
Tiga hari tiga malam aku tidak bisa tidur, aku hanya menatap langit kamar tanpa melakukan apapun selain melamun tidak jelas.
Tiba - tiba ada sebuah bantal yang melayang mengenai wajahku dan membuatku terkejut. Aku menatap Nana dengan wajah kesalnya.
"Ada apa Na?" tanyaku pelan
"Kamu sudah tiga hari tidak makan, tidak minum, tidak tidur malah melamun gak jelas bikin aku kesal tahu!!!"
"Tidak perlu kamu lihat..." gumamku pelan
"Kita sekamar, kamu temanku bagaimana aku tidak melihatmu Sani!!" protes Nana kesal
"Hmmm ..." desahku pelan dan kembali menatap langit kamar
"IBU... IBU!!!" teriak Alan yang membuatku terkejut, aku menatap Lyla dan Alan yang di tubuhnya di penuhi darah... Aku terbangun dan memeluk Lyla dan Alan
"Kenapa kalian terluka?" tanyaku terkejut
"Kerajaan vampir senior di serang ibu, paman Steven sedang melawan raja peri senior dan junior ibu. Kami tidak mampu mengatasinya..." gumam Lyla serius
"Ya ibu, seluruh anggota kerajaan dan kakek juga terluka parah ..."
"Hmmm..." desahku menatap Nana
"Na tolong obati mereka ya aku mau kesana" gumamku kesal
Aku beranjak dari tempat tidurku dengan kesal, Alan menggenggam erat tanganku dan menatapku dengan tatapan sedih
"Ibu jangan kesana, disana sangat berbahaya... Aku tidak mau ibu terluka..."
"Tenang saja anakku, aku tidak akan terluka... Oh ya ngomong - ngomong kamu sekarang bertambah tinggi ya nak"
"Aku sudah enam belas ribu tahun ibu..."
"Oh benarkah? Selama itu ibu meninggalkan kalian?" gumamku terkejut
"Kamu sendiri sih melamun mulu sampai lupa sama anak.." sindir Nana kesal
"Eehh... Mmm maaf ya nak..."
"Tidak apa ibu, ayah bilang ibu masih banyak urusan jadi ibu tidak menemani kami"
"Ayah kalian?" gumamku terkejut
"Ya, ayah setiap malam datang kepada kami ibu. Tiga hari yang lalu ayah mengantarkan kami ke kerajaan vampir karena ada suatu urusan ibu" gumam Lyla menatapku serius
"Kalian bertemu dengan ayah kalian?"
"Ya ibu, ayah semakin tampan loh ibu" gumam Alan polos
"Dimana ayah kalian?" gumamku sedikit kesal
"Kata ayah, ibu tidak boleh tahu dulu sebelum urusannya selesai ibu" ucap Lyla pelan
"Urusan apa?"
"Ayah juga bilang jangan di beritahukan ibu tentang urusannya itu..." gumam Alan pelan
"Hmmm kalau ayah kalian datang, bilang ke ayah kalau ibu marah sama ayah..."gerutuku kesal
"Ibu jangan marah sama ayah, ayah ada urusan yang ibu tidak boleh tahu sebelum ayah mengatakannya..." gumam Lyla memegang tanganku
"Ya, kata ayah takutnya ibu melakukan seperti dulu jadi ayah tidak mau mengatakannya kepada ibu" gumam Alan polos
"Alan ... Huussstt" protes Lyla menatap Alan dingin
"Uuppsshh keceplosan" desah Alan menuntup mulutnya dengan kedua tangannya
"Oh aku mengerti..." desahku berdiri di depan kedua anakku dan menjentikkan tanganku
"Hormat dewa..." gumam Wan berdiri di belakang Lyla dan Alan
"Tolong jaga mereka berdua jangan sampai mereka datang ke alam lain. Aku ada urusan penting" gumamku merubah wujud vampirku
"Baik dewa..." Wan sedikit menundukkan badannya dan aku melangkah pergi ke sekitar kerajaan vampir senior. Aku berdiri di atas pohon besar dan melihat pertarungan antara Steven dan Didi dengan raja peri senior dan raja peri junior. Steven dan Didi telah terjatuh ke tanah dengan luka yang sangat parah di tubuh mereka
"Hahaha hanya ini kemampuan kalian sang raja terkuat? Haaah terkuat dari mananya coba!!" teriak Gio bangga
"San..." gumamku pelan dan San berdiri di sampingku
"Hormat dewa"
__ADS_1
"Dimana Sandy kamu sembunyikan?"
"Di kerajaan dewa... Tapi dewa tenang saja dia sedang tertidur karena siapapun yang datang ke kerajaan pasti akan tertidur dan tidak sadar"
"Oh... Bawakan dia kemari..."
"Ini dewa" gumam San menjentikkan tangannya dan muncul tubuh Sandy di sebelahnya
"Oh makasih, kamu bisa kembali... Jangan lupa jaga kerajaan San..."
"Baik dewa" gumam San dan menghilang di sebelahku, aku segera menyembunyikan tubuh Sandy dan mulai merencanakan sesuatu
"Dimana raja kalian? Apa dia ketakutan sehingga dia bersembunyi seperti anak kecil?" sindir Gio dingin dan semua raja dan pasukannya tertawa keras
"Oh mencariku ya?" gumamku dingin
"Ternyata kamu berani ya mendatangi kami?"
"Kaum lemah seperti kalian buat apa aku tidak berani coba" gumamku dingin
Aku turun dari pohon dan berdiri di depan Steven dan Didi yang terluka itu. Aku membaca mantra penyembuh dan menjentikan tanganku yang membuat seluruh kaum vampir senior sembuh dari luka parah mereka
"Waaah hebat..." gumam seluruh raja terkejut
"Sani kenapa kamu kesini? Mereka bukan tandinganmu!!" teriak Steven kencang
"Hanya dua raja yang tidak punya rasa terimakasih saja kok" gumamku dingin
"Kalian semua serang dia!!" teriak Gio dan seluruh pasukan mereka berlari menyerangku. Tanpa berpikir panjang aku membaca mantra tingkat menengah dan muncullah anak panah darah yang membunuh seluruh pasukan mereka berdua.
"A... Apa? Kenapa semudah itu?" tanya Gio terkejut
"Kemana perginya Nia?" gumamku dingin
"Kamu tidak perlu tahu!!"
"Oh benarkah kalau begitu..." gumamku menjentikkan tanganku dan muncullah tubuh Sandy
"Nasib adikmu juga kamu tidak perlu tahu!!" gumamku dingin
"Sandy!!!... ternyata kamu yang membawa adikku ya? Pantas aku mencarinya tapi tidak menemukannya!!" protes Gio dingin
"Kembalikan adikku!!!" teriak Gio kesal
"Beritahu aku kemana perginya Nia!!!"
"Baik... Baik, dia sedang bersama dengan dewa sifat..."
"Dewa sifat apa?" gumamku bingung
"Halah dewa sifat tuh... Dewa iri dengki, dewa kemarahan, dewa kesombongan, dewa kebohongan, dan dewa kejelekan... Ya bisa di bilang dewa yang mengatur sifat buruk seseorang" gumam Candra di sebelahku
"Itupun tidak tau..." gumam Steven pelan
"Dewa ada banyak, hanya enam dewa tertinggi yang aku tahu!!" gerutuku kesal
"Kembalikan adikku!!" teriak Gio terus menerus
"Aku akan mengembalikan adikmu kalau kamu membawa seluruh dewa sifat kemari!!"
"Apa kau gila? Aku tidak kenal dengan semua dewa sifat, aku hanya kenal Nia saja!!" gerutu Gio kesal
"Ya sudah tidak perlu menyuruh siapapun kemari, tapi sebelum itu.." desahku membaca mantra yang membuat dua raja itu tertidur di tanah
"Apa yang kamu lakukan?"
"Hanya membuat mereka melupakan apa yang terjadi dan juga agar mereka tidak bisa melihat dewa lagi..."
"Apa bisa seperti itu?" tanya Candra terkejut
"Ya, mereka bisa melihat dewa iri dengki karena hati mereka yang sedang iri dengan kaum lain, ya kasusnya sama dengan Didi" gumamku menatap Didi yang tertidur juga
"Tapi kenapa Didi kena mantramu?"
"Karena hati gelapnya masih ada di hatinya..." gumamku pelan
"Candra bisa hidupkan mereka kembali, mereka yang terkena panahku hanya pingsan saja" gumamku menatap Candra
"Itu hal yang mudah untukku" gumam Candra membaca mantra dan panah di tubuh seluruh pasukan peri itu hilang
"Makasih..." gumamku menjentikkan tanganku dan memindahkan tubuh mereka kembali ke kerajaan peri senior dan junior
__ADS_1
"Sudah bereskan? Aku ingin kembali melamun..." gumamku mengubah wujudku jadi manusia
"Apa kamu memikirkan Han?" gumam Candra menatapku
"Ya..."
"Kenapa kamu memikirkannya? Dia tidak terluka sedikitpun kok"
"Ya aku tahu karena dia dewa terkuat, tapi... Dimana dia?" gerutuku kesal
"Dia ada di puncak keabadian..." gumam Steven dingin
"Puncak Keabadian? Apa itu?"
"Tempat dia melakukan urusannya..."
"Antarkan aku kesana!!!"
"Tidak bisa!!" gumam Steven dingin
"Kenapa?"
"Hanya Han yang bisa, selain dia tidak bisa...Itulah kenapa kita diliburkan dua minggu karena Han membutuhkan bayangannya untuk melakukan urusan itu!!"
"Urusan apa sebenarnya?" protesku kesal
"Kamu... Tidak perlu tahu" gumam Candra dan Steven pergi meninggalkanku
"Kenapa semua dewa tidak mau memberitahukanku!!!" teriakku kesal
"Ka.. Kamu kenapa teriak Sani? Membuatku terkejut tahu!!" protes Didi terbangun dari tidurnya
"Kemana kakakmu pergi?" gumamku dingin
"Kakakku? Si Samuel Han?" gumam Didi mengusap kedua matanya
"Samuel Han? Siapa itu?"
"Ya kakakku namanya Samuel Han, kenapa kamu mencari kakakku?"
"Aku ada urusan dengannya... Beritahu aku kemana dia pergi?"
"Aku tidak tahu, dia tidak memberitahukanku sama sekali"
"Benarkah?" gumamku terkejut
"Ya benar, dia sama sekali tidak memberitahukanku..."
"Oh begitu ya, baiklah... Aku mau pergi dulu" gumamku pelan
"Tunggu Sani... Ini ada surat dari kakakku!!" gumam Didi memberikanku secarik kertas dan aku langsung mengambilnya lalu membacanya
Istriku, apa kamu merindukanku? Hahaha ... Oh ya maaf aku harus merahasiakan urusan yang aku lakukan kepadamu. Tapi aku melakukan ini demi kebaikanmu, aku memang tidak mau memberitahukanmu karena aku tidak mau kamu melakukan hal bodoh lagi. Kalau semua sudah selesai aku akan memberitahukanmu kok sayang. Salam sayang dari suamimu~Han
"Oh... Hmmm" desahku menyimpan kertas itu disaku pakaianku
"Terimakasih...Aku pergi dulu-" gumamku melangkahkan kakiku dan berpindah kembali ke kamarku
"Hormat dewa" gumam Wan membungkukkan badannya kearahku
"Kemana kedua anakku?"
"Tuan Alan dan tuan Lyla sedang tidur dewa"
"Oh... Mmm Wan kamu tahu gak dimana Puncak Keabadian?"
"Puncak Keabadian? Saya tahu dewa..." gumam Wan membaca mantra dan muncul sebuah layar di depan kami. Di layar itu aku melihat sebuah gunung yang sangat tinggi dan besar, pemandangan di puncak itu sangat indah seperti surga.
"Ini puncak keabadian dewa. Tempat bertapa dewa agung dan juga tempat yang paling sakral yang ada di tiga alam ..."
"Dimana tempatnya?"
"Tempatnya berada di antara surga dan neraka dewa, hanya dewa agung yang bisa kesana..."
"Oh benarkah? Bisa tidak kamu perbesar tempat itu?" gumamku pelan
"Tidak bisa dewa... tempat itu sangat suci..."
"Oh begitu ya... Hmmm kalau begitu aku mau pergi dulu, tolong jaga kedua anakku" gumamku pelan dan berpindah di atas asrama
Aku melihat bulan purnama yang bersinar terang. Aku masih berpikir urusan apa yang dilakukan oleh Han sampai - sampai dia merahasiakan kepadaku. Perilaku apa yang pernah aku lakukan sehingga Han tidak ingin aku melakukannya lagi? Hidup beratus abad membuatku lupa apa yang pernah terjadi di masa lalu.
__ADS_1