
...Jangan lupa tinggalkan jejak!^^...
...~Happy reading~...
Aldi mendengus kasar, tatapan matanya seperti lesir yang memancarkan cahaya mematikan pada Kenzo yang tersenyum bak iblis. Ingin rasanya Aldi menghajar Kenzo habis-habisan tapi karna ada Nata, ia harus menahannya.
"Jadi apa yang kau lakukan dengan istri ku? " tanya Aldi tegas dan penuh amarah yang tertahan. Nata memperhatikan itu dengan jantung berdegup kencang, apalagi melihat wajah yang menyeramkan dari rekan bisnisnya itu.
"Aku suntik bius," ujar Kenzo begitu santai tanpa ada beban.
"Kau, memang keterlaluan! Istri ku sedang hamil bodoh!" umpat Aldi dengan butiran keringat yang berjatuhan dari dahinya.
Pria itu kembali mendekati istrinya yang terbaring. Dia menyibak selimut yang menutupi tubuh Ria dengan kasar ke lantai.
"Kau memang keterlaluan, Kenzo. Ayah tidak menyangka kau akan melakukan hal itu dan Ayah kecewa," desis Nata penuh penekan. Pria berusia 50 tahunan itu mendekati Aldi yang hendak menggendong Ria.
"Pak Aldi, lebih baik anda di sini dulu. Diluar hujan sangat deras, bahaya mengendarai mobil dengan cuaca seperti ini," ujar Nata sopan.
Aldi menoleh ke arah Nata yang tersenyum tipis, dan beralih melirik Kenzo yang bersedekap dada dan tatapan mata mengarah pada dirinya.
"Baiklah, tapi setelah hujan mereda saya akan segera pulang dari sini." Aldi kembali membaringkan Ria yang sedikit menggeliat membuat Aldi tersenyum tipis. Setidaknya obat itu tidak berpengaruh dalam waktu lama.
"Kalau begitu, saya permisi keluar dulu Pak Aldi. Nanti pelayan akan mengantarkan makanan dan minuman untuk anda," ujar Nata dan Aldi menganggukkan kepalanya.
"Ayo keluar Kenzo." Nata menarik kasar pergelangan tangan Kenzo yang seakan berat meninggalkan Ria bersama Aldi.
Setelah kepergian dua pria tersebut. Aldi mendekati Ria dan merangkak naik ranjang. Dia membaringkan badannya di kasur dan menarik badan mungil Ria dalam pelukannya saat ini. Tangan kanannya dijadikan bantalan untuk kepala Ria dan satu tangannya merengkuh pinggang ramping Ria.
"Kamu sudah membuat Mas sangat cemas, Sayang." Aldi mengecup bibir mungil nan ranum Ria cukup lama, hingga ia menjauhkan bibirnya dari bibir Ria yang meninggalkan sedikit kelembapan.
Aldi merogoh saku celana, mengeluarkan ponselnya. Pria itu mengetik sesuatu di layar ponselnya dan kembali memasukkan benda pipih itu ke saku celana.
"Eugh..."
Lenguhan yang keluar dari mulut Ria, membuat perhatian Aldi teralihkan. Wanita itu makin menyusupkan tubuh mungilnya dalam dekapan sang suami.
"Sayang, kamu sudah sadar, Sayang." Aldi menepuk-nepuk pipi Ria begitu lembut dan sangat pelan.
__ADS_1
Perlahan pemilik mata coklat nan indah itu membuka matanya perlahan dan mengerjap beberapa. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah wajah tampan sang suami yang tersenyum. Kening Ria berkerut, heran.
Mata wanita itu melihat ke atap langit dan beralih mengedarkan pandangannya pada ruangan yang tampak asing baginya.
"Mas Aldi...," Ria seolah tak percaya suaminya ada bersama dirinya. Seingat Ria, ia hampir tertabrak mobil karna menyebrang jalan.
"Iya Sayang, Mas ada di sini." Aldi kembali mendekap tubuh mungil tersebut dan memberikan kecupan di kening Ria.
"Ke-kenapa aku ada di sini?"
"Seharusnya Mas yang tanya kamu. Kamu kenapa sampai keluar rumah, hmm?" tanya balik Aldi dan mata Ria sudah berkaca-kaca.
"Aku keluar membelikan sesuatu yang di minta tante Alyssa. Maafkan aku yang tidak izin terlebih dahulu sama kamu, Mas."
Ria menangis terisak-isak dalam dekapan Aldi yang menghela napas berat.
Aldi memberikan usapan lembut pada punggung Ria yang bergetar."Sudah, jangan menangis lagi. Ini semua sepenuhnya bukan salah kamu."
Tok tok
Suara ketukan pintu dari luar, membuat antensi keduanya teralihkan. Dua orang pelayan masuk ke dalam kamar, membawakan beberapa jenis kue dan secangkir teh hangat.
"Terima kasih," ucap Aldi tersenyum tipis.
"Mas, aku mau itu." Ria menunjuk kue yang ada di atas meja. Perutnya langsung lapar dan keroncongan melihat kue-kue tersebut.
"Tunggu, Mas ambilkan dulu." Aldi bangkit dari kasur dan mengambil sepiring kue yang diinginkan sang istri.
Pria itu duduk di sisi ranjang dan Ria sudah menyandarkan punggungnya di bahu ranjang.
"Mas, kenapa kepala aku pusing?"
"Tidak apa-apa, Sayang. Nanti juga pusingnya hilang. Sekarang makan dulu kuenya. Pasti anak kita sangat lapar." Aldi memberikan usapan lembut di bagian perut Ria.
"Bukan hanya dia yang lapar, tapi aku juga," sungut Ria, menyingkirkan kasar tangan Aldi perutnya.
Dengan kasar Ria menggigit cake coklat tersebut.
__ADS_1
"Kenapa, hmm? Kamu marah sama Mas?"
"Mas lebih perhatiin dia daripada sama aku," rajuk Ria mendengus-dengus pada Aldi yang tersenyum.
"Mas bukan hanya memperhatikan keadaan dia, tapi kamu juga Sayang. Jangan cemburu dengan anak sendiri, meski anak ini sudah lahir, kamu tetap nomor satu yang berarti penting dalam kehidupan Mas, Sayang."
Aldi menarik Ria dalam pelukannya yang membalas pelukan sang suami erat.
•••••
Kini Nata berdiri di hadapan Kenzo yang duduk di sofa ruang tamu dengan wajah terlihat malas. Tatapan pria yang masih terlihat tampan tersebut walau umurnya sudah setengah abad itu berkacak pinggang.
Terdengar helaan napas panjang Nata yang menggelengkan kepalanya yang berdenyut nyeri dengan masalah yang di timbulkan putranya tersebut.
"Ayah tidak pernah mengajarkan kamu seperti ini, Kenzo. Coba bersikap baiklah Kenzo, kamu harus tahu kalau pak Aldi itu rekan bisnis Ayah, apalagi kamu sekarang melakukan kesalahan yang menurut Ayah sudah membuat malu."
Nata mendudukkan dirinya di single sofa yang berhadapan dengan Kenzo.
"Bukan berarti istri pak Aldi mirip dengan almarhum Ocha, kamu jadi ingin merebutkan."
Kenzo terdiam mendengar nasehat sang Ayah, namun percayalah hatinya berdesir dan rasa rindu mulai merayap dalam benaknya saat ini. Dia begitu merindukan mendiang istrinya yang memiliki rupa yang sama persis seperti Ria.
Kenzo tertunduk pedih. Tangannya terkepal kuat, matanya memanas.
"Pak Nata...," panggilan dari Aldi yang menggendong Ria, membuat Nata maupun Kenzo menatap ke arah sumber suara.
Mata Kenzo langsung jatuh pada Ria yang ada dalam gendongan Aldi. Darahnya mengalir begitu cepat, melihat wanita yang memiliki kemiripan wajah sama persis dengan mendiang istrinya, Ocha.
"Pak Aldi ingin pulang?" tanya Nata yang bangkit dari tempat duduknya.
Aldi menganggukkan kepalanya dengan raut wajah datar. "Iya, Pak Nata. Lagi pula istri saya tidak betah terlalu lama di sini."
Sedangkan Ria mengerutkan keningnya mendengar ucapan suaminya. Seingatnya ia tidak mengucapkan hal itu. Aldi melirik sinis pada Kenzo yang terus menatap Ria yang merupakan miliknya.
"Kalau begitu saya pamit. Dan terima kasih jamuannya dan juga telah menolong istri saya." Aldi melangkahkan kakinya ke pintu keluar yang sudah di bukakan pintunya oleh pelayan.
Kenzo menatap kepergian Ria dengan hati yang tidak rela. Ingin rasanya membawa wanita itu pergi jauh bersamanya. Nata menepuk bahu Kenzo pelan. Membuat pria dengan netra abu-abu itu menoleh.
__ADS_1
"Kelak kau akan menemukan wanita yang tepat." Kenzo hanya diam mendengar ucapan Ayahnya.