
Aku berpindah ke dunia manusia tepatnya di kursiku dalam kelas, saat aku muncul sudah ada Steven dan Sony yang berdiri di depan kursiku dengan tatapan dingin dan tatapan teman - temanku yang sedikit aneh kepadaku
"Kalian sudah selesai bertapa ya" gumamku pelan tapi mereka hanya menatapku dengan dingin
"Hmmm" desahku pelan
"Ada apa memintaku datang kemari?" gumamku dingin
"Aku dengar dari Candra dan Alex kamu sudah mendapatkan wujud dewamu?" gumam Sony serius
"Memangnya kenapa?"
"Bagaimana kamu mendapatkannya?" tanya Steven serius
"Itu bukan urusan kalian" gumamku dingin
"Sekarang kenapa wajah dan sikapmu sangat berbeda dengan sebelumnya?"
"Tidak ada, aku tetap saja kok" gumamku dingin
"Tidak, kamu berubah Sani... Ada apa denganmu beberapa tahun ini?" gumam Steven dingin
"Emang kenapa kalian begitu kepo kepadaku? Mending kalian mengurusi urusan kalian saja" gumamku dingin
"Kamu permaisuriku jadi aku harus tahu!!" protes Sony menatapku serius
"Aku hanya meningkatkan kekuatanku saja tidak lebih" gumamku dingin
"Apa ada yang lain selain itu?"
"Tidak ada, kalau tidak ada lagi aku pergi dulu" gumamku mengangkat tanganku tapi tangan Sony langsung menggenggam tanganku dengan erat
"Kamu mau kemana lagi?"
"Aku masih ada urusan" protesku
"Tubuh pengganti siapa yang kamu pakai ini?" gumam Sony serius dan membuat seluruh kelas terkejut
"Tubuh pengganti?" gumam seluruh teman - temanku terkejut
"Oh kamu mengetahuinya ya" desahku pelan
"Jawab aku Sani!! Kenapa kamu bisa mendapatkan tubuh ini?"
"Ini tubuhku"
"Bukan, tubuhmu ada di kerajaanku" protes Alex di belakang Steven
"Aku juga tidak membangkitkan tubuhnya" gumam Candra serius
"Jadi ini tubuh siapa Sani?" tanya Sony serius
"Ini tubuhku, tubuh empat darah campuranku" gumamku melepaskan genggaman tangan Sony
"Empat darah campuran? Jangan - jangan..."
"Ya ini tubuh kembaranku yang lain bisa dibilang kakakku, dia selalu ada di dalam segel yang ibu buat di dalam tubuhku yang lama. Karena aku mati dia juga ikut mati tapi saat aku inkarnasi dia tidak ikut inkarnasi jadi tinggal tubuhnya saja" gumamku dingin
"Jadi arwah yang hilang itu kelakuanmu?" gumam seorang temanku menatapku
"Ya, memang kenapa? Aku sudah menukarkan sebagian arwahku untuk kakakku" gumamku serius
"Kenapa kamu lakukan itu?"
"Tidak ada, aku hanya ingin tubuh penggantiku saja" protesku kesal
"Aku sudah bilang jangan melakukan hal yang aneh - aneh saat kami bertapa!!" protes Sony kesal
"Apa peduliku, kalian semua tidak peduli denganku. Saat aku butuh tubuhku kembali Candra tidak memberikannya, saat aku lemah kalian hina aku, dan kalian berdua apa pernah mengerti perasaanku tersiksa di tubuh lemah yang kalian berikan itu...Apa untungnya aku mendengarkan perkataan kalian... Uruslah urusanmu sendiri" gumamku kesal dan menjentikkan tanganku berpindah ke dalam kamarku di kerajaanku kembali
"Huuuhh menyebalkan" desahku kesal
"Yang mulia..." gumam Wang berdiri di dalam ruangan cermin kehidupan itu
"Oh kamu ada disini Wang" gumamku
"Iya yang mulia, saya sedang mengamati kehidupan di tiga alam yang mulia"
"Mmm memang bisa dilihat secara keseluruhan? Kan selisih waktu saja sangat lama"
"Ya karena selisih waktu lama itulah kita bisa melihat keseluruhan kehidupan di tiga alam yang mulia"
"Oh begitu ya" desahku berdiri di sebelah Wang dan melihat kegiatan yang ada di kehidupan manusia, di cermin kehidupan terlihat beberapa orang yang berlalu lalang dan tertawa menikmati kehidupan mereka
"Enak ya jadi manusia biasa" gumamku pelan
"Ya anda benar yang mulia, hidup tanpa beban dan dipenuhi seluruh kasih sayang"
"Hmmm benar, aku juga pernah merasakannya" desahku mengingat disaat aku masih berwujud manusia
"Yang mulia kok sudah kembali?"
"Ya tidak ada masalah yang berat, tapi tolong jaga kerajaan ya"
"Baik yang mulia, kami selalu menjaga kerajaan ini"
"Oh ya sekalian cari siapa yang mengirimkan iblis - iblis itu di dunia manusia, kalau bisa segera ya"
"Baik saya laksanakan yang mulia" gumam Wang menundukkan badannya
"Baguslah, bilang ke San untuk menjaga kerajaan jangan biarkan siapapun masuk" gumamku berjalan meninggalkan ruangan itu
__ADS_1
"Baik yang mulia"
Aku berjalan masuk ke dalam kamarku untuk mengganti pakaianku lalu membaringkan tubuhku di atas tempat tidur, aku menatap langit - langit kamarku yang cerah berwarna biru di atasku. Aku tidak menyangka aku bisa langsung to the point seperti itu saat berbicara dengan Sony dan itu kedua kalinya aku melakukannya, dan pastinya Sony atau Steven akan mencariku dan mengintrogasiku lebih detail lagi
"Hmm menyebalkan" desahku memejam mataku
Tookkkk ... Toookk... Tookkk
"Masuklah" gumamku pelan
"Permisi yang mulia" gumam San masuk ke dalam kamarku
"Ada apa San?" gumamku terus memejamkan kedua mataku
"Mmm ini, yang mulia ... Beliau berusaha memaksa memasuki wilayah kerajaan" gumam San terbata - bata dan aku membuka mataku, di belakang San berdiri Sony dengan muka dingin
"Hmmm baiklah kamu bisa pergi San" desahku terduduk di atas tempat tidur dan San meninggalkanku dengan raja yang menyebalkan itu
"Kenapa kamu kemari?" gumamku dingin, tanpa berkata apapun Sony berjalan ke arahku dan mencium bibirku dengan lembut
"Ke... Kenapa kamu menciumku!!!" protesku terkejut
"Itu hukumanmu karena kamu mencium Candra selama aku bertapa" gumam Sony kembali menciumku
"Mmmmm ... Jadi kamu tahu ya" desahku melepaskan ciuman Sony dan menatap kedua matanya
"Ya dan aku sangat marah kepadamu saat ini"
"Kalau begitu hukumlah aku kalau kamu marah denganku" bisikku di telinga Sony
"Kalau itu yang kamu mau" gumam Sony kembali menciumku
Aku merasa sangat rindu dengan Sony bahkan walaupun Sony marah dengan perbuatanku dia tetap memberiku kenyamanan seperti ini dan membuatku lupa kalau aku sangat membenci sang kaisar langit ini
"Permisi ya... yang mulia" gumam Wang terkejut saat melihatku berciuman dengan Sony
"Mmm.. Ada apa?" gumamku mendorong Sony dan beranjak berdiri
"Mo... Mohon maaf yang mulia karena saya lancang"
"Tidak apa,kamu tidak salah. Ada apa kamu kemari?" gumamku menatap Wang
"I...Ini data seseorang yang mengendalikan iblis itu yang mulia" gumam Wang memberikanku beberapa tumpukan kertas
"Oh baguslah, terimakasih Wang"
"Baik yang mulia, saya permisi dulu" guam Wang segera belari meninggalkan kamarku
"Apa yang sedang kamu tangani?" gumam Sony berjalan kearahku
"Penyerang iblis kemarin" gumamku membaca data itu
"Ya benar"
"Yang melakukannya raja kehancuran" tebak Sony dan tebakan Sony sesuai dengan data yang di berikan oleh Wang
"Kenapa kamu tahu?"
"Aku kaisar langit, apa yang tidak aku tahu. Kamu ingat perkataanku beberapa abad yang lalu?"
"Tidak, aku sudah lupa"
"Dasar ya kamu melupakan hal yang penting" desah Sony menciumku kembali
"Kamu kenapa sih suka banget menciumku!!" protesku kesal
"Ya karena aku merindukanmu sudah berabad - abad tidak bertemu denganmu"
"Aku juga merindukanmu.." gumamku mencium Sony kembali
"Jadi, apa pernah kamu katakan kepadaku?" gumamku mendorong tubuh Sony dengan lembut
"Ya kemungkinan besar kalau kami selesai bertapa disitu juga kamu akan bertemu dengan raja kehancuran"
"Tapi kan aku belum pernah bertemu dengannya"
"Ya benar tapi kan kamu sudah bertemu dengan pasukan iblisnya"
"Mmm ya benar juga" desahku terduduk di kursiku
"Jadi apa kamu sudah punya rencana?" gumam Sony berdiri di depanku
"Belum punya aku beberapa hari ini memfokuskan pemulihan kekuatanku"
"Oh benarkah? Tapi bagus juga sih kamu bisa memulihkan kekuatanmu dengan cepat" desah Sony terduduk di sebelahku
"Ya itupun aku harus mengorbankan diriku tahu" gumamku pelan
"Oh ya bagaimana dengan hasil bertapamu?"
"Ya lumayan lah bisa meningkatkan kekuatanku dengan penuh"
"Oh benarkah? Mau aku beri kekuatanku?"
"Tidak perlu, kamu sudah kehilangan setengah arwahmu"
"Tidak masalah, setengah arwahku yang ada di tubuh ini telah bergabung dengan arwah kembaranku jadi tidak masalah"
"Benarkah? Kamu bisa mengetahui cara penggabungan arwah juga ya"
"Ya, aku bisa tahu segala hal sejak menginjakkan kakiku di kerajaan ini" gumamku santai
__ADS_1
"Jadi bagaimana kamu bisa menemukan kerajaanmu ini?"
"Ceritanya tidak jelas, yang jelas setelah aku mencium Candra kekuatanku bertambah 5 kali lipat lalu mencoba untuk pergi mengasingkan diri tapi aku malah berada di gua dan menemukan kerajaan ini"
"Akhirnya ya kamu bisa menemukan kerajaan ini"
"Kenapa kamu tidak memberitahukanku dan mengajakku malah harus aku yang melakukan semua itu dan baru mengetahui aku punya kerajaan!!" protesku
"Karena kekuatanmu sangat lemah, walaupun aku mengajakmu pun aku tidak bisa membawamu datang kemari, karena tidak semua orang bahkan dewa yang bisa menemukan kerajaan ini, bisa dibilang ini kerajaan gaib"
"Oh begitu ya" desahku pelan
"Kamu kelihatannya capek sekali?"
"Ya mengeluarkan banyak kekuatan untuk membangkitkan arwah kembaranku dalam waktu yang lama itu melelahkan"
"Memang, tapi untungnya kekuatanmu sangat banyak"
"Oh ya Sony, kata Wang kalau aku bisa merubah wujudku ke wujud dewa apa aku merupakan dewa tertinggi?"
"Ya benar, lebih tinggi dari aku dan Steven"
"Jadi apapun yang aku inginkan pasti diturutin kan?"
"Ya bisa dibilang seperti itu"
"Baiklah, jadi pijitin aku"
"Hei kamu malah menyuruh suamimu!!!" protes Sony kesal
"Lah katanya apapun yang aku mau akan diturutin"
"Hmm baik - baik, tau gitu aku gak bilang" desah Sony memijit bahuku dengan lembut
"Kamu pergi kemari nanti di cariin dewa yang lain loh" gumamku
"Tidak juga, aku yang satu lagi ada di dunia manusia"
"Maksudnya bayanganmu?"
"Ya benar"
"Tapi ang ini Sony asli kan? Aku tidak menerima bayangan"
"Ya aslilah, emang bayangan bisa memijitmu!!"
"Ya bisa lah, kayak jiwamu dii tubuh kucing dulu kamu seperti nyata"
"Ya itu karena ada ubuh pengganti, tapi aku tidak menggunakan tubuh penggantiku"
"Oh ya? Hebat juga kamu"
"Hei kaisar langit pastilah hebat"
"Heeh... Dasar sombong" desahku dingin
"Sifat dingin dan kejammu ini sedikit menyebalkan ya"
"Tidak juga, aku lebih suka dengan sifatku ini"
"Dasar ya, seharusnya wanita itu lembut bukan dingin dan kejam seperti ini"
"Biarin lah, memang kamu doang yang bisa dingin dan kejam" gerutuku kesal
"Hmmm iya deh tererah kamu" desah Sony terus memijit bahuku
"Oh ya Sony jadi apapun yang aku lakukan kamu sebenarnya tahu kan?" gumamku pelan dan Sony menghentikan pijitannya
"Kenapa kamu tanyakan itu?"
"Ya aku penasaran saja, karena kamu tahu apapun yang aku lakukan padahal tidak ada yang memberitahukanmu"
"Memang, pada dasarnya kita sehati dan sepemikiran jadi walaupun aku bertapa atau jauh darimu aku tahu apa yang kamu pikirkan dan apa yang kamu lakukan, seluruh inderamu juga terhubung denganku dan itu sudah mutlak. Bahkan kamu bilang kamu mencintai Candra juga aku tahu" desah Sony sedih
"Kamu cemburu?"
"Menurutmu?"
"Aku mengatakan itu tidak benar - benar cinta kepada Candra, aku cuma membalas perkataan cintanya untuk Sani di masa lalu"
"Meskipun begitu kamu tetaplah Sani"
"Tidak, aku bukan Sani yang dulu" gumamku menatap mata Sony
"Sani sudah mati di masa lalu dan Sali sudah lenyap sekarang. Aku sekarang hanyalah dewa penyeimbang tanpa nama" gumamku santai
"Kamu tetap Sani permaisuriku dan itu tidak akan berubah" gumam Sony mencium keningku
"Memang ya kamu selalu keras kepala" desahku pelan
"Kamu juga keras kepala"
"Ya memang aku seperti ini
"Kamu tidak mau kembali ke dunia manusia?"
"Boleh lah, nanti Nana mencariku" desahku beranjak dari kursiku
"Baiklah, mari permaisuriku" gumam Sony merangkulku dan menjentikkan jari tangannya dan kami berpindah ke wilayah kampusku itu
Ya senang rasanya Sony dan Steven kembali, aku tidak menduga saja seperti sekejap aku bisa bertemu dengan mereka lagi, kalau bukan aku tinggall di kerajaanku pasti aku menunggu mereka sampai aku beruban
__ADS_1