MENIKAH KARNA WASIAT

MENIKAH KARNA WASIAT
Panas yang menyiksa


__ADS_3

Ria yang baru keluar dari kamar mandi, tersentak kaget melihat Aldi yang tengah tiduran dikasur dengan posisi menyamping ke arah Raja yang tertawa melihat gantungan kunci yang di getak-gerakkan di udara oleh pria tersebut.


Wanita itu berjalan mendekati lemari pakaian.Berusaha tidak memperdulikan Aldi yang menatap dirinya yang kini, tengah memakai kimono. Paha putih yang mulus membuat mata pria itu tidak bisa beralih untuk memperhatikannya. Dia pria normal, tak mungkin bila tidak tergoda melihat pemandangan yang membuat hasratnya bangkit.


Ria menoleh ke arah Aldi yang langsung membuang muka. Dia sadar bila Aldi terus memperhatikan dirinya, tapi ia berusaha acuh. Namun rasa gugup dan malu menyergap dalam dirinya. Dengan cepat Ria masuk ke kamar mandi, untuk memakai pakaiannya.


*******


Wanita yang memakai celemek di tubuhnya, kaget ketika melihat sebuah bayangan hitam lewat dari samping. Ria langsung menghentikan kegiatannya yang tengah memotong sosis untuk membuat nasi goreng.


Pandangannya mengedar, melihat sekeliling dapur yang tidak siapa-siapa. Dengan rasa ketakutan yang mulai merayap dan wajah yang sudah berkeringat dingin. Akhir-akhir ini dia selalu melihat bayangan hitam di rumah ini.


"Mungkin itu cuma halusinasi ku saja, " monolog Ria, agar rasa ketakutan mulai menghilang.


Ria kembali melanjutkan kegiatannya kembali. Namun, telinganya mendengar sayup-sayup  suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya .Ia berusaha untuk tidak menghiraukannya. Pasti itu cuma halusinasinya karna ketakutan.


"Aaaa!! " Ria berteriak nyaring hingga pisau yang dia pegang langsung terlepas di tangannya.Sebuah sentuhan di bahu membuat Ria ketakutan setengah mati.


"Kamu kenapa? " tanya Aldi yang membalikkan tubuh Ria ke arahnya. Sedangkan wanita itu menatap sekitar dan melihat pada Aldi.


"T-tadi ada yang megang bahu aku, " ujar Ria. Aldi terkekeh dan Ria heran melihatnya.


"Itu saya. Sebenarnya saya mau tanya tempat kamu meletakkan susu formula milik Raja. Dari tadi Raja nangis mau minum susu, " ujar Aldi berusaha untuk bicara seakrab mungkin pada Ria, walau sedikit kaku.


Ria membuka lemari paling atas di dapur dan memberikan susu formula kaleng pada Aldi.


"Memangnya kamu bisa membuat susu untuk Raja? " tanya Ria, memperhatikannya Aldi yang menuangkan beberapa takar susu formula itu pada dodot.

__ADS_1


"Bisa.Ini hal yang mudah, " jawab Aldi tersenyum, sembari menoleh ke arah Ria yang langsung menoleh ke arah lain.


Wanita itu baru pertama kali melihat Aldi tersenyum tulus padanya tanpa paksaan.


Aldi berlalu pergi dari hadapan Ria, setelah selesai membuat susu untuk Raja. Mata Ria memperhatikan punggung Aldi, hingga menghilang dari pandangan matanya. Ia kembali melanjutkan kegiatannya untuk membuat makan malam.Walau hanya nasi goreng, setidaknya dia tidak membuat Aldi kelaparan apa lagi sampai memesan makanan dari luar . Dia berusaha menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, walau tidak ada cinta di antara mereka.


Entah sampai kapan pernikahan akan terus bertahan.


🍄🍄🍄🍄🍄


Klarissa berjalan ke arah Aldi yang tengah sibuk mencatat sesuatu di buku kecilnya. Dengan pakaian yang begitu sexy yang mencetak jelas lekuk tubuhnya. Membiarkan, hampir pangkal pahanya terekspos, sedikit memperlihatkan belahan dada yang begitu menantang,bibir berwarna merah sexy.


"Hmm...., " deheman Klarissa yang sedikit keras membuat aktifitas Aldi terhenti. Wajah pria itu tampak terkejut melihat sosok Klarissa sudah berdiri di sampingnya.


Matanya menyusuri pakaian yang membalut tubuh Klarissa yang tersenyum manis menambah aura kecantikan wanita tersebut. Aldi akui wanita ini begitu sexy dan sangat cantik.


"Maaf, saya tidak menerima pasien lagi. Klinik ini akan segera tutup, " ujar Aldi memalingkan wajahnya.


Entah tahu di mana Klarissa bila dirinya tengah bertugas di klinik. Yang pastinya wanita itu akan menggangu dirinya.


"Aku ke sini bukan untuk berkonsultasi atau ingin memeriksa mataku, dokter Aldi. Tapi ingin bertemu dengan diri mu, " ujar Klarissa , menggigit bibir bawah menggoda.


"Kalau tidak ada urusan silahkan pergi dari sini, " usir Aldi yang masih enggan menatap ke arah Klarissa. Apalagi baju haram yang digunakan wanita tersebut.


"Kalau tidak mau bagaimana? " ujar Klarissa menantang. Aldi memincingkan matanya.


"Jangan salahkan saya bila mengusir mu dengan paksa, " ujar Aldi.

__ADS_1


"Aldi, Aldi. Sekarang kamu benar-benar berubah. Mana Aldi yang dulu yang bersikap manis padaku dan selalu berusaha membuat aku tertarik padamu, " ujar Klarissa tersenyum miring sembari bersedekap dada.


Aldi tertawa dan Klarissa mengernyitkan dahinya.


"Kamu pikir perasaan cinta akan terus bertahan setelah kamu menolak saya. Kamu terlalu percaya diri nona, bahkan kini kamu yang mengejar saya seperti wanita murahan, " sembur Aldi tersenyum smirk.


Klarissa mendengus dan tangannya terkepal, "Tapi aku yakin kamu masih mencintai ku Aldi. Aku sangat yakin sekali.Mungkin saat ini kamu berusaha membentengi diri kamu agar tidak tergoda pada ku atau ingin balas dendam karna dulu aku mengacuhkan diri mu dulu, " ujar Klarissa tersenyum kemenangan melihat Aldi diam.


"Silahkan berekspetasi setinggi mungkin tapi hati-hati bila kamu dikecewakan oleh kenyataan bila saya tidak mencintai mu bahkan tidak menginginkan mu. " ujar Aldi.


"Silahkan keluar dari ruangan saya nona Klarissa. Jangan sampai saya memanggil satpam agar kamu pergi dari sini. Sangat malang bila wanita secantik dirimu di seret secara paksa oleh satpam, " lanjutnya.


"Lihat saja nanti kamu akan bertekuk lutut pada ku agar aku menerima cinta mu, Aldi, " ujar Klarissa penuh penekanan. Rasa kesal dan marah melebur jadi satu karna ucapan Aldi yang keterlaluan merendahkan dirinya.


"Cih! Kenapa sangat sulit sekali untuk menggoda Aldi . Pria itu normal atau tidak, hingga tidak tergoda sama sekali dengan dirinya. Biasanya laki-laki akan langsung menerkam seorang wanita yang berpakaian terbuka seperti ini. " gerutu Klarissa yang keluar dari ruangan Aldi.


******


"Dokter, ini air minumnya, " ujar Maiza meletakkan secangkir teh hangat untuk Aldi.


"Terima kasih. Ooh iya. Saya akan lama berada di klinik, jadi kamu silahkan pulang lebih dulu, " ujar Aldi yang menghirup teh hangat itu beberapa teguk.


"Baik dokter. Kalau begitu saya permisi, " ujar Maiza berlalu pergi dari ruangan Aldi.


Baru beberapa menit Aldi sibuk dengan laptopnya. Rasa panas tiba-tiba mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Pria itu mengusap-ngusap lehernya. Ia mulai gelisah dengan rasa panas dalam tubuhnya, entah apa penyebabnya. Sedangkan teh yang diberikan Maiza sudah habis dia minum Aldi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2