Mengubah Takdir Part II

Mengubah Takdir Part II
Episode 51: Menyelesaikan Tugas Di Alam Lain


__ADS_3

Beberapa tahun setelah bertemu dengan Han, aku terbangun dari tidurku. Aku telah bersiap-siap untuk segala kemungkinan yang akan terjadi, karena perasaanku mengatakan akan terjadi perang besar di alam lain apalagi perasaan seorang dewa penyeimbang tidak pernah meleset, Han juga pasti sudah melakukan pertapaannya dan itu mengartikan perang antara kerajaan vampir dan kerajaan peri akan segera dimulai.


Beberapa tahun setelah survival itu, raja peri terdahulu sangat marah dan ingin membalas dendam atas kekalahan itu, pastinya akan ada peperangan yang dikatakan Han beberapa tahun lalu.


"Kalau itu benar-benar terjadi. Apa yang akan terjadi di alam lain ya?" gumamku menatap wilayah kerajaan vampir yang ada di depanku.


"Apa yang kamu pikirkan istriku?" bisik Huan memelukku dari belakang.


"Tidak ada, hanya bingung dengan keadaan alam lain kalau peperangan itu akan terjadi." gumamku pelan.


"Jangan khawatir, aku akan melindungimu istriku."


"Ya... Terimakasih.." desahku pelan. "Melindungiku? Tidak seharusnya kamu yang melindungi dirimu sendiri" gumamku dalam hati


Selama bertahun-tahun ini walaupun Huan menganggapku sebagai istrinya, Huan sama sekali tidak menyentuhku kecuali hanya menghisap darahku saja. Entah apa yang dipikirkannya, padahal kalau dia melakukan itu pasti kami memiliki anak sekarang. Tapi karena dia hanya menghisap darahku saja itu berarti aku sama sekali tidak menyakiti hati Han.


"Yang mulia raja... Gawat!!" teriak seorang pengawal di dalam kamarku.


"Ada apa?"


"Pasukan kaum peri menuju ke perbatasan yang mulia!!"


"Kalau begitu perintahkan semua pasukan menyerang mereka ke perbatasan!!" teriak Huan serius.


"Baik yang mulia raja!!" teriak semua pengawal itu dan pergi dari kamarku.


"Istriku kamu disini saja ya, kamu..."


"Tidak!! Aku ingin ikut denganmu!!"


"Tidak bisa!! Kamu nanti!!"


"Tidak apa, aku seorang raja. Aku akan baik-baik saja..." gumamku meyakinkan Huan.


"Tapi!!"


"Percaya kepadaku.."


"Hmmm baiklah, tapi kamu tetap berada di belakangku ya!!"


"Baik yang mulia raja.."


"Sesekali panggil aku suami atau sayang gitu dong.. Huuuh ya sudahlah, ayo kita pergi.." desah Huan menarik tanganku keluar dari kerajaan.


Selama berjalan Huan terlihat sedang memikirkan sesuatu, aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Tapi apapun itu aku tidak peduli. "Aku ingin bertemu denganmu Han.." gumamku dalam hati.


Aku menatap bulan purnama merah di atasku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi yang aku pikirkan sekarang menyelesaikan tugas dewa yang merepotkan ini.


Saat kami sampai perbatasan, aku melihat pasukan kaum peri yang sangat banyak sedang bertarung melawan pasukan vampir. Sungguh insiden yang sangat menakutkan bagiku, pertumpahan darah yang sama sekali tidak aku inginkan.


"Ada apa istriku?"


"Kenapa ... Kenapa banyak peperangan darah disini?" tanyaku terkejut.


"Ya karena inilah peperangan yang sama seperti beratus ribu yang lalu..." gumam Huan dingin.

__ADS_1


"...Dan aku tidak ingin semua yang terjadi dahulu terjadi kembali..." teriak Huan merubah wujud vampir terkuatnya.


"Hahaha tapi semua akan kembali ke masa lalu Huan.." ucap Tio di depan kami.


"Ti... Tio!!!" gerutu Huan menyerang Tio.


"Huaaann!!" teriak Tio menyerang kembali Huan.


Pertarungan mereka sangat menakutkan, pertarungan antara peri dan vampir seperti pertarungan antara gelap dan terang.


"Apa yang kamu pikirkan istriku?" gumam seorang pria di depanku.


"Haaan!!" teriakku terkejut.


"Apa kabar istriku, apa kamu merindukanku?" ucap Han tersenyum manis kepadaku, tanpa memikirkan yang lain aku memeluk Han senang.


"Dasar Han bodoh, jelas aku merindukanmu!!" gerutuku memeluk erat Han.


"Tenang saja istriku, sebentar lagi aku akan menjemputmu.."


"Kapan?"


"Kamu akan tahu nanti, tapi akan sedikit sakit."


"Sakit? Aku tidak peduli, aku ingin bersamamu suamiku.." gerutuku menangis kencang.


"Baiklah. Lakukanlah tugasmu istriku." gumam Han dan kembali menghilang.


"Kamu selalu menghilang saat aku merindukanmu Han! Aku ingin menghukummu!!" teriakku kesal.


"Aku akan menerima apapun hukumanmu istriku..." ucap Han di telingaku.


Di atasku aku melihat seluruh dewan pengawas yang sedang menatapku. Saat aku melihat dengan teliti ternyata Han memiliki sayap di punggungnya sambil tersenyum dingin ke arahku.


"Sa... Sayap? Jangan-jangan Han sekarang menjadi malaikat tertinggi!!" teriakku terkejut. Aku ingat perkataan Steven dan Candra kepadaku beberapa waktu yang lalu. Jika seorang dewa memiliki sayap maka dia adalah malaikat tertinggi yang berkuasa atas seluruh alam. Dan... Han... Dia memilikinya.


"Kalau begitu, aku harus menyelesaikan ini semua!!" gumamku mengubah wujudku dan pergi bertarung.


Aku ingin segera mengakhiri ini semua dan bertanya kepada Han, apa yang dimaksud berkuasa atas seluruh alam. Apa itu akan berpengaruh terhadap pernikahan kami berdua? Aku harus bertanya secepatnya.


"Kalau seorang dewa memiliki sayap dan berubah menjadi malaikat tertinggi walaupun kamu istrinya kamu hanya akan dianggap seorang dewa yang lemah Sani." ucap Candra dingin


"Apa Han akan berubah seperti itu?" tanyaku terkejut.


"Kalau dia bisa melewati pertapaan yang menyakitkan itu, dia pasti akan menjadi malaikat tertinggi dan bisa saja.. Han akan melupakanmu bahkan menganggapmu bukan istrinya lagi!" jelas Steven serius.


"Tapi kan janji suci..."


"Malaikat tertinggi tidak akan terpengaruh oleh janji suci Sani. Kita hanya dewa terlemah di antara dewan pengawas, entah siapa diantara dewan pengawas yang akan mempunyai sayap nantinya, dialah yang akan menjadi malaikat tertinggi!!" jelas Candra serius.


"Han jangan lupakan aku!!!" teriakku membunuh pasukan peri di depanku.


Aku tahu Han menatapku tapi aku... Aku tidak mau kehilangan suamiku, kalau tahu pertapaan itu untuk mengubah dewa menjadi malaikat tertinggi. Aku... Aku tidak akan mengizinkan Han melakukan itu!!


Aku terus bertarung melawan para peri itu, walaupun aku tidak ingin ada peperangan tapi vampir juga rumah keduaku dan aku rajanya, aku tidak mungkin membiarkan rakyatku mati dengan mudah.

__ADS_1


"Huuhh... Steven? Dimana dia? kenapa dia tidak ikut bertarung?" gumamku menatap kesekelilingku.


"Huuh ya sudahlah..." desahku kembali bertarung.


Selama beberapa jam aku bertarung dengan para pasukan peri di sekitarku. Walaupun sangat lelah tapi aku harus cepat menyelesaikan semua ini. Tapi disaat aku asik bertarung, tiba-tiba bulan purnama di atasku berangsur berwarna putih terang menyinari kedua raja terdahulu yang sedang bertarung.


"Apa sudah berakhir?" desahku menatap dua raja yang bertarung itu.


"Sepertinya sebentar lagi dewa..." gumam Sunny pelan.


"Hmmm kamu masih sadar Sunny?"


"Ya dewa, saya ingin melihat dua kaum yang bertarung itu. Jadi teringat jaman dahulu, saat mereka bertarung"


"Oh benarkah?"


"Ya dan pasti akan berujung pada kematian seorang Sunny..." desah Sunny pelan. Aku hanya terdiam menatap dua raja terdahulu yang sedang bertarung itu.


Deeeegggg


Tiba-tiba jantung vampirku terasa sangat sakit, langit alam lain berubah menjadi hitam dan angin bertiup kencang. Aku menatap Han yang sedang membaca sesuatu di bibirnya, aku tidak tahu apa yang terjadi tapi alam lain berubah menakutkan dengan cepat.


Saat keadaan alam lain tidak menentu, aku melihat Huan yang terjatuh di tanah dengan luka yang parah dan Tio yang sedang mengangkat pedangnya ke atas yang membuat Sunny terkejut.


"Dewa... Gawat!!!" teriak Sunny terkejut.


"Biarlah, sudah takdirnya" gumamku santai.


"Tapi, aku... Aku tidak menginginkan itu terjadi lagi dewa!!" teriak Sunny memaksa mengganti kesadaranku dan berlari ke arah Huan.


"Sunny apa yang kamu lakukan!!" protesku kesal


"Maaf dewa, aku tidak ingin melihat orang yang aku cintai mati di depanku..." gumam Sunny terus berlari. Aku memang pemilik tubuh ini tapi aku tidak bisa melakukan pergantian kesadaran tanpa persetujuan Sunny.


"SANI... JANGAAAAN!!!" teriak Huan di belakangku


Jleeeeebbb...


Rasa sakit di jantungku sangat terasa menyakitkan, walaupun kesadaran ini adalah kesadaran Sunny tapi aku, aku bisa merasakan rasa sakit yang luar biasa.


"Saaa... Sani!!" teriak Huan terkejut.


"Jangan lakukan hal bodoh terus Huan bodoh!" gumam Sunny terjatuh di tanah.


"Kamu juga bodoh Sunny.." desahku pelan.


"Maaf dewa... Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai..."


"Hmmm..." desahku pelan


Deeeggg... Ddeeegggg


Jantungku tiba-tiba berdetak lemah, dadaku terasa sangat sakit, dan arwahku tiba-tiba terasa seperti akan terlepas dari tubuhku, sama persis saat aku akan mati seperti dahulu.


"Sudah waktunya istriku..." ucap Han yang terdengar dari telingaku.

__ADS_1


"Oh ... Baiklah... Sunny, senang bertemu denganmu..." gumamku menutup kedua mataku dan arwahku benar-benar terpisah dari tubuh vampirku.


Han menggenggam erat tangan arwahku dan mengepakkan sayapnya naik ke atas langit, aku tidak tahu apa-apa. Menjadi arwah membuatku tidak ingat apa yang terjadi setelah terlepaskan arwahku dengan tubuh vampirku. Yang aku rasakan dan lihat saat ini adalah genggaman hangat Han dan wajah dingin Han yang terlihat sangat dingin di depanku, walaupun Han seperti berubah tapi aku senang bisa kembali bersama dengan Han kembali.


__ADS_2