MENIKAH KARNA WASIAT

MENIKAH KARNA WASIAT
Jarak yang dekat


__ADS_3

...Kalau sudah memasuki waktu sholat segerakanlah.Jangan menunda-nunda karna ingin membaca novel ini atau novel yang lain.Saling mengingatkan^^...


...~Happy reading~...


Tubuh Ria di benturkan dengan kasar oleh pria misterius itu ke tembok, membuat Ria meringis kesakitan pada punggung belakangnya.


"Le-lepaskan aku....., " lirih Ria dengan suara tersendat-sendat.


Tangan besar pria itu mencekik leher Ria dengan sangat kuat.Wanita tersebut berusaha melepaskan cekalan tangan pria misterius itu dari lehernya. Namun, apalah daya cekikannya semakin kuat pada leher Ria. Wajah Ria sudah memerah, pernapasannya  semakin sesak, air mata menetes dari sudut matanya. Hanya berharap ada ke ajaiban yang bisa menolongnya dari jeratan pria tersebut. Sedangkan pria itu menyeringai, melihat Ria sudah hampir menemui ajalnya.


Pria bermasker hitam tersebut makin kuat mencekik leher Ria dengan kedua tangannya. Mustahil bila wanita tersebut bisa selamat dari maut yang sebentar lagi akan menjemputnya. Tubuh Ria sudah mulai melemas dengan wajah yang  mulai memucat.


Suara bel pintu yang cukup keras hingga terdengar sampai kamar, membuat pria itu langsung melepaskan cekikannya. Tubuh Ria langsung merosot ke lantai.Tubuhnya begitu lemas dan tidak bertenaga lagi.Ia memegangi lehernya yang terasa begitu sakit dan kebas.


Namun, pria itu tiba-tiba sudah menghilang dari hadapannya begitu saja. Suara bel pintu yang masih berbunyi menyadarkan Ria dari lamunannya yang tengah memikirkan pria misterius tersebut.


Dengan susah payah, dan tenaga yang masih tersisa, Ria berjalan keluar dari kamar. Ia perlahan membuka pintu luar. Tampaklah Aldi yang tengah dipapah oleh Zavier.


Pria tersebut merancau tidak jelas, segala umpatan keluar dari mulut Aldi yang hilang kesadarannya karna pengaruh minuman alkohol.Mata Ria membelalak kaget melihat keadaan suaminya seperti ini.


"Hey! Jangan menghalangi jalan. Aku ingin membawa masuk pria ini, " gerutu Zavier yang menahan berat badan besar Aldi. Ria langsung memberikan jalan pria tersebut.


Zavier langsung menjatuhkan tubuh Aldi pada sofa, di ruang tamu. Ria menatap khawatir pada Aldi. Kenapa sampai mabuk seperti ini? Apa Aldi pergi ke club? Ria membatin dengan segala pemikirannya.


Zavier meregangkan pinggangnya yang sepertinya encok karna memapah Aldi. Entah memang beban tubuhnya yang berat atau dosa Aldi yang terlalu banyak.

__ADS_1


"Kau siapa? " tanya Zavier yang sadar dengan sosok perempuan yang ada di rumah temannya ini. Tidak mungkin pembantu. Kalau dia lihat perempuan ini lumayan cantik dan masih muda ,sedangkan Aldi masih single,boro-boro memiliki istri,kekasih pun temannya itu tidak punya.Atau jangan-jangan......


"Eugh..... " lenguhan Aldi membuat atensi keduanya teralihkan. Ria langsung mendekati Aldi. Ia langsung menutup hidungnya yang mencium aroma alkohol yang sangat menusuk di indra penciumannya.


Zavier yang masih terpaku memperhatikan Ria, sedetik kemudian pria itu mengangkat bahunya dari pada sibuk memikirkan siapa perempuan ini lebih baik besok saja dia menanyakan pada Aldi tentang perempuan yang ada di hadapannya tersebut.


"Aku pulang, " ujar Zavier tanpa mengucapkan salam dan langsung keluar dari rumah Aldi. Zavier harus kembali ke tempat acara itu lagi, sebelum acaranya ke buru selesai. Memang Aldi sangat menyusahkan dirinya.


Ria menengok ke kanan dan ke kiri mencari sosok Zavier yang sudah menghilang dari tempatnya. Ria mendesah pasrah, padahal dia ingin minta tolong. Sepertinya dia harus memapah Aldi masuk ke dalam kamar, bukan hanya tidak tega membiarkan pria ini tertidur di ruang tamu tapi takut pria misterius itu kembali lagi datang dan menyerang Aldi yang ada di luar kamar.


Dengan sekuat tenaga, Ria memapah tubuh besar Aldi yang sangat berat. Beruntung jarak kamar dan ruang tamu tidak terlalu jauh.


Ria langsung menjatuhkan tubuh Aldi ke kasur.Tapi tangan pria itu langsung merengkuh pinggangnya,membuat ia ikut jatuh tepat di atas dada kokoh Aldi. Saat akan bangkit Ria terdiam sejenak, ia memperhatikan wajah suaminya.Dia tidak pernah melihat wajah Aldi sedekat ini. Matanya menyusuri setiap lekuk wajah suaminya yang bermata sipit, hidung yang mancung ,bibir yang tipis dan kulit yang putih bersih.


Mungkin sangat mirip oppa-oppa Korea. Tanpa sadar sudut bibir Ria terangkat ke atas membentuk senyuman. Ia langsung bangkit dari atas tubuh Aldi setelah puas mengagumi ke tampanan suaminya.Ria tidak lupa langsung memindahkan Raja ke sofa dengan hati-hati karna anaknya sedang tertidur. Bukan apa-apa tapi bau alkohol yang berasal dari Aldi tidak baik bila di hirup putranya.


Sebelum tidur Ria menutupi badan Aldi sebatas dada dengan selimut. Dia tidak berani menggantikan pakaian pria tersebut walau itu suaminya. Bisa saja nanti Aldi marah besar padanya.


•••••


Sinar matahari yang menembus dari gorden membuat Aldi merasa terganggu dalam tidurnya. Dengan mata yang sangat berat, perlahan dia membuka matanya. Pusing, itu yang di rasakan Aldi saat terbangun dari tidurnya. Seingatnya dia berada di bar kenapa tiba-tiba sudah terbaring di kasur.


Pandangan mata Aldi mengedar, mencari Ria yang tidak ada di ruangan ini. Perlahan pria itu turun dari ranjang, ia berjalan sempoyongan ke kamar mandi dengan kepala yang terasa pening karna minuman alkohol itu masih berpengaruh.


•••••

__ADS_1


Ria sibuk memberikan makan pada Raja yang selalu menghindar. Balita itu tampaknya sudah sangat kenyang padahal baru makan empat suap.Raja duduk di kursi bayi di sertai meja, membuat ia tidak bisa berkeliaran ke mana-mana. Hanya boneka dinosaurus yang terus di mainkan. Asal besarnya tidak memainkan hati para perempuan😅


Betul tidak?!


Tap tap tap


Derap langkah kaki membuat Ria menatap ke arah Aldi yang sudah rapi dengan kemeja berwarna biru di padukan dengan celana jeans hitam.Penampilan Aldi yang hari ini sangat tampan bahkan akan selalu begitu. Wajah datarnya yang tegas nan berwibawa tercetak jelas, sangat cocok bila pria tersebut menjadi CEO di rumah sakit.


"Tadi malam siapa yang mengantarkan saya ke rumah? " tanya Aldi spontan, membuat Ria mengerjapkan matanya.


"Tadi teman kamu kalau tidak salah, " jawab Ria. Aldi manggut-manggut bisa di tebak itu pasti Zavier.


"Dan dia juga yang membawa saya ke kamar? " tanya lagi Aldi seolah tidak cukup untuk satu pertanyaan.


Ria diam sejenak, "itu...aku yang membawa kamu ke kamar. Karna tiba-tiba teman kamu sudah pulang, " jawab Ria.


Aldi memejamkan matanya dan mendesah, antara malu pada Ria dan geram pada Zavier yang tidak sekalian membawanya ke kamar. Bagaimana tidak malu bila dia dipapah oleh seorang perempuan yang tubuhnya sangat mungil bagi dirinya dannmembawa ia ke dalam kamar, bagaimana caranya?


Aldi yang sudah di duduk di kursi tidak memperdulikan Ria yang menatap dirinya. Ia sibuk mengolesi roti tawar dengan selai nanas. Sedangkan Ria tampak mengumpulkan keberaniannya untuk melontarkan ucapannya yang sudah dia pikirkan tadi malam.


"Emm..... Apakah boleh bila kita mempekerjakan pembantu? " tanya Ria ragu-ragu dan takut. Aldi langsung menghentikan mulutnya yang sudah siap menggigit roti dan kembali meletakkan roti itu ke piring.


"Buat apa menyewa pembantu?Kamu sendiri apa yang di lakukan di rumah. Bukan berarti kamu istri saya kamu akan berleha-leha di rumah .Belajar untuk berhemat untuk mengeluaran, " ujar Aldi penuh penekan .


Ria melengkungkan bibirnya ke bawah. Dia hanya takut sosok pria misterius itu kembali lagi dan mencelakai dirinya. Bila ada pembantu di rumah ini dia bisa meminta tolong. Tapi memang benar, pernikahan yang di awali karna terpaksa sangat sulit mendapatkan kebahagiaan seperti pasangan suami-istri pada umumnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2