MENIKAH KARNA WASIAT

MENIKAH KARNA WASIAT
Berdebat


__ADS_3

...Hai, hai semuanya! Akhirnya ketemu lagi. Setelah beberapa hari sibuk dengan anak satunya🤗...


...Saya ucapkan terima kasih yang masih menunggu update-an cerita yang saya buat asal-asalan ini....


...(YANG TULUS SELALU DATANG PALING AKHIR)...


...~Happy reading~...


Hembusan angin pagi yang cukup dingin dan begitu menusuk ke kulit, tidak membuat gadis bertubuh gendut itu membatalkan niatnya untuk mengakhiri hidupnya saat ini. Sudah cukup Ia menderita, orang yang harusnya menjadi tempat Ia bernaung, memberikan kenyamanan, mencurahkan cinta dan kasih sayang justru sedang asyik bercinta dengan wanita lain di depan matanya.


Dia sadar, mereka berdua menikah karna perjodohan tapi tidak adakah sedikit saja cinta untuk dirinya. Mungkin bila di bandingkan dengan selingkuhan suaminya, tentu Ia kalah karna wanita selingkuhan suaminya lebih cantik dan sexy. Daripada dirinya yang memiliki tubuh bak gajah, dan itulah yang sering suaminya katakan.


Elvana merentangkan kedua tangannya, Ia siap meloncat dari atas jembatan yang cukup tinggi, dan aliran sungai yang ada di bawah cukup deras.


"Selamat tinggal mas Danu..." Elvana memejamkan matanya dan siap menjatuhkan dirinya. Tapi sebelum menjatuhkan dirinya ke sungai, seseorang menarik tubuh gadis gendut itu hingga dia terhempas ke aspal.


"Akh...sakit," ringis Elvana kala badan besarnya terhempas ke aspal.


"Apa kau tidak ada kerjaan sampai ingin bunuh diri? Hah?!" omel pria dengan pakaian formal yang melekat di tubuhnya.


Elvana bangkit dari aspal dan menatap sengit pria tampan yang kini berdiri di hadapannya. Tubuh Elvana bergetar, air mata merembes. Zavier menatap terheran-heran dengan gadis gendut tersebut.


"Kenapa kau gagalkan lagi, aku ingin bunuh diri! Kenapa selalu gagal... Huwaa." Gadis gendut itu menangis seperti anak kecil di hadapan Zavier.


Tanpa ragu Zavier mendekati Elvana dan mengusap punggung gadis itu yang bergetar sempurna.


"Kalau ada masalah yang membuat kamu tidak bisa berbuat apa-apa, jangan jadikan mengakhiri hidup sebagai jalan keluarnya. Yang ada masalah akan semakin rumit dan roh kau nanti gentayangan di jembatan ini," kelakar Zavier terkekeh dan Elvana menghentikan tangisnya.


"Suami ku selingkuh, selama dua tahun menikah dia tidak pernah menyentuh ku. Sekarang aku di talak tiga hiks..." Elvana kembali menangis setelah menceritakan sesuatu yang belum di tanyakan Zavier.


Pria itu melirik tas besar yang tergeletak di aspal.


"Sekarang kau ingin ke mana?" tanya Zavier yang menatap iba.


Elvana menggeleng lemah. " Aku tidak tahu harus ke mana lagi, uang pun aku tidak punya sama sekali. Mas Danu mengusir ku tanpa memberikan uang," jawabnya.


"Ya sudah, sekarang kau ikut saya."


"Untuk apa? Kamu tidak akan berbuat macam-macam kan?" Elvana menatap takut-takut pada Zavier yang tertawa cukup keras, membuat kening gadis itu berkerut.


"Tidak ada yang menarik dari tubuh mu." ucap Zavier. Elvana merasakan sakit, nyeri dan tersinggung dengan ucapan pria tersebut yang seakan menghina dirinya. Walaupun Ia sadar dengan bentuk tubuhnya yang gendut.

__ADS_1


"Silahkan masuk, Sayang." Zavier mengedipkan matanya genit pada Elvana yang tertunduk malu.


Seumur-umur Ia tidak pernah di panggil sayang oleh seorang pria termasuk mantan suaminya sendiri. Biasanya Ia di panggil gendut atau gajah.


Gadis itu masuk ke dalam mobil dan Zavier juga sudah masuk ke dalam. Pria itu mulai mengendarai mobilnya.


"Kita mau ke mana?"


"Menjual mu, Sayang."


Mata Elvana melotot mendengar ucapan Zavier.


"J-jangan bercanda!" sentak Elvana tersendat-sendat. Pria itu kembali tertawa.


"Kau pikir saya tidak waras, menjual gadis gendut seperti mu tidak akan pernah laku. Tidak ada pria yang bern*fsu melihat mu."


Mata Elvana memanas dan mungkin hendak menangis karna ucapan Zavier yang terus mengejek dirinya. Dia sadar diri dengan bentuk tubuhnya yang gendut dan wajahnya yang jelek.


Elvana menatap ke arah luar jendela. Menghapus kasar air mata yang tidak bisa Ia tahan lagi. Zavier menghentikan laju mobilnya ketika di lampu merah, Ia menoleh ke arah Elvana.


"Kenapa menangis? Apa karna ucapan saya tadi?" tanya Zavier merasa bersalah.


"Tidak ada yang salah dengan ucapan mu, aku memang tidak pantas untuk siapapun. Dan mas Danu sudah benar menceraikan gadis gendut ini." Elvana tersenyum menatap Zavier. Lebih tepatnya senyum berbalut luka.


••••••


Suara teriakan Ria dari dalam kamar membuat Aldi menghentikan gerakkan tangannya yang hendak memakan roti.


"Mas..." Ria berjalan tergesa-gesa keluar dari kamar.


"Hati-hati jalannya Sayang, kamu sedang hamil," tegur Aldi.


"Mas, kalung aku hilang yang ada di dalam laci. "


"Coba cari yang benar, Sayang. Mungkin terselip." Aldi mendongak menatap Ria yang berdiri dihadapan nya.


Wanita itu menggeleng dan melirik Alyssa yang baru keluar dari kamarnya. Wanita itu masih tinggal di rumah Aldi meski tidak bertegur sama dengan pemilik rumah terutama Ria.


"Kenapa melihat ku seperti itu!" ketus Alyssa, melotot tajam pada Ria.


Sedangkan Ria berdecih pelan.

__ADS_1


"Mas, aku mau pakai kalung itu, lagi kepengen," rengek Ria dihadapan sang suami yang memijit pangkal hidungnya, pusing.


Kemaren ngidam memelihara landak dan sekarang ingin memakai kalung berlian yang tiba-tiba hilang di kamar. Entahlah, Ia sudah sangat pusing bila harus menuruti kemauan Ria. Sedangkan saat mengandung Raja, wanita itu tidak semanja ini. Mungkin karna sudah memiliki suami membuat ia ingin bermanja-manja dan selalu merengek seperti anak kecil.


"Ayo kita cari di kamar dulu, mungkin terselip." Aldi bangkit dari tempat duduknya dan merengkuh pinggang Ria yang mengikat rambutnya kepang dua.


"Coba di ingat-ingat lagi, mungkin kamu meletakkannya tidak di laci," ucap Aldi yang tengah memeriksa laci tersebut.


"Seingat ku di laci, Mas. Tapi..." Ria menjeda ucapannya.


"Tapi apa, Sayang?" tanya Aldi.


"Kemarin tante Alyssa masuk ke kamar ini, katanya mau minjam barang."


Satu alis Aldi terangkat. Ria sudah keluar dari kamar.


"Tante Alyssa, ada melihat kalung berlian aku yang ada di dalam laci?" tanya Ria yang menghampiri wanita tersebut yang tengah sarapan.


"Kamu nuduh saya mengambil kalung kamu!" Alyssa bangkit dari tempat duduknya dan memberikan tatapan tajam.


Ria menggeleng. " Aku tidak menuduh Tante, tapi hanya bertanya."


"Tapi pertanyaan kamu itu seperti menuduh saya! Kamu itu juga harus ingat, kamu cuma numpang di rumah ini! " ketus Alyssa.


Ria terdiam, menunduk.


"Kenapa lagi ini?" tanya Aldi yang baru keluar dari kamar.


"Istri kamu itu, ajarkan sopan santun. Dia menuduh Tante mengambil kalung miliknya. Wanita dari kalangan bawah tapi sudah mulai berani betingkah."


"Tante juga tidak habis pikir dengan kamu, Aldi, memilih menikahi wanita seperti Ria!" ucapnya ketus.


"Stop, Tante! Jangan terus mempermasalahkan Ria dari keluarga berada atau tidaknya. Kalau Tante tidak suka dengan Ria, silahkan pergi dari sini." ucap Aldi menatap tajam.


Alyssa mendengus dan beranjak dari tempat itu dengan hati yang dongkol. Setelah kepergian Alyssa, Ria langsung memeluk Aldi yang membalas pelukan istrinya.


"A-aku hanya bertanya bukan menuduh. Itu kalung kesayangan ku." ucap Ria mendongak menatap sang suami.


"Hari ini Mas belikan kalung untuk kamu bagaimana? Sekalian jalan-jalan dengan Raja juga."


Ria mendongak. " Tapi kan hari ini Mas kerja," cicitnya.

__ADS_1


Aldi tersenyum. " Sehari tidak masuk kerja tidak akan membuat Mas miskin, Sayang."


__ADS_2