
Happy reading
Ria memilih-milih snack, bahan makanan dan belanjaan lainnya di rak yang tersusun rapi. Mereka berdua tengah berada di minimarket. Sebelum pulang ke rumah, Ria ingin mampir terlebih dahulu untuk belanja.
Aldi mengikuti Ria dari belakang, dengan mendorong troli yang sudah hampir penuh dengan snack dan cemilan yang Ria pilih. Wajar, karna sedang mengandung membuat istrinya jadi doyan makan.
"Mas, aku mau yang itu," tunjuk Ria pada permen coklat yang ada di rak atas.
"Nanti gigi kamu sakit kalau kebanyakan makan permen. Kamu sudah banyak beli permen, sayang." ujar Aldi menatap ke arah troli yang berisi satu pak permen rasa stroberi.
"Tapi rasanya beda. Aku mau rasa coklat juga, " kekeh Ria tidak mau tahu.
Wanita itu berjinjit berusaha meraih permen yang dia inginkan.Ria mendengus kesal, kesusahan meraih permen yang ia inginkan.
"Mas, aku mau itu ,ambilin! " sarkas Ria dengan mata melotot dan bibir mengerucut.
"Kalau mau permen itu. Berarti permen stroberi yang ini tidak jadi ya," ujar Aldi kembali meletakkan di rak,permen rasa buah yang Ria ingin beli.
"Jangan! Aku juga mau itu ." Ria menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil.
Entahlah , Ria jadi keras kepala semenjak mengandung. Mungkin anaknya akan seperti itu juga.
Aldi menghela napas panjang. Dia mengambilkan satu pak permen coklat di rak paling atas.
"Terima kasih, suami ku." ucap Ria dengan mata berbinar, menerima permen yang ia inginkan dari Aldi.
Cup
Satu kecupan Ria sematkan di pipi Aldi yang langsung diam mematung.Badannya menegang akibat perbuatan sang istri yang cengengesan.
"Di sini belum," tunjuk Aldi di pipi sebelahnya.
Ria menggelengkan kepalanya."Satu ciuman juga sudah cukup. Ayo, Mas kita ke kasir, "ajak Ria.
Baru saja akan melangkahkan kakinya. Seseorang memanggil Aldi yang menoleh ke belakang, termasuk Ria.
" Aldi, apa kabar? Aku tadi agak ragu memanggil kamu, takut salah orang. Dan itu memang kamu."ujar Zidni yang tersenyum lebar.
"Aku baik. Bagaimana dengan kabarmu?Sudah lama kita tidak bertemu.ย Kamu kenapa tidak hadir yang di acara reunian kemaren? " tanya Aldi,hinggaย lupa dengan keberadaan Ria yang merengut dengan hati yang cemburu.
"Aku sangat sibuk. Kamu tahu'kan, aku dokter kandungan. Pasien ku sangat banyak dan hampir dua atau tiga kali melakukan tindak operasi untuk ibu melahirkan," ujarnya.
Zidni merupakan teman satu kampus dan satu jurusan dengan Aldi yang menempuh pendidikan kedokteran.
"Mas, ayo pulang. Aku capek." Ria menarik lengan Aldi yang tidak menghiraukannya sama sekali. Mereka berdua terlalu asyik mengobrol.
__ADS_1
Ria mengepalkan tangannya dengan mata yang berkaca-kaca. Rasa sakit itu kembali dia rasakan .Matanya terfokus pada wanita asing tersebut yang terkadang memegang lengan Aldi yang tidak risih sama sekali.
"Kamu kesini sendiri ya? " tanya Zidni.
"Tidak, aku dengan istri____"
Ucapan Aldi terhenti ketika melihat Ria tidak ada di sampingnya. Dia mengedarkan pandangan matanya, melihat ke sekeliling.
"Zidni aku duluan," ujar Aldi yang langsung mendorong troli mencari keberadaan Ria yang hilang tiba-tiba.
Jantung Aldi berdegup kencang dengan rasa khawatir yang membuncah. Dia tidak menemukan sosok Ria di minimarket tersebut.
๐๐๐๐๐
Di lain tempat. Ria berjalan cepat keluar dari minimarket. Air mata merembes dariย pelupuk matanya. Dia memegangi dadanya begitu sesak. Rasa sakit karna cemburu kembali ia rasakan.
"Kenapa harus sesakit ini hiks... " Ria memukul-mukul dadanya.
"Seharusnya aku sadar. Aku bukan prioritas utamanya. Aku bodoh karna dengan mudah percaya dengan ucapan Mas Aldi hiks... Capek Tuhan. Kenapa aku harus merasakan sakit hati lagi? Ria bodoh! Terlalu menginginkan cinta tulus Mas Aldi hiks... "
Dengan amarah dan cemburu yang belum meredam.Ria berjalan kaki menyusuri jalan raya yang di padati para mengendara yang berlalu lalang. Ia butuh menyendiri.
Titt...
"Heh, kenapa sendirian? Pakai acara jalan kaki, Aldi mana? Di buang sama si Aldi?" ledek Klarissa yang tidak sengaja melihat sosok mirip Ria.
"Hiks.... "
Bukannya menjawab, Ria menangis terisak-isak menjadi tontonan para pengendara dan penjalan kaki yang lewat.
"Heh, jangan nangis. Nanti di sangka aku mau apa-apain kamu." ujar Klarissa yang segera turun dari mobil.
Tanpa diizinkan, Ria langsung memeluk Klarissa. Dia butuh pelampiasan untuk mengadu.
"Iih, jijik banget tahu." ujar Klarissa mendorong Ria menjauh darinya.
"Mana suami kamu?" tanya Klarissa dan Ria menggelengkan kepalanya.Dia Kembali memeluk Klarissa , berkelendotan seperti anak kecil.
"Apaan sih. Lepasin, Ria!" bentak Klarissa.
Sebuah tangan kekar menarik pergelangan tangan Ria, hingga berpindah kepelukan Aldi yang entah sejak kapan ada di sana.
"berani kamu bentak istri saya!" bentak Aldi balik.
"Kenapa aku yang di salahkan! Istri kamu yang nangis-nangis tidak jelas sampai peluk-peluk aku. Punya istri itu cari yang warasan, tidak seperti dia! " sentak Klarissa terang-terangan menghardik Ria.
__ADS_1
"Akh.... Aldi sakit, " Klarissa merintih kesakitan merasakan cengkraman kuat dari Aldi di pergelangan tangannya.
"Sekali lagi kamu menghina istri saya. Maka saya akan lebih kasar lagi dengan kamu," desisnya penuh penekanan.
"Ayo, sayang kita pulang. " ajak Aldi membawa ke dalam mobilnya. Sedangkan Klarissa memegangi pergelangan tangannya yang memar.
"Gara-gara Ria, Aldi jadi salah paham," gumamnya yang meringis kesakitan.
******
"Tadi Klarissa ngapain kamu, sayang?" tanya Aldi lembut dan Ria memalingkan wajahnya.
"Kenapa? " tanya Aldi namun tidak kunjung di jawab Ria merengut dan memberikan tatapan sinis.
"Mana wanita tadi? Bukannya dia lebih penting daripada aku? "
Aldi makin bingung dengan dahi yang terlipat.
"Kamu cemburu? " tanya Aldi yang sadar penyebab perubahan Ria.
"Istri mana yang tidak cemburu,bila Mas lebih asyik berbincang dengan wanita lain, hingga tidak menghiraukan aku ataupun memperkenalkan aku dengan wanita itu. Seolah aku hanya orang asing di antara kalian berdua termasuk kamu. Kalau aku penting ,Mas tidak akan bersikap acuh seperti itu terhadap aku. Aku jadi ragu dengan perkataan cinta yang keluar dari bibir Mas adalah sebuah bulshit."
"Maaf, Ria. Mas benar-benar tidak sengaja. Dia teman satu fakultas dengan Mas, dan kami sudah lama tidak bertemu, sayang.
Dan Mas tidak main-main dengan ucapan Mas yang memang benar mencintai kamu
" Aku tidak percaya! "ucap Ria.
" Kenapa harus tidak percaya? Mas sudah membuktikan kalau Mas benar-benar mencintai kamu dengan menanam bening di rahim kamu,"ujar Aldi memegang perut Ria yang langsung di tepis kasar.
"Jangan pegang-pegang! Nanti anak aku ketularan jadi tukang bohong seperti Mas Aldi! " sarkasnya.
"Anak kita berdua, sayang." koreksi Aldi dengan ucapan Ria.
Ria memilih membuang wajahnya, menatap ke arah jendela mobil.
"Sayang, kamu mau ini? " tawar Aldi membuat Ria melirik permen coklat kesukaannya.
"Kalau tidak mau, Mas habisin sendiri." ujarnya sedikit mengancam.
"Habiskan saja, aku tidak peduli." ujar Ria acuh.
"Ya Tuhan. Ria, Mas harus apa supaya kamu tidak marah lagi? " keluh Aldi putus asa.
Bersambung...
__ADS_1