan kakiku menuju ruang kelas dan membuka pintu kelas dengan tatapan dingin


"Akhirnya kamu datang juga Sani..." ucap seseorang di depan kelas dengan dingin


Aku melihat seorang laki - laki yang sedang menulis di papan tulis, suaranya yang tidak asing bagiku. Laki - laki itu meletakkan spidolnya dan berbalik ke arahku


"Ini ulahmu ya Han?" gumamku dingin dan menatap mata Han serius


"Ya, wali kelasnya sekarang adalah aku... Jadi apapun peraturan yang aku buat adalah mutlak"


"So? Apa yang kamu inginkan?" gumamku dingin


"Kamu duduk di tempatmu dan rajinlah bersekolah, apa kamu mengerti!!!"


"Ya aku tahu" desahku pelan dan berjalan ke kursiku


"Aku akan mengikuti peraturanmu tapi kamu juga harus mengikuti peraturanku... Apa kamu mengerti dewa agung" gumamku dingin dan duduk di tempatku


"Baiklah, aku teruskan ya..." gumam Han kembali menjelaskan pelajaran di kelas


Selama di kelas ada tiga pasang mata yang menatapku, aku melirik di sekelilingku ternyata Sony dan Sasha menatapku di dalam kelas sedangkan Steven menatapku di luar kelas. Aku menjentikkan jariku dan membuat dinding penghalang transparan di sekitarku


"Apa yang kamu lakukan Sani?" tanya Han yang sadar dengan dindingku


"Ini peraturanku jadi kamu harus mengikuti peraturan dariku" gumamku dingin


"Ya sudah terserahlah" gumam Han kembali mengajar kami di depan kelas


Pelajaran yang membosankan seperti biasanya aku lalui demi menjaga kekuatanku. Walaupun aku tau Han tidak mungkin akan melakukannya apalagi kekuatanku itu merupakan kekuatannya. Mungkin dia hanya ingin bertemu denganku apalagi tidak ada satupun yang tahu kerajaanku kecuali Soni, tapi tidak tahu juga kalau Han datang tapi diusir oleh pelayanku di kerajaan, aku yakin Han tahu kerajaanku siapa lagi yang mengirimkan surat itu kalau bukan Han


Tidak berapa lama pelajaran yang membosankan itu akhirnya berakhir, Han menutup pertemuan dengan senyum manis di wajahnya yang membuat dewi - dewi di dalam kelas terpanah melihatnya


"Hummp.." desahku menatap keluar jendela


"Sani temui aku di ruanganku nanti" ucap Han menatapku


"Tidak mau"


"Kamu tidak mau mengikuti peraturanku?"


"Ada perlu apa? Kenapa kamu ingin agar aku menemuimu di ruanganmu" gumamku dingin


"Kamu akan tahu nanti.. Aku akan menunggumu wanitaku" ucap Han serius dan meninggalkan kelas dengan secepat kilat


"Apa? Sani sekarang wanitanya dewa agung?" gumam teman - temanku tidak percaya


"Jadi sumpah yang di katakan Sani sampai seluruh hutan porak poranda di beberapa tahun yang lalu itu nyata?" guman temanku terkejut


"Sani..." gumam Sony menatapku sedih, tanpa membalas pertanyaan teman - temanku yang sangat banyak itu aku beranjak dari tempat dudukku dan berpindah di sofa ruangan pribadi Han


"Ada apa kamu mencariku?" gumamku dingin

__ADS_1


"Apa saja kamu lakukan selama bertahun - tahun ini?"


"Bukan urusanmu" gumamku dingin


"Aku suamimu jadi aku harus tahu!!"


"Suami? Aku sama sekali belum menyetujuinya ya..!!!" protesku


"Aku tidak peduli, kamu tetap milikku.."


"Hummp kamu seperti si kaisar langit selalu memaksa.." gerutuku kesal


"Jawab Sani!!!"


"Tanpa aku beritahu kamu pasti sudah tahu Han" gumamku pelan


"Aku hanya memastikannya darimu"


"Ya aku melakukan apa yang kamu ketahui, apa kamu puas?" gerutuku kesal


"Apa kamu masih kesal dengan kejadian itu?"


"Menurutmu? Apa aku terlihat tidak kesal?"


"Wajahmu terlihat sangat kesal. Kamu tidak bertanya kenapa ketiga dewa itu menatapmu terus menerus?"


"Kenapa?"


"Kenapa ya? Ya awal mulanya sih kaisar langit dan raja kegelapan terus meminta bantuanku agar kamu mau menarik ucapanmu loh"


"Lalu kamu terima?"


"Tidak, aku bilang itu urusan mereka berdua denganmu"


"Oh baguslah" desahku pelan


"Selain itu aku juga bilang ke Sony kalau aku akan merebut milikku yang diambil kaisar langit terdahulu"


"Lalu?" gumamku dingin


"Ya kamu tahu kan ekspresinya dia seperti apa"


"Oh benarkah?" gumamku tidak peduli


"Aku tidak peduli" gumamku dingin dan beranjak dari tempat dudukku, tiba - tiba Han memelukku dri belakang dan mengusap rambutku dengan lembut


"Kalau kamu ingin menangis, menangislah sekarang Sani... Ada aku di sini" gumam Han pelan dan terus mengusap rambutku


"Jangan kamu tahan - tahan seperti itu nanti menyakitkan tahu, aku melihatmu di kamar dengan termenung sendiri membuat hatiku sangat sakit" gumam Han memelukku erat


Pelukan Han membuat dadaku terasa sangat sesak, aku yang berusaha untuk tidak menangis di wilayah kampus ini akhirnya aku menangis kencang di pelukan Han


"Menangislah sayang, jangan kamu tahan... Ada aku disini" gumam Han menarikku ke pelukannya yang hangat itu


Pelukan Han sangat menenangkan hatiku bahkan rasa kesalku dan dendamku teramat dalam sedikit menghilang, tangisku yang sedari tadi perlahan hanya tersisa sesenggukanku. Selama aku menangis tangan Han tidak pernah berhenti mengelus rambutku walaupun dia hanya terdiam tapi perlakuannya kepadaku membuatku sedikit lega


"Kamu sudah lega?" gumam Han menatapku dan aku menganggukan kepalaku


"Hmmm syukurlah kalau begitu, jangan bersedih lagi ya sayang..." gumam Han memelukku dengan sangat erat


"Makasih Han.." desahku pelan


"Tidak masalah, aku juga senang kalau istriku juga senang... Jangan menangis dan bersedih lagi ya" gumam Han tersenyum kepadaku


"Iya..." desahku mencoba tersenyum


"Baiklah kita harus ke kelas lagi, nanti setelah pelajaran selesai aku akan mengajakmu ke kerajaanku


"Ke kerajaanmu?" tanyaku terkejut


"Ya, kamu istriku jadi aku akan mengenalkan kerajaanku kepadamu"


"Tapi kan aku belum pernah mengajakmu ke kerajaanku"


"Nanti kapan - kapan saja, aku sudah tahu bentuk kerajaanmu kok" gumam Han melepaskan pelukannya


"Benarkah?" tanyaku terkejut


"Ya, aku yang membangunkan kerajaan itu untuk dewi penyeimbang dari dulu. Karena pembuatannya dibantu oleh kaisar langit jadi hanya aku dan kaisar langit yang bisa memasukinya" gumam Han pelan


"Jadi benar kamu yang mengirim surat itu?" tanyaku terkejut


"Menurutmu siapa lagi? Aku menunggumu seharian tapi kata Wan mereka tidak berani mengganggumu karena sedang sedih, jadi aku membuat surat itu agar kamu mau kembali ke sekolah. Hatiku sangat sakit kamu menderita seperti ini Sani" gumam Han pelan

__ADS_1


"Hmmm..." desahku pelan


"Tetaplah ceria Sani, jangan sedih - sedih dan marah - marah lagi ya" gumam Han tersenyum kepadaku


"Iya aku akan berusaha melakukannya" gumamku tersenyum, Han menciumku dengan lembut dan memelukku dengan erat


"Janji loh ya..."


"Ya aku berjanji"


"Hmmm... Aku akan membahagiakanmu Sani, aku berjanji kepadamu" gumam Han serius


"Terimakasih Han" gumamku pelan


"Ya sudah ayo kita kembali ke kelas" gumam Han melepaskan pelukannya


"Mmm baiklah" desahku melangkah kembali terduduk di kelas


Disaat aku di dalam kelas seluruh kelas menatapku dengan tatapan bingung karena mereka tidak tahu apa yang terjadi di jalur berbahaya. Candra dan Nana berdiri di depanku dengan tatapan bingung


"Sani.. Kamu habis menangis? Kamu habis dimarahi wali kelas?" tanya Candra bingung


"Tidak, aku menangis bukan karena dimarahi wali kelas kok" gumamku tersenyum


"Sani... Apa berita tentang kejadian di jalur berbahaya itu benar - benar terjadi?" tanya Nana keras dan membuat seluruh kelas terkejut


"Aku sedang tidak ingin membahasnya Na"


"Sani, aku temanmu okey... Kamu harus memberitahuku" protes Nana kesal, aku menarik tangan Nana dan Candra dan berbisik pelan


"Nanti aku akan memberitahukan kalian, tapi jangan di kelas okey" bisikku pelan


"Okeylah, setelah kelas aja ya..." gumam Candra semangat


"Okey aku juga sudah lama tidak bersamamu Sani" gumam Nana kembali ke tempat duduknya


"Hei aku belum menentukan tahu!!" protesku kesal.


Aku melihat Han yang memasuki kelas dengan membawa buku di tangannya dan memulai pelajaran siang ini


"Mmmm bagaimana cara bilang ke Han ya?" gumamku pelan


"Dia sedang menjelaskan lagi" desahku menatap keluar jendela


"Mmm Han boleh tidak aku keluar dengan Nana dan Candra sebentar saja?" gumamku dalam hati sambil menatap Han yang sedang menjelaskan di depan


"Pergilah, aku akan menunggumu Sani.." gumam Han melirikku


"Baiklah, tapi gak perlu sekencang itu juga kali" gerutuku kesal


"Kamu sudah berjanji padaku untuk tidak marah ataupun sedih lagi loh... "gumam Han menulis di papan tulis


"Ya aku tahu, gak usah dijelaskan juga masalah pribadi kita di tempat umum kenapa!!" gerutuku kesal dan Han hanya tersenyum tipis kearahku lalu menjelaskan kembali pelajaran yang membosankan itu


Selama pelajaran Sony terus menatapku dengan tatapan menyesalnya yang sangat menggangguku bahkan sampai pelajaran selesai Sony terus menatapku dengan tatapan memelas seperti itu


"Sani.. Maafkan aku.." Gumam Sony dalam hati sambil terus menatapku


"Sani... Kenapa kamu tidak mau memaafkan aku Sani, aku sangat cinta kamu.." desah Sony dalam hati sambil terus menatapku


"Baiklah pelajaran kali ini selesai kalian bisa pulang" gumam Han menata buku yang ada di mejanya


"Sani, kembalilah kepadaku aku mohon..." gumam Sony dalam hati


Ucapan dan tatapan Sony membuatku sangat muak, kalau bukan jebakan Han aku tidak akan datang kesekolah ini apalagi aku tidak ingin bertemu dengan ketiga dewa ini


"Sani... Jawablah Sani!!" gumam Sony dalam hati dengan serius


Aku menata bukuku dan beranjak dari tempat dudukku dengan perasaan kesal


"Maaf... Kamu bilang maaf, enak baget kamu hanya bilang maaf setelah apa yang kamu dan Steven lakukan dengan Sasha. Asal kamu tahu, apapun yang kamu lakukan aku tau dan aku memang memancing kalian bertiga dengan itu hanya untuk melihat apa yang aku lihat saat bertapa itu benar atau tidak tapi ternyata benar. Dan setelah kalian salah kalian seenaknya minta maaf kepadaku!!!" protesku kesal


"Aku tidak akan memaafkan kalian apapun yang terjadi!!!" gerutuku kesal dan Han hanya menatapku dingin di depan kelas yang membuatku tambah kesal


"Kamu juga gak perlu menatapku dengan tatapan menyebalkan seperti itu Han!!" protesku berjalan melewati Han


"Ingat janjimu kepadaku Sani"


"Iya aku tahu, jangan bawel!!" protesku kesal dan keluar kelas dengan perasaan marah


"Sani.. Sani tunggu..." teriak Nana dan Candra berusaha mengejarku


Steven yang berada di depanku juga aku hanya melewatinya tanpa menatapnya ataupun menyapanya, perasaanku sedang emosi dengan Sony jadi tanpa menunggu Candra dan Nana aku keluar dari gedung perkuliahan dengan sedikit emosi

__ADS_1


__ADS_2