Mengubah Takdir Part II

Mengubah Takdir Part II
Episode 39 : Ternyata Kenyataannya seperti Itu!


__ADS_3

Kepalaku terasa sangat berat dan tubuhku terasa sangat lemas. Aku merasakan ada seseorang yang mengusap lembut rambutku, aku membuka kedua mataku, aku melihat sekelilingku dan menatap Samuel di sampingku dengan wajah khawatirnya.


"Aku dimana?" gumamku pelan, aku bingung aku berada dimana sekarang


"Kamu ada di kerajaanku..." gumam Samuel pelan


"Kerajaanmu? Tidak mungkin, ini bukan kerajaanmu!!" aku masih ingat bagaimana kerajaan dewa laut milik Samuel apalagi aku sudah pernah pergi kesana


"Ini memang kerajaan dewa agung. Apa kamu lupa?"


"Tunggu sebentar... Ini bukannya kerajaannya Han?" gumamku terkejut


"Aku memang Han..." gumam samuel merubah wujudnya menjadi Han


"Tunggu!!! Apaaaa?" tanyaku terkejut


"Ya tubuh asliku memang berada di tubuh ini. Namaku Samuel Han..."


"Jadi yang dikatakan Didi kalau nama kakaknya Samuel Han itu?"


"Ya itu lengkapku... Dan Han itu margaku... Adikku bernama Didi Han... Kamu bisa memanggilku Samuel atau Han terserah sesuka hatimu"


"Jadi... Kenapa kamu menutupi semuanya dariku!!! Kamu jahaaaatt!!!!" teriakku memukuli Han dengan keras


"Aduh ampun... Ampun..." rintih Han pelan


"Ibu kalau Alan yang nakal pukullah Alan, jangan pukuli ayah..." gumam Alan di depan pintu dengan Lyla


"Eehh.. Mmm tidak kok Alan, kalian tidak nakal kok" gumamku tersenyum manis


"Alan kira, Alan nakal terus ibu memarahi ayah"


"Tidak kok anakku, kalian anak yang baik. Mana mungkin ibu menghukum kalian" gumamku pelan


"Syukurlah kalau kami anak yang baik ibu... Oh ya aku dan kak Lyla membawakan makanan untuk ibu..." gumam Alan meletakkan senampan makanan di atas meja


"Terimakasih..."


"Sama - sama ibu.."


"Udah, kalian bisa berlatih lagi..." gumam Han serius


"Baik ayah..." ucap Alan dan Lyla bersamaan dan keluar dari kamar


"Mau makan dulu sayang..."


"Enggak..."


"Kamu masih marah kepadaku?"


"Menurutmu?"


"Hmmm jangan marah istriku, kamu sangat jelek kalau marah" gumam Han menatapku dengan tatapan berkaca - kaca


"Bagaimana aku tidak marah kalau kamu tidak jujur kepadaku Han, aku istrimu seharusnya aku tahu urusanmu!!!" gerutu kesal


"Aku ada alasannya tersendiri untuk merahasiakannya darimu... Sebenarnya belum waktunya memberitahukanmu tapi gara - gara kamu terluka oleh dua dewa itu jadi ya mau tidak mau aku harus membawamu ke kerajaanku" desah Han pelan


"Jadi jelaskan urusan apa yang kamu lakukan dan juga kenapa kamu merahasiakannya dariku!!" gerutuku kesal


"Hmmm aku akan menjelaskannya kalau kamu selesai makan bagaimana?" gumam Han mengambil semangkuk sup di tangannya


"Hmmm baiklah, tapi kamu harus memberitahukanku"


"Iya sayang..." desah Han menyuapiku sup itu


"Hmmm aku kira, saat aku tinggal selama itu kamu akan menikah dengan laki - laki lain..." desah Han pelan


"Emang kamu kira aku wanita apaan!!" protesku kesal


"Ya jarang ada yang kuat ditinggal pasangan walaupun sedetik"


"Aku istrimu dan kamu suamiku, buat apa aku mencari laki - laki lain apalagi aku sudah punya anak..." gerutuku kesal


"Hmmm iya sayang, jangan marah - marah terus dong. Aku melihatmu terus melamun membuatku sangat sakit tahu..." desah Han pelan


"Kamu kira ditinggal selama itu oleh suami sendiri tidak sakit apa??" protesku kesal

__ADS_1


"Hmmm maaf sayang... Aku melakukan ini agar kamu tidak melakukan kesalahan yang sama"


"Kesalahan apa?"


"Kamu tidak ingat kenapa kamu bisa mati sekali?"


"Waktu itu aku memberikan seluruh kekuatanku untuk Sony saat dia bertapa" gumamku pelan


"Ya itulah kenapa aku tidak mau kamu melakukan yang sama kepadaku Sani..."


"Maksudmu?" tanyaku terkejut


"Kan aku udah bilang, aku kembali ke tubuh asliku karena kesalahanku. Mengembalikan seluruh arwah ke tubuh asli itu membutuhkan tenaga yang banyak dan besar, kalau kamu tahu aku yang sangat kesakitan pasti kamu akan melakukan kesalahan yang sama lagi dan itulah kenapa aku tidak memberitahukanmu karena aku akan kehilanganmu untuk kedua kalinya" gumam Han meletakkan mangkuk kosong di atas meja


"Tapi kenapa di tubuhmu kamu bersikap biasa saja?" gumamku bingung


"Aku hanya menahannya saja, awalnya aku berusaha untuk menghindarimu selama beberapa tahun dulu tapi kamu terus ngotot menyuruhku untuk ikut bersekolah bersamamu jadi ya mau tidak mau aku menuruti permintaan istriku"


"Maaf Han aku tidak tahu..."


"Iya tidak apa sayang, walaupun lebih menyiksa tapi aku masih bisa mengawasimu tanpa kamu sadari"


"Tapi kenapa aku bertanya apa Samuel itu Han tapi kamu tidak jujur!!"


"Ya namanya juga merahasiakan darimu, aku juga perlu berbohong... Tapi malah kamu dilukai dua dewa itu membuatku sangat kesal..."


"Hmmm lalu bagaimana dengan kedua dewa itu?"


"Ya masih saja bertarung padahal sudah aku beri hukuman" desah Han pelan


"Jadi kamu punya urusan apa?" tanyaku serius


"Ya biasalah urusan dewa agung..."


"Ya apa urusanmu sampai - sampai kamu tidak memberitahukanku?"


"Alam dewa dan surga sangat buruk saat dua dewa itu berkelahi. Jadi mau tidak mau aku memberikan setengah arwahku untuk Alan dan setengah lagi untuk memperbaiki alam dewa dan surga. Aku memang berhasil memperbaiki alam dewa dan surga tapi malah aku membuat kesalahan yang membuat arwahku hilang dan cincin pernikahan kita menjadi retak"


"Apa kamu tidak memperkirakan itu?"


"Aku sudah memperkirakan kalau aku hanya menggunakan setengah arwahku maka setengah arwahku akan hilang, walaupun aku memakai seluruh arwahku nanti akan membuat seluruh arwahku akan hilang semuanya. Jadi sebelum aku memperbaiki alam dewa dan surga, aku memberikan setengah arwahku kepada Alan."


"Ya karena sebelumnya di tubuh asliku ini tidak ada arwahku sama sekali jadi membuat hatiku dipenuhi oleh hati kegelapan yang membuatku tidak sadar apa yang aku lakukan, aku sudah memperkirakan semuanya bahkan memperkirakan aku akan menyakitimu Sani. Jadi sebelum itu terjadi aku sudah menyuruh Alan dan Lyla untuk memasukkan setengah arwahku itu ke dalam tubuh asliku kalau aku menyakitimu..." gumam Han pelan


"Aku sudah memperkirakan semuanya bahkan aku sudah merencanakannya dengan Alan dan Lyla sebelumnya. Membawa arwah dewa agung itu tidak mudah, itulah kenapa aku menyuruh Alan untuk kuat karena aku tidak mau Alan mati karena tidak kuat menahan tekanan arwah dewa agung" gumam Han pelan


"Tapi pasti bukan karena kamu ingin memperbaiki alam dewa dan surga saja kan kamu menutupi semua dariku?"


"Ya, tebakanmu benar" desah Han berdiri di sampingku


"Sekarang dewa sifat sedang berulah menghancurkan dua alam apalagi sekarang kamu sedang kondisi lemah setelah melahirkan Alan, kalau aku tidak kuat bagaimana aku bisa melindungimu istriku" gumam Han menatapku serius


"Selain itu, aku juga sedang berselisih dengan dewa daratan. Aku takut kalau aku tidak kuat kamu terluka sayang"


"Dewa daratan? Kenapa aku tidak tahu ada dewa daratan?" gumamku terkejut


"Ya karena dia jarang ada di dunia dewa, apalagi kami berdua dari dulu sejak aku masih menjadi dewa lautan kami selalu bertengkar karena dewa daratan terus menyalahkanku akibat banyak manusia yang merusak daratan yang menyebabkan daratan semakin mengecil. Padahal kan bukan aku yang melakukannya" gerutu Han terduduk di sebelahku


"Urusanku menjadi dewa agung sangat banyak sayang dan tidak mungkin kamu harus mengetahui satu persatu selain aku yang memberitahukanku. Aku tidak ingin kamu terbebani itulah kenapa aku tidak ingin kamu mengetahui apapun urusanku bahkan seluruh dewa juga tidak tahu apapun tentang urusanku selain tubuh asliku" gumam Han mengelus lembut rambutku


"Tapi Han aku istrimu aku juga berhak tahu!!" protesku


"Ya aku tahu, tapi kamu tidak perlu tahu semuanya. Yang kamu tahu hanya kamu harus menjadi istriku yang penurut dan menjadi ibu dari anak - anak kita. Udah itu saja tidak lebih..."


"Apalagi urusan dewa tertinggi sangat berat sayang, kalau urusanku menjadi dewa agung di ketahui oleh seluruh dewa maka dewan dewa tertinggi akan melenyapkanku"


"Dewan dewa tertinggi? Siapa mereka?" gumamku terkejut


"Mereka adalah dewan pengawas tertinggi di seluruh alam dewa, dan aku termasuk ke dalam dewa pengawas itu. Kami berada di puncak keabadian dan kami dewan pengawas punya tugas kami masing - masing. Tugasku hanya menjadi hakim di alam dewa dan juga memberikan hukuman kepada dewa yang bermasalah"


"Apa puncak keabadian itu tempat yang suci?"


"Ya, bagaimana kamu tahu?"


"Wan yang memberitahukanku"


"Oh bawahanmu ya? Ya seluruh bawahan dewa tertinggi pernah kesana, mereka diuji dulu oleh kami sebelum di tugaskan. Apalagi bawahan untuk dewa penyeimbang"

__ADS_1


"Oh begitu ya..." desahku pelan


"Apa kamu sudah mengerti?" gumam Han menatapku


"Ya aku mengerti..." desahku pelan


"Hmmm baguslah, kamu jangan melamun terus ya. itu membuatku sangat sakit sayang"


"Hmmm tapi kamu juga membuatku terus memikirkanmu Han, aku takut kehilanganmu" desahku pelan, Han memelukku lembut dan menatapku dengan tatapan sayang


"Maaf sayang, sebenarnya aku yang sangat takut kehilanganmu. Aku takut banyak yang memilikimu saat aku tidak ada di sampingmu Sani" gumam Han pelan


"Tidak ada satupun laki - laki yang mendekatiku kok Han, mungkin karena aku terlalu cuek dan sering melamun jadi aku tidak memperdulikan siapapun yang mendekatiku bahkan tubuh aslimu mendekatiku saja aku tidak peduli..." gumamku pelan


"Hmmm ya aku tahu sayang, tapi aku senang kamu masih setia kepadaku sayang" desah Han tersenyum manis


"Ya Han..." desahku pelan


"Kamu sudah tahu semuanya kan... Jadi jangan kamu ceritakan kepada kaum lain apalagi dewa lain, biarkan hanya kamu yang mengetahuinya. Apa kamu mengerti?..."


"Ya aku mengerti..." desahku pelan


"Ya sudah kamu istirahatlah, aku ada urusan penting"


"Urusan apa?"


"Ya urusan yang aku ceritakan tadi, jadi kamu istirahatlah..."


"Gak bisa! Aku ada urusan juga, aku harus mencari dewa sifat itu. Kalau aku biarkan lama - lama tiga alam akan hancur"


"Aku tahu sayang, tapi kamu harus memulihkan dirimu dulu. Kamu sangat lemah setelah terkena kekuatan Sony dan Sasha, jadi kamu harus istirahat!!"


"Gak mau... Kalau kamu menyuruhku untuk istirahat jadi kamu harus menemaniku, kamu gak boleh meninggalkanku!!!" protesku menggenggam erat tangan Han dengan kuat


"Mmm baik baik aku akan menemanimu" gumam Han berbaring di sebelahku


"Hmmm" desahku membenamkan wajahku di dada bidang Han


"Ada apa sayang?"


"Aku rindu..." desahku pelan


"Benarkah? Padahal kan kamu sering bertemu denganku loh"


"Tapi kan kamu tidak mengatakannya kepadaku kalau Samuel itu kamu Han. Kamu sangat jahat!!" gumamku kesal


"Hehehe maaf sayang, tapi ini masih awal loh sayang..."


"Masih awal? maksudnya?" gumamku kaget


"Kamu akan mengalaminya lagi untuk kedepannya. Jadi kamu jangan melamun terus menerus ya" gumam Han mencium keningku


"Apa ada urusan yang penting?"


"Ya benar, dan kamu tidak boleh tahu sebelum urusan itu selesai!!"


"Astaga pelit sekali kamu Han"


"Aku gak mau kamu melakukan kesalahan yang sama lagi Sani, aku gak mau kamu mengorbankan nyawamu untuk hal yang tidak penting!!"


"Hmmm tapi.."


"Gak ada tapi - tapi, kalau kamu mengorbankan nyawamu lagi, apa kamu mau meninggalkan Alan sendiri!!" gerutu Han kesal


"Tidak..."


"Kalau tidak ya sudah ikuti perkataanku Sani!!!"


"Hmmm ya Han aku akan mengikuti perkataanmu" desahku pelan


"Ya udah kamu tidurlah istriku, kalau kamu sudah bangun aku ajak kamu ke puncak keabadian"


"Benarkah?"


"Ya benar... Dewa penyeimbang diwajibkan datang dan menghadap kami para dewan dewa pengawas, jadi kamu besok kesana denganku"


"Oh baiklah Han" desahku menutup kedua mataku

__ADS_1


Aku sangat senang saat aku bisa bertemu dengan Han lagi, aku tidak menduga Samuel itu adalah Han dan Han itu Samuel. Aku memeluk erat tubuhnya dan tertidur di pelukannya


__ADS_2