
Aku menatap sekitarku, memikirkan sesuatu hal yang besar membuatku pusing. Pertempuran seperti apa dan apakah rencana dewa alam semesta akan berhasil atau tidak itu benar-benar aku pikirkan saat ini.
"Eeehhh dewa, anda berada disini juga?" tanya Wan menatapku terkejut.
"Iya Wan, apa kamu tidak tahu kalau aku disini juga?" tanyaku pelan.
"Eemmm tidak dewa, saya datang kemari karena undangan tetua dewa saja nona muda..." ucap Wan menundukkan badannya kearahku.
"Oh begitu ya..." desahku pelan.
"Mmmm ada apa dewa?" tanya Wan bingung, aku menarik nafas panjang dan menatap Wan serius.
"Wan, kalau seandainya alam ini berubah dan kita semua berinkarnasi apa kamu akan mengingatku dan datang kepadaku?" tanyaku pelan.
"Kenapa dewa bertanya seperti itu? Apa dewa berencana..."
"Entah, aku belum terpikirkan hal itu. Tapi apa kamu akan mengingatku dan datang padaku nanti jika tiga alam ini lenyap?" tanyaku pelan, Wan menundukkan badannya dan kepalanya.
"Walaupun saya tidak yakin kalau saya bisa berinkarnasi dewa, tapi kalau nantinya saya berinkarnasi menjadi manusia... saya tetap akan menjadi bawahan anda dewa."
"Bawahan ya... hmmm aku malah menginginkan kamu menjadi saudaraku Wan."
"Aku? Ehhh mmm s-saya? Apa dewa yakin?" tanya Wan serius.
"Ya aku yakin Wan."
"T-Terimakasih dewa!!" ucap Wan senang. Tiba-tiba Al dewa Alam semesta datang sambil membawa kotak hitam dan besar di tangannya.
"Dewa Penyeimbang..." ucap dewa alam semesta pelan.
"I-iya dewa, ada apa dewa?"
"Ini barang yang ingin aku berikan padamu..." ucap dewa alam semesta memberikanku kotak itu.
"Apa ini dewa?" tanyaku penasaran, aku membuka kotak itu dan terlihat sebuah kalung merah yang mirip dengan milikku. aku menyentuh leherku ternyata kalungku menghilang.
"I...ini... apakah ini kalungku?" tanyaku serius.
"Ya, Han yang memberikannya padaku sebelum dia melakukan pertapaan agung."
"Oh terimakasih dewa." Aku mengambil kalung itu dan memakainya.
"Apa hanya ini saja dewa?"
"Tidak, aku hanya ingin memberikanmu ini..." gumam dewa alam semesta memberikan kristal berwarna ungu gelap padaku.
"Apa ini seperti kristal..."
"Ya benar, ini salah satunya. Peganglah, ini kuncinya. Kalau aku yang memegangnya takut kalau terlupa..."
"Tapi kalau saya nanti..."
"Tenang saja itu kalung milikmu dan tidak akan terlepas darimu tapi karena kamu harus melakukan tugasmu membuat kalung itu harus dilepas oleh Han."
"Oh begitu ya..."
"Oh ya kemarin Han protes kepadaku apa kamu menceritakan rencana kita?" Tanya dewa semesta serius.
"Mmm tidak dewa, aku tidak menceritakan apapun."
"Baguslah, kalau Han tahu pasti dia akan marah besar..." gumam dewa semesta pelan.
"Oh mmm dewa, kira-kira kapan perang itu terjadi?" Tanyaku pelan.
"Tidak akan lama lagi makanya aku memintamu kemari agar aku bisa memberikanmu kalung kristal ini dan kau harus mencari kalung kristal yang lain kalau kau ingin mengakhiri semuanya."
"Baik tetua, tapi dimana saya bisa mendapatkannya? Saya tidak tahu cara melakukannya!"
"Wan bisa melakukannya, dia penjaga tiga alam yang paling setia dan dia tahu dimana tempat kristal yang lainnya."
"Wan? Bagaimana caramu melakukannya?" Tanyaku penasaran.
"Dengan sedikit mantra dewa. Mmmm dewa apakah saya boleh pinjam kalung kristalnya?" Tanya Wan pelan dan aku memberikan kelung milikku. Wan langsung menggerakkan bibirnya dan muncul sebuah peta transparan di depan kami, tiba-tiba muncul beberapa titik di dalam peta tersebut.
"Ini tempat kalung itu bersembunyi dewa."
__ADS_1
"Apa akan mudah?"
"Tidak, kalung itu di pakai dewa yang kuat dan mengambilnya tidak akan mudah."
"Benarkah? Mmmm coba cari kelemahan dewa yang memakainya agar aku bisa mengambilnya."
"Baik dewa..." gumam Wan menundukkan badannya.
"Wan, kamu nampak menyayang dewa penyeimbang? Apa kamu selalu melindunginya?"
"Menyayangiku? Melindungiku?" Tanyaku terkejut.
"Tentu saja dewa, saya sudah menganggap dewa penyeimbang sebagai saudara saya dewa. Dewa berbeda dengan dewa penyeimbang lainnya, dewa sangat baik dan tidak sombong jadi saya jadi saya senang bekerja untuknya.
"Oh baguslah, kesetiaanmu tidak ada yang bisa menggantikannya."
"Saya hanya ingin melakukan yang terbaik dewa..." gumam Wan pelan.
"Baguslah, Wan ikut aku dan Sani kamu bisa menunggu Han disini sebentar lagi dia akan datang... oh ya Sani hanya itu saja yang bisa aku berikan padamu. Selebihnya kita lihat situasi nantinya apakah akan ada perang atau tidak..." gumam dewa alam semesta pergi meninggalkanku sendirian.
"Huufftt menemukan kristal ya..." gumamku menatap kristal di tanganku dan menyimpannya, aku terduduk di ujung puncak keabadian sambil menatap para malaikat berterbangan di atas langit yang terlihat sangat sibuk.
"Merubah ini semua ya? Apa aku mampu?" gumamku memejamkan kedua mataku dan menikmati angin yang berhembus lembut di wajahku.
"Apa yang kamu lakukan disini sayang?" ucap Han yang terduduk di sampingku.
"Eehh mmm kamu mengagetkanku Han!" Ucapku pelan.
"Kenapa kamu disini?"
"Tidak ada, hanya melihat para malaikat terbang di atas saja..."
"Lalu kenapa melihat mereka?"
"Tidak ada, hanya melihat kesibukan mereka saja."
"Oh mmm kamu sudah bertemu dewa alam semesta?"
"Sudah."
"Apa yang dikatakannya?"
"Kristal? Aku punya satu."
"Benarkah? Bolehkah aku melihatnya?"
"Untuk apa?"
"Hanya ingin melihatnya apa itu tidak boleh?"
"Ohh mmm baiklah, mari kita pulang dan aku akan menunjukkan kepadamu..." gumam Han menjentikkan tangannya dan kami sampai di dalam kamar.
"Kamu akan menunjukkan kristalmu padaku?" Tanyaku serius dan Han menganggukkan kepalanya.
"Ya, ayah yang memberikannya padaku..."
"Benarkah? Sangat indah..." gumamku pelan sambil menatap kristal itu dengan serius.
"Kamu mau?"
"Ya aku mau jika kamu mengijinkannya..." gumamku pelan dan memberikan kotak kristal itu kepadaku.
"Aku berikan padamu tapi jaga kristal ini jangan sampai hilang!" Ucap Han serius yang membuatku terkejut.
"B-benarkah?" Tanyaku terkejut dan Han mengangguk sambil tersenyum padaku.
"Aaahh terimakasih Han!" Ucapku senang karena aku kurang empat kristal lagi untuk mengubah tiga alam ini.
"Simpanlah dulu kristal itu!"
"Baiklah..." gumamku menyimpan kalung itu di tempat yang sangat aman.
"Huufftt capeknya..." desah Han pelan.
"Mau makan sayang?"
__ADS_1
"Nanti saja lagi tidak berselera."
"Mmm sayang aku ada sesuatu yang ingin aku ucapkan padamu."
"Tentang apa?" Tanya Han menatapku serius.
"Tentang kesalahanku di alam lain, kamu belum menghukumku!" Ucapku serius.
"Hukuman? Hmmm..." desah Han membuka pakaiannya dan menatapku dingin.
"Jadi kamu masih ingat ucapan kita?"
"Tentu saja, aku sudah berjanji padamu! Aku sudah sangat menyakitimu Han walaupun itu bukan kemauanku tapi aku sudah sangat menyakitimu!" Teriakku kencang dan Han hanya menghela nafas pelan.
"Nanti ya kalau sudah waktunya aku akan menghukummu."
"Kenapa harus nanti Han!"
"Aku lelah sayang, aku tidak mungkin menghukummu!" Ucap Han pelan.
"Oh mmm b-baiklah..." desahku pelan.
"Kenapa kamu terlihat bersedih?"
"Yaaah aku masih sangat merasa bersalah padamu suamiku dan aku sudah menyakiti hatimu apalagi aku..."
"Sayang dengar, aku tidak masalah dan aku sudah memprediksi semuanya jadi aku sudah siap mental dan hatiku sebelumnya jadi aku tidak bermasalah."
"Tapi bagi aku itu bermasalah! Aku menyakiti hati suamiku dan aku mengingkari janji suci kita!!" Teriakku kencang dan Han menarikku ke dalam pelukannya.
"Hmmm baiklah, besok malam aku pulang sedikit larut jadi kamu tunggu di kamar."
"Lalu hukumanku?"
"Nanti aku akan memberimu hukumannya jika aku sudah pulang, bagaimana?" Ucap Han serius dan aku menganggukkan kepalaku pelan.
"Ya sudah, aku lapar sayang... makan bersama yuk..." gumam Han menarikku keluar kamar.
"Han, pakaianmu!" Ucapku serius dan Han menjentikkan tangannya yang membuat pakaiannya berganti.
Di dalam dapur aku dan Han makan bersama sedangkan Lyla dan Alan masih belum pulang dari sekolah dewanya. Han makan dengan sangat lahap sedangkan aku hanya makan beberapa suap dan menatap Han yang sedang makan.
"Kenapa kamu makan cuma sedikit?"
"Yaah aku hanya makan sedikit kok sayang."
"Kamu harus makan yang banyak tahu!"
"Iya sayang aku tahu..." gumamku tersenyum kearah Han.
"Oh ya sayang, besok jangan menungguku ya aku memang pulang larut tapi entah sampai rumah jam berapanya aku belum tahu loh ya."
"Memang kamu ada acara apa?"
"Mengatur alam ini dan juga mengatur pelaksanaan survival nantinya apalagi kamu dan dewa kehancuran ikut."
"Benarkah? Memangnya kemarin tidak jadi?"
"Tidak, kemarin di tunda karena tugasmu di alam lain jadi karena sekarang kamu sudah selesai dan kamu sudah sehat maka survival itu akan dilakukan."
"Benarkah? Memangnya kapan?"
"Besok lusa. Jadi kamu harus menjaga diri dan tubuhmu, apa kamu mengerti!"
"Mmm ya aku mengerti."
"Baiklah mari istirahat, aku sangat mengantuk..." gumam Han menggandeng tanganku dan kembali ke dalam kamar.
"Han, apa survival nantinya akan sangat berbahaya?"
"Tidak terlalu, tapi yaahh yang menjadi bahayanya itu kamu dan dewa kehancuran. Konsekuensi kalian berdua diikutkan pasti lembah kematian akan sangat hancur tapi ya mau bagaimana lagi..." desah Han berbaring sambil menatapku serius.
"Tapi jika kalian berdua tidak diikutkan maka banyak dewa yang protes kalau aku pilih kasih."
"Oh mmm kalau begitu buat survival khusus agar aku dan dewa kehancuran selesai lebih awal jadi survival untuk dewa lain bisa aman!" Ucapku berbaring di sebelah Han.
__ADS_1
"Mmm ide yang bagus, nanti aku coba bicarakan dengan dewan pengawas..." gumam Han pelan dan memejamkan kedua matanya.
"Apapun yang terjadi kamu harus sebisa mungkin menghindari dewa kehancuran sayang agar kamu tidak terluka seperti dulu, aku tidak mau kamu terluka dengan jiwamu yang sekarang ini..." desah Han pelan, aku memeluk Han erat dan menganggukkan kepalaku pelan. Entah survival seperti apa nantinya tapi aku sendiri tidak mau mengecewakan Han