MENIKAH KARNA WASIAT

MENIKAH KARNA WASIAT
Part 20


__ADS_3

(MASA LALU YANG TERULANG)


Jangan lupa like, komen, vote dan kasih hadiah ya. Jangan jadi readers yang numpang baca tanpa meninggalkan jejak. Terima kasih.


Happy reading.


Seorang gadis mengusap air matanya kasar. Matanya tertuju pada seorang wanita paruh baya yang terbaring lemah di brankar. Selang pernapasan menancap di mulut wanita tersebut dan beberapa alat medis terpasang di dada wanita paruh baya itu. Ria menggenggam tangan sang Ibu. Lelehan air mata membasahi wajahnya.


"Ria harus bagaimana, Ibu. Ria tidak ingin kehilangan Ibu tapi Ria juga tidak mempunyai biaya untuk operasi donor jantung,Ibu." Ria menangkup wajahnya, menangis terisak-isak, badannya bergerak sempurna dengan rasa sesak di dadanya yang teramat sakit.


Bagaimana bisa ia mencari uang yang bahkan bukan nominal yang  tidak sedikit untuk biaya operasi ibu nya yang harus secepatnya di lakukan operasi donor jantung.


Ria bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan keluar dari ruang rawat. Mata yang sembab begitu kentara menghiasi wajah cantiknya. Entah kaki ini akan melangkah kemana untuk mencari uang. Kenapa dunia begitu kejam pada dirinya, penderitaan tidak ada habis-habisannya.


******


Kini, Ria berdiri di depan rumah bu Asri. Ia berharap semoga bu asri meminjamkan  hutangan untuk biaya pengobatan ibunya. Ria mengetuk-ngetuk pintu beberapa kali hingga tak lama bu Asri membuka pintu. Ia tersenyum dengan mata yang masih sembab.


"Ada apa kau kemari? " tanya bu Asri tidak ramah.


Ria tertunduk sejenak lalu, menatap bu Asri. "Saya ke sini ingin meminjam uang untuk biaya pengobatan ibu saya yang secepatnya harus menjalani operasi. Kalau  boleh, saya ingin meminjam uang 100 juta, " ujar Ria.


"Apa! " sentak ibu Asri yang terlihat kaget. Uang 100 juta bukan nominal yang sedikit.


"Kamu gila! Kamu pikir saya punya uang sebanyak itu! Hutang bulan lalu belum kau bayar sekarang ingin berhutang lagi bahkan lebih banyak lagi. Dasar gadis tidak tahu malu kamu, Ria! "maki  ibu Asri. Ria terdiam dengan kepala menunduk, lelehan air mata lolos dengan bebas.


"T-tapi saya sangat butuh uang itu Bu. Kemana lagi saya meminta tolong untuk meminjam uang kecuali dengan Bu Asri... " lirih Ria tampak berputus asa.


Bu Asri terdiam sejenak, seolah tengah berpikir. Sebuah senyuman menyeringai muncul di bibir merah menyala itu.


"Kamu benar-benar sangat membutuhkan uang 100 juta itu? " tanya nya dan Ria mengangguk cepat.


"Baiklah, sekarang kamu ikut saya, " ujar bu Asri.


🌼🌼🌼🌼🌼


Ria tampak bingung kala bu Asri membawa dirinya ke sebuah rumah yang sangat besar bahkan lebih tepatnya seperti istana. Pandangan matanya mengedar melihat sekeliling dalam rumah tersebut.


Tidak berapa lama seorang pria dewasa datang berjalan mendekati keduanya yang sudah duduk di ruang tamu. Rayyan melirik Ria yang tertunduk.


"Ada urusan apa kalian ingin bertemu dengan saya? " tanya Rayyan the poin.


Bu Asri menatap Ria di sampingnya sekilas dan beralih melihat Rayyan.


"Saya kemari ingin menawarkan gadis ini pada tuan. Bukankah anda sedang mencari gadis perawan. Saya tahu hal ini dari security tuan yang merupakan suami saya, " papar bu Asri.


Rayyan menatap ke arah Ria yang masih setia menunduk melihat ke arah lantai seolah keramik itu lebih menarik untuk di pandangani gadis muda itu. Senyuman tipis terbingkai di bibir tipis Rayyan yang mengusap dagu nya melihat Ria dari atas sampai bawah, seakan menilai.


"Berapa? " tunjuk Raja dengan dagunya pada Ria.


Bu Asri tersenyum lebar. Ia mendekati Rayyan dan berbisik-bisik. Tentu mengenai umpahnya yang sudah membawakan gadis muda ini kehadapan Rayyan.


Rayyan mengeluarkan uang yang ada di kantong celananya. "Ini uang nya, " ujar Rayyan datar.


Bu Asri segera menerimanya. Lain halnya Ria yang tampak mengernyitkan dahinya melihat bu Asri mendapatkan uang dari pria asing tersebut.


"Kalau begitu saya permisi, " ujar bu Asri.


Sebelum benar-benar pergi bu Asri mendekati Ria. "Dengar Ria, tuan Rayyan yang akan memberikan uang sebanyak yang kamu mau. Tapi kamu harus melayaninya di atas ranjang. Beri dia kepuasan, " bisik bu Asri dan mata Ria langsung melebar sempurna.


"Aku tidak ingin jadi pelacur apalagi memuaskan nafsu pria itu... " lirih Ria, menolak.


Bu Asri menarik lengan Ria agar makin mendekat dengan dirinya.


"Bukankah kau sangat membutuhkan uang? Apa kau ingin ibu mu meninggal dengan cepat. Kau sendiri yang bilang ingin cepat dapat uang untuk biaya pengobatan ibu mu, " bisiknya penuh penekanan.


Ria terdiam, tangannya gemetar. Apakah tidak ada cara lain selain merendahkan dirinya sebagai pemuas n*fsu.


"Kalau begitu ikut saya, " ujar Rayyan yang berjalan lebih dulu. Bu Asri mendorong-dorong Ria agar mengikuti langkah Rayyan dari belakang.

__ADS_1


Kini, Ria berada di sebuah kamar yang sangat luas, di dominasi warna hitam dan abu-abu. Aroma maskulin tercium jelas di indra penciumannya yang begitu di manjakan oleh aroma tersebut.


"Kau tahu ,apa tugas mu? " tanya Rayyan yang membuka satu-satunya kancing bajunya. Rasa gugup dan takut bercampur menjadi satu. Matanya mulai berair, kakinya melemas. Rasanya ingin berteriak dengan kencang, haruskah jadi wanita pemuas n*fsu.


Badan Ria meremang kala tangan kekar itu melingkar di perutnya. Namun, ucapan dokter yang meminta ia segera membayar biaya operasi sang ibu yang harus segera melakukan operasi terputar jelas dalam ingatannya.


"Aku rela menjual tubuh ku demi ibu. Maafkan aku Tuhan, mungkin ini pilihan yang sangat menjijikkan dan merendahkan diriku sebagai wanita, " batin Ria.


Entah sejak kapan bajunya sudah terlepas. Ria menahan mati-matian agar suara tangisnya tidak keluar dari bibirnya. Ucapan maaf selalu berdengung di benaknya.


******


Ria menangis teriksak-isak. Menutupi tubuh polosnya dengan rasa perih di bagian intimnya. Badannya menampakkan beberapa tanda kebiruan, bibir yang sedikit mengeluarkan darah karna permainan Rayyan yang cukup kasar. Dengan tenaga yang masih  tersisa Ria bangkit dari ranjang.


Ia memungguti pakaiannya yang tergeletak di lantai.Setelah berpakaian lengkap Ria berjalan tertatih-tatih mendekati Rayyan yang berdiri di balkon. Asap rokok yang berhembus ke indra penciuman Ria, membuat ia sesak napas.


"Tuan Rayyan, saya ingin meminta bayaran saya, " ucap Ria berdiri di belakang Rayyan yang membalikkan badannya.


"Apa kau sudah meminum pil penunda kehamilan? Saya tidak ingin  bertanggung jawab bila kamu hamil anak saya. Kamu hanya sebatas wanita bayaran, " ujar Rayyan datar.


Ria tampak kaget. Pandangan matanya bergulir. Tapi ini belum terlambat. Setelah pulang dari sini ia akan segera membeli pil tersebut di apotek.


"Iya, saya ingat tuan, " jawab Ria.


Rayyan memberikan cek pada Ria, sudah ia tuliskan nominal uang yang tentunya tidak sedikit. Karna jarang-jarang ia bisa menikmati gadis yang masih perawan.


"Apa ini tidak terlalu banyak? " tanya Ria melihat nominal uang yang di nuliskan Rayyan.


"Itu tidak terlalu banyak bagi saya. Semoga ibu mu cepat sembuh, "ujar Rayyan kembali membalikkan badannya ke balkon menatap lurus sembari menyesap rokoknya.


Ria tampak tertegun dengan ucapan Rayyan di akhir kalimat.


🌼🌼🌼🌼🌼


" Mbak, apa ada pil penunda kehamilan? "tanya Ria pada penjaga apotek yang menatap curiga padanya. Karna umur Ria masih sangat muda.


Petugas apotek memberikan pil yang di minta Ria. Gadis itu segera membayarnya dan pergi dari sana, baru beberapa langkah Ria tak sengaja menabrak wanita yang juga membeli obat-obatan di apotek tersebut.


" Maaf ya Mbak, saya tidak sengaja, "ujar Ria merasa tak enak.


" Tidak masalah, Dek, "jawabnya.


Tanpa di sadari Ria,plastik berisi pil yang ia beli tadi tertukar dengan plastik obat milik wanita tersebut.


******


3 bulan berlalu.....


Huek... Huek....


Ria memuntahkan cairan dari dalam tubuhnya. Hanya cairan bening kental yang ia muntahkan. ia benar-benar tersiksa dengan keadaan seperti ini. Tangannya berpegangan kuat dengan wastafel. Wajahnya begitu pucat pasi, kantong matanya yang hitam.


Brak...


Suara pintu kamar mandi yang terbuka kasar, membuat Ria tersentak kaget. Ia menatap sang Ibu yang sudah kembali sehat setelah menjalani operasi cangkok jantung.


" Ibu ada ap_____"


Plakk


Belum sempat menyelesaikan ucapannya sang Ibu menampar pipinya begitu kasar  dengan bunyi yang cukup keras.


"Dasar anak tidak berguna!Kamu menyembunyikan ini semua dari Ibu. Anak siapa yang kamu kandung, Ria?! " tanya Ibu nya dengan napas yang memburu.


Ibu Ndari memegang sebuah tespeck yang ia temukan di bak sampah, kamar putrinya saat akan membuang sampah-sampah itu.


"A-aku jual diri untuk biaya pengobatan Ibu. Aku tidak ada pilihan lain, " jawab Ria sejujurnya, percuma ia berbohong.


Tarikan kasar membuat Ria meringis di pergelangan tangannya. Ibu Ndari membawa Ria ke pintu keluar dan mendorong putri nya hingga tersungkur di teras.

__ADS_1


"Kamu bukan putriku! Aku tidak sudi memiliki putri bekas pelacur seperti mu, Ria! Lebih Ibu mati daripada hidup dengan uang haram yang kamu berikan! " sarkas Ibu Ndari. Ria memeluk kaki sang Ibu dengan tangisan tergugu.


"Ibu, aku minta maaf. Aku tidak ada pilihan lain. Aku tidak ingin kehilangan Ibu, aku tidak ingin Ibu meninggalkan aku hiks.... " lirih Ria dengan suara serak.


Seolah hatinya membatu. Ibu Ndari mendorong Ria hingga melepaskan tautan tangannya di kaki wanita paruh baya itu.


"Apapun alasannya, Ibu tetap tidak bisa memaafkan perbuatan kamu. Seharusnya kamu jaga mahkota aku bukanya menyerahkan pada lelaki yang bukan suami kamu demi uang! " sentak Ibu Ndari.


Wanita paruh baya itu langsung menutup pintu dengan kasar. Jantungnya tiba-tiba terasa sangat sakit menerima kenyataan yang begitu menghancurkan dirinya. Kenapa Ria harus memperlakukan itu.


*******


Brak...


Rayyan langsung melemparkan vas bunga yang hampir mengenai Ria. Gadis itu datang ke Mansion untuk meminta pertanggung jawaban atas anak dalam kandungan Ria.


"Saya sudah katakan padamu. Bila saya tidak bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam kandungan kamu! Kita sudah membuat kesepakatan...Atau itu anak pria lain, bukan saya! " tuding Rayyan dan Ria menggelengkan kepalanya, membantah.


"Aku tidak berbohong, ini memang benar-benar anak tuan Rayyan, " sanggah Ria dengan tudingan Rayyan padanya.


"Walaupun itu anak saya, saya tetap tidak akan mau menikahi pelacur seperti kau! " maki,nya.


Dada Ria begitu sesak dan rasa perih di hatinya seperti sayatan pisau yang begitu tajam. Ucapan Rayyan bukan hanya kasar tapi merendahkan dirinya sebagai seorang wanita.


"Baiklah bila tuan Rayyan tidak ingin bertanggung jawab. Tapi lihat lah kau akan menyesal suatu hari. Dan aku bersumpah tidak akan pernah memaafkan mu. Dan anak dalam kandungan ku tidak memiliki Ayah seperti mu dan dia juga bukan darah daging mu lagi, " setelah mengucapkan itu Ria langsung pergi.


Lain halnya dengan Rayyan mengepalkan tangannya begitu kuat dengan emosi yang menyeruak di dadanya.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼


2 tahun berlalu....


Ria menjalani kehidupannya seperti biasanya,terkadang mendapatkan cacian dan makian dari orang lain karena anak yang ia lahirkan tidak memiliki Ayah.Sekarang ia di temani makhluk kecil yang sibuk meminum susu lewat dot.


Rajendra, balita yang mewarisi ketampanan Rayyan, ayah biologis dari anaknya tersebut. Sialnya, Raja harus memiliki wajah yang sangat mirip dengan pria itu, membuat ia sulit melupakan Rayyan.


Suara gedoran pintu membuat Ria tersentak. Ia segera bangkit dari tempat duduk. Keningnya berkerut melihat kedatangan seorang wanita paruh baya. Tanpa permisi Rima masuk ke dalam rumah Ria dan mengambil Raja yang langsung menangis.


"Kalian siapa? Dan jangan bawa anak saya, " ujar Ria berusaha mengambil Raja dari Rima tapi langsung di halangi dua bodyguard.


"Perkenalkan, saya Rima orang tuanya Rayyan. Saya mengambil Raja dari kamu karna dia cucu dan anak kandung putra saya. Lagi pula kamu tidak becus menjaga anak ini, " ujar Rima begitu angkuh.


"Setelah Rayyan tidak mengakui anaknya. Dia ingin mengambil Raja dari ku.... Apa aku tidak salah dengar? " ujar Ria.


"Itu dulu, sekarang dia ingin anaknya, " ujar Rima.


"Raja anak saya. Saya yang mati-matian berjuang melahirkan dan merawatnya, tapi dengan mudahnya kalian ingin merebutnya dari aku? Kembali anakku!, " Ria berusaha mengambil anaknya tapi lagi-lagi dua bodyguard itu menghadangnya hingga mobil yang di tumpangi Rima menghilang setelah membawa kabur Raja.


"Raja! Raja! " Ria berlari mengejar mobil yang sudah menghilang dari pandangannya. Sedangkan dua bodyguard itu masuk ke dalam mobil.


******


"Raja... Raja!! " teriakan Ria membuat Aldi yang tengah mengobrol dengan dokter kandungan tersentak kaget.


"Ria bangun, sayang. Ria, " Aldi menepuk-nepuk pipi Ria pelan.


Wanita itu tengah demam tinggi hingga bermimpi tentang masa lalunya yang begitu buruk. Ria masih menangis dengan kesadaran yang belum sempurna,ia terus memanggil-manggil nama Raja,Rayyan dan juga sang Ibu yang sudah lama meniggalkan karna penyakit jantung yang kumat.


Aldi mengusap peluh yang membanjiri wajah Ria. Hingga perlahan wanita itu kembali tenang dengan mata yang masih tertutup.Mental yang pernah terguncang atas kehancurannya di masa lalu tidak sepenuhnya menghilang begitu saja di benaknya.


Orang lain melihat Ria baik-baik saja, tanpa tahu wanita itu begitu stres dan tekanan batin atas apa yang ia alami. Dunia luar sangat kejam pada wanita yang begitu rapuh di dalam, namun terlihat kuat di depan semua orang.


Ia juga ingin di sayang dan di cintai orang lain. Hingga sempat merebut Albian dari Laura. Laki-laki yang ia cintai.


"Semoga kamu cepat sembuh, " ujar Aldi, menggenggam tangan kanan Ria.


"Kau harus benar-benar menjaga istri mu. Apalagi dia positif hamil dan kandungannya yang sangat lemah, " papar dokter Arion yang di anggukkan Aldi yang berfokus menatap Ria.


Ada rasa penasaran di benaknya tentang masa lalu Ria yang tidak ia ketahui.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2