
**Maaf ya baru update ππ
Tapi insyaallah di sempatkan setiap hati update**
Dengan telaten Aldi menyuapi Ria yang duduk bersandar. Sedangkan wanita itu tampak segan dan malu-malu ketika menerima suapan dari suaminya untuk pertama kali. Mata Ria membelalak lebar kala Aldi mengusap sudut bibirnya dari sisa bubur yang menempel.
"Kamu harus makan yang banyak, supaya cepat pulih, " ujar Aldi sembari menyuapi Ria yang terus menerima suapannya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Pipinya masih sakit? " tanya Aldi hendak menyentuh pipi Ria yang langsung menjauhkan wajahnya dari gapaian suaminya .
Aldi tersenyum kecut samar dan menurunkan tangannya kembali tak jadi menyentuh pipi Ria.
"Le-lebam di pipi aku sudah tidak sakit lagi, " jawab Ria, membuat Aldi mengulas senyum.
"Bagus kalau begitu. Yang penting kamu jangan banyak pikiran dan makan yang banyak supaya cepat pulih, " ujar Aldi dan Ria mengangguk.
Hening. Tidak ada yang bicara lagi setelahnya dan kecanggungan itu makin Ria rasakan,ia tidak suka terjebak dengan keadaan seperti ini.
"Aku mau pipis, " Ria menurunkan kedua kakinya.Aldi memeluk sang istri berniat membantu turun dari brankar namun itu membuat jantung keduanya berdegup kencang dengan posisi yang begitu dekat.
Saling bersitatap dengan deru napas yang memburu membuat Ria tidak bisa menormalkan detak jantungnya dan kegugupan yang luar biasa.
"Aku bisa sendiri, " Ria mendorong Aldi pelan yang langsung tersadar, entah mengapa tatapan mata wanita itu membuat ia terhipnotis, rasanya ingin berlama-lama menatap manik coklat berair nan jernih itu.
"Jangan, saya takut kamu terpeleset. Lagi pula kaki kamu masih lemas dan tidak kuat untuk menahan berat badan kamu, " ujar Aldi.
"Tapi____"
"Nurut sama saya, Ria. Saya suami kamu, jangan takut ataupun membatasi saya untuk menyentuh kamu, " sela Aldi sedikit menyindir membuat Ria bungkam.
Tanpa aba-aba Aldi mengangkat tubuh Ria yang memekik kaget karena belum siap. Tangannya refleks mengalung di leher suaminya. Aldi melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Ria sedikit mendongak menatap wajah Aldi yang datar dengan tatapan lurus ke kamar mandi. Aroma parfum woody yang mengeluar dari badan Aldi membuat Ria sedikit menarik napas menyesap aroma yang begitu di sukai oleh wanita manapun.
__ADS_1
Aldi mendudukkan Ria di atas closet dengan pelan.
"Mau saya bantu sekalian melepas celananya?" tawar Aldi dan itu langsung di hadiah pelototan mata oleh Ria.
"Tidak! Sana Mas keluar aku mau pipis, " usirΒ Ria sedikit ketus. Ucapan Aldi benar-benar membuat ia kesal dan juga gugup.
Sedangkan Aldi tertawa kecil dengan posisi membelakangi Ria. Ia keluar dari kamar mandi, tidak lupa menutup pintunya. Pria itu jadi gemas sendiri melihat wajah kesal Ria. Ia pikir wanita itu tidak berani marah padanya.
πππππ
"Ndak mau, Unda Aja mau Unda, " Balita berusia 2 tahun itu tidak henti-hentinya merengek ingin bertemu dengan sang Bunda.
Saat ini, Raja berada di apartemen Zavier yang garuk-garuk kepala menghadapi balita yang terus merengek. Memang sial!Aldi menitipkan anak ini kepada dirinya yang minim pengetahuan cara mengurus balita yang menurutnya hanya bisa menyusahkan saja.
"Cup, cup, cup. Diam ya nanti kita ketemu Bunda. Tapi Raja tidur siang dulu ya, " alibi Zavier agar Raja diam dan tenang.
"Anci emu Unda. Api Aja mau cekalang emu Unda, "
"Pokoknya Raja tidur. Jangan banyak tanya. Nanti Om belikan mainan tapi tidur ya ya ya, " Zavier menggendong Raja dan membawa anak itu yangΒ tampak diam mungkin mengerti dengan maksudnya.
πππππ
Ria sedikit meringis saat Aldi kembali mengolesi obat seperti salep di lengannya bekas cambukan. Rintihan kesakitan Ria perlahan mereda saat pandangannya fokus memperhatikan Aldi yang dengan telaten mengobati dirinya. Ada gelenyar aneh di hatinya tapi ia menepis bila itu pertanda cinta mulai tumbuh untuk suaminya tersebut.
"Untuk sementara kamu jangan mandi karna dulu karna luka di tubuh kamu belum mengering. Nanti perlahan bekas luka itu akan hilang setelah saya beri salep, " ujar Aldi.
Ria hanya tersenyum simpul.
"Mas tidak kerja? Bukannya hari ini. Jadwalnya padat? " ujar Ria basa-basi walau ada rasa penasaran di benaknya.
Aldi menghela napas pelan, "Kalau saya kerja kamu siapa yang jaga. Kalau kamu butuh apa-apa bagaimana? Lagi pula dokter bukan hanya saya di rumah sakit ini, " ujar Aldi.
__ADS_1
"Mas, kenapa mau merawat aku? " pertanyaan konyol itu keluar dari mulut Ria.
Aldi tertawa mendengarnya membuat kening Ria mengkerut.
"Saya suami kamu, Ria. Suami mana yang tidak merawat istrinya saat sakit, dan itu memang kewajiban seorang suami dan sebaliknya. Kamu jangan bertanya seperti itu lagi karna kamu pasti sudah tahu jawabannya. Kita sudah berjanji untuk memulai pernikahan ini dari awal jadi kamu jangan ragu ataupun sungkan ingin meminta apapun pada Saya, " papar Aldi.
Ria terkejut bukan main, kala Aldi memeluk dirinya. Mengusap kepalanya dengan lembut dan bisa merasakan ketulusan pria tersebut.
"Saya tahu kamu masih belum bisa melupakan Rayyan di hati kamu. Tapi izinkan saya untuk mengukir nama saya di hati kamu, Ria. " ujar Aldi sembari menguraikan pelukannya. Wajah Ria masih tampak tegang tidak dapat menyembunyikan itu semua dari Aldi.
Tangan pria itu terulur, menyelipkan anak rambut yang sedikit menggangu pandangannya untuk menatap wajah Ria lebih intens lagi. Entah setan dari mana, Aldi mendekatkan wajahnya pada Ria.
Cup
Bibir itu, menempel sempurna di bibir ranum Ria yang sudah melebarkan matanya. Tangannya mendorong dada Aldi agar menghentikan aksinya yang bisa saja kepergok suster yang masuk ke ruangan ini.
Bukannya melepaskan.Aldi semakin gencar memberikan ******n pada bibir yang membuat ia candu dan menyesapnya tanpa henti seolah itu adalah permen. Perlahan Aldi merebahkan Ria di brankar tanpa melepaskan ciumannya yang sedikit memaksa,mengigit bibir bawah Ria agar membuka mulutnya.
"Mmmphh..... Aldimm. "
Ceklek....
Suara pintu yang terbuka membuat Aldi langsung melepaskan tautan bibir keduanya. Saliva keduanya tampak seperti benak dan membasahi dagu Ria yang langsung mengusapnya.
"Enak ya. Kamu sedang mesra-mesraan dengan istri kamu sedangkan aku kerepotan jaga anak kalian, " omel Zavier yang masuk ke dalam ruangan tersebut dengan tatapan tajam tentunya marah. Apalagi secara langsung melihat keduanya berciuman membuat rasa iri'nya sebagai pria lajang makin menggebu-gebu.
"Unda, Unda Aja angen, " Raja menatap berbinar pada Ria. Zavier menyerahkan Raja pada Ria yang langsung mengambil alih.
Aldi maupun Ria tidak bisa menyembunyikan rasa gugup dan malunya di hadapan Zavier yang memergoki mereka berdua . Wajah keduanya merah bak kepiting rebus.
Bersambung...
__ADS_1