MENIKAH KARNA WASIAT

MENIKAH KARNA WASIAT
Part 16


__ADS_3

**Maaf agak malaman updatenya 🙏


Sebaik-baiknya bacaan adalah Al Qur'an


Happy reading**


Ruangan dengan pencahayaan yang minim dan lembab, terdapat seorang wanita yang duduk dikursi dengan tangan dan kaki yang terikat.Mulut yang di lakban dengan keadaan yang belum sadarkan diri karna pengaruh obat bius itu masih berefek.


Perlahan kelopak mata Ria terbuka. Pandangan yang buram perlahan mulai terlihat jelas.Ria mengerjapkan matanya, pandangannya menelisik melihat setiap jengkal ruangan yang begitu asing baginya. Sayup-sayup Ria mendengar suara orang yang tengah mengobrol di luar ruangan.


Ceklek


Ria menyipitkan matanya, memperjelas pandangannya pada seseorang yang membuka pintu. Pria itu berjalan ke arahnya membuat jantungnya berdegub kencang dengan rasa takut yang menyeruak.


Alvarez berjalan mendekati Ria. Pria yang sudah meculik wanita itu, mencengkram pipi Ria sedikit kasar. Pandangan mata keduanya saling bersitatap dengan pandangan yang berbeda.


"Kenapa, hmm? Takut? " ujar Alvarez seperti mengejek Ria yang menatap dirinya ketakutan.


"Tolong lepaskan aku. Aku tidak tahu salah ku apa hingga kamu menculik ku, " ujar Ria berusaha memberanikan diri dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kamu akan aku lepas, setelah aku sudah membunuh mu, "sahut Alvarez yang tengah mengeluarkan pistol di saku celananya. Pupil mata Ria membesar, terkejut dan takut bercampur aduk.


" Jangan bunuh aku.Aku merasa tidak melakukan kesalahan terhadap kamu. Aku juga mempunyai anak, bagaimana anakku hidup tanpa aku , satu-satunya orang dia punya sekarang hiks... Lepaskan aku, "Ria menatap memelas, memohon dia tidak ingin mati terbunuh.


Bila dia mati bagaimana dengan Raja yang sangat membutuhkan dirinya.


" Menangislah semau mu, aku tidak peduli dengan anak mu, "ujar Alvarez dengan suara berat dan seraknya, membuat Ria merinding ketakutan mendengarnya.


Tidak lama. Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam dengan senyuman smirknya , wajah keterkejutan Ria tidak bisa disembunyikan. Rima berjalan mendekati keduanya dengan sorot mata yang mengarah pada Ria.


" Akhirnya aku mendapatkan kamu, Ria. Setelah aku melakukan mencarian. Kamu tahu, aku tidak akan pernah membiarkan kamu hidup bebas setelah Rayyan meninggal dan itu karna mendonorkan mata kepada mu, "desis Rima.


Ria masih dengan ke terdiamannya. Mengingat Rayyan membuat hatinya sakit.


" Akh.... "

__ADS_1


Ria meringis kesakitan pada rambutnya yang ditarik dengan kasar oleh Rima dan Alvarez hanya menonton saya sembari memainkan pistolnya.


"Lepas, sakit, " Ria berusaha melepaskan cengkraman tangan Rima di rambutnya dan itu semakin kuat tarikannya.


"Aku tidak peduli. Kau harus mati Ria! Kau harus mati kalau bisa dengan Raja sekalian karna aku benar-benar muak melihat kamu. Gara-gara kamu Rayyan meninggal dan karna kamu aku harus kehilangan Rayyan, anakku, " ucap Rima suara meninggi.


"Aku juga tidak mau kehilangan Rayyan. Andai aku tahu bahwa Rayyan yang akan mendonorkan matanya kepadaku pasti akan aku tolak! " sarkas Ria.


Plak!


"Apapun alasannya kau tetap salah! " bentak Rima.


Ria meringis kesakitan merasakan tamparan yang diberikan wanita paruh baya tersebut. Satu tetes darah jatuh mengenai celana Ria dengan sudut bibir yang pecah.


🍄🍄🍄🍄🍄


"Anda yakin bahwa saudara Rima yang melakukan rencana penculikan ini terhadap istri bapak? " tanya polisi tersebut.


"Saya yakin Pak. Karna dia satu-satunya orang yang saya curigai dan juga tidak menyukai istri saya, Ria. Hubungan Ria dan ibu Rima memburuk setelah meninggalnya Rayyan, anak dari ibu Rima , " papar Aldi dengan wajah yang tampak gelisah dan risau . Di kepalanya saat ini adalah Ria. Ia takut terjadi apa-apa dengan istrinya.


"Cup, cup, cup... Anak laki-laki tidak boleh menangis nanti Om gigit lho. Arrw, " ujar Zavier yang menimang-nimang Raja.


Bukannya berhenti menangis, Raja semakin meraung ketakutan melihat wajah Zavier yang seperti ingin memakannya hidup-hidup.


Aldi sengaja menyuruh Zavier ke rumahnya untuk menjaga Raja. Entahlah, kepalanya begitu pening memikirkan Ria.


"Apa, bapak Aldi memiliki CCTV di rumah ini. Setidaknya dengan CCTV itu kami semakin mudah menemukan pelaku penculikan istri bapak, " ujar polisi tersebut.


"Ada pak, tunggu saya ambil laptop saya dulu, " ujar Aldi yang beranjak ke kamarnya.


Tidak berapa lama Aldi datang, membalas laptop dan meletakkannya di meja. Ia mengotak-atik laptopnya dan menampilkan rekaman CCTV tadi sebelum penculikan.Terlihat dalam rekaman itu pria berpakaian hitam dengan wajah yang di tutupi masker hitam itu membekap Ria hingga tidak sadarkan diri.


Polisi, melihat rekaman CCTV di depan rumah. Dan benar saja penculik itu memasukkan Ria ke dalam mobil yang sudah terparkir di pinggir jalan. Sepertinya dia sudah merencanakan itu sedari awal.


"Sepertinya kami bisa menemukan dimana istri bapak. Karna nomor plat mobil terlihat jelas di CCTV ini, " ujar polisi tersebut, membuat mata Aldi berbinar dengan raut senangnya yang tidak bisa di sembunyikan.

__ADS_1


"Kalau begitu cepat, Pak. Saya takut istri saya kenapa-napa, "ujar Aldi yang sudah bangkit dari tempat duduknya.


" Ini butuh waktu, Pak Aldi . Kami perlu menghubungi anggota kami untuk melacak plat nomor mobil ini, "ujar polisi tersebut.


" Silahkan, tapi jangan terlalu lama. Saya tidak mau istri saya terjadi apa-apa, "ujar Aldi tampak was-was.


🍄🍄🍄🍄🍄


Ria menangis sesegukan merasakan badannya yang memar akibat cambukan yang diberikan Rima padanya .


" Sebelum aku melihat kamu mati, aku ingin menyiksa kamu terlebih dahulu Ria. Bahkan siksaan yang aku berikan ini tidak cukup untuk menebus rasa sakit hatiku dan kehilangan yang aku rasakan. Kamu itu wanita pembawa sial dan kamu pelacur yang begitu menjijikkan. Pasti Raja bukan anak Rayyan tapi hasil kamu melacur dengan pria lain, "ujar Rima .


" Alvarez cepat ikat dia di tiang dan langsung tembak mati, "perintah Rima dan Alvarez menganggukkan kepalanya.


Pria itu menghampiri Ria yang sudah tergeletak di lantai keramik dengan tubuh yang sudah begitu lemas. Bercak darah mengotori baju yang di kenakan Ria sekarang.


Alvarez mengikat Ria di tiang dengan kondisi terduduk di lantai. Penampilan wanita itu begitu kacau dan memprihatinkan. Rima duduk di sebuah kursi dengan minuman anggur merah yang tengah ia teguk. Melihat Ria yang akan menjemput ajalnya adalah kesenangan baginya.


Alvarez mengeluarkan pistol dari saku celananya. Jari telunjuknya sudah siap menarik pelatuk pistol yang mengarah pada dada Ria.


" Cepat tembak dia. Sebelum ada orang yang mengetahui keberadaan kita, "ujar Rima.


Walaupun mereka tengah berada di gudang kosong di dekat hutan, tidak menutup kemungkinan bila ada orang lain selain mereka.


Pria itu kembali fokus ke arah Ria. Alvarez tidak merasa kasihan sama sekali terhadap wanita yang sudah siap akan dia tembak.


Dor....


Tembakan tepat mengenai sasaran. Alvarez langsung tumbang ke tanah dan Rima terkejut bukan main melihatnya.


Polisi yang menembak Alvarez menurunkan pistolnya. Aldi berlari ke arah Ria yang menatap sayu padanya.


" Ria bertahan, Ria jangan tutup mata kamu, "Aldi membuka ikatan di tubuh Ria yang perlahan menutup matanya , kegelapan menyelimuti pandangan matanya yang sudah tertutup rapat.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2