MENIKAH KARNA WASIAT

MENIKAH KARNA WASIAT
Part 28


__ADS_3

Jangan lupa untuk like ,vote dan beri hadiah ya.Terima kasih.


Happy reading


Ria duduk meringkuk di kasur.Suara isak tangisnya yang memenuhi kamar . Mata yang sembab dan penampilan yang kacau. Setelah satu jam lalu pertengkarannya dengan Aldi. Pria itu tiba-tiba kembali ke sikap seperti awalnya saat mereka menikah.Acuh dan tidak peduli padanya.


Suara pintu kamar yang terbuka, membuat perhatian Ria tertuju pada Aldi yang masuk ke dalam kamar dan menatap dirinya sekilas dengan sorot mata yang datar dan dingin.


Ria hanya bisa melirik pria tersebut tanpa berani membuka suara ,bahkam untuk sekedar menyapa pun tidak berani.


Aldi masuk ke kamar mandi.Tidak lama terdengar suara gemericik air di dalam sana. Sekitar lima belas menit Aldi keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit sebatas pinggang, memperlihatkan tubuh kekar nan berototnya.


Sedangkan Ria, sudah membaringkan badannya di kasur dengan selimut yang menutupi seluruh badannya. Namun, bukan berarti dia tidur, ia masih terjaga dan mengintip gerak-gerik Aldi di balik selimut.


Hati Ria semakin sakit kala Aldi memilih tidur di sofa dan membaringkan badannya di sana. Apa separah itu kesalahan yang telah dia perbuat.


Tanpa sadar air mata nya merembes membasahi wajahnya.Ria membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara tangisannya.


🍄🍄🍄🍄🍄


Seperti biasa, Ria menyiapkan sarapan pagi untuk Aldi yang belum bangun juga dari tidurnya. Baru saja akan melangkahkan kakinya menuju kamar, Aldi keluar dari kamar sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Mas, aku sudah siapkan sarapan," ujar Ria tersenyum tipis. Namun, Aldi melewati istrinya tanpa mengucapkan sepatah apapun.


Ria berusaha menahan air matanya yang akan jatuh.


"Mas, tidak sarapan dulu?" tanya Ria dengan suara yang bergetar menahan tangis.


Aldi hanya diam. Dia sibuk memakai sepatu kerjanya tanpa sarapan pagi yang biasa dia lakukan.


"Mas, aku minta maaf. Jangan diamkan aku seperti ini," mohon Ria berdiri di hadapan Aldi.


Lagi-lagi, Aldi diam. Dia bangkit dari sofa setelah memasang sepatu. Berjalan menuju ke pintu keluar dengan satu tangan menenteng tas kerjanya. Hari ini Aldi akan pergi ke perusahaan, setelah itu baru ke rumah sakit.


Greb...


Sebuah pelukan dari belakang, membuang langkah Aldi terhenti.

__ADS_1


"Jangan bersikap seperti ini hiks... aku salah, aku egois, aku perempuan yang tidak tahu diri karna melanggar larangan kamu. Tapi aku mohon maafkan aku hiks... "


Ria menangis terisak-isak dengan pelukan yang semakin erat.


"Lepaskan saya, Ria. Jangan buat saya terlambat ke kantor," ucap Aldi datar. Tangisan Ria makin menjadi-jadi.


Aldi tidak memanggil dirinya 'sayang' lagi. Dan ucapan Aldi yang formal membuat hatinya begitu retak.


"Jangan bersikap lemah agar saya kasihan," ujar Aldi begitu menusuk.


Ria yang mendengar itu, perlahan melonggarkan pelukannya pada Aldi yang berbalik ke arahnya.


"Kamu kenapa bersikap seperti ini dengan aku, Mas? Aku sudah minta maaf dan mengakui kesalahan yang aku perbuat hiks... "


"Sudah bicaranya?" tanya Aldi datar.Membuat Ria menatap tidak percaya dengan perubahan sikap suaminya.


Jujur, Aldi tidak tega melihat Ria menangis dan memohon padanya seperti ini. Ingin rasanya memeluk Ria dalam dekapannya. Tapi, dia harus memberikan Ria pelajaran agar tidak bersikap egois, apalagi masalah anaknya yang di kandung Ria.


Aldi segera beranjak dari hadapan Ria yang menatap getir pada suaminya dengan tatapan kesakitan yang luar biasa dalam hatinya.


Tangisannya berubah menjadi sesegukan bahkan terbatuk-batuk. Aldi berbalik melihat Ria yang masih menatap ke arahnya.


"Aku ingin ikut, Mas Rayyan saja.Di sini tidak ada yang menyayangiku hiks..." Ria menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata membasahi tangannya.


Sebuah pelukan hangat, membuat Ria perlahan menurunkan tangannya dari wajah. Dia mendongak menatap Aldi. Pria tersebut mengusap pipinya yang basah oleh air mata.


"Jangan menangis. Mas, hanya ingin kamu sadar dengan kesalahan yang kamu perbuat."


Ria langsung memeluk Aldi erat. Menenggelamkan wajahnya di dada kokoh sang suami.


"Jangan marah lagi. Aku janji tidak akan seperti itu." ujar Ria dengan suara serak.


"Sekarang, masuk dalam rumah. Mas, harus pergi kerja dulu." ujar Aldi.


"Aku boleh ikut?" tanya Ria dengan wajah penuh harap. Aldi tampak terdiam sejenak, hingga menganggukkan kepalanya.


"Iya," jawab Aldi dan Ria tersenyum.

__ADS_1


🍄🍄🍄🍄🍄


Semua karyawan yang berpapasan dengan Aldi membungkukkan kepalanya, hormat. Namun,kali ada yang berbeda dari CEO dari perusahaan tersebut bagi karyawannya. Yaitu seorang wanita yang di gandeng Aldi dan balita yang di gendong. Mereka berdua berjalan berdampingan, menuju ke ruang CEO.


Mata Ria mengarah pada kantin yang mereka lewati. Membuat langkah Ria terhenti dan otomatis Aldi juga menghentikan langkah kakinya.


"Ada apa?" tanya Aldi.


"Mas, aku ingin ke kantin," ujar Ria, menunjuk langsung.


Aldi menarik Ria ke kantin yang tampak sepi. Karna sudah memasuki jam kerja.


"Mbak,satu mangkok bakso." pinta Ria. Wanita itu juga mengambil beberapa kue dan jajanan yang tersedia di sana. Aldi memperhatikan apa yang Ria ambil.


Ria mengambil anggur yang terlentak di sebuah lemari pendingin dan siap makan. Namun...


"Ria, jangan." Mendengar ucapan Aldi dan tatapan yang tajam. Membuat Ria segera meletakkan anggur yang hendak dia beli. Takut bila Aldi marah lagi.


"Ayo, ke ruangan Mas. Makannya tidak boleh di sini," ujar Aldi membawa satu mangkok bakso yang mengepulkan asap.


"Unda, cue." Raja menunjuk kue yang ada di genggaman Ria.


"Di habisin ya, " ujar Ria sembari membuka bungkus kue tersebut dan memberikannya pada Raja.


Kini, mereka bertiga sudah memasuki ruangan yang cukup luas, semerbak aroma maskulin persis seperti aroma badan Aldi. Menusuk ke indra penciuman.


"Makan dulu, baksonya." ujar Aldi. Meletakkan mangkok tersebut di atas meja. Raja Aldi turunkan dari gendongannya.


"Mas, ada rapat. Kamu jangan kemana-mana termasuk keluar dari ruangan ini," ujar Aldi seperti nada memerintah dan Ria menganggukkan kepalanya patuh.


"Bila kamu mengantuk tidur saja di kamar. Kalau butuh sesuatu telpon sekretaris, Mas." ujar Aldi. Dan lagi-lagi di angguki Ria.


"Mas pergi dulu." Aldi mencium kening Ria sekilas dan berjalan ke pintu keluar.


Setelah keluar dari ruangan tersebut. Aldi mengunci pintu ruangan itu. Dia kurang yakin bila Ria akan patuh dengan ucapannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2