Mengubah Takdir Part II

Mengubah Takdir Part II
Episode 53 : Tiga Alam Yang Sebenarnya


__ADS_3

Saat ini aku sedang bermain dengan Alan dan Lyla, terlihat sangat rukun bahkan Lyla juga dengan sabar melatih Alan. Melihat tubuh kembang Alan dan Lyla yang belumnya selama bertahun-tahun tidak bertemu membuatku sangat senang karena mereka berdua tumbuh menjadi pria yang tampan, tapi aku sendiri juga merasa bersalah karena tidak menemani mereka selama ini.


"Ibu...ibu kenapa bersedih?" tanya Alan menatapku.


"Eemm tidak, ibu tidak bersedih kok nak..." gumamku berusaha tersenyum. Aku ingat kata Han agar aku tidak menunjukkan wajah sedihku agar Alan tidak tahu kalau selama ini yang menemaninya bukan aku yang asli.


"Apa ibu masih sakit?"


"Tidak kok nak, kamu fokus dulu latihannya!" gumamku serius dan Alan hanya tersenyum kearahku.


"Mmm oh ya Alan...ibu mau ke dalam dulu ya." gumamku beranjak dari tempat dudukku.


"Baik ibu..." gumam Alan kembali berlatih dengan Lyla.


Aku berjalan menuju ke balkon kerajaan milik Han, aku menatap ke atas langit alam dewa yang dipenuhi oleh para malaikat yang sedang terbang di langit.


"Sayang...kamu kenapa di luar?" tanya Han yang baru turun dari langit.


"Mmm tidak ada kok, kamu sudah pulang?" tanyaku pelan.


"Ya, aku baru mengerjakan tugas malaikat yang banyak... aah membuatku capek."


"Memang tugas kalian sama?"


"Tidak, kami setiap dewa memiliki tugas yang berbeda." gumam Han merubah wujud dewa nya.


"Lalu apa tugasmu?"


"Ya karena aku masih dewa agung, jadi tugasku tetap tugas dewa agung."


"Oh..." desahku pelan.


"Ada apa sayang?" gumam Han memelukku erat.


"Kenapa kamu jadi malaikat? Kamu jadi terasa terlalu jauh dariku." gumamku pelan.


"Malaikat atau dewa itu sama saja sayang, aku dewa terlama di alam dewa jadi menjadi malaikat itu adalah keharusan."


"Tapi kayak Candra dan yang lainnya itu juga kan dewa terlama kenapa mereka tidak?"


"Karena ada syaratnya sayang."


"Syarat? Apa itu?"


"Kenapa kamu ingin tau?"


"Ya hanya penasaran saja."


"Harus berada di alam dewa lebih dari sepuluh juta abad dewa sayang."


"Sepuluh juta abad? Kamu kayak kakek-kakek dong."


"Kamu ini ya, masih saja suka mengejek suamimu." gumam Han mencubit pipiku.


"Tapi, kamu tetap tampan Han. Terkadang aku bingung, kenapa tidak ada dewa ataupun wanita lain yang menyukaimu selama berabad-abad lamanya ya?" gumamku pelan.


"Mereka terlalu takut denganku dan hanya kamu satu-satunya wanita yang berani mengajakku berbincang santai dan itulah yang membuatku ingin menikahimu," gumam Han memelukku erat.


"Ya karena bagiku kamu tidak menakutkan Han dan juga kamu...sangat tampan. Kalau kamu bukan hakim tertinggi pasti semua wanita akan tergila-gila denganmu."


"Mmm ya mungkin saja, tapi ya sudahlah sekarang aku memilikimu sayang." gumam Han senang.


"Ya sayang." desahku memeluk erat Han.


"Kenapa sayang?"


"Menjaga tiga alam membuatku pusing Han, apalagi sekarang aku tidak bisa menggunakan wujud vampir atau manusia bagaimana aku bisa..."


"Kamu dewa penyeimbang, walaupun jiwa vampirmu lenyap tapi kamu masih memiliki setengah jiwa vampirmu sayang."


"Mana ada? Kan sudah lenyap semua!"


"Masih ada, tidak semua kamu pakai sayang. Kamu memberikan setengahnya kepadaku juga."


"Oh benarkah, kalau masih ada setengah nanti raja vampir terdahulu menyadarinya bagaimana?" tanyaku bingung.


"Tidak akan menyadari, karena sekarang jiwamu sebagian ada didiriku hehehe."


"Tunggu...kenapa bisa?" tanyaku terkejut.


"Aku mengorbankan jiwaku saja kurang sayang, jadi aku terpaksa memakai jiwamu, jiwa vampirmu dan dewamu. Mmm ya bisa dibilang itulah kenapa kamu membantuku saat pertapaan agung dan aku tidak melupakanmu sayang. Ma...maaf aku tidak bilang padamu.."

__ADS_1


"Oh... mmm tidak apa kok sayang."


"Kamu tidak marah?" tanya Han terkejut.


"Tidak, yang terpenting bagiku...aku bisa terus bersamamu tidak masalah bagiku." gumamku pelan.


"Ohh... mmm maaf ya sayang."


"Tidak apa sayang, jangan dipikirkan... mmm tapi kalau ada jiwa vampirku di tubuhmu jadi kamu bisa jadi vampir dong?"


"Tidak hanya vampir, jadi iblispun bisa."


"Oh...benar juga tapi apa kamu tidak keberatan?" tanyaku pelan.


"Tidak, jadi vampir atau iblis menyenangkan juga."


"Menyenangkan dari mana coba." gumamku pelan.


"Ya bisa merubah wujud, terus bisa menikmati rasanya darah dan juga...mmm apa ya...banyak sih."


"Hmmm aku saja pengen jadi manusia biasa bukannya jadi vampir atau dewa."


"Kenapa?"


"Capek tau Han apalagi tugas yang memusingkan seperti ini!" gerutuku kesal.


"Kalau kamu bukan dewa, aku tidak akan mungkin bisa menikah denganmu."


"Haah? Memang kenapa?"


"Kan dulu sudah aku katakan kalau dewa agung hanya bisa menikah dengan dewa penyeimbang sayang."


"Ohh mmm ya aku lupa." desahku pelan.


"Ayo masuk sayang, udah sore nanti kamu sakit."


"Eee mmm Han kenapa awan sebelah sana menghitam?" tanyaku pelan.


"Biasalah pertengkaran dua dewa yang tidak henti-henti ditambah dewa kehancuran yang sedang bertengkar dengan istrinya dan juga dewa sifat yang terus membuat ulah yang memperkeruh suasana."


"Tambah dewa kehancuran? Astaga!" gerutuku kesal.


"Ya, selain itu selama aku bertapa banyak perselisihan yang membuatku pusing."


"Ya biasalah perselisihan antar dewa, seharusnya Sony membantuku juga tapi dia malah sibuk bertengkar dengan istrinya yang membuat suasana lebih keruh."


"Makanya aku pusing sayang." desahku pelan.


"Tenang saja sayang, kita pikirkan lagi nanti saja."


"Kalau nanti-nanti mulu keburu..."


"Sayang... kalau kita terburu-buru juga tidak baik.Semua harus diperhitungkan sayang, kalau di alam lain aku tidak berperan juga maka kamu pasti akan kelamaan di alam lain atau bahkan kamu akan menjadi istri Huan itu apalagi saat itu aku melakukan pertapaan agung."


"Semua yang kamu lakukan sudah aku perhitungkan bahkan aku perkirakan sebelumnya, walaupun aku dewa tertinggi aku tidak bisa melihat masa depan alam dewa. Kalau aku tidak ikut campur juga pasti kamu tidak akan bisa melakukannya sayang." gumam Han serius.


"Mmm benar juga, maafkan aku Han...Aku selalu merepotkanmu." desahku pelan.


"Tidak masalah sayang, aku senang membantumu. Kamu istriku jadi membantumu adalah kewajibanku sebagai suamimu sayang."


"Ba...baiklah, mmm apa kamu punya rencana?"


"Rencana? Ada...paling dengan jentikanku."


"Jentikan? Jangan bilang kamu mau melenyapkan semua?" tanyaku terkejut.


"Tidak juga, aku bisa mengatur ulang susunan tiga alam...dengan kata lain...aku akan kehilangan Lyla, Alan, bahkan kehilanganmu."


"Benarkah? Berarti..."


"Ya kamu akan kembali dari kisah awalmu dan aku pasti akan menghilang..." gumam Han memelukku erat.


"Kisah awal? Kamu menghilang? Tidak bisa, aku tidak mau mengulang kisah awal Han apalagi harus kehilanganmu. Itu.... sangat menyakitkan!" protesku kesal.


"Mmmm sebenarnya itu rencanaku kalau kamu yang mati sayang."


"Tidak mau, aku tidak akan mengizinkanmu melakukan itu!"


"Tapi sayang..."


"Lebih baik aku menjadi manusia dan kamu juga menjadi manusia agar kita bisa bertemu kembali ya kalau tidak mmm ya jadi apapun boleh yang penting kita berdua berinkarnasi."

__ADS_1


"Kamu masih bisa, aku...tidak bisa sayang. Aku dewa agung apalagi aku sekarang aku malaikat tertinggi. Aku tidak bisa mati walaupun kamu mati sayang."


"Jadi bisa dibilang kamu abadi?" tanyaku terkejut.


"Ya, kalau seorang dewa menjadi malaikat tertinggi maka dia akan menjadi abadi dan kalau dewa mati, dewa agung akan melupakan apapun bahkan melupakan anda dewa..." gumam Wan berdiri di belakangku.


"Wan?" gumamku terkejut.


"Ya benar kata Wan, walaupun jiwamu ada sedikit yang bersamaku pasti kemungkinan kecil aku bisa mengingatmu jadi kamu jangan sampai terluka atau mati ya.." gumam Han mengusap lembut rambutku.


"Apa hanya kamu dewa agung yang menjadi malaikat?" tanyaku pelan.


"Ya, sebelumnya dia menghilang sebelum menjadi malaikat. Mmm ya kita tidak tahu bagaimana nantinya apalagi dewa agung yang bisa menjadi malaikat hanya aku."


"Han...apa kalau aku mati aku tidak bisa berinkarnasi lagi?"


"Kalau menjadi dewa, aku tidak yakin karena kesempatanmu sudah habis tapi..." gumam Han pelan.


"Dewa bisa menjadi manusia biasa tanpa kekuatan, memiliki kekuatan juga hal yang kecil kemungkinannya." lanjut Wan.


"Manusia biasa ya? Apa aku tidak bisa melakukan apapun?" tanyaku pelan.


"Aku tidak tahu karena kamu..."


"Anda bisa dewa!" ucap Wan yang membuatku terkejut.


"Apa itu?" tanyaku terkejut.


"Anda bisa mengembalikan keseimbangan tiga alam dengan mempertaruhkan jiwa anda..."


"Mempertaruhkan jiwa?" tanyaku bingung.


"Ya seperti yang dilakukan dewa agung, walaupun kemungkinan kecil anda bisa hidup tapi anda masih bisa menjadi dewa kembali dengan kisah awal yang baru." gumam Wan serius.


"Waan kenapa kau beritahu dia!" gerutu Han kesal.


"Mmm ya kan saya penasehat dewa penyeimbang jadi..."


"Seharusnya kamu tidak memberitahukannya masalah itu?" protes Han kesal.


"Mmm Han, kalau aku melakukan itu apa aku bisa bertemu denganmu?" tanyaku pelan.


"Tidak, kalau kamu yang mengatur tiga alam pasti nasib semua penghuni tiga alam akan tidak tentu. mungkin semua penghuni akan lenyap atau bahkan sifat atau takdirnya bisa berubah seratus persen. Apalagi kemungkinan kamu hidup kembali juga pasti kecil karena kalau kamu melakukan itu...tidak ada dewa penyeimbang lagi selamanya!" protes Han kesal.


"Ke....kenapa?" tanyaku terkejut.


"Karena...anda dewa penyeimbang yang terakhir dewa. Menurut tetua terdahulu kalau dewa agung menikah dengan dewa penyeimbang dan punya anak, pasti anaknya akan menjadi penerus dewa agung dan tidak akan ada lagi dewa penyeimbang. Kalau anda melakukan itu orang-orang yang menjadi dewa akan melupakan anda atau bahkan mereka juga akan lenyap bersama anda. Anda masih memiliki darah manusia jadi anda masih bisa berinkarnasi menjadi manusia dan kemungkinan kecil anda akan menjadi dewa lagi. Apalagi kalau anda melakukan itu pasti alam dewa atau alam lain akan menghilang dan tersisa alam manusia saja." jelas Wan serius.


"Menghilang? Kenapa bisa?" tanyaku terkejut.


"Ya karena terbentuknya alam dewa dan alam lain itu karena adanya peperangan tetua terdahulu yang menginginkan kekuasaan, itulah kenapa ada alam dewa dan alam lain. Dan adanya dewa penyeimbang itu agar tiga alam tetap aman tanpa adanya peperangan yang merugikan manusia seperti dahulu." jelas Han serius.


"Berarti keadaan tiga alam akan kembali ke bentuk semula walaupun manusia masih tetap dan tidak akan berubah?"


"Ya bisa dibilang begitu dan yang mengatur tiga alam bukan kita para dewa."


"Apa tidak akan ada dewa lainnya setelah itu?" tanyaku pelan.


"Aku juga tidak tahu, yang pasti...alam ini akan kembali kebentuk semula dan hanya Tuhan yang mengatur semuanya. Mengatur tiga alam agar tidak terpecah dan tidak kembali ke bentuk semula adalah tugas dewa penyeimbang yang sebenarnya sayang."


"Apa tidak akan ada malaikat?"


"Malaikat tetap ada, tapi hanya Tuhan yang menentukan siapa yang akan menjadi malaikat. Kalau aku menjadi manusia biasa dan bisa bertemu denganmu kembali tidak masalah yang aku takutkan kalau aku tidak bisa bertemu denganmu!"


"Mmmm...Kalau aku menjadi manusia, apa aku bisa bertemu dengan Han lagi?" tanyaku pelan.


"Kemungkinan terburuknya...tidak... kalau hanya kamu yang berinkarnasi dan tidak merubah bentuk tiga alam, kamu tidak akan bisa melihat dewa ataupun melihatku walaupun aku ada disisimu, bagi manusia kalau dewa dan malaikat apalagi penghuni alam lain hanya takhayul dan tidak mungkin nyata padahal semua yang ada di tiga alam ini semuanya nyata. Tapi... kalau kamu menyebabkan kembalinya ke bentuk semula, kemungkinan kita akan bertemu dalam wujud manusia entah ingatan kita masih ada atau tidak tapi yang jelas kita semua akan berinkarnasi menjadi manusia dan tidak akan ada yang namanya inkarnasi kembali."


"Ohhh... mmm" desahku pelan.


"Tenang saja sayang, aku akan menjagamu dan melindungimu jadi jangan melakukan itu ya!" ucap Han serius.


"Mmm baiklah, aku tidak akan melakukannya." desahku pelan dan Han tersenyum manis ke arahku.


"Oh ya Wan ada apa kemari?" tanya Han menatap Wan serius.


"Dewan pengawas mencari anda dewa, mereka ada di bawah..."


"Oh baiklah...sebentar ya sayang." gumam Han meninggalkanku sendiri bersama dengan Wan.


Aku menatap matahari yang akan terbenam di atas langit alam dewa, mengatur ulang tiga alam membuatku lenyap atau bahkan kehilangan Han? Aku tidak akan bisa melakukannya kalau ingatanku tentang Han masih ada, apalagi aku tidak bisa kalau tidak bertemu dengan Han.

__ADS_1


Aku bingung, padahal itu rencanaku terakhir tapi mendengar penjelasan itu aku... tidak mungkin melakukannya, tapi kalau Han mati mungkin aku akan melakukan pilihan terakhir yaitu mengembalikan bentuk tiga alam ke bentuk yang seharusnya, walaupun kemungkinan kecil aku bisa bertemu Han tapi kenyataan kalau Tuhan yang mengatur semua alam ini tidak bisa diganggu gugat jadi kemungkinan terburuk aku akan melakukan pilihan itu.


__ADS_2