
Saat ini aku berada di sebuah kerajaan yang sangat besar, lebih besar dari kerajaanku dan juga sangat megah. Han menggandeng tanganku dan masuk ke dalam kerajaan yang sangat besar itu
"Ini kerajaanmu?"
"Ya benar"
"Semegah ini?" tanyaku terkejut
"Ya pastilah, lebih megah dari kerajaanmu kan"
"Ya, kerajaanku tidak ada apa - apanya" gumamku pelan
"Selamat datang dewa..." sapa seorang laki - laki di depan kami
"Ya terimakasih. Oh ya siapkan makanan untuk istriku" gumam Han menggandengku masuk ke dalam kerajaan itu
"Baik dewa" gumam laki - laki itu dan menghilang dari samping kami
Di dalam kerajaan itu memang benar - benar mewah dan juga luas, perabotan rumahnya juga berwarna putih bercahaya
"Nah anggap saja rumah sendiri" gumam Han melepaskan genggamannya dan duduk di kursi agungnya
"Mmm ..." desahku menatap sekelilingku
"Han, apa hanya aku yang datang kemari?"
"Ya..."
"Serius?"
"Ya aku serius. Dulu sebelum kamu, aku pernah mengajak dewa penyeimbang terdahulu ke kerajaanku tapi mereka sudah keduluan menikah dengan kaisar langit"
"Oh... Mmm aku mau bertanya, kata Candra tadi kamu dan kaisar langit memperebutkan dewa penyeimbang kan?"
"Ya benar"
"Lalu kan kakek Sony itu dewa penyeimbang, masa kamu menikahi laki - laki?" gumamku bingung
"Emang kamu kira aku penyuka sesama jenis apa!!" protes Han kesal
"Aku kan bertanya..."
"Hmmm tidak semua dewa penyeimbang kami rebutkan Sani, ada saatnya juga kami berebut..."
"Ada saatnya? Maksudnya?"
"Ya maksudnya dewa penyeimbang yang menurut kami sangat kuat lah yang menjadi incaran kami"
"Kenapa harus dewa penyeimbang terkuat?" gumamku bingung
"Ya kan untuk membantuku menyeimbangkan tiga alam"
"Jadi kamu juga mengincarku?"
"Ya benar"
"Sejak kapan?"
"Sejak kamu di alam baka"
"Kamu ada di alam baka?" tanyaku terkejut
"Ya benar. Awalnya kan dua dewa itu yang memohon kepadaku untuk memberimu inkarnasi, sebenarnya aku menolak tapi kaisar langit memaksaku dan menjamin setengah kekuatan mereka berdua untuk membantu menginkarnasimu dan Candra juga menyetujuinya..."
"Saat kamu mati, tiga dunia langsung retak dan goyah lebih parah dari pada dewa penyeimbang sebelumnya. Karena mempertimbangkan itu makanya kamu diinkarnasi lebih cepat dari yang lainnya" gumam Han menatapku
"Mohon maaf dewa, makannya sudah siap" ucap laki - laki yang tadi di belakangku dan Han hanya mengangguk pelan
"Aku melihat keseriusan Sony yang tidak mau melepaskanmu membuatku tertarik untuk mengetahuinya. Awalnya aku menyangkanya kamu hanya dewa penyeimbang biasa, tapi saat aku mengikuti perkembanganmu setelah inkarnasi yang membuatku tertarik kepadamu. Aku bilang kepada mereka kalau kamu bisa menguasai kekuatanmu dengan cepat berarti kamu benar - benar dewa penyeimbang yang hebat, dan itu pengakuanku pertama kali kepada seorang dewa selama hidupku" gumam Han mengubah wujudnya
"Oh benarkah? Emang kamu tidak pernah mengakui para dewa?"
"Tidak, semua dewa takut dan tunduk kepadaku dan memang tidak ada dewa yang memiliki peningkatan yang lebih baik dari pada kamu, dewa kehancuran, dan dewa kebangkitan" gumam Han menggandengku
"Oh... Jadi pelaksanaan inkarnasi itu kapan?"
"Setelah kita makan"
"Tunggu bukannya besok?"
"Beberapa menit di kerajaanku sama dengan satu hari di alam baka"
"Oh begitu ya" desahku pelan
Di sebuah ruangan aku melihat meja yang di penuhi oleh makanan enak, Han menarik kursi untukku dan dia duduk di depanku
"Makanlah.."
"Makasih Han" gumamku melahap makanan yang ada di depanku
"Menurutmu bagaimana kerajaanku?" gumam Han menatapku
"Sangat luar biasa, aku pertama kali melihat kerajaan yang semegah ini" gumamku serius
"Ya ini rumahmu kalau kamu menikah denganku"
"Tidak tidak, aku punya kerajaanku sendiri"
"Tenang saja, kamu bisa ke kerajaanmu kok"
"Tapi kan aku belum memutuskan akan menikah denganmu atau dengan..." gumamku serius
"Hei, kamu memutuskan hubunganmu dengan kaisar langit itu sama saja dia sekarang bukan calon suamimu lagi"
"Ya aku tahu, aku belum memikirkan akan menikah dengan siapa" gumamku pelan
"Itu pilihanmu Sani, tapi apapun yang terjadi kamu memang istriku..."
__ADS_1
"Hmmm ya aku tahu" gumamku melahap makananku
"Apa kamu tidak bersedia menikah denganku?" ucap Han menatapku dengan tatapan serius
"Aku..." gumamku pelan, "Mmm aku harus jawab apa?" gumamku dalam hati
"Tidak perlu bingung, jawab saja iya atau tidak" gumam Han santai
"Apapun jawabanmu aku akan menghargainya" gumam Han santai
"Aku... Bersedia" desahku pelan
"Benarkah? Aku tidak salah dengar kan?" tanya Han menatapku dengan tatapan terkejut
"Ya aku bersedia" gumamku pelan
"Hmmm..." desah Han memotong daging di depannya
"Apa kamu tidak senang?" tanyaku bingung
"Aku ya? Biasa saja" gumam Han melahap makanannya dan beranjak dari kursinya
"Aku mau ke kamar, kamu mau kemanapun terserah kamu" gumam Han pergi dari ruang makan itu
"Heeh? Kenapa dia langsung berubah seperti itu? Aneh, biasanya laki - laki akan senang tapi kenapa dia malah seperti itu?" gumamku bingung
"Itu tanda kalau dewa sedang senang dewa penyeimbang" gumam seorang laki - laki berdiri di sampingku
"Hmm, kamu membuatku terkejut..." desahku mengatur nafasku
"Eeh maaf dewa"
"Siapa kamu?"
"Saya Bryan, pelayan dewa agung"
"Oh aku Sani, ngomong - ngomong kalau dewa agung senang sifatnya aneh seperti itu?"
"Ya benar dewa, coba dewa tanya langsung ke dewa agung"
"Tanya langsung?"
"Ya tanya langsung apa dia senang atau tidak"
"Tapi dia tadi bilangnya biasa aja"
"Ya dewa coba buktikan kepada dewa agung kalau dewa benar - benar serius, apalagi ini pertama kalinya dewa penyeimbang bersedia menikah dengan dewa agung. Pasti dewa agung masih ada rasa tidak percayanya" gumam Bryan merapikan piring di meja
"Mmm benar juga, dimana kamar Han?"
"Di lantai atas dewa"
"Oh baiklah.." desahku melangkahkan kakiku dan aku berdiri di depan sebuah pintu kamar yang sangat besar di depanku
Aku membuka pintu itu dan terkejut melihat kamar yang sangat besar dan megah di dalam ruangan itu. Aku masuk ke dalam dan duduk di atas tempat tidur yang sangat empuk dan sangat nyaman. Aku melihat di sekelilingku tidak melihat Han di dalam kamar ini, tapi aku mendengar seseorang yang sedang mandi di kamar mandi.
Aku berjalan mengelilingi kamar itu dan berhenti di depan jendela, di luar jendela aku bisa melihat seluruh kerajaan yang berdiri di sekitar kerajaan ini bahkan yang membuatku kagum kalau kerajaanku juga terlihat dari kerajaan ini.
Cekreeekkk
Suara pintu terbuka dan Han keluar dari kamar mandi hanya memakai celana pendek dan handuk yang di usap - usapkannya ke rambutnya
"Kamu ngapain kesini?" tanya Han terkejut
"Menurutmu?" gumamku dingin
"Aku sedang tidak ingin bermain denganmu"
"Siapa yang ingin bermain denganmu!" gerutuku kesal
"Lalu apa yang kamu lakukan disini?" tanya Han serius
"Kamu ingin tahu, apa yang aku lakukan di kamarmu?" gumamku berjalan ke arah Han dan mencium lembut bibir Han dan memeluknya erat
"Ka...Kamu men...Menciumku?" ucap Han terkejut
"Ya, itu bukti kalau aku benar - benar bersedia menikah denganmu"
"Hmmm kamu ya berani juga mencium dewa agung dengan inisiatifmu sendiri" desah Han mengelus rambutku
"Hei kamu juga pernah menciumku ya!!" protesku kesal
"Hmmm ya memang, tapi kali ini inisiatifmu sendiri. Aku senang kamu menunjukkan kepadaku kalau kamu benar - benar bersedia menikah denganku Sani" gumam Han memelukku erat
"Emang kamu kira aku bohongan apa?"
"Ya, aku mengira kalau kamu hanya menjadikanku pelampiasan makanya aku bilang kepadamu aku biasa saja saat kamu mengatakannya, tapi kamu malah membuktikannya kepadaku yang membuatku sangat - sangat senang" gumam Han pelan. Bahuku terasa basah seperti terkena air mata, aku melepaskan pelukanku dan menatap wajah Han yang menunduk di depanku
"Kamu menangis?"
"Tidak, aku hanya kelilipan" gumam Han mengusap air matanya
"Hmmm jangan menangis tau, sebenarnya aku jatuh cinta kepadamu saat kita ada di hutan kematian dan aku memang bersedia menikah denganmu saat kamu bilang kepadaku apa aku bersedia menikah denganmu, apa karena aku bersedia menikah denganmu membuatmu sedih Han? Kalau iya aku tidak akan..." gumamku mengusap air mata Han
"Tidak, aku tidak bersedih. Aku hanya terlalu senang" gumam Han memotong pembicaraanku
"Hmmm aku kira kamu sedih" desahku kembali memeluk tubuh Han
"Tidak sayang, aku sangat senang. Senang akhirnya aku tidak sendiri lagi" gumam Han tersenyum kepadaku
"Hmmm kalau begitu cepat pakai bajumu aku akan menunggumu di luar" gumamku pelan
"Tidak perlu" gumam Han merubah penampilannya
"Aku dewa bukan manusia jadi tidak perlu ganti baju seperti manusia"
"Mmm ya benar juga" desahku pelan
__ADS_1
"Kamu mau pergi sekarang? Acaranya masih lama"
"Lalu kita akan kemana?"
"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat dulu"
"Suatu tempat?"
"Ya benar, sekalian ingin memberikanmu sesuatu"
"Memberikanku sesuatu? Apa itu?"
"Kamu akan tahu sendiri nanti" gumam Han tersenyum kepadaku dan mengajakku berpindah ke sebuah tempat yang sangat indah, di sekelilingku terhampar laut yang sangat luas dengan dihiasi matahari tenggelam di depanku
"Ini dimana?" tanyaku terkejut
"Ini perbatasan antara alam baka dan surga"
"Oh ya? Hmm bagus banget pemandangannya"
"Kamu suka?"
"Ya, aku suka... Makasih Han" gumamku senang
"Oh ya kata kamu ingin memberikanku sesuatu?" gumamku penasaran
"Ya aku ingin memberikanmu sesuatu" guman Han memegang tanganku dengan erat
"Memberikanku apa?" gumamku penasaran
Bibir Han mengucapkan sesuatu dan tiba - tiba ada sebuah kotak kecil bercahaya di tangannya, Han membuka kotak itu dan terlihat dua cincin yang bercahaya itu
"Cincin?"tanyaku terkejut
"Ya, ini cincin yang aku buat beratus abad yang lalu" gumam Han mengambil salah satu cincin di tangannya
"Sani, apa kamu benar - benar serius ingin menikah denganku?"
"Ya aku serius"
"Hmmm benarkah? Kalau memang kamu serius ingin menikah denganku kamu bersedia memakai cincin ini?"
"Ya aku bersedia"
"Tapi kalau kamu sudah memakai cincin ini, seumur hidupmu adalah milikku jadi kamu tidak bisa memutuskan hubunganmu denganku semudah kamu memutuskan hubunganmu dengan Sony karena cincin ini dibuat dengan menggunakan separuh jiwaku dan kalau kamu sudah memakainya cincin ini, cincin ini tidak akan bisa dilepaskan dari jari tanganmu. Kalau kamu tidak siap kamu bisa ...." gumam Han menatap cincin di tangannya
"Aku serius Han, aku serius ingin menikah denganmu" gumamku memotong pembicaraan Han
"Tapi nanti kamu menyesal..."
"Apa kamu tidak percaya denganku Han?" gumamku sedih
"Tidak, aku percaya kepadamu. Tapi aku tidak ingin kamu menyesal"
"Aku tidak akan menyesal Han, aku serius ingin menikah denganmu"
"Apa kamu yakin? Aku memberikanmu kesempatan untuk berfikir"
"Ya aku yakin, kalau kamu tidak percaya kepadaku. Aku akan lombat ke air alam baka ini untuk membuktikannya kepadamu" gumamku berjalan ke pinggir air yang tenang itu tapi Han langsung memegang erat tanganku
"Jangan, kamu bisa masuk ke neraka" gumam Han pelan
"Kamu masih tidak percaya denganku?"
"Ya aku percaya denganmu istriku" gumam Han memelukku dengan erat
"Aku percaya denganmu, aku percaya dengan keseriusanmu kepadaku, aku percaya dengan cintamu" desah Han pelan
"Kalau begitu..." desah Han melepaskan pelukannya dan memegang tanganku
"Mulai hari ini dan seterusnya kamu dan dewa penyeimbang selanjutnya adalah istri dari dewa agung dan tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun" gumam Han memasangkan cincin itu di jari manisku, saat cincin itu terpasang di jariku cahaya itu hilang dan terlihat cincin perak yang sangat indah dengan berlian kecil di tengahnya
"Indahnya..." gumamku pelan
"Nah sekarang kamu pasangkan cincin itu di jariku dan buatlah pengikat janjimu" gumam Han memberiku cincin lainnya
"Aku hanya berharap kalau dewa agung tiada maka dewa penyeimbang juga tiada dan berlaku sebaliknya, yang berarti aku hanya ingin menikah dengan Han dewa agung satu - satunya bukan dewa agung yang lainnya" gumamku serius
"Kenapa kamu mengucapkan ikatan janji itu?" tanya Han terkejut
"Aku hanya ingin menikah denganmu saja dan aku juga hanya ingin kamu menjadi milikku saja, jadi kalau misalnya aku tiada maka kamu otomatis juga lenyap dan akan di ganti dengan dewa agung lainnya" gumamku pelan
"Apa kamu keberatan?" gumamku menatap Han serius
"Kalau kamu keberatan aku tidak jadi memasangkan cin..." gumamku pelan
"Tidak, aku tidak keberatan sayang. Aku juga sudah capek menjadi dewa agung beratus abad, aku harap anak kita nanti yang menggantikan posisiku menjadi dewa agung. Aku tidak masalah kalau harus lenyap, aku tidak bisa hidup tanpamu" gumam Han serius
"Apa kamu serius?" tanyaku terkejut
"Ya aku sangat serius sayang, kamu cinta pertamaku, kamu istri pertama dan terakhirku, kamu milikku satu - satunya" gumam Han serius
"Hmmm baiklah kalau begitu" desahku memasangkan cincin itu ke jari tangan Han
"Makasih Han..." gumamku pelan
"Aku yang sangat berterimakasih kepadamu istriku, kamu sudah mau menjadi istriku" desah Han pelan
"Ini sudah takdirku sejak awal, bahkan aku sendiri merubah takdir dewa penyeimbang selama sejarah adanya dewa penyeimbang" gumamku pelan
"Ya benar, kamu pengubah takdir dari dewa penyeimbang" gumam Han pelan
"Tapi tidak masalah, kamu memang pengubah takdir yang selama ini salah" desah Han pelan
"Hmmm ya aku tahu..."
"Ya udah mari kita pergi istriku" gumam Han merangkul pinggangku dan berpindah ke alam baka seperti dulu sebelum aku berinkarnasi
__ADS_1