Mengubah Takdir Part II

Mengubah Takdir Part II
Episode 23 : Pengadilan Tinggi


__ADS_3

Di alam baka ini aku melihat banyak sekali ribuan arwah yang sedang menunggu untuk diinkarnasi oleh dewa agung sebagai hakim agung di tiga alam ini


Di pinggir alam baka aku melihat banyak dewa yang terduduk di kursi masing - masing sedangkan di tengah - tengah alam baka aku melihat enam kursi dan hanya dua kursi yang masih kosong.


Di empat kursi itu aku melihat telah duduk dewa kebangkitan, dewa alam baka, raja kegelapan, dan kaisar langit. Han merangkul pinggangku dengan lembut dan berjalan ke arah kumpulnya enam dewa yang sudah terduduk ditempatnya. Banyak dewa - dewa yang menatap kami berdua tapi tidak berani untuk bertanya ataupun protes


"Sani?..." gumam Sony dan Steven menatapku dengan tatapan terkejut tapi aku tidak memperdulikan mereka berdua sama sekali


Han terus menggandengku ke sebuah kursi yang hampir sejajar tapi masih tinggi kursi yang bercahaya itu


"Kamu duduklah di tempatmu" bisik Han di telingaku


"Ya aku tahu" gumamku dan duduk di kursiku dengan tatapan dingin


"Baiklah karena dewa agung dan dewa penyeimbang sudah hadir di alam baka ini, maka pengadilan tertinggi akan dilakukan saat ini juga" gumam dewa alam baka membuka acara pertemuan ini


"Baiklah arwah pertama" gumam dewa alam baka dan munculah seorang laki - laki ditengah - tengah kami


"Ade seorang remaja yang mati karena menolong seekor kucing di jalanan... Apakah akan di inkarnasi atau akan di masukkan ke surga atau malah ke neraka?" gumam dewa alam baka menatap kami semua


"Apa dia tidak punya dosa?" tanya salah satu dewa


"Dia sering mencuri uang ibunya untuk membeli snack karena ibunya tidak memberikannya uang saku"


"Kejam baget ibunya" gumamku pelan


"Ya kehidupan selalu seperti itu" desah Han santai


"Han kamu tidak memutuskannya di harus apa?" tanyaku pelan


"Tidak, aku hanya memutuskan masalah yang berat saja"


"Lalu kalau aku?"


"Kamu memutuskannya..."


"Aku? Kenapa harus aku?"


"Karena emang tugasnya dewa penyeimbang di pengadilan tinggi ini seperti itu"


"Oh baiklah" desahku mendengarkan pembicaraan mereka


"Bagaimana keputusan anda dewa agung?" gumam dewa alam baka menatap Han


"Biar dewa penyeimbang yang memutuskan" gumam Han santai


"Hmmm berikan dia inkarnasi agar dia bisa memperbaiki kesalahannya dan menjadi lebih baik di masa depannya" gumamku dingin


"Tapi dewa dia mencuri uang ibunya..."


"Dia tidak akan mencuri kalau dia diberi uang saku oleh ibunya sendiri, memberikan uang saku merupakan kewajiban orang tua kepada anaknya. Jadi yang salah bukan dia tapi ibunya" gumamku dingin


"Ya benar juga..." desah dewa alam baka mengerti


"Bagaimana dewa kebangkitan?"


"Ya alasan dewa penyeimbang benar..."


"Baiklah arwah pertama kamu mendapatkan inkarnasi, jadilah anak yang baik kedepannya"


"Terimakasih dewa..." gumam laki - laki itu tersenyum dan menghilang dari depan kami


"Keputusan yang bagus istriku" gumam Han tersenyum kepadaku dan aku hanya terdiam saja.


"Baiklah arwah selanjutnya.." teriak dewa alam baka dan pengadilan ini terus dilakukan, memutuskan seseorang bersalah atau tidak itu sangat berat apalagi aku harus benar dan membuat keputusan yang salah


"....Baiklah selanjutnya ..." gumam Dewa alam baka dan munculah seorang laki - laki di depanku, ternyata dia dewa kehancuran sebelumnya


"Bram, seorang dewa kehancuran yang mati karena di bunuh oleh anaknya sendiri. Dia memiliki 900 macam kejahatan dan 900 macam kebaikan di luar tanggung jawabnya sebagai dewa kehancuran. Bagaimana dengan hadirin sekalian apakah dia akan diinkarnasi atau di lenyapkan?" tanya dewa alam baka menatap kami semua


"Kejahatan dan kebaikannya seimbang ya" desah Candra bingung


"Itu keputusan dewa agung" gumam Sony serius


"Bagaimana dewa agung?"


"Dia harus lenyap!!" gumamku dingin


"Kenapa dewa penyeimbang memutuskan untuk di lenyapkan?" tanya dewa alam baka terkejut


"kejahatannya ada 901 dan tidak tertulis disini" gumamku dingin


"Satu kejahatan apa yang tidak tertulis disitu?" tanya Candra bingung


"Dia memberikan penyakit jantung kepada anak kandungnya sendiri yang bernama Sali" gumamku dingin


"Pasti kamu tahu akan hal itu kan dewa agung?" gumamku melirik Han


"Ya benar, kejahatannya ada 901. Hal itu wajar saja kalau kejahatan yang di jelaskan dewa penyeimbang tidak tertulis disitu karena dia melakukan kejahatan yang tidak terlihat tapi bisa di rasakan penderitaannya oleh orang lain" gumam dewa agung serius


"Keputusanku..." desah Han mengangkat tangannya

__ADS_1


"Tunggu...!!!" teriak Moy berdiri di depan Bram


"Ada apa dewa kehancuran?" tanya dewa alam baka dengan dingin


"Itu sudah takdirnya Sali untuk memiliki penyakit itu!!"


"Takdirnya Sali, dia hidup sehat tapi semenjak kemurkaan dewa kehancuran dia malah memberikan penyakit itu kepada Sali" gumamku dingin


"Heei kamu dewa penyeimbang jangan ikut - ikut!!" teriak Moi kesal


"Kenapa? Aku juga ditugaskan memutuskan!!!" protesku kesal


"Kamu!!!" teriak Moi kesal dan menyerangku dengan kekuatan besarnya tapi di tepis dengan kekuatan Han


"Ini pengadilan tertinggi jadi jangan mengganggu jalannya pengadilan ini" gumam Han kesal


"Saya tidak mengganggu jalannya pengadilan ini, hanya ingin melawan dewa penyeimbang saja"


"Baik, aku ladeni kamu" gerutuku kesal dan kami berdua saling menyerang satu sama lain dengan kekuatan kami


"Heeh kalian berdua ini..." gerutu Han kesal


"Heeh hanya ini kemampuanmu?" sindir Moi dingin


"Tidak juga, kemampuanmu jadi melemah ya dewa kehancuran" sindirku dingin


"Apa katamu!!!" teriak Moi kesal dan menyerangku dengan kekuatan penuhnya dan aku juga menyerangnya dengan kekuatan penuhku


"Dewa agung, bagaimana ini?" gumam dewa alam baka bingung


Kekuatan kami berdua seimbang bahkan kami berdua hampir tidak bisa menentukan siapa yang menang dan siap yang kalah


"Haish kalian berdua!!!" gerutu Han kesal dan menghentikan pertarunganku dan Moi yang membuat kami terpental jauh ke belakang


Dewa alam baka menangkap tubuh Moi sedangkan Han menangkap tubuhku


"Ukkkhhh..." rintih Moi kesakitan


"Uhhuuukkk... Uuhhuukkk..." desahku terbatuk menahan dadaku yang sakit


"Kamu tidak apa - apa?" tanya Han khawatir


"Kenapa kamu menghentikan kami, membuat kami terluka tahu!!" protesku kesal


"Ya, mengganggu saja dewa agung" gerutu Moi kesal


"Kalian juga sudah tahu sedang ada pengadilan tertinggi malah berantem disini!!" protes Han membantuku berdiri


"A.. Apa??" teriak seluruh dewa terkejut


"Istri?" teriak seluruh dewa saling bertatapan seakan tidak percaya


"Heeh sejak kapan dewa penyeimbang menjadi istrimu dewa agung" gerutu Moi dingin


"Sejak hari ini dan selamanya"


"Hmmpp... Mau bagaimanapun aku dan dewa penyeimbang tidak pernah bisa akur"gerutu Moi pergi dari alam baka


"Kamu ingin istirahat dulu?" gumam Han menatapku


"Tidak, aku tidak apa - apa" gumamku menahan sakit di dadaku


"Hmmm baiklah, tahan sebentar ya setelah ini aku obati kamu"


"Ya..." desahku pelan


"Baiklah keputusanku tetap sama yaitu melenyapkannya" gumam Han menjentikkan tangannya dan Bram menghilang dari alam baka


"Baiklah selanjutnya..." gumam dewa alan baka dan muncul arwah - arwah yang akan diadili di pengadilan ini


Dadaku terasa sangat sakit, aku diam - diam mengobati tubuhku sendiri agar aku bisa bertahan selama pengadilan ini. Aku tidak menyangka kekuatan Han sangat besar bahkan bisa memutus kekuatanku dan Moi dan membuat kami terpental jauh seperti itu


"Selanjutnya..." teriak Dewa alam baka dan muncullah kedua orang tuaku di tengah - tengah kami


"Shin dan istrinya. Shin meninggal karena dibunuh raja vampir dan raja iblis sedangkan istrinya meninggal akibat menyegel kekuatan kedua anak kembarnya yaitu Sani dan Sain yang menyebabkan salah satu anaknya harus meninggal" gumam dewa alam baka


"Kebaikan mereka lebih tinggi dari pada kejahatan yang mereka lakukan. Bagaimana? Apa mereka berdua pantas di inkarnasi atau masuk ke surga?"


"Biarkan mereka berinkarnasi" gumamku tersenyum ke arah ayah dan ibuku


"Sani?" kedua orang tuaku terkejut


"Lama tidak bertemu... Ayah... Ibu" gumamku tersenyum


"Hmmm apa itu keputusanmu nak?" gumam ibuku menatapku


"Ibu tahu ya..." desahku pelan


"Ya, aku ibumu apa yang tidak ibu ketahui tentang anaknya


"Hmmm ya itu keputusanku ibu, semoga ayah dan ibu ..." gumamku pelan

__ADS_1


"Tidak masalah nak apapun keputusanmu kami mendukungmu" gumam ayah ku tersenyum


"Benarkah?"


"Ya, kami juga tahu apa yang terjadi"


"Oh... Mmm aku kira ayah dan ibu tidak tahu"


"Seluruh alam baka tahu nak akan hal itu"


"Hmmm baiklah silahkan dewa kebangkitan ..." gumam dewa alam baka menatap Candra, arwah ayah dan ibuku bercahaya saat Candra membaca sebuah mantra


"Nak apapun keputusanmu, ayah dan ibu akan mendukungmu anakku" gumam ayah dan ibu tersenyum ke arahku


"Terimakasih ayah... Ibu, semoga hidup kalian yang baru bisa lebih baik dari pada hidup kalian yang sebelumnya dan..." gumamku pelan dan tubuh ayah dan ibuku menghilang


"Dan lupakanlah tentang masa lalu termasuk aku dan kembaranku" gumamku pelan


"Kamu tidak apa - apa sayang?" gumam Han mengusap punggungku


"Ya, aku tidak apa - apa" gumamku pelan


"Baiklah yang terakhir..." teriak dewa alam baka dan muncullah Sain kembaranku


"Sain, meninggal saat masih anak - anak karena tubuhnya tersegel di tubuh kembarannya. kejahatannya nol kebaikannya 2, dia membantu memberikan kekuatannya dan tubuhnya kepada kembarannya. Bagaimana? Apa dia dimasukkan ke surga atau diinkarnasi?" tanya dewa alam baka serius


"Biarkan dia berinkarnasi" gumamku pelan


"Sani?" gumam kembaranku menatapku


"Hai kembaranku" gumamku tersenyum


"Kembaran dewa penyeimbang?" gumam salah satu dewa terkejut


"Kamu sekarang semakin kuat saja ya kembaranku"


"Tidak juga, ini juga atas bantuanmu. Terimakasih sudah banyak membantuku kakak" gumamku tersenyum


"Tidak masalah adikku, kamu harus menjaga dirimu tahu. Oh ya sebelumnya, makasih sudah meminjamkan setengah arwahmu untukku. Aku akan mengembalikannya kepadamu" gumam kembaranku memberikan kembali setengah arwahku


"Tidak, pakailah untuk berinkarnasi"


"Tidak adikku, aku tidak pantas berinkarnasi"


"Kakak kamu harus inkarnasi tahu!!" protesku kesal


"Tidak adikku..."


"Lalu apa yang kakak inginkan?"


"Kamu terluka parah adikku, kalau kamu tidak segera di obati beberapa menit lagi kamu akan mati"


"Kenapa kamu bisa berkata seperti itu!!" protes Han kesal


"Aku mengatakan yang sebenarnya, separuh arwahku ada di tubuh Sani. Jadi aku tahu apa yang akan terjadi" gumam kembaranku tersenyum


"Aku tidak.. Uhhuuukkk... Uuhhuuukk..." desahku terus terbatuk dan bertambah parah, dadaku terasa sangat nyeri yang menyakitkan


"Sayang kamu tidak apa - apa?" tanya Han panik


"Tidak apa, jangan khawatir, uuuhhuukk... Uuhhuukk... Uuuhhuukkk" rintihku menahan sakit


"Kamu jangan sok kuat adikku, kamu benar - benar terluka parah"


"Aku tidak apa, kakak inkarnasi saja... Uuuhhuukkk... Uuuhhuuukkk" gumamku pelan dan terus batuk yang mengeluarkan darah, aku memejam mataku dan berusaha untuk kuat


"Sayang..." teriak Han menggendongku


"Sain apa kamu punya cara menyelamatkannya?" gumam Han panik


"Hanya ada satu cara"


"Apa itu?"


"Menyatukan arwahku dengan Sani"


"Ja... Jangan la... Lakukan" gumamku pelan


"Tapi..." gumam Han bingung


"Cepat lakukan dewa, kamu ingin adikku mati dan kamu lenyap?" teriak kembaranku kesal


"Mmm baiklah..."Desah Han membaca sesuatu di bibirnya


"Dasar adikku bandel kamu belum kuat tahu untuk mengalahkan dewa kehancuran. Aku akan terus bersamamu dan melindungimu adikku dan teruslah hidup. Paham!" gumam kembarangku mendekatkan dahinya kepada dahiku


"Ka... Kakak jangan la...Lakukan itu" gumamku melihat arwah kakakku bersinar


"Aku sayang kamu adikku" gumam kembaranku tersenyum kepadaku


"Ka...Kak..." desahku memejam kedua mataku

__ADS_1


Aku tidak tahu apa yang telah terjadi tapi rasa sakit yang menyakitkan tadi semakin lama semakin hilang dan terasa rasa nyaman di tubuhku bahkan aku merasakan cinta kasih kembaranku kepadaku


__ADS_2