MENIKAH KARNA WASIAT

MENIKAH KARNA WASIAT
Part 22


__ADS_3

...Tulislah sesuatu yang kamu suka bukan yang ...


...orang-orang sukai. ...


Happy reading


Aldi menggarukkan kepalanya dengan wajah yang tampak masam.Sudah berapa kali ia menghela napas panjang melihat tumpukkan berkas yang begitu banyak di meja kerjanya.


Hatinya sudah bahagia karna akan pulang cepat tapi sekarang ia harus berhadapan dengan kertas-kertas di depannya. Karna seminggu merawat Ria membuat pekerjaannya terbengkalai.


"Apa tidak bisa sisanya di kerjakan besok saja? " tanya Aldi pada assisten Dennis yang masih setia berdiri di sampingnya seperti patung.


"Maaf, Tuan Aldi. Semua berkas hari ini harus sudah selesai untuk di tanda tangani.Anda sudah seminggu tidak masuk kantor hingga berkas menumpuk, " papar Dennis.


"Huft...Baiklah.Kau bisa pergi dari ruangan ku, " perintah Aldi.


"Maaf, Tuan. Saya harus tetap mengawasi anda. Sudah beberapa kali anda kabur dari perusahaan karna menghindari pekerjaan kantor, " ujar Assisten Dennis dan Aldi meringis mendengarnya.


"Itu karna saya tiba-tiba mendapatkan telpon dari rumah sakit, karna ada operasi mendadak. Tidak mungkin saya terus berfokus pada pekerjaan kantor hingga lupa dengan pekerjaan saya sebagai dokter. " cerocos Aldi panjang lebar.


"Saya sangat mengerti dan paham dengan posisi anda yang bukan hanya menjadi seorang CEO tapi dokter. Tapi anda harus bisa bertanggung jawab atas semua pekerjaan anda. Almarhum Papa anda meminta saya terus membimbing dan mengawasi anda dalam memimpin perusahaan ini, " papar Assisten Denis. Pria tersebut sudah lama mengabdikan hidupnya untuk bekerja dengan keluarga Alamsyah hingga Tuan Bara meninggal dunia dan sekarang kepemimpinan perusahaan di ambil alih oleh Aldi.


Aldi mengambil satu berkas. Ia dengan teliti membaca dokumen yang akan ia tanda tangani. Tentunya itu tidak luput dari pengawasan Assisten Dennis.


🍄🍄🍄🍄🍄


Ria merasa badannya terasa jauh lebih baik. Ia juga tidak demam lagi setelah meminum obat yang di berikan Aldi. Seperti biasa, Ria melakukan pekerjaan rumah. Seperti membersihkan rumah dan memasak untuk sarapan paginya.


"Hari ini mau masak apa ya, " gumam Ria sembari menggulir layar ponselnya. Mencari resep masakkan yang mudah di praktekkan.


"Masak ikan asam manis sepertinya enak. Tapi apakah ikannya masih ada di kulkas, " Ria membuka pintu kulkas. Ia tidak mendapati ikan yang ada hanya daging ayam di freezer.


"Tak apa. Ayam asam manis juga enak. "


Ria mengeluarkan ayam tersebut dari freezer dan memasukkan ke dalam baskom yang sudah di isi air agar mencairkan daging ayam yang membeku.


Kini, Ria berkutat dengan segala alat dapur dan bahan-bahan yang sudah ia sediakan untuk pembuatan ayam asam manis. Di sela-sela kesibukan Ria, perutnya tiba-tiba bergejolak, mual. Ia langsung berjalan ke arah wastafel dan memuntahkan isi dalam perutnya.


Huek... Huek...


Ria terus muntah hingga badannya sedikit melemas dan lemah. Ia mencuci mulutnya dengan air keran karna merasa tidak muntah lagi.Tapi syukur ia tidak seperti kemaren yang sampai pingsan dan demam.


Ria tidak tahu kenapa dirinya seperti ini. Dulu saat ia hamil Raja ia tidak sampai muntah-muntah seperti ini.

__ADS_1


"Ada apa dengan ku?Aku merasa sudah tidak sakit lagi, " monolog Ria.


Ria kembali melanjutkan aktivitasnya. Ia tidak ingin ambil pusing dengan dirinya yang tiba-tiba muntah dan kepala yang pening.


🍄🍄🍄🍄🍄


Waktu terus bergulir hingga tak terasa sudah mulai sore. Aldi merenggangkan tangannya, menyandarkan punggungnya di bahu kursi. Beberapa menit mengistirahatkan dirinya setelah berkecamuk dengan tumpukan berkas. Aldi bangkit dari tempat duduknya.


Pria itu menyampirkan jasnya ke bahu. Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dengan wajah yang terlihat sangat kusut dan tampak kelelahan.


Tidak ada senyum lagi di bibirnya saat berpapasan dengan beberapa karyawan yang masih ada di kantor. Ia berjalan keluar dari lobby, mobilnya sudah terparkir di depan lobby tersebut.


"Ini Tuan Aldi kunci mobilnya, " Satpam itu menyerahkan kunci mobil milik Aldi.


"Terima kasih. " ucap Aldi menyambut kunci tersebut dari Satpam sambil tersenyum tipis.


Aldi masuk ke dalam mobil. Ia mulai mengendarai mobilnya keluar dari kawasan kantor. Mata Aldi mengedar ke setiap pinggir jalan raya. Ia ingin membelikan sesuatu pada Ria.Setidaknya menyenangkan hati wanita tersebut.


Mata Aldi menyipit, menyorot ke arah toko bunga. Ia menyampingkan mobilnya tersebut ke pekarangan toko bunga. Setelah mobil terparkir, Aldi turun dari mobil. Ia masuk ke dalam toko tersebut, melihat-lihat banyaknya bunga yang tersusun dan begitu cantik.


"Mbak saya ingin membeli bunga, " ujar Aldi dan salah satu karyawan penjual bunga itu mendekat.


"Mas'nya ingin beli bunga yang mana?Yang setangkai atau yang buket? " tanya'nya.


"Bunga yang melambangkan cinta dan sayang, yang mana? " tanya Aldi.


"Ooh, kalau itu bunga mawar putih, Mas. "


Wanita itu mengambil bunga mawar putih dan memperlihatkannya pada Aldi.


"Ya sudah, saya beli mawar putih di buket ya. Tolong di hias secantik mungkin,"pinta Aldi dan wanita itu menganggukkan kepalanya.


🍄🍄🍄🍄🍄


Ria yang sudah bosan di dalam rumah setelah semua pekerjaan rumah selesai, ia berjalan keluar menuju belakang rumah yang terdapat taman kecil. Banyak rumput liar yang tumbuh dan daun kering yang berserakan karna sudah lama tidak di bersihkan oleh pemilik lama rumah ini.


Baru saja akan berbalik, Ria terperanjat kaget kala sebuah buket bunga muncul di depannya.Dia menoleh ke samping tepat Aldi berdiri di sampingnya dengan senyuman manis yang terbingkai di wajah tampan'nya nan mempesona.



"I-ini untuk siapa? " tanya Ria tergagap melihat pada buket bunga yang ada di depannya.


"Ini untuk kamu ,Ria.Saya ingin jadi pria yang romantis untuk kamu, " ujar Aldi jujur.

__ADS_1


Ria tampak terharu dengan mata yang berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya ada pria yang memberikan ia buket bunga.


"Kamu kenapa menangis, hmm?" tanya Aldi yang sedikit panik. "Apa bunga'nya jelek? "


Ria menggelengkan kepalanya. Ia langsung memeluk Aldi. Membuat badan pria itu menegang seperti tersengat listrik. Darahnya berdesir dengan gelenyar aneh yang selalu menerpa saat berdekatan dengan Ria.


"Aku bahagia. Aku baru pertama kali di kasih bunga. Aku merasa istimewa di beri hadiah bunga sama, Mas Aldi, " ujar Ria sembari memulas hingus'nya di kemeja Aldi yang tidak jijik sama sekali.


"Nanti kamu akan saya berikan bunga terus hingga kamu tahu betapa Istimewa kamu untuk saya." ujar Aldi dan Ria mendongak menatap suaminya dengan air mata yang meleleh.


"Apa aku istimewa untuk, Mas? " tanya Ria menyakinkan bila ia tidak salah dengar.


Aldi menganggukkan kepalanya. "Sangat-sangat istimewa untuk saya. Jadi jangan menangis lagi, nanti tidak cantik lagi. "


"Ini bunga spesial untuk kamu. Bunga yang mengungkapkan semua perasaan saya pada kamu, "tukas Aldi memberikan pada Ria.


Wanita itu menghirup aroma harum dari bunga mawar putih yang sangat cantik.


" Kamu sudah makan? "tanya Aldi sembari mengusap peluh di dahi Ria.


" Sudah. Aku tadi masak ayam asam manis untuk Mas Aldi, "papar Ria antusias.


Tangan Aldi turun hingga ke perut Ria. Ia mengusap perut rata sang istri dengan lembut.


" Kenapa perut ku di usap seperti itu? "tanya Ria heran.


Aldi merengkuh pinggang ramping Ria, hingga merapat dengan tubuhnya.


"Di perut kamu ada janin yang sedang tumbuh dan akan menjadi adiknya Raja, " ujar Aldi. Ria semakin bingung dengan ucapan pria tersebut.


"Aku tidak hamil, bagaimana bisa ada janin di perut aku? "


"Kan saya menghamili kamu, pastilah ada janin di perut kamu. " ujar Aldi gemas dengan kelemotan Ria.


"T-tapi aku minum pil penunda kehamilan. Jadi mustahil aku bisa hamil. "


Ria melepaskan tangan Aldi di pinggangnya.


"Pil yang kamu minum itu pil penyubur kandungan. Makanya kamu bisa hamil. Saya sengaja membeli pil itu. " ujar Aldi.


Ria menatap Aldi sejenak dan langsung masuk rumah meninggalkan Aldi yang terdiam mematung melihat kepergian wanita tersebut.


"Apa dia marah?Padahal sudah terlanjur jadi kecebong saya. " gumam Aldi lesu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2