MENIKAH KARNA WASIAT

MENIKAH KARNA WASIAT
Part 17


__ADS_3

Happy reading


Aldi keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Ia membuka pintu mobil belakang dan mengeluarkan Ria. Mata Aldi tampak memerah dengan rasa takut yang menjalar.Pria itu menggendong tubuh mungil Ria sedikit berlari.


"Suster cepat siapkan ruang rawat untuk istri saya! " sarkas Aldi nada memerintah.


"Baik dokter Aldi." suster tersebut berjalan ke ruang rawat yang masih kosong dan diikuti oleh Aldi yang sesekali menatap wajah Ria yang di penuhi lebam.


Aldi meletakkan Ria di brankar. Beberapa suster menyiapkan obat-obatan dan alat untuk pemeriksaan. Sementara, Aldi memakai jas putihnya. Kali ini ia yang akan menangani Ria. Suster melepaskan pakaian yang melekat di tubuh wanita tersebut.Dengan hati-hati Aldi membersihkan luka di wajah dan bagian tubuh Ria.


Seharusnya suster yang melakukan proses pembersihan luka pada pasien tapi kali Aldi yang menginginkannya untuk melakukan itu.


Kini, luka yang ada di wajah dan badan Ria sudah di bersihkan. Meski, luka lebam masih tampak.Suster memakaikan Ria baju pasien rumah sakit agar memudahkan dokter mengakses bagian dari tubuh pasien yang di rawat.


Aldi membersihkan tangannya di wastafel setelah proses pembersihan luka dan pengobatan selesai. Ia berjalan mendekati Ria yang masih setia menutup matanya. Sementara dua suster tersebut keluar dari ruangan tersebut yang kini menyisakan Aldi dan Ria dengan keheningan yang melanda.


"Cepat sadar dan maaf telah lalai menjaga kamu, Ria, " Aldi mengusap pipi Ria yang tampak pucat.


Kini, tangan Aldi mengenggam tangan Ria. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya, mengecup punggung tangan Ria hingga bibirnya menempel dengan sempurna. Matanya memanas melihat keadaan istrinya seperti ini, ada rasa sakit yang tidak dapat ia jabarkan dalam hatinya yang berbalut rasa pedih di dalamnya.


******

__ADS_1


Kelopak mata nan indah itu, perlahan membuka matanya. Netra coklat yang berair tersebut mengerjab beberapa kali, meringis merasakan sakit di wajahnya. Matanya bergulir melihat keadaan ruangan yang tampak sepi dengan pencahayaan yang remang-remang. Namun, dirinya tersentak ketika merasakan tangannya di genggaman.


Ria menoleh melihat kearah Aldi yang tertidur nyenyak dengan tangan yang saling bertautan dengan tangannya. Perlahan tangan Ria terulur mengusap rambut tebal Aldi yang tidur dengan posisi duduk dan kepala yang bertumpu di brankar tempat ia berbaring sekarang.


Aldi mengerutkan keningnya, merasa terusik ketika sebuah sentuhan di kepalanya. Ia membuka matanya dan perlahan mengangkat kepalanya. Ria terkejut, ia langsung menjauhkan tangannya dari kepala Aldi dengan rasa gugup yang menyelimuti.


"Kamu sudah sadar,Ria?" Aldi langsung bangkit dari tempat duduknya walau kepalanya terasa pening.


"Apa ada yang sakit, hmm? " tanya Aldi seraya memeriksa Ria dan membuka kancing baju wanita tersebut.


Ria hanya diam, namun tidak dapat menampik jantungnya berdegub dengan kencang.


"Minum dulu, " Aldi memberikan segelas air putih dan membantu Ria bangkit dari posisi berbaring, tubuhnya masih terasa lemas.


Aldi menangkup pipi Ria yang langsung memeluk dirinya. Suara tangisan terdengar jelas keluar dari bibir wanita tersebut. Pelukannya kian erat seolah ketakutan.


"Aku takut, " ucap Ria dengan suara yang tersekat di tenggorokan.


"Tenang.Kamu jangan takut lagi , sayang. Saya ada di sini tidak ada yang akan menyakiti kamu, " Aldi mengusap punggung Ria yang bergetar hebat.


Trauma? Tentu, begitu membekas dalam ingatannya, bagaimana Rima menyiksa dan memperlakukan dirinya seperti binatang.

__ADS_1


"Sekarang kamu istirahat, ya, " ujar Aldi dengan lembut.


"Tidak, aku takut Rayyan, aku takut, " Ria makin menyusupkan kepalanya dalam dekapan Aldi.


Aldi diam mematung mendengar nama Rayyan yang di sebut oleh Ria yang saat ini butuh pelukan dan perlindungannya. Entah mengapa ada kecemburuan di dalam hatinya, seolah tidak rela wanita ini menyebut nama pria lain, walaupun Rayyan adalah sahabatnya dan juga sudah meninggal dunia.


Aldi mengusap-ngusap punggung Ria dengan lembut. Membiarkan istrinya puas memeluk dirinya, dia tidak bisa menampik rasa kecemburuannya pada almarhum Rayyan. Mungkin karna rasa rindu atau kesadaran Ria belum sepenuhnya pulih ia menyangka bila dirinya adalah Rayyan.


Sepertinya Rayyan begitu berarti dalam hati Ria. Dan memiliki tempat tersendiri di hati wanita tersebut.


"Sebut nama aku, sayang, " bisik Aldi di telinga Ria yang sudah tidur terlelap dalam pelukannya.


Aldi tersenyum kecut, begitu malang nasibnya.Apakah tidak ada namanya di hati Ria?


Perlahan Aldi membaringkan tubuh Ria dengan pelan. Ia mengusap kepala istrinya dan mengecup bibir wanita tersebut yang akan selalu menjaga favoritnya.


🍄🍄🍄🍄🍄


Rima duduk meringkuk di atas keramik yang begitu dingin dengan jeruji besi yang mengurung dirinya. Air mata menetes dari sudut mata Rima, hidupnya hancur. Sekarang, dirinya harus mendekam di penjara entah berapa lama. Sialnya dia tidak berhasil melenyapkan Ria, membuat dirinya semakin menderita dengan rasa dendam yang ada di hatinya.


Rima tidak pernah menyesal telah menyakiti ataupun menyiksa Ria. Namun, ia merasakan sakit hati karna gagal menuntaskan dendamnya.

__ADS_1


Terkadang manusia lupa bila rasa dendam yang di lampiaskan pada seseorang yang telah membuat kebahagiaannya sirna, tidak akan membuat dirinya menjadi bahagia. Rima terlalu terpaku bahwa Ria penyebab Rayyan meninggal, meski ia tahu putranya meninggal karna penyakit autopus yang di derita.Rima belum bisa mengikhlaskan kepergian Rayyan untuk selama-lamanya.


Bersambung...


__ADS_2