MENIKAH KARNA WASIAT

MENIKAH KARNA WASIAT
Taman


__ADS_3

"Sayang, sini?" Aldi menepuk-nepuk pahanya agar sang istri duduk di pangkuannya. Ria melirik Raja yang tidur pulas di atas brangkar.


Dengan hati-hati wanita itu turun dari brangkar dan berjalan menghampiri suaminya yang tersenyum tipis.


"Kamu lapar, hmm?" tanya Aldi ketika Ria sudah duduk di pangkuannya. Pria itu membelai mesra pipi chubby istrinya. Dan melingkarkan kedua tangan kekarnya di pinggang Ria.


"Iya, aku lapar. Tapi aku ingin makan yang pedas-pedas, Mas," jawab Ria mengutarakan keinginannya.


"Tapi kamu tidak boleh makan yang pedas-pedas, Sayang. Kamu sedang hamil." ucap Aldi yang setelahnya mencium bibir ranum Ria yang tampak mengerucut dengan penolakan Aldi.


Sungguh, bila tidak ingat tengah di rumah sakit, Ia sudah mengajak Ria bercinta.


"Istri siapa sih, kenapa sangat menggemaskan sekali." Aldi mencium bertubi-tubi pipi chubby Ria hingga berakhir keduanya saling berpelukan.


Sementara Ria tidak bisa menyembunyikan  senyuman kebahagiaannya. Ia benar-benar bahagia bersama Aldi, meski beberapa orang tidak menyukai dirinya dan masa lalunya yang kelam.


"Sebentar ya, Mas pesan kan via online makanannya."


Ria mengangguk dengan semangat. Aldi mengusap gemas pucuk kepala istrinya. Pria itu meraih ponsel miliknya yang terletak di atas meja dan memesan beberapa makanan yang menurutnya aman dan juga enak untuk Ria.


"Nanti kita ke tamannya jam berapa, Mas?" tanya Ria membuka topik pembicaraan.


"Mungkin sore. Ada banyak pasien yang harus Mas tangani, Sayang. Jadi maaf ya bila kamu harus menunggu lama. Nanti Mas minta Maiza__"


"Tidak! Aku tidak mau ada perempuan itu. Aku tidak suka," sela Ria menggelengkan kepalanya cepat.


Satu alis Aldi tertarik melihat penolakan Ria."Memang kenapa? Mas hanya ingin kalian berdua baik-baik saja di dalam ruangan ini selama Mas bekerja. Mas, akan meminta Maiza untuk menjaga dan memenuhi sesuatu yang kamu inginkan."


"Tidak, aku tidak memerlukan bantuan orang lain. Aku bisa sendiri."


Aldi menghela napas berat dengan penolakan dan keras kepala Ria.


"Ya sudah, tapi jangan keluar dari ruangan ini. Mas, tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu," ucap Aldi lembut seraya membelai rambut panjang Ria.



__ADS_1


Ria bersandar di sofa sambil mengusap perut buncitnya yang kekenyangan setelah menyantap makanan yang Aldi pesankan.


Ia menatap Raja yang terlihat nyenyak tidurnya. Wanita itu bangkit dari sofa dan melangkah menuju ke pintu keluar.


"Mau ke mana, hmm?"


Ria hampir jatuh terjengkang bila Aldi tidak menahan pinggangnya. Ia baru saja hendak membuka pintu, tapi suaminya lebih dulu masuk ke dalam.


"Aku bosan terus berada di dalam, Mas." adu Ria seraya mendongak menatap Aldi dengan bibir cemburut.


"Kalau begitu, ayo kita ke taman. Pekerjaan Mas sudah selesai, Sayang."


Ria tersenyum lebar dengan mata yang berbinar-binar.


"Nanti setelah sampai taman aku ingin membeli gulali, Mas."


"Apapun yang istriku minta akan terkabul."


Ria langsung memeluk Aldi seraya menghirup dalam aroma tubuh suaminya.


Maiza yang tengah berdiri di lobby rumah sakit menatap dengki. Ia merasa kalah saing dengan Ria. Mau dilihat dari sisi manapun wanita itu terlihat biasa saja baginya termasuk wajah.


"Hati-hati, Sayang," ucap Aldi seraya memegang sisi atas pintu mobil agar kepala Ria tidak terbentur.


Orang-orang yang melihat perlakuan Aldi tentu akan menganggap pria itu terlalu berlebihan.


Ria menatap ke arah luar jendela kaca mobil yang melaju dengan kecepatan normal. Satu tangan Aldi mengenggam tangan istrinya yang membengkak. Mengingat tubuh Ria semakin berisi.


"Nanti, setelah anak kita lahir kita akan pergi lagi ke makam Rayyan."


Ria yang mendengar itu menoleh ke arah Aldi.


"Iya, agar mas Rayyan tahu kalau rumah tangga kita semakin bahagia dengan kehadiran satu anggota baru."


Wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu Aldi. Sedangkan Raja di letakkan di jok belakang mobil dan sibuk mengemut dodot yang Ria berikan.


*

__ADS_1


*


Raja, balita itu bertepuk-tepuk tangan kegirangan saat keluar dari mobil. Aldi menggendong putranya tersebut.


Ria mengikuti langkah suaminya dari belakang, namun tangannya berpegangan pada ujung baju suaminya agar tidak terpisah.


"Jadi atau tidak beli gulali?" tanya Aldi menoleh ke arah Ria.


Wanita itu mengangguk cepat tanpa mengalihkan pandangan matanya dari gulali manis berbentuk Doraemon tersebut.




"Aku ke sini ingin menawarkan___"


"Menawarkan apa? Rencana kita sudah gagal dan saya sudah tidak berminat lagi," sela Kenzo cepat. Ia sudah tahu hal apa yang ingin wanita paruh baya itu tawarkan.


"Kau tenang saja, kali ini rencana kedua tidak mungkin gagal. Aku juga tidak menduga bila Aldi akan kembali lagi ke rumah begitu cepat. Sangat sayang sekali bila kau menolak tawaran ini. Jangan sampai kau menyesal harus kehilangan Ria."


Alyssa berusaha membuat Kenzo yakin padanya dan kembali membuat rencana yang kali ini tidak akan mungkin gagal. Dia sudah kehilangan tempat tinggal karna wanita itu serta menanggung malu yang teramat. Dan kali ini Ia tidak ingin gagal, kalau bisa Ia bunuh saja Ria, tapi sepertinya sangat beresiko. Yang perlu Ia lakukan adalah memanfaatkan Kenzo. Alyssa tersenyum jahat dalam hatinya.


"Saya tidak tertarik!"


Senyuman Alyssa yang mengembang langsung lenyap, terganti dengan raut wajah yang tak terima dengan penolakan Kenzo.


Pria berwajah tampan itu bangkit dari sofa dan meninggalkan Alyssa di ruang tamu tanpa ingin memperpanjang pembicaraan mereka berdua.


"Sial!" umpat Alyssa setelah Kenzo tidak ada lagi.


Bagaimana bisa Ia mendapatkan uang bila Kenzo yang menjadi sumber uangnya menolak bekerja sama dengannya.


__________


Hallo semuanya!^^


Maaf baru update. Ada beberapa hal yang membuatku hiatus melanjutkan cerita ini. Tapi InsyaAllah bakal menuntaskan cerita ini sampai tamat:)

__ADS_1


__ADS_2