
Mata Ria berbinar-binar dimanjakan berbagai jenis pakaian wanita yang membuat dirinya tertarik ingin memiliki semuanya. Tangan kanan Aldi menggenggam pergelangan tangan Ria dan tangan yang lain menggendong Raja yang sibuk mengemuti permen yang diberikan oleh sang ayah agar tidak rewel.
"Kamu pilih, mau yang mana," ucap Aldi. Ria mendongak menatap pria tersebut.
"Yang ini boleh, Mas?" Ria menyentuh dress pink bermotif bunga-bunga yang melekat di tubuh patung manekin. " Aku suka dress yang ini." ucap Ria.
Aldi menggeleng tanda penolakan. Bibir Ria tertarik kebawah. Matanya kembali mengedar mencari pakaian yang menarik perhatiannya. Padahal Ia menginginkan dress yang tadi.
"Pakaian tadi terlalu ketat. Sedangkan kamu hamil besar, yang ada anak kita ke gencet," ucap Aldi buka suara. Seakan tahu apa yang tengah dipikirkan oleh istrinya itu.
"Tapi itu tidak ketat. Aku pakai dress itu hanya di rumah. Kan bisa minta sama kasirnya cari ukuran agak besaran."
"Sudah, Ria. Niat kita ke mall untuk jalan-jalan dan cari hiburan bukan berdebat. Lebih baik kita cari restoran, dari tadi kamu belum makan."
"Aku tidak mau, Mas. Aku mau beli baju, baju aku yang di rumah jelek." Lagi-lagi wanita itu membantah ucapan Aldi. Ria melepaskan genggaman tangan Aldi dan berjalan menuju bagian pakaian wanita.
Aldi menghela napas panjang." Bunda kamu sekarang susah di atur," ucapnya pada Raja yang mengerjab-ngerjabkan matanya. Tidak paham apa yang diucapkan Aldi.
Senyuman merekah tercipta dibibir wanita itu. Ria memilah-milah dress dan baju yang akan Ia beli. Sedangkan Aldi duduk di bangku yang sudah disediakan di toko itu. Sorot matanya terus memperhatikan sang istri dari jarak beberapa meter.
"Hei!" Sebuah tepukkan di bahu yang cukup kencang, membuat Aldi tersentak dan menoleh. Zavier, pria itu sudah berdiri di samping Aldi dengan membawa gadis bertubuh gempal. Aldi sempat melirik ke arah gadis tersebut yang tertunduk.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Zavier merangkul bahu Aldi.
"Membawa Ria jalan-jalan. Sudah beberapa hari ini istri ku terkurung dalam rumah," jawab Aldi terkekeh singkat.
"Pasti karna kamu melarang dia keluar rumah? Kasihan juga kalau Ria terkekang Aldi. Apalagi dia sedang hamil biasanya cepat stres dan moodnya mudah berubah."
Aldi mengidikkan bahunya." Mau bagaimana lagi. Kalau Ria aku biarkan bebas yang ada seperti kemaren, hilang tiba-tiba. Kamu tidak akan tahu takutnya aku kehilangan dia," tutur Aldi dengan bibir melengkung ke atas menatap Ria.
Mata Elvana meredup menatap kedua pria itu. Terlebih pada Aldi. Andai Ia dicintai seperti pria yang ada di samping zavier pasti Ia akan menjadi wanita yang paling bahagia. Tapi mau bagaimana lagi bila mantan suaminya lebih mengutamakan fisik daripada kebaikan hati dan cinta tulusnya. Zaman sekarang selera pria lebih mengutamakan cantik rupa dan cinta belakangan. Biasanya dari mata turun ke hati, tapi sekarang dari rupa muncul, lah, rasa cinta. Elvana mendesah kesal.
"Dia siapa?" tanya Aldi melirik Elvana.
__ADS_1
"Aku ke sini mengajak wanita ini untuk membelikan dia pakaian. Lihat saja pakaian yang dia kenakan sekarang, seperti gembel," celetuk Zavier blak-blakkan. Elvana mendengus dan memperhatikan pakaiannya yang masih terlihat bagus di tubuhnya.
"Apa kamu butuh asisten rumah tangga atau sebagainya, Aldi? Dia sedang butuh pekerjaan," sambung Zavier.
Aldi menggeleng. " Sepertinya tidak."
Bahu Elvana merosot mendengarnya. Lalu? Bagaimana Ia bisa bertahan hidup bilang uang tidak ada sepeser pun dan sekarang tidak dapat pekerjaan pula. Meski Zavier sudah membantunya. Apa karna tubuhnya yang lebar ini menjadi masalah utama.
"Ya sudah kalau begitu," jawab Zavier.
"Kenapa tidak kamu saja yang memberikan dia pekerjaan," ucap Aldi dan Zavier mendesah.
"Perusahaan ku sudah penuh tapi kalau dia mau jadi OB bisa aku pikirkan," bisik Zavier pelan. Elvana masih setia berdiri di samping Zavier. Beberapa pasang mata memandang mengejek dan mencibir wanita bertubuh gempal tersebut. Sumpah demi apapun, Elvana benar-benar tidak nyaman dan batinnya tersiksa di tempat ini. Tenaganya seakan terkuras bila berada di keramaian apalagi dengan tatapan berbeda-beda setiap orang padanya.
*****
Di lain tempat. Ria sudah cukup jauh dari Aldi. Ia masih sibuk mencari pakaian sampai ke toko sebelah. Entahlah, pakaian di toko yang tadi tidak ada yang menarik kecuali dress yang Ia inginkan tadi, tapi Aldi melarangnya. Sebuah lilitan sepasang tangan di pinggangnya. Membuat Ria tersenyum, Ia sudah bisa menebak siapa pelakunya.
"Mas, maaf ya aku ke toko ini tanpa bilang-bilang. Karna tidak ada yang menarik," ucap Ria dengan bibir yang mengerucut. Tidak ada jawaban dari Aldi hanya sebuah kecupan berkali-kali yang pria itu berikan di leher Ria. Wanita itu kegelian merasakan sentuhan yang suaminya berikan.
"Mas, sudah. Aku malu dilihat orang-orang." Ria menyingkirkan kedua tangan kekar itu. Tapi kembali lagi merengkuh tubuhnya dari belakang. Karna kesal Ria berbalik badan dan siap memarahi suaminya itu.
Tapi...
Mata Ria melebar sempurna. Reflek Ia memundurkan tubuhnya kebelakang. Jantungnya berpacu lebih cepat dan napas yang tiba-tiba memberat. Bibir wanita itu bergetar dengan rasa takut yang melingkupi dirinya sekarang. Aura di tempat ini tiba-tiba menggelap.
"Kenapa, sayang? Kemarilah." Kenzo merentangkan kedua tangannya dengan senyuman yang menambah kadar ketampanannya, tapi bagi Ria senyuman itu sangat mengerikan.
Ria menggeleng, sekilas melihat kebelakang sebelum mundur. " Jangan mendekat...!" teriak Ria serak. Mata wanita itu berembun.
"Kenapa Oca sayang? Bukankah kamu sangat suka di peluk? Hmm?" ucap Kenzo serak dan berat. Mata pria itu tampak memerah.
Ria menatap sekitar. Matanya bergulir. "Aku bukan Oca! Sadar kamu!" teriak Ria nyaring. Sepertinya pria itu mabuk tapi kenapa bisa ada di mall? Apa di sekitar mall ada orang jual minuman beralkohol?
__ADS_1
"Iih, lepaskan aku." Ria memberontak ketika tiba-tiba saja Kenzo memeluk dan menciumi wajahnya penuh hasrat.
"Arrgg...." Kenzo menggeram kesakitan ketika Ria menendang juniornya sangat kuat. Wanita itu terlepas dari pelukan Kenzo dan berlari pelan mencari keberadaan suaminya.
Tubuh Ria hampir saja terjengkang ke belakang bila sebuah tangan tidak menahan pinggangnya.
"Kamu kenapa?" tanya Aldi khawatir. Dari tadi pria itu mencari keberadaan istrinya yang tiba-tiba hilang.
Tidak ada jawaban kecuali sebuah pelukan erat Ria. Tidak memperdulikan lagi rasa sakit dibagian perutnya yang menyiksa.
"Sayang, kamu kenapa?" Aldi mengusap-ngusap punggung Ria yang basah berkeringat. Pria itu menggiring sang istri ke restoran yang tidak jauh dari tempat mereka bertemu. Bahkan sedetik saja Ria tak mau berjauhan dari Aldi dan terus memeluknya. Raja, balita itu juga sangat rewel dalam gendongan Aldi. Dalam satu waktu pria itu harus menenangkan ibu dan anak ini.
•••••
Alyssa mengeluarkan kalung berlian. Ya, memamg wanita paruh baya itu yang mencuri kalung dari istri Aldi. Ia sangat membutuhkan uang jadi mencuri adalah jalan keluarnya. Lagipula tidak akan ada yang tahu kecuali Ria. Wanita yang menjadi penghalang besar dalam rencananya.
"Bagaimana caranya menyingkirkan wanita itu tanpa harus meninggalkan jejak," gumam Alyssa yang duduk di tepi ranjang.
"Sepertinya aku butuh patner untuk rencana ku ini. Ooh iya, kemaren Aldi pernah cerita tentang Kenzo. Apa pria itu aku ajak bekerja sama saja? Lumayan kalau Ria bisa dijual pada pria itu."
Alyssa tertawa bak orang gila memikirkan rencananya. Ia seperti mendapatkan hadiah besar dan hadiah itu akan semakin besar dan berharga bila bisa menyingkirkan Ria.
•••••
"Minum dulu..." Ria hanya minum satu teguk saja air yang di sodorkan Aldi. Tapi tatapan mata wanita itu kosong dan memancarkan ketakutan. Sesekali Ria mengusap kasar wajahnya, tepat dibagian Kenzo meninggalkan bekas ciuman yang sangat menjijikkan untuknya. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri.
"Mau pulang?" tanya Aldi lembut. Ria diam sejenak, Ia melirik Raja yang menatap beberapa anak kecil bermain prosotan yang disediakan oleh pihak restoran di sana.
"Tidak usah, Mas." jawab Ria serak. Aldi Tersenyum tipis dan mengangguk.
Kenzo menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Pria itu mengusap kasar wajahnya. Kenzo baru saja selesai meeting dengan kliennya tapi sebelum pertemuan mereka usai. Mereka meminum sesuatu yang benar-benar membuat Ia mabuk. Dan itu membuat Ia tidak bisa mengendalikannya hingga tidak sengaja melihat Ria lewat di hadapannya. Wanita itu sangat-sangat mirip dengan almarhum istrinya.
________
__ADS_1
JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM SAYA @Khazana_va
MAAF KARNA TIBA-TIBA MENGHILANG HINGGA TIDAK UPDATE SELAMA SATU BULAN🙏