Mengubah Takdir Part II

Mengubah Takdir Part II
Episode 14 : Kekuatan Kristal Merah


__ADS_3

Setiap malam aku berlatih meningkatkan kemampuanku bahkan sebelum tidur seperti saat ini. Karena aku pernah melawan dewa kehancuran sebelumnya tapi aku yakin saat itu Moi tidak benar - benar menyerangku dengan kekuatan penuh. Jadi aku harus berlatih agar bisa mengalahkan Moi itu


"Sani apa kamu tidak capek berlatih setiap malam?" gumam Nana menatapku dari depan kamar


"Tidak, aku biasa saja"


"Kenapa kamu begitu semangat seperti ini?"


"Bukan hal penting" gumamku terus berlatih dan meningkatkan kekuatanku


"Haaahh, aku capek melihat kamu... Aku mau tidur dulu" gumam Nana masuk ke dalam kamar dan meninggalkanku sendirian


Aku terus berlati hingga tengah malam, sinar bulan purnama bersinar terang dan membuat sekelilingku terasa tenang


"Waah rajin juga kamu berlatih setiap hari seperti itu ya!!" sindir Steven duduk di atas atap bersama Sony


"Sampai kapan kalian terus menatapku setiap aku latihan dengan tatapan dingin seperti itu!!" sindirku balik


"Memangnya tidak boleh menatapmu?"


"Tidak... Itu sangat menggangguku"


"Oh benarkah? Tapi tumben kamu rajin berlatih, apa karena kamu takut dengan dewa kehancuran?" sindir Steven menatapku


Aku menghentikan latihanku dan duduk di atas pohon di depanku sambil menatap mereka berdua dengan tatapan dingin


"Aku takut? Sejak kapan aku takut? Aku juga sudah pernah mati sekali, jadi buat apa aku takut" gumamku santai


"Oh bukannya kamu pernah bertarung dengannya beberapa minggu yang lalu?"


"Ya benar, kekuatannya lumayanlah dan bisa membuat tanganku lebam seperti ini" gumamku menunjukkan lenganku yang kebiruan


"Kamu terluka? Kenapa kamu tidak memberitahukan kepadaku?" protes Sony kesal


"Itu tidak seberapa, aku sudah membalasnya dengan seranganku... Ya walaupun hanya setengah dari  kekuatanku tapi membuatnya terluka di bagian dalam" gumamku santai


"Oh benarkah? ternyata kekuatanmu mengerikan ya" desah Steven tersenyum dingin kepadaku


"Mmm oh ya Steven bukannya akan ada murid baru?" tanya Sony menatap Steven dengan serius


"Ya benar, tapi aku belum pernah bertemu dengannya"


"Lalu yang mendaftarkan siapa?"


"Tidak tahu, dia tidak mengatakannya kepadaku"


"Siapa namanya?" tanya Sony penasaran


"Moi Bram"


"Moi Bram? Aku tidak perah mendengarnya" gumam Sony bingung


"Dia dewa kehancuran yang sekarang" gumamku dingin


"Dewa kehancuran yang sekarang? Jangan bilang kalau...?" tanya Sony terkejut


"Ya dewa kehancuran yang sebelumnya sudah dikalahkan oleh anaknya dan anaknya menempatkan jiwanya ke dalam tubuh ayahnya jadi tidak ada yang menyadari kalau raja kehancuran sebelumnya sudah lenyap"


"Oh benarkah? Jadi dia yang kamu temui?"


"ya begitulah, bahkan dia bilang dia ingin menikahiku" gumamku tersenyum dingin


"APA!!!!" teriak Sony dan Steven terkejut


"Hei kenapa kalian berteriak kencang seperti itu!!!" gerutuku kesal


"Tidak bisa, dia tidak boleh mendapatkan Sani" gerutu Sony kesal


"Ya benar, aku juga tidak rela istriku diambil olehnya!! AKu saja tidak rela Sony memilikimu apalagi dewa kehancuran yang memilikimu" protes Steven kesal


"Haish kalian berdua sama saja dengan Moi itu" desahku menggelengkan kepalaku


"Udah lah kalian kalau tidak ada pekerjaan pergilah" gumamku turun dari pohon


"Sani tunggu sebentar" teriak Steven dan aku menghentikan langkah kakiku


"Ada apa?"


"Ikut bersamaku sebentar"


"Kemana?"


"Ke asrama malam"


"Baiklah" desahku bepindah ke ruangan Steven yang dulu, dekorasi ruangannya tidak berubah sama sekali  dan tetap sama penempatan buku dan mejanya sama seperti dulu


"Ruanganmu ini tidak berubah ya" desahku


"Ya, aku suka dengan dekorasi yang seperti ini. Itu mengingatkan aku kepadamu"


"Halah selalu seperti itu" gerutuku kesal, aku duduk di sofa empuk milikku dan menatap Steven dengan dingin


"Ada apa kamu mengajakku kemari?"


"Aku ingin memberikan sesuatu kepadamu"


"Sesuatu? Apa itu?" gumamku bingung


Steven berjalan ke arah rak buku dan mengambil kotak hitam yang ada di antara tumpukan buku


"Apa itu?"


"Ini Kristal merah, kamu pasti sudah tahu kan..."


"Lalu buat apa kristal merah untukku?"


"Aku tidak memberikan seluruhnya untukmu tapi aku akan memberikan sedikit untukmu" gumam Steven mematahkan kristal merah itu


"Buat apa?"


"Untuk menambah kekuatanmu, karena kamu masih punya darah vampir mungkin ini bisa berguna untukmu" gumam Steven berjalan kearahku


"Lalu mau kamu apakan kristal itu?"


"Aku akan menanamkannya di dahimu" gumam Steven membaca sebuah mantera sambil mendekatkn kristal itu di dahiku dan tiba - tiba kristal itu hilang dari tangan Steven


"Hilang?"


"Tidak, kristal itu ada di dahimu. Kristal itu akan melindungimu sebagai darah murni yang spesial"


"Oh... Terimakasih..." gumamku pelan, tiba - tiba Steven mencium bibirku dengan lembut dan membuatku sangat terkejut. Aku berusaha melepaskannya tapi ternyata kekuatan Steven jauh lebih kuat dari yang sebelumnya


"Aaauuu... " rintihku kesakitan saat Steven menggigit bibirku dengan kuat


"Hei sakitlah!!!" protesku kesal dan mendorong Steven dengan setengah kekuatanku


"Kenapa kamu menggigitku!!!" protesku kesal


"Aku hanya memberikan mantra kepadamu itu saja, dan gigitan itu untuk mengaktifkan kristal itu kepadamu"


"Hei alasan apa - apaan itu!!" protesku kesal

__ADS_1


"Itu hanya mengaktifkan sementara saja"


"Sementara? Tapi memang kekuatanku terasa pulih sekarang... Dan ... Dan lukaku hilang" gmamku terkejut saat melihat lebam di tanganku hilang


"Itu hanya sementara saja, kekuatanmu akan kembali di level biasanya, tapi kamu bisa mengaktikan kristal itu secara permanen"


"Permanen? Apa bisa?"


"Bisa, emang kamu ingin mengaktikan semuanya" tanya Steven menatapku


"Ya bolehlah, lumayan juga kekuatan kristal merah ini"


"Baguslah, itu jawaban yang bagus" gumam Steven berjalan mendekati leherku dan menancapkan taringnya ke leherku


"Uuukkhh ... A... Apa yang kamu lakukan?" tanyaku terkejut tapi Steven hanya diam tanpa kata


"Steven sa.. Sakitlah!!!" gumamku merasa leherku terasa sangat sakit


Darahku terasa di hisap kuat oleh Steven seperti dia menghisap darahku sebelumnya, tapi kekuatannya itu yang membuat leherku terasa sangat sakit sekarang ini, tidak berapa lama Steven melepaskan taringnya dan menatapku sambil tersenyum manis


"Kenapa kamu senyum - senyum seperti itu!!" gerutuku kesal


"Tidak ada, aku hanya senang saja"


"Senang apanya, kamu membuatku kesakitan tahu" protesku kesal


"Ya kan kamu yang mau mengaktikan secara permanen jadi jangan protes"


"Emang harus seperti itu?"


"Ya, memang seperti itu mengaktikannya. Tapi bisa juga dengan menggunakan sedikit darahmu sih... Tapi aku sendiri lebih suka menghisap darahmu"


"Haish sudah kuduga pasti kamu akan modus dengan melakukan itu"


"Aku juga masih vampir jadi wajar saja aku suka menghisap darahmu"


"Ya aku tahu kok, apa kekuatan kristal merah sebenarnya?" gumamku menyembuhkan luka di leherku


"Dia bisa meningkatkan kekuatanmu lebih besar dan juga melindungiku kalau kamu terluka"


"Kenapa kamu memberikanku kristal itu?"


"Untuk menjagamu, apalagi Moi itu akan datang"


"Baiklah terimakasih raja kegelapan... Aku mau pergi ke suatu tempat" gumamku beranjak dari tempat dudukku


"Ada urusan apa?"


"Tidak ada... cuma ingin melakukan sesuatu" gumamku berpindah ke pinggir pantai ditemani oleh sinar bulan purnama yang indah


Aku masih bingung, "Kenapa saat aku bertemu dengan dewa kehancuran aku bisa melihat kenangan pahit Sali bahkan rasa sakit itu bisa aku rasakan dengan jelas, selain itu kenapa laki - laki itu terasa tidak asing bagiku" gumamku pelan sambil menatap ke bulan purnama yang indah itu


"Seingatku, aku tidak pernah bertemu dengannyadi kehidupan yang lalu... Tapi kenapa aku merasa sudah pernah bertemu dengannya" gumamku pelan


"Hei cantik" sapa seseorang yang ada di belakangku, suaranya sangat lembut seperti suara seorang malaikat, aku menoleh ke belakang dan melihat seorang laki - laki ampan berjalan kearahku


"Kamu siapa?"


"Aku samuel penjaga wilayah lautan" gumam laki - laki itu tersenyum


"Kamu kenapa kemari tengah malam?" tanya Samuel berdiri di belakangku


"Kamu sendiri kenapa kemari malam - malam?" gumamku pelan


"Aku tinggal dan hidup disini"


"Oh benarkah, maaf kalau sudah duduk di wilayahmu" gumamku beranjak berdiri


"Oh baiklah, terimakasih" desahku kembali terduduk


"Tidak masalah cantik, ngomong - ngomong kamu kenapa bisa sampai disini? Padahal saat ini tidak ada pengunjung manusia yang berlibur di malam ini"


"Ya aku hanya ingin memandangi lautan yang menenangkan ini"


"Oh benarkah? Memang lautan itu sangat menenangkan jiwa"


"Hmmm kamu bilang ini wilayahmu, apa kamu seorang dari alam lain?"


"Kamu tahu masalah itu?"


"Tahu, karena aku seorang dewa" gumamku pelan


"Dewa? Aaah pantas saja kamu bisa kesini sendirian"


"Ya begitulah, jadi kamu seorang raja dari alam lain?"


"Bukan... Aku juga seorang dewa, dewa lautan"


"Oh dewa lautan ya, aku pernah mendengar itu" gumamku pelan


"Ya begitulah, kalau kamu dewa apa?"


"Hanya dewa biasa"


"Dewa biasa? Aku tidak percaya itu"


"Kenapa kamu tidak percaya?"


"Karena wilayah ini sangat jauh dari kehidupan manusia dan juga hanya dewa tertinggi yang sering datang kemari"


"Oh benarkah kenapa kmau bisa tahu mereka dewa tertinggi?"


"Ya seperti dewa kegelapan, dewa kebangkitan, dewa alam bawah, dan kaisar langit yang pernah kemari... Apa lagi aku termasuk ke dalam 10 dewa tertinggi"


"Oh benarkah? Emang siapa dewa tertinggi pertama?"


"Setahuku dewa penyeimbang adalah dewa paling tinggi"


"Oh benarkah? Aku tidak berfikir seperti itu" desahku pelan


"Itu kebenarannya, tapi sudah ratusan abad aku tidak pernah bertemu dengan dewa penyeimbang... Padahal aku pengen bertemu dengannya"


"Kenapa? Apa hebatnya, padahal dia sangat lemah..."


"Tidak, dewa tertinggi itu kekuatannya sangat hebat bahkan semua dewa menghormatinya"


"Oh benarkah? Aku tidak percaya akan hal itu" gumamku pelan


"Kenapa kamu tidak percaya? Bukannya seluruh dewa mengetahui kekuatannya dan keagungannya?"


"Karena aku..." desahku pelan


Booommm


Tiba - tiba terdengar suara ledakan yang sangat keras di belakang kami, aku melihat ke belakang dan melihat sekelompok iblis merusak hutan yang ada di belakang kami


"Haish mengganggu ketenanganku" gerutuku kesal


"Tunggu..." teriak Samuel menahan tanganku


"Kenapa?"

__ADS_1


"Itu iblis raja kehancuran, kamu tidak akan sanggup menghadapinya"


"Tenang saja, kamu pergilah dulu.. Raja kehancuran tidak ada disini" gumamku melepaskan tanganku dan berjalan ke arah iblis - iblis itu dengan wajah dingin


"Tapi... Tapi mereka iblis tertinggi"


"Tidak apa - apa, oh ya salam kenal dewa lautan... Aku Sani dewa penyeimbang" gumamku tersenyum kepada Samuel dan mengubah wujud dewaku untuk melawan iblis - iblis itu


"De... Dewa Penyeimbang?" gumam Samuel menatapku tidak percaya sampai Samuel terduduk lemas di tanah


Aku membasmi seluruh iblis yang hanya segerombolan semut bagiku, Apalagi dengan bantuan kristal merah dari Steven itu membuatku lebih kuat dari sebelumnya. Jadi aku hanya membutuhkan waktu sebentar untuk menghabiskan iblis - iblis itu


Setelah membasmi seluruh iblis itu, aku berjalan ke arah Samuel dan mengubah wujudku ke tubuh manusia kembali. Aku melihat Samuel yang terduduk lemas tidak percaya aku menghabiskan seluruh iblis itu sendirian


"Samuel kamu tidak apa - apa?" gumamku membantu Samuel berdiri


"Ti.. Tidak apa - apa dewa, Maaf aku tidak tahu kalau kamu.."


"Tenang saja, jangan terlalu formal seperti itu... Panggil saja kau Sani" gumamku tersenyum tap Samuel malah menundukkan wajahnya


"Ada apa?" gumamku bingung


"Maaf aku tidak bisa membantumu sama sekali" gumam Samuel sedih


"Tenang saja tidak apa - apa" gumamku tersenyum


"Tapi, aku laki - laki malah tidak bisa membantumu" gumam Samuel sedih dan terduduk di pasir pantai


"Kamu tidak menggangguku sama saja kamu sudah membantuku" gumamku tersenyum


"Mana ada seperti itu membantumu"


"Aku mengatakan hal yang sebenarnya... Aku paling benci urusanku diganggu apalagi bukan aku yang memintanya"


"Oh.." desah Samuel


"Baiklah, aku akan pergi sekarang..." desahku beranjak meninggalkan Samuel tapi tanganku langsung dipegang oleh tangan Samuel dengan erat


"Jangan pergi..." desah Samuel pelan


"Kenapa?" tanyaku terkejut


"Temani aku disini.." desah Samuel menggenggam tanganku dengan erat


"Hmm..." desahku mengalah dan terduduk di sebelah Samuel


"Ada apa?" gumamku menatap Samuel yang bertingkah seperti anak kecil itu


"Temani aku disini, aku takut... Sendirian"


"Takut sendirian?" tanyaku terkejut


"Kamu kan dewa, dewa sering sendirian" gumamku bingung


"Ya memang tapi aku benar - benar takut sendirian, makanya ada kamu aku sangat senang"


"Hmmm... " desahku merangkul Samuel dengan lembut


"Tenang, semua dewa ada bersamamu... Kamu tidak perlu takut sendirian" gumamku menenangkan Samuel


"Itu tidak mungkin, tidak ada dewa yang datang kemari"


"Kenapa begitu?" tanyaku terkejut


"Kerajaanku ini perbatasan antara alam dewa dengan alam manusia dan juga pastinya lebih banyak manusia yang datang dari pada dewa"


"Oh begitu ya.. Sama dengan kerajaanku yang berada di tiga alam sekaligus, tidak ada yang bisa melihatnya dan berkunjung kecuali Kaisar langit dan aku" gumamku pelan


"Oh benarkah, aku juga baru tahu kamu punya kerajaan"


"Ya begitulah aku aja baru tahu baru - baru ini setelah inkarnasi" desahku pelan


"Hmmm pasti kamu mengalami masa yang sulit"


"Ya begitulah, tapi aku sangat bersyukur" gumamku pelan


"Ya, bahkan aku bersyukur bisa bertemu denganmu dewa penyeimbang... Bertemu denganmu seperti anugerah bagiku"


"Oh ya? Syukurlah, padahal aku tidak ada istimewanya" gumamku melepaskan tanganku dari bahu Samuel


"Tapi bagi kami itu hal yang luar biasa"


"Hahaha kamu lucu ya" desahku berbaring di pasir pantai


"Emang kamu menurutmu aku lucu?" tanya Samuel terkejut


"Ya begitulah..." desahku pelan memejamkan mataku


"Kamu mengantuk?"


"Tidak, aku cuma lelah saja"


"Mmm maaf membuatmu menemaniku" gumam Samuel pelan


"Tidak apa - apa, aku tidak keberatan... Yang penting orang itu tidak datang kemari dan .." desahku pelan


"Dan menjemputmu.." gumam Sony dingin


"Ka... Kaisar langit" gumam Samuel menundukkan badannya


"Berdirilah dewa lautan, jangan terlalu formal" gumam Sony tersenyum


"Ba.. Baik kaisar langit"


"Kamu ngapain disini sendirian?" protes Sony menatapku


"Tidak ngapa - ngapain, kamu juga tahu kan aku sedang apa" gumamku santai


"Ma... Maaf kaisar langit, tadi dewi membantuku mengalahkan iblis dewa kehancuran" gumam Samuel membelaku


"Oh begitukah? Terimakasih ya dewa lautan kamu sudah menjaga si bandel ini" desah Sony tersenyum


"Sa... Saya tidak..." gumam Samuel yang langsung aku sela


"Ada apa kamu kemari?" gumamku memotong pembicaraan Samuel


"Ini sudah hampir pagi kamu tidak istirahat apa malah keluyuran seperti ini"


"Aku dewa buat apa aku istirahat terlalu lama" gumamku dingin


"Haish kamu ini emang bandel" desah Sony menarik telingaku


"Aaaa.. Aduuhh ... duuuhh sakit lah!!!" gerutuku kesal


"Pulang tidak!!!"


"Iya - iya, bawel banget jadi cowok" gerutuku kesal dan berdiri di samping Samuel


"Maaf ya Samuel aku tidak bisa lama... Senang berkenalan denganmu, semoga lain hari kita bisa bertemu" gumamku tersenyum dan pergi dari tempat itu bersama kaisar langit


"Aku juga senang bertemu denganmu, andaikan kamu milikku" desah Samuel menatapku yang pergi bersama dengan kaisar langit

__ADS_1


__ADS_2