
Happy reading
Setelah makan malam selesai. Aldi memberikan segelas susu pada Ria yang mengernyitkan dahinya.
"Ini susu apa? " tanya Ria menatap heran pada susu berwarna putih yang ada di hadapannya.
"Ini susu khusus ibu hamil. Karna kamu sedang hamil, kamu harus minum ini supaya anak dalam kandungan kamu sehat, " tutur Aldi yang berdiri di samping Ria.
"Memangnya ada susu untuk ibu yang hamil?" tanya Ria dan kini Aldi yang mengernyitkan dahinya.
"Saat kamu mengandung Raja, kamu tidak pernah minum susu seperti ini? " tanya Aldi dan Ria menganggukkan kepalanya. Sedangkan saat itu Ria sibuk mencari uang untuk persalinan dirinya saat akan melahirkan.
Aldi menghela napas dengan tatapan iba pada Ria.
"Sekarang di minum dulu susu nya. Setelah itu baru tidur, " ujar Aldi sembari mengusap pucuk kepala Ria lembut.
"Katanya sudah janji mau menanda tangani surat perjanjian itu, malam ini, " ujar Ria yang masih ingat dengan janji Aldi.
"Besok ya, sayang. Ini sudah malam, " ujar Aldi melirik jam yang menunjukkan pukul 20: 00 malam.
Ria menggelengkan kepalanya kuat. "Pokoknya malam ini harus tanda tangan surat itu. Aku tidak mau besok! " tolak Ria dengan suara yang meninggi. Aldi tersentak kaget mendengar nada suara meninggi Ria.
"Iya, sekarang." jawab Aldi terpaksa menyanggupinya.
Ria tersenyum senang dan Aldi ikut mengulas senyum.
******
Kini keduanya tengah duduk di ruang tamu dengan pengacara Aldi yang sengaja di panggil untuk datang ke rumah.
"Apa anda yakin dengan keputusan anda tuan Aldi? " tanya Firno yang merupakan pengacara Aldi.
Aldi melihat ke arah Ria sekilas dan menganggukkan kepalanya.
Firno menganggukkan kepalanya. Ia mengeluarkan surat perjanjian yang sudah di siapkan dan meletakkannya di meja.
"Silahkan anda baca surat perjanjian ini, bisa saja anda ingin ada perubahan di dalamnya, " ujar Firno.
Aldi mengambil lembaran kertas putih itu dan membaca dengan serius. Lain halnya dengan Ria yang sudah tidak sabar menanda tangani surat tersebut.
"Semuanya benar, tidak ada yang salah. Sesuai dengan apa yang saya inginkan, " ujar Aldi.
"Baiklah.Silahkan Tuan Aldi tanda tangan di sini, " ujar Firno menunjuk bagian yang harus di tanda tangani.
Kini, giliran Ria yang menanda tangani surat perjanjian tersebut. Aldi memperhatikan raut senang yang terpancar di wajah sang istri. Trauma dan ketakutan di masa lalu membuat Ria semakin berhati-hati melangkahkan kakinya menuju ke hidupan selanjutnya termasuk kembali membuka lembaran dengan pria lain. Setidaknya dengan perjanjian ini, membuat ia sedikit kelegaan. Bila Aldi takkan meninggalkan dirinya. Karna ia pemegang kendali sekarang.
"Sudah, " ujar Ria. Memberikan kertas itu pada Firno yang langsung menerimanya.
"Kalau begitu, perjanjian sudah terjalin di antara kalian dan tidak bisa di ganggu gugat, " ujar Firno final dan keduanya mengangguk, paham.
Setelah kepulangan Firno sang pengacara.Aldi memeluk Ria dari belakang.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa sekarang kamu sudah percaya dengan saya? " tanya Aldi.
"Percaya nya cuma sedikit. Aku tidak bisa menebak Mas akan tetap setia pada ku. Karna laki-laki itu tidak cukup hanya satu bunga dan akan kembali mencari bunga yang lebih cantik lagi, " tutur Ria.
Aldi menguraikan pelukannya dan membalikkan badan Ria agar menghadap padanya.
"Mana mungkin saya mencari bunga yang baru, sedangkan kamu adalah bunga yang paling cantik. Laki-laki yang tidak cukup dengan satu wanita karna cintanya tidak sepenuh hati. Memangnya ada wanita yang mau dengan laki-laki miskin seperti saya? " tanya Aldi.
Ria terdiam, menatap lekat suaminya tersebut.
"Kalau ada perempuan yang sepenuh hati mencintai Mas, maka dia akan menerima semua kekurangan Mas Aldi." pungkas Ria dan Aldi menggelengkan kepalanya pelan.
Aldi menangkup ke dua pipi Ria. Menatap lekat netra coklat berair tersebut.
"Mungkin ya. Tapi tidak semua perempuan yang bisa bertahan dengan laki-laki miskin, " ujar Aldi.
Aldi mengecup bibir ranum Ria. Meninggalkan kelembapan di bibir mungil tersebut.
"Sekarang kita tidur. Tidak baik bila tidur larut malam, " ujar Aldi.
"Iya." jawab Ria singkat.Pria tersebut menggandeng tangan sang istri dengan erat.
Ria menatap heran pada Raja yang tertidur di sisi kasur dan guling sebagai penyangga badannya agar tidak jatuh ke bawah.
"Kenapa Raja tidur di sisi kasur, seharusnya tidur di tengah, Mas. " ujar Ria menatap Aldi yang tengah berganti pakaian dengan piyama tidur.
"Kalau Raja tidur di tengah, nanti saya tidak bisa peluk kamu, " ujar Aldi mengerlingkan matanya genit. Ria bergidik ngeri melihat hal itu.
Tanpa persetujuan Aldi. Ria memindahkan putranya yang sedang tertidur ke tengah kasur.
"Kenapa sih, Mas. Lagi pula masih cukup buat kamu tidur di sisi kasur. Nanti Raja jatuh ke lantai bagaimana? " ketus Ria.
Aldi merengut kesal, membuang wajahnya ke samping. Sementara Ria sudah bersiapkan akan tidur tidak memperdulikan suaminya yang meraju.
1 jam berlalu....
Aldi masih terjaga. Ia melihat ke arah Ria yang sudah tertidur dengan nyenyak.Sebuah seringai muncul di wajahnya. Dengan hati-hati, tanpa menimbulkan suara apapun. Aldi memindahkan Raja tidur di sisi kasur. Sementara dirinya berbaring di tengah-tengah. Tangannya merengkuh pinggang Ria, membawa wanita itu dalam dekapannya. Rasa kantuk mulai menyergap Aldi yang menatap lekat wajah Ria.
"Good night, sayang. "
Cup...
Aldi mengecup bibir ranum Ria dan makin erat memeluk sang istri yang sudah tenggelam dalam pelukannya.
🍄🍄🍄🍄🍄
Ria melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit, tempat Aldi bekerja sekarang. Ia menenteng bekal makanan yang sengaja dia buat untuk sang suami. Ria ingin memberikan kejutan pada Aldi dengan tidak memberitahu atas ke datangan dirinya ke rumah sakit.
Para petugas rumah sakit menyapa ramah pada Ria, karna sudah tahu status wanita tersebut yang merupakan istri dokter Aldi.
Ria membuka pintu ruangan Aldi dan dia di sambut oleh perdebatan Aldi dengan Karissa.
__ADS_1
Pria tersebut langsung kaget melihat keberadaan Ria.
"Sayang, kamu datang. Kamu naik apa ke sini? " tanya Aldi mendekati Ria yang masih diam.
Karissa mendengus kesal melihat ke datangan Ria. Membuat waktunya untuk mendekati Aldi sebagai pelakor gagal.
"Dompet, kunci mobil, kartu kredit dan ATM, mana? " Ria menengadahkan telapak tangannya pada Aldi yang terlihat bingung.
"Hey! Kau ini seperti preman saja yang datang-datang langsung meminta uang pada Aldi. Dasar wanita tidak tahu diri, miskin dan jelek! " maki Klarissa.
"Klarissa! " tegur Aldi dengan suara yang meninggi.
"Silahkan saja ambil bila kau menginginkannya. Aku tidak butuh laki-laki miskin seperti dia! " tunjuk Ria pada Aldi.
"What! Miskin?" Klarissa tampak tidak percaya.
Aldi meringis mendengarnya.
"Iya, bila tidak percaya. Tanyakan pada dia, " ujar Ria menatap datar Aldi.
"K-kamu benar-benar miskin? Tapi kamu itu pewaris tunggal perusahaan ayah kamu, Aldi."ujar Klarissa masih tidak percaya.
" Saya memang miskin. Semua harta saya jatuh pada Ria, "jawab Aldi.
" Jadi... kalau kau menginginkannya silahkan bawa pulang atau nikahi langsung saja, "ujar Ria merampas kunci mobil dan dompet Aldi di atas meja. Dia langsung melenggang pergi meninggalkan kedua yang tercengang.
Klarissa memperhatikan Aldi yang tampak syok.
" Wah, sepertinya aku ada janji dengan seseorang. "ujar Klarissa pura-pura melihat jam tangannya.
" Aku permisi. "Klarissa langsung bergegas keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Aldi seorang diri.
Aldi langsung keluar dari ruangannya, mencari keberadaan Ria yang entah pergi ke mana.
Matanya terfokus pada wanita yang tengah menyembunyikan wajahnya di kedua tangan, duduk di kursi tunggu.
" Ri, "panggil Aldi mendekati Ria yang perlahan menurunkan kedua tangannya. Mata yang sembab dan hidung yang merah terbingkai di wajah wanita tersebut.
Plak!
Ria tak segan-segan menampar Aldi di depan umum.
" Dasar laki-laki bajingan, brengsek, buaya! "cacian keluar dari bibir mungil Ria.
" Kamu salah paham. Klarissa yang tiba-tiba datang ke ruangan saya. Dia memang kegatelan. Kalau kamu tidak percaya lihat saja CCTV di ruangan saya, "ujar Aldi dan Ria menyipitkan matanya menatap ragu.
" Raja mana? "tanya Aldi yang tidak melihat Ria membawa Raja.
" Ku titipin sama Mbak Nia! "ketus Ria dengan mata yang melotot.
" Jangan marah seperti ini, "ujar Aldi mencolek dagu Ria yang langsung di tepis kasar.
__ADS_1
" Jangan bercanda! "sentak Ria.
Bersambung..