
...Jangan lupa tinggalkan jejak!^^...
...~Happy reading~...
Seorang wanita masih setia menutup matanya, dan sebagian tubuhnya di balut selimut tebal. Diluar hujan sangat deras, guntur dan suara angin yang bergemuruh saling bersahutan. Pria dengan piyama tidurnya duduk di dekat kasur. Netra abu-abunya terus memandangi wajah Ria yang masih pulas tertidur setelah di suntikan sesuatu oleh pria yang tak lain Kenzo.
Di saat Aldi mencari-cari Ria, Kenzo menyembunyikannya. Dia masih dendam dengan perlakuan Aldi yang mempermalukan ia di depan umum. Dirinya yang ditakuti oleh anak buah dan rivalnya kini harus menanggung malu.
"Sepertinya suami mu itu kalang kabut mencari mu," Kenzo tersenyum licik mengucapkan itu.
Tangan Kenzo terulur meraba-raba bagian perut Ria yang terasa mengganjal. Ternyata perempuan ini benar-benar hamil tapi perutnya saja yang tidak terlalu besar.
"Apa yang kau lakukan?!" Suara bariton yang cukup keras, membuat Kenzo tersentak kaget dan segera menjauhkan tangannya dari perut Ria.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya memeriksa keadaannya, Ayah." Kenzo bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekat ke arah Nata yang masih memakai pakaian kantor. Sepertinya baru pulang kerja.
"Tapi tidak pantas kau meraba-raba ataupun menyentuh bagian tubuhnya, Kenzo." ujar Nata menatap tajam putranya itu."Apa yang kau lakukan itu tidak sopan, dan lebih baik kau cari informasi tentang wanita hamil itu agar segera kita pulangkan pada keluarganya."
Setelah mengucapkan itu Nata berbalik badan, namun langkah kakinya terhenti karna ucapan Kenzo.
"Bila aku tidak mau bagaimana? Bukankah sesuatu yang menarik bila kita menahan dia di sini."
"KENZO!" bentak Nata yang kini berbalik badan dan menatap nyalang pada putranya itu yang terlihat santai saja.
"Jangan bersikap gila seperti ini, Kenzo! Wanita ini memiliki suami dan kau tidak patut mengurung dan menahan dia di sini. Bila kau menginginkan seorang wanita, Ayah akan mencarikan untuk mu tapi bukan wanita ini." Nata menunjuk ke arah Ria yang terbaring, namun tatapannya terotasi pada Kenzo.
Kenzo menundukkan kepalanya sejenak dan kembali menatap Nata yang masih memberikan tatapan emosi pada netra abu-abu milik Kenzo.
"Seharusnya Ayah bahagia, aku menemukan wanita yang aku inginkan," ujarnya parau dan berat.
Nata menurunkan tangannya dan memejamkan matanya sejenak. Menghirup udara dalam-dalam untuk menetralkan emosi yang sudah mulai memuncak. Kenzo tersenyum miring melihat raut kekesalan dari wajah sang Ayah.
__ADS_1
"Dan ini alasan kamu kenapa menginginkan dia di rawat di rumah?" tebak Nata dan Kenzo mengangguk.
"Kenzo, Ayah...."
Ucapan Nata terjeda kala suara dering ponsel dari saku celananya. Dia menatap layar ponselnya yang menampakkan nama Aldi dan itu membuat kening Nata berkerut heran.
Nata melirik Kenzo yang kembali mendekati Ria. Suara dering ponsel yang masih berbunyi membuat ia segera keluar dari kamar dan mengangkat panggilan telpon dari rekan bisnisnya itu.
"Selamat malam Pak Aldi. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Nata yang perlahan menutup kamar Kenzo.
"Saya sudah berada di depan rumah anda," jawab Aldi di sambungan telpon.
Mata Nata langsung membola sempurna mendengarnya. Dia langsung mematikan panggilan tersebut dan berjalan menuju ke pintu keluar.
Ceklek
"Pak Aldi kenapa ke sini... maksud saya ada hal apa bertamu malam-malam seperti ini?" tanya Nata dengan alis berkerut dan menatap Aldi yang terlihat sedikit kebasahan karna cipratan air hujan saat keluar dari mobil.
"Ayo kita masuk ke dalam dulu Pak Aldi."
Aldi menganggukkan kepalanya dan berjalan masuk ke dalam rumah Nata. Mata Aldi menatap kagum pada isi rumah Nata yang begitu luas dan arsitektur dalam rumah ini seperti Eropa.
"Silahkan duduk Pak Aldi. Anda ingin minum apa?"
Aldi menggelengkan kepalanya."Saya langsung keintinya Pak Nata. Jadi saya ingin bertanya tentang wanita hamil yang anda ceritakan hampir tertabrak dan di bawa ke rumah sakit."
Wajah Nata terlihat bingung dan heran dengan pertanyaan Aldi.
"Jadi, di mana wanita itu?" tanya Aldi sedikit mendesak.
Nata bangkit dari tempat duduknya."Ikut saya."
__ADS_1
Aldi bangkit dan mengikuti dari belakang langkah kaki Nata yang berjalan menuju ke kamar Kenzo. Saat tangan Nata sudah menyentuh tuas pintu, ia menarik napas dalam. Sebenarnya ia sedikit curiga dengan Aldi yang tiba-tiba mencari wanita asing yang hampir ia tabrak itu.
Ceklek
Baru saja Nata membuka pintu kamar itu, Aldi langsung menerobos masuk, membuat Nata kaget di buatnya. Dengan langkah tegas dan aura menyeramkan menguar dalam diri Aldi melihat Kenzo mengenggam tangan Ria yang terbaring di kasur.
Bugh!
Bogeman mentah Kenzo dapatkan tiba-tiba hingga membuat ia tersungkur ke lantai dan kepalanya membentur sisi ranjang.
"Bagun!" Aldi menarik kasar kerah baju Kenzo yang terlihat terkejut menatap wajah merah padam Aldi yang mendengus kasar.
"BERANINYA KAU MENYENTUH ISTRI KU, BRENSEK!"
Aldi kembali meninju bagian perut Kenzo yang memegangi perutnya yang benar-benar kesakitan.
"Pak Aldi cukup! Jangan pukul anak saya!" tegas Nata berdiri di hadapan Aldi yang hendak kembali menghajar Kenzo.
Sedangkan Kenzo merintih kesakitan pada perutnya. Pukulan Aldi tidak main-main sakitnya. Dan juga pipinya yang memar.
Aldi sedikit merendam amarahnya, mendengar ucapan Nata bila Kenzo anaknya. Andai bukan anak Nata, sudah pasti Kenzo habis di tangan Aldi.
Aldi mendengus kasar menatap Kenzo, dengan kilatan emosi dan amarah. Dia berbalik badan dan mendekati sang istri yang begitu damai dalam tidurnya karna suntikan yang Kenzo berikan.
"Sayang, bangun. Mas ada di sini menjemput kamu." Aldi duduk di sisi ranjang dan mengusap-ngusap pipi Ria lembut, namun tidak ada respon dari wanita tersebut.
"Kau apa apakan istri ku? Kenapa dia tidak bangun, hah?!" Aldi meninggikan suaranya membuat Kenzo yang berdiri di sana sambil memegangi bagian perutnya, tersenyum licik.
"Menurut kamu, aku apakan istri mu itu?" tanya balik Kenzo, seolah memancing emosi Aldi kembali.
Tangan Aldi terkepal kuat, rahangnya mengetat dan seluruh wajahnya memerah. Sedangkan Nata begitu bingung dengan situasi seperti ini. Apalagi melihat persitegang antara Aldi dan Kenzo, anaknya.
__ADS_1