MENIKAH KARNA WASIAT

MENIKAH KARNA WASIAT
Cemburu yang menyakitkan


__ADS_3

...Jangan berusaha kuat, bila itu akan membuat kamu lebih merasakan sakit. ...


...{Windanor}...


Sebaik-baiknya bacaan adalah Al-Quran


Happy reading


Aldi berjalan mendekati Ria yang tengah menata makanan di meja makan. Wanita itu tidak sadar bila seseorang tengah memperhatikan.


"Ria, " panggil Aldi dan Ria menoleh melihat ke arah suaminya yang sudah berdiri di sampingnya, entah sejak kapan.


"Apa? " tanyanya singkat.


"Saya hari ini pulang dari rumah sakit mungkin agak larut malam. Jadi siang ini tidak pulang ke rumah, " ujar Aldi sembari mendudukkan dirinya di kursi. Sebaliknya Ria menaikkan alisnya mendengar penuturan Aldi . Tumben sekali pria ini memberitahu kegiatannya.


"Iya, apa mau aku antarkan makan siang ke rumah sakit untuk kamu? " tanya Ria sekedar basa-basi, setidaknya tidak ada keheningan yang menghinggapi mereka berdua.


Aldi manggut-manggut sembari mengunyah makanan di mulutnya, "Boleh, " jawab Aldi dan Ria tersenyum paksa.


Pria itu bangkit dari tempat duduknya. Aldi sudah selesai dengan sarapan paginya dan mengusap mulutnya yang sedikit blepotan.


"Rendangnya enak,ternyata kamu pintar masak, " ujar Aldi memuji Ria. Biasanya wanita akan senang bila usahanya di hargai.


"Itu rendang instan. Aku tinggal memanaskan saja, " jawab Ria. Aldi langsung terdiam bungkam dan tersenyum kaku.


Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, karna merasa malu dan salah tingkah. Niatnya ingin memuji masakan Ria tapi berakhir membuat dia malu sendiri.


"Ya sudah, saya pergi dulu, " ujarnya.


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi kanan Ria yang langsung mematung dengan mata yang membola sempurna. Wanita itu perlahan menoleh ke arah Aldi yang sudah melangkahkan kakinya ke pintu keluar. Ria memegangi pipinya seolah tidak percaya dengan apa yang Aldi lakukan padanya.


Tangannya terulur memegangi dadanya yang tiba-tiba begitu gugup dan jantung yang berpacu dengan cepat. Ria kembali melihat ke arah Aldi yang sudah pergi dan menyisakan keheningan di ruangan tersebut.


🍄🍄🍄🍄🍄

__ADS_1


Aldi turun dari mobilnya, setelah sampai di parkiran rumah sakit. Senyuman yang merekah tercipta di bibir merahnya, entah mengapa ada rasa bahagia yang membuncah dan tidak bisa di deskripsikan dengan sebuah kata-katanya.


Aldi masuk ke dalam rumah sakit. Pria itu melemparkan senyum saat berpapasan dengan para pengunjung rumah sakit atau petugas rumah sakit yang menyapa dirinya. Di balik sikap dinginnya Aldi berusaha menjadi orang yang ramah pada para pasiennya tapi akan bersikap dingin bila sudah berada di luar.


Aldi masuk ke ruangannya dan mengambil jas putihnya yang terletak di kursi. Hari ini lumayan banyak pasiennya yang sudah membuat janji untuk melakukan pemeriksaan pada dirinya .


"Dok, pasien sudah siap untuk melakukan operasi, " ujar Maiza yang sudah berdiri di belakang Aldi.


Maiza meletakkan secangkir teh di meja Aldi. Pria itu terbiasa meminta untuk di buatkan teh pada Maiza. Itu saat Aldi belum menikah tapi sekarang sudah ada Ria yang mengurus dirinya jadi ia tidak akan meminta di buatkan teh lagi oleh Maiza setiap pagi.Aldi juga sedikit trauma bila meminum teh tersebut yang bisa saja di masukkan obat perangsang seperti tadi malam yang dilakukan Klarissa. Wanita itu benar-benar nekat.


******


Ria sedikit memoleskan sedikit bibirnya dengan lipstik, agar tidak terlihat pucat.Ia juga memakai bedak tabur di wajahnya. Wanita itu mengambil tasnya dan menggendong Raja yang sudah memakai pakaian perginya.


Tepat jam 1 siang, Ria akan mengantarkan makanan yang sesuai di minta Aldi. Ada sedikit kegugupan dalam dirinya, karna untuk pertama kalinya ia akan ke tempat kerja Aldi, di rumah sakit.


Ria mengunci rumah sebelum pergi. Mobil taxi sudah terparkir di depan rumah yang di pesan online oleh wanita tersebut.


"Mau ke mana Mbak? " tanya sopir setelah Ria masuk ke dalam mobil.


"Kenapa, hmm?" Ria menepuk-nepuk pantat Raja pelan agar sedikit tenang.Balita itu mendusel-dusel dada Ria, mungkin haus ingin menyusu.


Tapi sayang. Ia lupa membawa dodot milik Raja karna terlalu tergesa-gesa agar cepat mengantarkan makanan untuk Aldi yang mungkin sudah menunggu.


Sepanjang perjalanan Raja terus saja rewel. Balita itu menghentak-hentakan kakinya ke udara, rengekkan terdengar jelas keluar dari bibir Raja yang menarik-narik baju Ria.


"Sudah sampai Mbak, " ujar sopir tersebut membuat atensi teralihkan. Ia menatap dari jendela mobil. Terlihat sangat ramai rumah sakit tempat Aldi bekerja.


"Terima kasih ,Pak." Ria memberikan ongkos pada sopir tersebut dan turun dari mobil.


Sambil menenteng rantang makanan, Ria melangkahkan kakinya berjalan masuk ke rumah sakit dan mendekati suster yang tengah berjaga.


"Maaf, saya mau tanya ruangan dokter Aldi dimana ya? " tanya Ria, membuat suster tersebut mengerutkan dahinya.


"Kalau boleh tahu anda sudah memiliki janji dengan dokter Aldi? Kami tidak bisa sembarangan mengizinkan seseorang untuk bertemu dengan dokter Aldi bila tidak memiliki janji, " tutur suster tersebut dengan sopan.


Ria menggelengkan kepalanya, "Tapi saya ke sini untuk mengantarkan makanan pada dokter Aldi, " balas Ria. Suster tersebut memperhatikan penampilan Ria dari atas sampai bawah menelisik.

__ADS_1


"Ooh, anda pembantunya. Kenapa tidak bilang, " ujar suster tersebut tertawa pelan dan Ria tersenyum paksa tanpa niat untuk membantah ucapan suster tersebut.


"Ayo saya antarkan. Kenapa tidak bilang kalau pembantu dokter Aldi, " ujarnya sembari berjalan beriringan dengan Ria yang mengikuti langkah kakinya.


"Ini ruangannya, " ujar suster tersebut berhenti di depan pintu yang bertuliskan dokter Aldi Sp. M.


"Terima kasih. " ucap Ria yang di balas senyuman oleh suster tersebut.


Ria perlahan membuka pintu tersebut dengan sangat pelan.Saat pintu tersebut, matanya langsung di sambut oleh sepasang kekasih yang saling bercumbu. Klarissa duduk di pangkuan Aldi mencium bibir pria tersebut dengan ganas.


Buk....


Suara rantang yang terjatuh ke lantai, membuat aktivitas keduanya terhenti. Aldi langsung terkejut melihat Ria yang sudah berdiri di ambang pintu. Ia langsung mendorong Klarissa dari pangkuannya hingga jatuh tersungkur ke lantai.


"Kamu sudah datang, " ujar Aldi berjalan mendekati Ria. Namun wanita itu memundurkan tubuhnya, menjauh dari Aldi.


"Ria dia bukan siapa-siapa. Dia lebih dulu mencium ku. Jadi jangan salah paham, " ujar Aldi lebih dulu menjelaskan sebelum Ria salah paham.


"Ooh ya. Bagaimana bisa itu di sebut salah paham bila kalian saling menikmati. Kamu tidak usah menjelaskannya agar aku tidak marah. Karna memang aku tidak ada hak untuk ikut campur dengan urusan kamu, " ujar Ria berusaha tegar walau hatinya benar-benar sakit sekali.


Seharusnya ia sadar diri. Tidak mungkin ada cinta untuk dirinya yang merupakan wanita bekas. Ria mengepalkan tangannya menahan kuat hatinya dan air mata yang hendak meluruh.


"Dia siapa?" Klarissa berdiri di samping Aldi tanpa ada rasa malu sama sekali.


"Pergi kamu dari sini! " bentak Aldi, membuat Klarissa terperangah.


"Kenapa kamu tiba-tiba mengusir aku? Hanya karna wanita ini datang? Memangnya dia siapa kamu? Pembantu? " celetuk Klarissa.


"Dia bukan pembantu! Dia istri ku! " jawab Aldi penuh penekan. Pria itu langsung mendorong kasar Klarissa keluar dari ruangannya dan menutup pintu tidak lupa menguncinya.


"Sekarang kita duduk dulu biar saya jelaskan, " ujar Aldi dengan nada selembut mungkin.


Ria menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau. Aku ingin pulang, " ujar Ria berbalik tapi Aldi langsung mencekal tangannya.


"Ria dengarkan dulu penjelasan saya. Jangan pergi begitu saja dan pura-pura baik-baik saja dengan cemburu yang kamu rasakan, " ujar Aldi. Air mata Ria langsung meluruh, sekuat apapun berusaha baik-baik saja dia tetap tidak bisa. Raja juga ikut menangis melihat Bundanya menangis.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2