
Sudah dua hari seluruh kaum alam lain mencari keberadaan depalan petinggi yang hilang itu, aku yakin kalau kerajaan siluman air yang menculik mereka hanya untuk membuktikan bahwa ada kerajaan lain yang tidak kami sadari
Proses pencarian dimulai dengan pembentukan beberapa kelompok, aku mendapatkan kelompok dengan para raja tertinggi karena aku seorang perempuan maka tetua memperbolehkan aku mengajak Steven masuk ke dalam kelompokku
"Yaah kita lupa perkenalan sebelum memulai pencarian beberapa hari yang lalu, lebih baik kita perkenalan dulu" gumam Leo santai
"Ya benar... Kenapa tidak terpikirkan ya" gumam Steven menggelengkan kepalanya
"Boleh juga" desah seluruh raja saling bertatapan
"Baiklah di muai dari raja peri dulu" gumam Leo menatap Gio
"Aku Gio, raja peri senior..." gumam Gio yang sedang berdiri di depanku
"Aku Vin, raja peri junior..."
"Aku Leo, raja iblis..."
"Aku Candra, raja siluman serigala..."
"Aku Bim, raja siluman rubah..."
"Aku Tomi, raja setan..."
"Aku Win, raja vampir junior..."
"Aku Steven, mantan raja vampir senior..."
"Baiklah, nona silahkan memperkenalkan diri..." gumam Leo menatapku
"Kamu sudah mengenalku Leo..." gumamku pelan
"Ya tapi mereka belum mengenalmu" gumam Leo menatapku
"Aku Sani Shin, raja vampir senior..." gumamku dingin
"Sani Shin, kamu de..." gumam Candra terkejut
"Kamu juga tahu identitasku Candra, tidak perlu di sebutkan disini" gumamku dingin
"Ohh... Baiklah, tidak ku sangka kamu sangat cantik dengan wujud itu berbeda dengan dulu" gumam Candra pelan
"Tidak juga, ini bukan wujud asliku sebenarnya" gumamku santai
"Bukan wujud aslimu?" tanya Candra terkejut
"Coba tunjukkan wujud aslimu" gumam Gio serius
"Untuk apa? Tidak ada gunanya" gumamku dingin
"Ya takutnya kamu penyusup atau apa gitu" sindir Gio menatapku dingin
"Emang dengan wujud ini kamu kira aku penyusup yang pura - pura menjadi raja vampir senior?" gumamku merubah wujud vampir asliku
"Waaaahhh cantiknya..." gumam seluruh raja terpesona melihat wujudku
"Jadi itu alasannya kamu tidak menunjukkan wujud aslimu" gumam Steven menatapku
"Ya, aku gak mau semua kaum terpesona saja" gumamku merubah kembali wujud vampir biasaku
"Aku belum pernah melihat wanita yang sangat cantik sepertimu Sani" puji Gio terus menatapku
"Tidak juga, wanitamu itu juga cantik" sindirku dingin
"Tidak, dia tidak se cantik kamu" gumam Gio berjalan ke arahku
"Sani, mau tidak kamu..." gumam Gio menggenggam tanganku
"Heeii... Kau tidak boleh terlalu dekat seperti itu!!" protes Steven mendorong Gio menjauh dariku
"Kamu ngapain menghalangiku!!!" protes Gio kesal
"Kamu mau menjadikanku istrimu?" gumamku menatap Gio dingin
"Ya..."
"Heeh, kamu sudah memiliki wanita. Untuk apa kamu ..."
"Dia bukan dari kaum alam lain!!" protes Gio membela diri
"Oh benarkah? Lalu kenapa kamu bilang dia salah satu peri?"
"Ada alasanku..." gumam Gio dingin
"Heeh... Sangat menarik..." desahku berjalan menjauh
"Kamu mau kemana Sani?" tanya Steven menatapku
"Aku ada urusan sebentar.." gumamku pelan sambil membaca mantra penghalang agar tidak di ketahui oleh mereka
"Haaaaaannn..." teriakku kencang dan muncul Han di depanku
"Hoooaaamm.. Ada apa panggil - panggil?" desah Han mengusap kedua matanya
"Kamu tidur? Enak banget ya tidur" gerutuku kesal
"Ya aku tidak ada kerjaan, lagi pula di alam dewa tidak ada yang bisa aku lakukan" gumam Han bersandar di bahuku
"Hmmm untung kamu suamiku ya" desahku pelan
"Ada apa memanggilku?"
"Nanti boleh tidak aku memberikan dewa iri dengki hukuman?"
"Boleh, tapi kamu nanti mau tidak mau menunjukkan identitasmu"
"Ya aku tahu, dan kamu juga sama"
"Kenapa aku ikut- ikut?" gumam Han terkejut
"Ya lah kan kamu dewa agung, kalau aku saja yang memberikannya hukuman pasti banyak yang protes sayang. Kekuasaan tertinggi ada di kamu"
"Ohh... Ya aku mengerti, aku ikut kamu saja sayang" desah Han menciumku lembut
"Nanti panggil saja sayang, kamu harus hati - hati Nia orangnya sangat licik" gumam Han menatapku
"Ya aku tahu.."
"Ayah Alan terbangun.." gumam Lyla berdiri di depan kami
"Lyla bisa kesini juga?" tanyaku terkejut
__ADS_1
"Ya, pasti bisalah, dia anak dewa..." gumam Han mengacak rambutku
"Ya sudah aku dan Lyla kembali dulu, nanti Alan menangis" gumam Han dan Lyla menghilang di depanku
"Oh baiklah..." desahku membuka mantra penghalang dan bersandar di bawah pohon
"Sani kenapa kamu disini?..." gumam Bim menatapku, aku menatap seluruh raja mengikuti di belakang raja siluman rubah itu
"Aku baru ada urusan" gumamku berjalan pergi
"Kamu mau kemana lagi?" teriak Bii di belakangku
"Mencari petinggi..." gumamku santai
"Dasar wanita selalu aneh" desah Vin menepuk dahinya
"Itulah kenapa aku harus ikut menemani dia, dia sangat aneh" gumam Steven mengikutiku dari belakang
"Wanita yang menarik" gumam Gio pelan
"Apa sih mereka ini!" gerutuku kesal dalam hati
Kami semua berjalan bersama untuk mencari petinggi itu, walaupun aku tahu siapa yang menculik mereka tapi aku tidak mau menunjukkan identitasku sekarang. Berkilo meter jauhnya kami berjalan hanya demi mencari para petinggi itu, aku ingin bertemu dengan dewa laut si Samuel itu
"Dimana terakhir para petinggi itu hilang?" gumamku dingin
"Di sekitar laut selatan"
"Oh wilayah raja siluman air ya..." desahku pelan
"Tunggu? Raja siluman air?" gumam Win terkejut
"Ya, kalian para raja tidak tahu akan hal ini?" tanyaku dingin
"Tidak..Kami baru tahu..." gumam Vin pelan
"Di alam lain hanya ada delapan raja. Apa kamu hanya mengarang?" sindir Gio dingin
"Kalau kalian tidak percaya... Kita buktikan nanti" gumamku terus melangkahkan kakiku
"Kalau emang kamu yakin disana, kita langsung saja kesana" gumam Bim membaca mantranya
"Percuma... Kita tidak bisa melakukan teleportasi di wilayah ini" gumam Vin menggelengkan kepalanya
"Oh ya aku lupa..." desah Bim sedih
"Ya sudah jalan kakilah.." gumamku santai
"Tapi membutuhkan beberapa jam lagi tahu, apalagi kita sudah dua hari dihutan ini" desah Tomi pelan
"Ya mau bagaimana lagi" gumamku pelan melanjutkan perjalananku
Kami terus berjalan menyusuri jalan setapak di tengan hutan yang menakutkan. Kami tidak bisa menggunakan kekuatan kami sama sekali kecuali kekuatanku sebagai dewa penyeimbang.
"Sepertinya kita akan sampai besok siang" gumam Win menatap langit
"Ya langit sangat hitam, sepertinya akan turun badai..." gumam Vin pelan, tiba - tiba air hujan turun dengan lebat yang membuat pakaian kami hampir basah di buatnya
"Kalau begitu kita istirahat saja dulu, itu ada gua di sebelah saja" gumam Steven dan kami semua berteduh di dalam gua yang sangat dingin itu
"Huuuhhh gila hujannya deres banget" gerutu Tomi kesal
"Ya benar, tidak seperti di wilayahku... Hujan tidak ada sama sekali.." gumam Vinn pelan
"Sepertinya benar kata Han" gumamku menatap langit yang sangat hitam
"Apa maksudmu Sani?" gumam Candra duduk di sampingku
"Ini bukan hujan karena perbatasan dengan alam manusia ..." gumamku pelan
"Lalu? Karena apa?" tanya Steven terkejut
"Sasha dan Sony bertengkar hebat, bahkan..." desahku membuka cermin kehidupan milik Han
"Di surga juga berawan hitam, kalau berdampaknya disini berarti Sony sedang marah besar di sekitar sini..." gumamku menutup kembali cermin kehidupan itu
"Berarti... Mereka berdua di sekitar pantai ya?" tanya Candra terkejut
"Ya kemungkinan besar" gumam santai
"Hei kalian bertiga ngapain di depan gua nanti kalian masuk angin loh" gumam Win berjalan mendekati kami
"Hanya ingin menikmati hujan saja" gumamku pelan
"Kami sedang memasak makanan kalian ikutlah" gumam Win menunjuk beberapa raja sedang membakar sebuah daging
"Makanan? Waah aku mau!!" teriak Candra dan Sony berlari ke para raja itu
"Kamu gak ikut sekalian Sani?"
"Nanti saja, aku sedang tidak nafsu makan" gumamku pelan
"Oh baiklah" desah Win berjalan meninggalkanku
Aku memandang langit yang sangat hitam dan petir biru terus bersambar di atas alam lain ini, petir biru? Aku masih terkejut dengan adanya petir biru, apa Sony benar - benar marah besar. Padahal kan yang salah Sony bukan Sasha, salah sendiri jadi dewa kok buaya...
"Sani kenapa kamu disini sendiri" gumam Gio terduduk di sebelahku
"Hanya menikmati hujan saja" gumamku pelan
"Oh benarkah? Apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada, aku tidak memikirkan sesuatu" gumamku pelan
"Kalau kamu lembut kayak gini kamu terlihat sangat manis" gumam Gio menatapku serius
"Apa sih!!" gerutuku kesal
"Hahaha, ini daging untukmu"
"Makan saja aku tidak selera makan" gumamku menjentikan tanganku dan memegang gelas berisi darah
"Kamu bisa menggunakan kekuatanmu disini?"
"Ya, emang kenapa?" gumamku meminum datah itu dengan santai
"Kan kita tidak bisa memakai kekuatan disini"
"Kata siapa? Bisa saja tapi yang ringan - ringan saja bagi kami para vampir" gumam pelan
"Hmmm pantas Win bisa membawa daging kemari"
__ADS_1
"Dia vampir junior, pasti dia bisa" gumamku santai
"Kamu sepertinya tidak menyukai Nia ya?"
"Tidak, aku tidak kenal dia" gumamku dingin
"Oh benarkah? Tapi dia bilang pernah bertemu denganmu di alam dewa"
"Mungkin hanya kebetulan" gumamku dingin
"Apa kamu juga seorang dewa?" gumam Gio menatapku serius
"Bukan..."
"Oh benarkah? Tapi gelang di tanganmu itu gelang milik dewa" gumam Gio mengangkat tangan kiriku
"Aku hanya vampir biasa" gumamku menarik kembali tanganku
"Kamu pasti ingin menghukum Nia kan?" gumam Gio menatap langit
"Tidak, buat apa aku menghukumnya"
"Aku tahu kamu seorang dewa yang hanya berpura - pura menjadi raja vampir senior hanya untuk memberikan hukuman bagi Nia kan?"
"Tidak, aku memang raja vampir senior" gumamku menunjukkan kalung kristal merahku
"Kalung kristal merah?" gumam Gio terkejut
"Hanya keturunan vampir senior yang punya kalung kristal merah ini dan kamu juga tahu akan hal itu" gumamku santai
"Oh ya benar kamu benar - benar vampir" gumam Gio terkejut
"Memang.." desahku menghilangkan gelas kosong yang ada di tanganku
"Tapi kamu benar - benar dewa kan?"
"Ya aku dewa, sama seperti Candra dan Steven... Lalu kenapa?" gumamku dingin
"Heeh akhirnya kamu mengakuinya"
"Memang aku dewa lalu kenapa?"
"Tidak ada, aku cuma..." gumam Gio mencium bibirku dengan lembut
"Menyukaimu" gumam Gio dengan wajah merahnya
"Apa sih cium - cium sembarangan!!" gerutuku kesal
"Aku mengatakan yang sebenarnya"
"Nikahlah sana sama Nia, ngapain kamu nenyukaiku" gerutuku kesal
"Menikah dengan dia yang bukan kaum lain? Itu tidak mungkin dan kamu tahu akan hal itu" gumam Gio menatapku dingin
"Tidak juga, kamu bisa menikah dengan siapapun" gumamku santai
"Tapi kan.."
"Hei kalian berdua kemarilah!!" teriak Vin melambaikan tangannya
"Kamu gak kesana?"
"Sebentar lagi, kamu kesanalah dulu" gumamku pelan
"Oh baiklah" desah Gio berjalan meninggalkanku, aku membaca mantra penghalang dengan cepat
"Kenapa kamu menatapku seperti itu Han?" gumamku pelan dan Han berdiri di depanku dengan tatapan dingin
"Menurutmu?" gerutu Han kesal
"Dia yang menciumku dulu, bukan aku yang memulainya" gumamku pelan
"Dan kamu tidak menolak?"
"Bagaimana aku menolak kalau secara mendadak" gumamku menatap Han
"Haish kamu ini selalu menunjukkan wajah memelas kalau aku marah" desah Han berjongkok di depanku
"Aku kan tidak memulainya Han, kamu ingin menghukumku?" gumamku menatap Han
"Ya tapi bukan sekarang, aku harus kembali ke alam dewa"
"Ada apa?"
"Alam dewa sedang kacau gara - gara Sony dan Sasha bertengkar hebat"
"Jadi hujan ini karena itu?"
"Ya, dewa hujan memintaku kembali ke alam dewa..."
"Lalu Alan dan Lyla bagaimana?"
"Tenang saja, mereka ada di kerajaan vampir, kakek dan nenekmu yang menjaga mereka"
"Oh begitu ya" desahku pelan
"Panggil aku kalau kamu sudah bertemu dengan Nia..."
"Ya..."
"Oh ya, Sony dan Sasha ada di alam ini juga. Kamu harus melerai mereka, nanti biar Samuel dewa laut yang akan membantumu melerai mereka"
"Baiklah..."
"Jaga dirimu baik - baik istriku, aku gak akan lama kok" gumam Han menghilang di depanku
"Ya aku tahu Han" gumamku membaca mantra penghancur penghalang itu sambil menundukkan kepalaku
"Han ke alam dewa?" gumam Steven duduk di sebelahku kembali
"Ya, di alam dewa sedang kacau" gumamku pelan
"Memang, bawahanku dan bawahan Candra mengabari kami barusan"
"Hmmm oh benarkan... Nanti bantu aku dan Samuel untuk melerai Sony dan Sasha, mereka ada di alam lain" gumamku pelan
"Oke tidak masalah" gumam Candra terduduk di sebelahku
"Nanti kalau hujannya sudah mereda, kita harus langsung kesana" gumam Steven memakan daging di tangannya
"Ya benar.. Nanti keburu telat" gumam Candra menawariku makanan
__ADS_1
"Tidak terimakasih, kalian makan saja" gumamku pelan
Aku masih berpikir bagaimana untuk melerai mereka berdua, apalagi mereka berdua sama - sama dewa yang kuat. Apa yang harus aku lakukan, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan