
Happy reading...
Setelah tiga hari tidak bertegur sapa karna Ria menjaga jarak dengan Aldi. Akibat masalah wanita yang begitu akrab dengan Aldi, hingga tidak menghiraukan dirinya. Dan untungnya Ria bisa di jinakkan setelah pria tersebut menyogok dengan empat toples permen coklat.
Aldi keluar dari kamar dengan pakaian formal seperti biasa untuk pergi bekerja. Sembari melangkahkan kakinya mendekati Ria yang menyuapi Raja makan. Senyuman tersungging di wajahnya memperhatikan istrinya yang semakin cantik dan tubuh yang seperti jam pasir karna usia kandungan yang masih dua bulan.
Cup
Kecupan Aldi daratkan di pipi Ria. Memeluk dari belakang istrinya dan menumpukkan dagunya di bahu Ria yang memeluk lengannya.
"Kamu wangi sekali, sayang. Jadi mau cium terus,"ujar Aldi kembali mencium pipi chubby itu.
" Sudah. Jangan cium terus. Sekarang Mas sarapan dulu,"ujar Ria membuat aktivitas Aldi terhenti.
Dengan patuh, Aldi mendudukkan dirinya di kursi. Ria memberikan piring yang sudah penuh dengan nasi dan lauk pada suaminya.
"Kamu tidak makan?" tanya Aldi melihat tidak ada piring bekas makanan milik Ria.
"Aku sudah makan lebih dulu, Mas. Soalnya sudah sangat lapar," jawab Ria.
"Ooh, Mas pikir belum makan. Kalau bisa kamu makan buah dan sayur juga, supaya adeknya makin sehat." ujarnya dan Ria menganggukkan kepalanya.
"Unda, caji ada meow, becal." celoteh Raja membuat perhatian keduanya pengarah pada balita tersebut.
"Iya, sayang. Sekarang ayo buka mulutnya," ujar Ria kembali menyodorkan makanan ke mulut mungil Raja.
"Ndak mau Unda. Aja ujah cenyang." Raja memegangi perutnya, memperlihatkan pada Ria bila dia sudah sangat kekenyangan.
"Ya sudah, sekarang minum air putih dulu,"Ria menyodorkan segelas air putih yang langsung di terima Raja.
" Sayang, ini uang untuk kamu jajan,"Aldi menyodorkan uang berwarna merah lima lembar kepada Ria yang terdiam.
"Tapikan, Mas sudah kasih aku kartu ATM. Jadi tidak usah lagi memberikan aku uang," tolak halus Ria.
"Ambil saja, siapa tahu kamu ingin membeli sesuatu di mini market dekat sini, sayang.Supaya tidak ribet kalau ingin jajan."
Aldi menarik tangan Ria dan meletakkan uang tersebut di telapak tangan wanita itu.
"Kalau kamu pergi ke mini market, hati-hati." Peringat Aldi yang bangkit dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Cium dulu," Aldi memajukan wajahnya dan Ria mencium pipi Aldi sekilas.
Pria itu tersenyum. Mengacak-acak rambut Ria pelan. Ia beralih mendekati Raja yang mendongak menatap dirinya.
"Ayah pergi kerja dulu ya, Nak. Jaga Bunda." ucap Aldi.
"Okey, Yah." jawab Raja menampilkan jempolnya.
******
Ria yang tengah menonton tayangan di televisi, tampak tergiur melihat orang yang memakan buah nanas yang terlihat segar apalagi hari ini sangat panas. Keinginan untuk memakan buah nanas semakin besar. Ria mematikan televisinya,bangkit dari sofa.
Wanita itu berjalan masuk ke kamar. Mencari uang yang diberikan Aldi tadi. Tidak lama ia keluar dari kamar. Sedangkan Raja tengah tidur siang, tidak mungkin ia membangun anaknya.
"Aku tinggal sebentar Raja di rumah, seperti tidak apa-apa." monolognya.
Ria keluar dari rumah dan tidak lupa mengunci pintu. Takut bila ada maling masuk. Dia akan membeli nanas di mini market dekat rumah. Ria berjalan kaki, karna tidak terlalu jauh jarak tempat yang akan ia tuju.
Tidak lama, Ria sudah sampai di tempat yang ia tuju.Saat masuk ke mini market,matanya langsung terfokus pada buah nanas yang sudah siap saji atau makan di sebuah etalase. Dengan cepat Ria pengambil keranjang belanjaan yang sudah di sediakan pihak mini market.
Ria memasukkan lima bungkus nanas siap saji tersebut dalam keranjang. Tidak lupa juga membeli buah mangga dan jambu biji. Merasa cukup, wanita tersebut berjalan menuju kasir.
🍄🍄🍄🍄🍄
"Bagaimana, Dok? Apakah ada luka serius di mata saya? " tanya Dinda.
"Sakit mata yang kamu rasakan tidak berbahaya dan dapat mereda dengan sendirinya.penyebab sakit mata yang kamu alami adalah iritasi atau peradangan," papar Aldi yang menuliskan resep obat.
"Ini resep obat yang bisa kamu tebus di apotek rumah sakit ini. Itu teteskan pada mata kamu yang sakit. Minimal satu kali sehari." ujar Aldi yang di angguki Dinda yang menatap resep obat yang bahkan tulisannya tidak bisa di baca.
"Kalau begitu saya ucapkan terima kasih, Dok. Semoga saja sakit mata saya lekas sembuh," ujar Dinda.
"Asalkan kamu memakainya teratur." sahut Aldi.
"Iya, Dok. Kalau begitu saya permisi," ujarnya dan Aldi menganggukkan kepalanya pelan.
Aldi menatap arloji di pergelangan tangannya, yang menunjukkan pukul 15: 00 sore.
"Maiza, apa masih ada pasien lain?" tanya Aldi pada Maiza yang tengah membereskan alat medis.
__ADS_1
"Sudah tidak ada, Dokter Aldi," jawabnya.
"Kalau begitu saya akan pulang .Dan untuk jadwal operasi besok. Atur jam 12 siang, karna saya ada urusan."
"Baik, Dok." jawabnya lagi tersenyum tipis.
🍄🍄🍄🍄🍄
Raja mengunyah apel yang diberikan oleh Ria. Sementara Ria, memakan buah nanas yang ia beli tadi di mini market dengan lahap. Sudah dua bungkus nanas siap saji itu dia makan.
Kini, tangannya terulur kembali, mengambil satu bungkus nanas yang ada di depannya. Mengoyak platik PET yang membungkusnya. Baru saja mengunyah buah nanas, suara bariton yang cukup keras membuat perhatiannya mengarah pada Aldi yang berjalan ke arahnya.
Mata Aldi memandangi buah nanas yang tengah di makan Ria.
"Mas, mau? " tawar Ria menyodorkan.
"Kenapa kamu makan nanas, Ria? " tanya Aldi dengan nada amarah yang terselip di dalamnya.
"Memangnya kenapa? Aku sedang ngidam makan nanas."
"Sudah berapa bungkus kamu makan nanas ini? " tanya Aldi.
"Dua bungkus dan yang aku makan sekarang yang ketiganya," ucap Ria santai.
"Astaga, Ria. Jangan makan ini lagi. Bahaya ibu hamil terlalu banyak makan nanas. Nanti kamu bisa keguguran, sayang." ucapnya berusaha selembut mungkin walau rasanya ingin memarahi Ria.
"Aku tidak tahu. Tapi... itu hanya mitos, Mas."
"Mau mitos ataupun fakta. Kamu jangan makan nanas lagi!" Aldi dengan suara yang meninggi.
Pria itu merebut buah nanas tersebut dari tangan Ria dan membuangnya ke bak sampah. Ria menatap nanar.
"Mas Aldi! Kenapa dibuang? Aku masih mau makan." ucap Ria marah.
"Dan keguguran begitu? Kamu jangan terus bertingkah seperti anak kecil, Ria. Selalu melanggar apa yang Mas larang! "Meledak sudah amarah Aldi pada Ria.
" Kenapa aku di marahin? Yang salah itu anak kamu yang ngidam buah nanas. Kalau tidak mau aku ngidam aneh-aneh termasuk makan nanas, lebih baik aku tidak usah hamil! "sentak Ria yang sama-sama meluapkan amarahnya.
" Ria!"bentak Aldi dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Bersambung...