Mengubah Takdir Part II

Mengubah Takdir Part II
Episode 46 : Pesta Mantan Petinggi Kerajaan


__ADS_3

Ruangan gelap, dingin, dan lembab. Aku tidak tahu kenapa aku tiba - tiba ada di ruangan ini padahal seingatku aku masih di dalam kamarku dengan Huan dan ... Dan Huan menciumku, hanya itu yang aku ingat


"Senang bertemu denganmu dewa" gumam seorang wanita di dalam ruangan itu, aku berjalan menyusuri ruangan itu tapi tidak menemukan apapun yang membuatku bingung


"Siapa yang berbicara?" tanyaku terkejut


Di depanku aku melihat seorang wanita berpakaian hitam terikat rantai di seluruh tubuhnya, mata dan wajahnya sangat mirip denganku hanya rambut yang berbeda denganku


"Kamu siapa?" gumamku bingung


"Aku Sunny Huan atau Sunny Shin, dewa bisa memanggilku Sunny"


"Sunn... Sunny?" tanyaku terkejut


"Benar dewa"


"Kenapa kamu terikat rantai?" tanyaku bingung


"Ini segel yang dipasangkan di tubuh dewa saat dewa masih kecil"


"Segel? Bukannya segel sudah hilang ya?"


"Seharusnya, tapi arwah dewa anda di masukkan ke tubuh ini dan membuatku kembali terikat"


"Oh benarkah, aku bantu lepaskan" gumamku pelan


"Tunggu!!" teriak seorang pria di belakangku, aku berbalik dan melihat Han berjalan kearahku


"Han? Kau kah itu?" gumamku terkejut


"Iya aku Han istriku"


"Tunggu, kamu bukannya bertapa kenapa kamu disini? Dan dimana ini?" gumamku bingung


"Ini di bawah alam sadarmu, ada sedikit jiwaku di tubuhmu"


"Lalu kenapa aku ada disini?" tanyaku bingung


"Ya kamu tidak sadarkan diri saat kamu dicium Huan"


"Ka.. Kamu tahu?" gumamku terkejut


"Apa yang tidak aku ketahui istriku.."


"Han, maaf..."


"Tidak apa itu hanya ciuman ringan"


"Tapi aku menyakitimu"


"Enggak, aku biasa saja"


"Aku menyakitimu Han... Aku..."


"Dengar sayang, lakukan tugasmu dengan baik oke. Jangan pikirkan"


"Tapi Han aku gak mau, ajak aku kembali Han aku gak mau menyakitimu lagi"


"Tidak sayang, kamu tidak menyakitiku sungguh"


"Enggak mau, ajak aku balik ke alam dewa Han aku gak mau ..."


"Sayang, kamu harus menyelesaikan tugas dewamu"


"Gak bisa, aku gak mau.. Aku gak bisa melakukannya sendiri" gumamku pelan


"Ada Sunny, kalau kamu menyerahkan tubuh ini untuknya secara otomatis tingkah lakumu dan kesadaranmu di kuasai oleh Sunny"


"Jadi kesadaranku hilang?"


"Nanti kalau aku sudah terbangun dari bertapaku secara otomatis kesadaran di tubuhmu ini hilang"


"Tapi, apa Sunny..." desahku menatap Sunny


"Hmmm apa dewa ingin aku bantu?" gumam Sunny menatapku


"Membantu?"


"Ya, aku akan mengambil alih tubuh anda"


"Lalu aku bagaimana?"


"Anda tetap pemilik tubuh itu dan saya hanya membantu dewa saja"


"Tidak mau, aku punya tubuhku sendiri" gumamku serius


"Mmm tenang saja sayang, setelah aku sadar kamu otomatis kembali ke tubuhmu yang di alam dewa"


"Ta... Tapi Han..."


"Tenang saja, ini hanya sementara. Kalau aku selesai bertapa aku akan memberikanmu hadiah"


"Gak mau hadiah, aku sudah menyakitimu Han. Beri aku hukuman"


"Kamu ingin hukuman?"


"Ya.."


"Mmm baiklah, aku sudah menyiapkan hukuman yang cocok untukmu, tapi kamu harus selesaikan tugasmu bagaimana?" gumam Han mengelus lembut rambutku


"Mmm baiklah tidak masalah" desahku pelan


"Dewa malah ingin di hukum dan bukannya menerima hadiah?" gumam Sunny terkejut


"Ya, aku sudah menyakiti suamiku jadi aku pantas dihukumnya"


"Oohhh... Mmmm"


"Kenapa kamu mau membantuku Sunny?" tanyaku terkejut


"Aku ada dendam pribadi dengan dua raja itu dewa, walaupun dewa memikirkan cara agar mereka akur itu tidaklah mungkin"


"Jadi apa yang ingin kamu lakukan?"


"Melenyapkan salah satu diantara mereka atau melenyapkan mereka berdua"


"Tapi kamu akan tahu konsekuensimu apa?" gumam Han dingin


"Yups seperti di masa lalu, aku akan mati terbunuh lagi. Tapi tidak masalah sih, yang terpenting aku bisa mengakhiri ini semua"


"Melenyapkan mereka tidak semudah yang kamu bayangkan, belum kamu lenyapkan mereka sudah membunuhmu dahulu"gumam Han santai


"Ya mungkin itu juga resikonya, tapi aku ada satu cara sih" gumam Sunny santai


"Cara apa itu?" gumamku bingung


"Aku akan menggoda mereka berdua apalagi aku sudah tahu kebusukan Tio itu"


"Halah bilang saja kamu ingin bersama dengan Huan" sindir Han dingin


"Tidak juga, aku juga ingin mengetahui kebusukan Huan bahkan kebusukanmu Han" gumam Sunny dingin


"Kebusukan? Han?"


"Itu saat aku masih menjadi raja siluman air, sekarang aku berbeda. Aku sekarang seorang dewa agung dan yang lebih penting aku sudah memiliki istri..." gumam Han memelukku erat


"Ya baguslah kalau kamu bisa berubah Han"


"Kebusukan Han apa?" tanyaku polos


"Tidak perlu kamu pikirkan yang penting jadilah istriku yang polos dan penurut saja ya" gumam Han memelukku erat


"Hmmm.... Jadi bagaimana aku melepaskan Sunny dari rantai itu?" gumamku menatap Sunny


"Biar aku bantu" gumam Han membaca mantranya dan Sunny berdiri dari depanku


"Haaah akhirnya bebas" teriak Sunny senang


"Jangan senang dulu, bantu istriku!!" gumam Han dingin


"Baik aku tahu" gumam Sunny mendekatkan tubuhnya kepadaku


"Tapi aku ada tujuan lain selain mereka berdua Sunny" gumamku serius


"Apa itu dewa?"


"Bantu aku menangkap dewa sifat, dengan kesadaranmu pasti dewa sifat tidak akan menyadarinya"


"Oh baiklah dewa, itu tidaklah masalah" desah Sunny santai

__ADS_1


"Aku akan membantumu dewa, percaya kepadaku..." gumam Sunny dan tiba - tiba keluar cahaya putih di depan mataku


"Huuuhh... Huuhhh..." desahku berusaha mengatur nafasku, berada dialam bawah sadar terlalu lama membuatku kesulitan bernafas


"Dewa ijinkan aku mengendalikan tubuhmu" gumam Sunny di dalam tubuhku


"Ya..." desahku pelan


"Sani... Akhirnya kamu bangun Sani..." desah Huan terduduk di sampingku


"Huan?"


"Hei aku raja ter..."


"Dasar Huan tetap saja bawel" gumamku mencium Huan


"Heeii apa yang kamu lakukan?" protesku dalam hati


"Tenang saja dewa, dewa tinggal menonton saja"


gumam Sunny dalam hati


"Tapi ini kan..."


"Tenang saja dewa, bertahanlah beberapa tahun. Nanti anda akan balik ke tubuhmu yang lain"


"Oh mmm baiklah"


Aku Sani, pemilik tubuh dan arwah ini hanya menjadi penonton dari permainan Sunny, apalagi aku dan Sunny hanya bisa mengobrol di alam bawah sadar seprotes apapun aku tidak akan ada yang bisa mendengarnya sedangkan Sunny yang akan terus memegang penuh kesadaran di tubuhku ini, bisa dibilang Sunny adalah Sani dan Sani adalah Sunny


"Tunggu... Kamu Sunny?" tanya Huan terkejut


"Menurutmu aku siapa?"


"Bukannya kamu... Sani?"


"Sunny atau Sani sama saja..."


"Tidak itu berbeda"


"Oh berbeda ya, apa Sani pernah melakukan hal ini?" gumamku menggigit tangan Huan


"Astaga, sungguh memalukannya diriku" gumamku pelan


"Tidak apa dewa, ini masih permulaan dalam permainanku" gumam Sunny santai


"Be... Benar, kamu Sunny. Kenapa kamu bisa mengambil alih Sani?"


"Itu rahasia..."


"Hmmm apapun itu yang penting Sunnyku kembali..." gumam Huan memeluk tubuhku senang


"Berhasil kan dewa, meyakinkan pria ini tidaklah sulit"


"Ya benar sih, ya udahlah terserah kamu saja. Aku tidak akan mengganggu"


"Baik dewa"


"Kamu hampir membunuhku Huan!!" protesku kesal


"Eee mmm maaf sayang aku terlalu senang" gumam Huan melepaskan pelukannya


"Kamu masih saja memanggilku dengan sebutan sayang"


"Kamu istriku sampai kapanpun tetap istriku"


"Emang selama ini kamu tidak menikah dengan..."


"Tidak!! Aku tidak melakukan itu"


"Kenapa?"


"Karena hanya kamu yang aku cintai Sunny" gumam Huan serius


"Dia setia juga ternyata" gumamku pelan


"Ya saya juga tidak menyangkanya, padahal vampir dikenal tukang ganti pasangan"


"Hmmm tidak juga"


"Sunny apa yang kamu pikirkan?"


"Ya itu janjiku kepadamu Sunny"


"Dewa apa dia tidak bisa mendengar perbincangan kita?"


"Tidak, hanya dewa tertinggi yang bisa"


"Oh pantas"


"Sunny, kamu kenapa seperti melamun terus?" gumam Huan mengagetkanku


"Eehh mmm mungkin karena aku baru tersadar"


"Kalau begitu kamu istirahatlah, aku ada acara setelah ini"


"Acara apa?"


"Pertemuan"


"Pertemuan apa?" gumamku bingung


"Bukan pertemuan sih bisa dibilang pesta.."


"Aku mau ikut!!" teriakku kencang


"Tapi kamu baru sadar Sunny, sudah hampir tiga minggu kamu tidak sadar"


"Tidak apa, aku baik - baik saja. Pokok aku ikut!!"


"Hmmm baiklah, tapi kamu jangan jauh dariku apalagi kamu belum stabil"


"Baiklah..." desahku merubuah pakaianku


"Mari pergi sayang" gumam Huan menggandeng tanganku dan kami berpindah ke sebuah taman yang dipenuhi oleh beberapa vampir


"Ini pesta apa?"


"Ini pesta pernikahan Puput"


"Puput siapa?"


"Anaknya Tuan Tri, mantan petinggi yang pernah kamu selamatkan dulu"


"Aku tidak ingat"


"Oh ya hanya Sani yang ingat, padahal Tuan Tri ingin bertemu dengan Sani untuk mengucapkan terimakasih tapi..."


"Tidak masalah, kita bertemu dengan Tuan Tri dulu"


"Tapi kan kamu bukan Sani..."


"Aku udah bilang kan Sani dan Sunny itu sama" gumamku santai


"Tapi kan auranya berbeda..." gumam Huan pelan dan Sunny berganti kesadaran denganku


"Kalau begini masih beda kah?" gumamku tersenyum


"Tunggu ini siapa?"


"Aku Sani"


"Kenapa bisa? Warna matamu berubah juga dari sebelumnya"


"Ya karena kami dalam satu tubuh" gumamku santai


"Tapi Sunnyku..."


"Setelah bertemu dengan tuan Tri, kamu bisa bertemu dengan dia kok"


"Ooh baiklah" desah Huan terus menggandeng tanganku mendatangi seorang pria paruh baya di pojok taman


"Eehh yang mulia dan yang mulia raja" gumam Tri membungkukkan badannya


"Iya, berdirilah" gumamku pelan


"Terimakasih yang mulia sudah berkenan menyelamatkan kami para petinggi"


"Tidak masalah tuan sudah kewajiban saya sebagai raja"

__ADS_1


"Ya hanya raja yang bisa menemukan kami dan menyelamatkan kami yang dikurung berabad - abad di tempat yang kumuh seperti itu"


"Ya tidak masalah tuan. Saya senang bisa membantu tuan"


"Mari yang mulia silahkan dinikmati"


"Ya terimakasih..." gumamku tersenyum


Aku dan Huan berjalan menuju ke beberapa makanan yang tersaji, Huan langsung terdiam dan tidak mau berbicara kepadaku saat aku menggunakan kesadaranku sendiri


"Hormat yang mulia" gumam beberapa bawahanku di depanku sambil membungkukkan badan mereka


"Ya, berdirilah"


"Mmm maaf yang mulai kalau saya lancang... Yang mulia kenapa saya merasa yang mulia kali ini sedikit berbeda?" gumam seorang bawahanku terus menatapku


"Eeemmm tidak ada apa - apa kok, masih tetap yang dulu"


"Tapi terlihat ada aura putri Sunny di tubuh yang mulia"


"Oh ya memang aura Sunny ada di tubuhku, memangnya kenapa?"


"Eee... Mmm tidak ada yang mulia... Cuma kalau putri Sunny pasti banyak yang takut yang mulia"


"Takut? Takut kenapa?" tanyaku bingung


"Hei beraninya kamu!!!" protes Huan kesal


"Diamlah!!" gerutuku kesal dan Huan terdiam


"Aaa... Ampun yang mulia raja, saya tidak berani berkata lagi..." gumam bawahanku ketakutan


"Tenang saja, aku rajanya dia tidak berhak mengatur kalian. Kalian bicara saja..."


"Tidak yang mulia kami tidak berani"


"Tenang saja, kalian tidak akan dilukai yang mulia raja kok" gumamku tersenyum


"Eee... Mmm, ya putri Sunny sama seperti yang mulia raja yang ditakuti oleh seluruh kaum vampir bahkan kaum peri yang mulia"


"Takut karena kedudukannya?" tanyaku bingung


"Ya benar yang mulia dan Putri Sunny di kenal kejam di masa lalu, semenjak rajanya anda kami kaum vampir senior dan junior sangat merasa aman, yang mulia bisa berbaur dan ramah kepada kami" gumam pria itu membungkukkan badannya


"Benar yang dikatakannya yang mulia, kalau putri Sunny menguasai tubuh anda pasti banyak rakyat yang menjadi takut dan kembali tertutup yang mulia..."


"Sunny... Sunny.."


"Saya kenapa dewa?"


"Kamu gak dengerin mereka ngomong apa?"


"Mmm ya itu fakta sih, dulu banyak yang menghormatiku dan patuh kepadaku karena aku dulu kejam hehehe" gumam Sunny tertawa kecil


"Kalau begitu, saat dengan rakyat biar aku yang menangani tapi saat dengan Huan dan Tio kamu yang menanganinya bagaimana?"


"Mmm boleh sih dewa, saya juga tidak tertarik dengan kehidupan rakyat biasa"


"Oh baiklah..."


"Yang mulia kenapa?" gumam beberapa bawahanku melihatku


"Eehh.. Mmn tenang saja, Sunny tidak akan muncul di hadapan kalian kok" gumamku tersenyum


"Benarkah yang mulia?"


"Ya..."


"Tapi yang mulia nanti kalau putri Sunny tersadar dan menghukum kami bagaimana?"


"Tenang saja, yang memiliki jiwa aku dan yang mengatur semuanya aku jadi tenang saja" gumamku tersenyum


"Eemmm... Ma.. Makasih yang mulia telah mendengarkan aspirasi kami...." gumam bawahanku menundukkan badanku sekali lagi


"Ya tidak apa, kalau ada sesuatu yang tidak berkenan kalian bilang saja kepadaku"


"Ba... Baik yang mulia, kami permisi" gumam bawahanku berjalan pergi


"Kamu terlalu lemah menjadi raja Sani.." sindir Huan dingin


"Sebagai raja harus mengutamakan aspirasi rakyatnya agar rakyatnya hidup aman dan tentram jadi tidak akan ada pertumpahan darah lagi" gumamku santai


"Hmmm, aku lebih suka Sunny yang memimpin kerajaan"


"Emang Sunny mau memimpin kerajaan? Kalau mau ya aku serahkan kerajaan untuknya dan aku kembali ke alam dewa"


"Kalau bisa cepatlah kembalilah ke alam dewa dengan Han mu itu..." gerutu Huan kesal


"Kalau bisa ku lakukan sekarang, sudah aku lakukan dari kemarin" gumamku dingin


"Lalu apa lagi yang kamu tunggu, lakukan sekarang lah!!" protes Huan kesal, aku mengganti kesadaranku dengan Sunny


"Emang kau ingin aku lenyap apa Huan bodoh!!" gerutuku kesal


"Tunggu.. Ini Sunny?"


"Ya, kenapa?"


"Aku senang kalau itu benar - benar kamu Sunny" gumam Huan mencubit pipiku


"Apa sih!!" gerutuku kesal


"Jadilah dirimu seutuhnya Sunny, jangan berganti - ganti seperti itu"


"Memang kenapa?"


"Ya aku tidak suka saja, jadilah kamu seutuhnya"


"Seutuhnya ya? Tidak bisa"


"Kenapa?"


"Aku sudah mati Huan hanya kebetulan aku hidup di tubuh dewa dari dewa kecil" gumamku meminum minumanku


"Ya udah kuasai lah tubuhnya! Dulu kamu ahli dalam hal itu"


"Ya benar itu dulu, tapi levelnya berbeda. Dewa levelnya lebih tinggi dariku dan juga kalau Sani pergi dari tubuh ini, aku tidak tahu apa tubuh ini masih bisa hidup"


"Tubuh ini bisa hidup karena masih ada nyawa Sani, kalau aku sendiri tidak mungkin bisa melakukannya"


"Apa kamu tidak ingin menjadi raja lagi menggantikan Sani?"


"Tidak, aku tidak ingin"


"Kenapa?"


"Aku malas mengurusi rakyat kecil, bisa hidup sementara seperti ini saja sudah membuatku senang, terkekang dengan segel sungguh menyakitkanku" desahku pelan


"Apa kamu tersegel di tubuh itu?"


"Ya, Han yang menghilangkannya makanya kesadaranku bisa hidup di tubuh ini walaupun terkadang harus berganti sesuai keinginan Sani"


"Aku tidak mau Sani yang menjadi raja Sunny"


"Mau tidak mau dia generasi penerus Huan, tidak mungkin aku terus yang menjadi raja. Sani menjadi raja itu sudah bagus dia bisa menciptakan negara vampir yang aman tanpa perpecahan lagipula kamu lama - lama akan mencintai Sani..."


"Heeh itu tidak mungkin!!"


"Lihat saja nanti kalau sudah waktunya, kamu pasti tidak rela melepaskan Sani. Han saja tidak ingin melepaskannya apalagi kau dengan Han memiliki kesukaan yang sama kalau masalah wanita"


"Ya aku tahu tapi itu tidak mungkin..."


"Mungkin atau tidak mungkin kamu pasti akan mencintai Sani" desahku meminum minumanku sambil menatap bulan merah diatasku


"Apa yang kamu katakan Sunny?" gumamku terkejut


"Tidak ada dewa, hanya kenyataannya"


"Kenyataan?"


"Huan, Tio, Sam, Sony dan Han adalah teman semasa kecil jadi apapun yang disukai satu orang pasti yang lain juga menyukainya. Tapi diantara mereka hanya Sam dan Sony yang selalu iri dengan Han. Apapun yang dimiliki Han, Sam dan Sony akan berusaha merebutnya apalagi sekarang mereka berdua adalah dewa pasti mereka akan merebutmu dan kalau Huan benar - benar mencintai anda pasti Huan dan Tio juga akan merebutmu dewa" jelas Sunny santai


"Kalau masalah Sam dan Sony aku sudah tahu... Tapi kalau masalah Huan dan Tio aku belum tahu. Lagipula aku sudah memiliki suami, mau tidak mau aku harus mencintai suamiku seperti kamu mencintai Huan dulu" desahku pelan


"Ya, dewa benar. Saya hanya memberitahu dewa saja, saya sudah berpuluh ribu tahun bersama dengan mereka jadi saya sedikit tahu"


"Hmmm" desahku pelan


Ya aku sekarang tahu ternyata Tio, Huan, Sam, Sony dan Han adalah teman lama. Walaupun mereka merebutku tapi aku sudah memiliki suami dan juga anak, apalagi aku tidak ingin mengecewakan suami dan anakku sendiri

__ADS_1


__ADS_2