
...Kalau sudah memasuki waktu sholat segerakanlah.Jangan menunda-nunda karna ingin membaca novel ini atau novel yang lain.Saling mengingatkan!^^...
...~Happy reading~...
Tangan Aldi dengan lihai memainkan keyboard laptopnya. Matanya fokus pada layar besar di laptop tersebut. Aldi bertopang dagu dengan satu tangan, tengah berfikir.Matanya masih tertuju pada layar pipih tersebut. Keningnya berkerut melihat kiriman e-mail dari sekretarisnya di kantor tentang pengeluaran keuangan perusahaan yang cukup banyak tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan tersebut.
Selain berprofesi sebagai dokter ,Aldi juga merupakan CEO di perusahaan almarhum ayahnya yang di wariskan padanya, karna ia merupakan anak lelaki satu-satunya. Kedua orang tua Aldi meninggal dunia penyebabnya adalah akibat kecelakaan tunggal.
Saat itu umur Aldi 17 tahun, masih asyik dengan dunia abu-abunya dan menikmati masa mudanya . Tapi semenjak kedua orang tuanya meninggal. Aldi terpaksa mengambil alih dan memimpin perusahaan tersebut di saat umurnya masih 17 tahun. Betapa lelahnya fikiran dan fisiknya saat itu antara tugas kantor dan sekolah.
"Dokter Aldi, "panggil Maiza yang baru masuk ke ruangan tersebut setelah mengetuk pintu.
Aldi mendongak menatap Maiza yang sudah berdiri di depan mejanya. "Ada apa? Masih ada pasien lagi? " tanya Aldi seraya menutup laptopnya.
Maiza menggelengkan kepalanya, "tidak,Dok. Tapi ada seorang wanita yang ingin bertemu dengan Dokter Aldi. " jawab Maiza dan Aldi mengernyitkan dahinya.
"Kalau begitu suruh dia masuk, " ujar Aldi dan Maiza menganggukkan kepalanya.
Maiza keluar dari ruangan tersebut dan memanggil wanita yang ingin bertemu dengan Aldi. Tidak lama suara pintu yang terbuka membuat Aldi yang sibuk membaca sebuah buku catatan mendongak.
Damn!
Mata Aldi membola sempurna tanpa berkedip. Wajah keterkejutan tidak bisa di sembunyikan lagi. Klarissa tersenyum manis sambil menutup pintu ,dengan anggunnya Klarissa melangkahkan kakinya berjalan ke arah Aldi yang langsung menormalkan raut wajahnya kembali datar.
"Untuk apa kamu ke sini? " spontan Aldi langsung melontarkan pertanyaannya yang terdengar sangat datar. Klarissa mendudukkan dirinya di kursi yang menghadap tepat ke arah Aldi.
"Aku ke sini ingin berkunjung.Memangnya tidak boleh? "tanya Klarissa.Wanita itu mengedarkan pandangannya melihat seluruh ruangan kerja Aldi yang lebih di dominasi warna putih.
"Kalau tidak ada hal yang penting kamu bisa keluar dari ruangan saya, " usir Aldi yang masih menampilkan wajah datarnya.
Klarissa sedikit terkejut dengan perubahan sikap Aldi yang dulu sangat manis padanya tapi sekarang sangat dingin.
Kedua tangannya bertopang dagu, menatap lekat pada Aldi yang menatap dingin ke arahnya. Sedetik kemudian Klarissa bangkit dari tempat duduknya, berjalan ke arah Aldi dengan tidak sopannya wanita itu langsung duduk di pangkuan Aldi yang memicingkan matanya pada Klarissa yang tidak terpengaruh ataupun takut dengan tatapan pria yang pernah menaruh perasaan padanya.
"Aku ke sini ingin meminta maaf sama kamu Aldi. Dulu aku menolak kamu saat menyatakan perasaan padaku dan lebih memilih Dery yang ternyata pria brengsek, " tutur Klarissa dengan raut wajah yang dibuat sesedih mungkin. Tangannya mengalung di leher Aldi.
Perlahan Klarissa mendekatkan wajahnya pada Aldi. Mengikis jarak hingga bibir mereka berdua akan menyatu tapi dengan cepat Aldi memalingkan wajahnya membuat wanita itu mendesah kesal.
"Jangan bersikap seperti wanita murahan hanya untuk memperbaiki sebuah hubungan. Tidak semua pria terbuai dengan apa yang kamu lakukan. Kamu kurang lebih seperti pelacur yang sering saya temui, " sembur Aldi menatap sinis pada Klarissa yang langsung tertohok dengan ucapan Aldi yang begitu menusuk ke hati dan pedas di telinganya yang sudah memerah karna malu.
Aldi mendorong Klarissa hingga menjauh dari pangkuannya. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menatap Klarissa dari atas sampai bawah. Mendekatkan wajahnya ke telinga wanita tersebut dan berbisik.
"Sekalipun kamu melemparkan tubuh kamu ke ranjang untuk saya nikmati ,itu tidak akan membuat saya kembali mencintai kamu, " bisik Aldi tak kalah menusuk ke hati Klarissa yang tangannya sudah terkepal kuat menahan emosi dan amarah yang melebur menjadi satu.
"Jangan berusaha memaksa seseorang yang pernah kamu sakiti untuk menjalin hubungan.Tidak semua orang di masa lalu akan selalu bersikap sama seperti dulu" tukas Aldi setelah itu meninggalkan Klarissa di ruangan itu seorang diri.
Wanita itu menatap kepergian Aldi dengan napas yang memburu.Klarissa menghentak-hentakkan kakinya di lantai karna kesal.
•••••
__ADS_1
Ria tengah berada di pusat perbelanjaan di sebuah super market. Wanita itu tengah membeli bahan-bahan dapur dan belanjaan lainnya. Sesekali Ria melihat ke selembar kertas yang tertulis daftar belanjaan yang harus ia beli.
"Sepertinya sudah cukup kalau terlalu banyak belanjanya pasti uang ku tidak akan cukup, " monolog Ria.
Sebenarnya uang yang dipakai untuk belanja adalah uang tabungannya sendiri yang dia bongkar. Aldi tidak memberikan uang bulanan untuk dirinya, mungkin pria itu lupa.
Ria menggiring troli belanjaannya ke kasir sambil menunggu belanjaannya di hitung totalnya.Dia mengeluarkan uangnya dari dompet takut menghitung kurang.
"Totalnya berapa Mbak? " tanya Ria.
"Enam ratus, lima puluh ribu, " jawab penjaga kasir tersebut.Ria memberikan uangnya dan segera pergi dari sana dengan membawa dua plastik belanjaan yang cukup banyak dan berat.
"Pak, ini tolong belanjaan saya, " ujar Ria memberikan belanjaannya pada tukang ojek yang dia sewa untuk mengantarkan dia ke super market dan kembali ke rumah.
"Sudah segini aja Neng? " tanya tukang ojek memastikan. Ria menganggukkan kepalanya.
"Pak , saya ke toilet sebentar ya, " ujar Ria yang tiba-tiba ingin pipis.
"Sok atuh Neng, lama juga tidak apa-apa, " kelakarnya membuat Ria terkekeh.
********
Ria yang tergesa-gesa untuk segera kembali ke tukang ojek yang tengah menunggunya itu tidak sengaja menabrak salah satu laki-laki yang berjalan berlawanan arah dengannya.
Brakk!
Tubuh Ria langsung mundur beberapa langkah ketika tubuhnya menabrak besar pria yang di sampingnya ada seorang wanita yang memakai kacamata mata hitam yang terlihat angkuh.
Sedangkan Ria tidak asing dengan suara wanita tersebut. Hingga ingatannya berputar bila ia pernah di jual ke mucikari, sangat teringat jelas di otaknya walau saat itu dia buta dan tidak bisa melihat tapi dia masih hafal dengan suara Mommy Nia.
"Ooh, sekarang kamu sudah bisa melihat, " ujar Mommy Nia menatap menyeringai pada Ria yang masih di anggap anak buahnya untuk di jual kembali ke pria karna wanita ini masih terikat padanya. Senyuman culas terukir di bibir merah menyala Mommy Nia.
"Bono, tangkap dia, " perintahnya.
Pria berbadan besar tersebut langsung memegangi tubuh Ria.
"Lepas! Aku tidak ada masalah dengan kalian! " ketus Ria berusaha melepaskan dirinya dari jeratan pria berwajah seramnya itu.
"Heh! Apa kamu lupa bila kamu itu di bawa pergi oleh pria yang menyewa kamu tanpa membayar uang untuk ganti rugi diri kamu yang sudah aku beli, " Mommy Nia tak kalah ketus.
"Sekarang bawa dia ke mobil. Pasti banyak pria yang berebut untuk kamu layani, " ujar Mommy Nia tersenyum senang karna mendapatkan Ria untuk di jual kembali.
"Lepaskan aku! TOLONG!!! " teriak Ria tapi mulutnya langsung di bekap.
Ria menginjak kaki pria tersebut dan menekannya dengan kuat. Hingga pria itu mengaduh kesakitan dan melepaskan tubuhnya.
"Hey! Jangan kabur!! " teriak Mommy Nia melihat Ria melarikan diri.
"Kamu cepat kejar dia!! " teriak Mommy Nia marah. Bono yang masih merasakan kesakitan di kakinya mengejar Ria terpincang-pincang.
__ADS_1
Sementara Ria tidak melihat ke depannya saat berlari karna terus menoleh ke belakang .
Tittt....
Suara klakson mobil yang tiba-tiba membuat Ria hampir tertabrak itu berteriak kencang dan berjongkok. Beruntung mobil itu berhenti tepat di depan Ria.
Sang pengemudi keluar dari mobil berjalan mendekati Ria yang perlahan membuka matanya.Namun, wajah Ria semakin ketakutan ketika matanya bertubrukan dengan mata Aldi yang berdiri tepat di depannya dengan raut wajahnya yang terlihat marah.
"Dapat kamu, " pria yang mengejar tadi langsung memeluk Ria membuat mata Aldi semakin menajam.
"Lepaskan aku! " Ria berusaha memberontak. Ia menatap Aldi yang melihat dirinya dengan tatapan datar tapi sarat akan kemarahan di wajahnya.
Dengan gerakan cepat Aldi menarik kerah baju Bono kasar .
Bugh
Pukulan yang tidak bisa terelakkan mengenai tepat di hidung Bono yang langsung mengeluarkan darah segar.
"Siapa yang menyuruh kamu menyentuh istri saya, " desis Aldi tepat di wajah Bono yang mengerang kesakitan.
"Lepaskan dia! " teriak Mommy Nia dengan napas tidak beraturan karna baru saja berlari.
"Hey kau lepaskan anak buah ku, " sentak Mommy Nia.
Aldi melepaskannya dan mendekati Mommy Nia dengan aura yang menyeramkan yang menguar membuat wanita itu meneguk ludahnya susah payah.
"Apa masalah kalian mengejar istri saya? "tanya Aldi , sedangkan tubuh Ria masih bergetar ketakutan.
Bukannya menjawab Mommy Nia tertawa terbahak-bahak , "Apa? Pelacur ini istri mu? Apa kau bercanda? Dia itu bekerja di tempat ku sebagai pemuas nafs* para pria dan masih terikat dengan ku. Sekarang serahkan istri mu pada ku, " ujarnya.
Aldi langsung menoleh ke arah Ria dengan mata yang memicing.
"Kalau saya tidak mau, " jawab Aldi tegas.
"Kalau kamu tidak mau, kamu harus bayar seratus juta sebagai uang ganti rugi, " ujar Mommy Nia dengan santai .Sedangkan Ria melototkan matanya. Uang 100 juta sangat banyak sekali bagi Ria.
"Tulis nomor rekeningnya, " dengan mudahnya Aldi mengatakan itu dan menyerahkan handphone agar Mommy Nia menulis nomor rekening.
"Wow , ternyata kamu kaya juga,beruntung pelacur ini mendapatkan kamu, " ujarnya sambil mengetik nomor rekeningnya.
"Sudah terkirim, " ujar Aldi dan Mommy Nia menganggukkan kepalanya begitu senang mendapatkan rezeki tak di sangka-sangka. Dia menatap tabungan rekeningnya bertambah di ponsel.
Aldi berjalan ke arah Ria dan langsung Mencengkram pergelangan tangan sang istri dengan kasar menarik tangan Ria, mendorongnya masuk ke dalam mobil. Menutup pintu mobil dengan sangat kencang membuat Ria terperanjat kaget. Aldi masuk ke dalam mobil.
"Kamu butuh belaian sampai mencari pada pria lain untuk memuaskan kamu, hmm? " tanya Aldi dengan nada pelan tapi sangat mengerikan bagi Ria.
"Baiklah biarkan saya yang akan memuaskan kamu di ranjang setelah sampai rumah, " desis Aldi tidak main-main dengan perkataannya.
"Tidak seperti itu, kamu salah paham, " ujar Ria.
__ADS_1
"Diam!! " bentak Aldi membuat Ria langsung terdiam dengan ketakutan yang menjadi-jadi.
Bersambung...