
Maaf baru updateππ
...~Happy Reading~...
"Mana rekamannya?" pinta Aldi pada Dennis yang duduk berhadapan.
Pria dengan setelan jas kantoran itu, memberikan apa yang di minta Aldi.Sebuah flashdisk yang ia berikan pada Aldi,yang merupakan rekaman CCTV yang sudah ia simpan di sana. Awalnya ingin Dennis hilangkan barang bukti tersebut tapi hatinya tidak tega harus berbohong pada bosnya.
Aldi mengambil flashdisk tersebut. Memasangnya di bagian laptop.Dia mulai menonton rekaman yang baru beberapa menit ia nyalakan tapi sudah membuat emosinya meradang dan bergemuruh dalam dadanya melihat rekaman di layar laptop tersebut.
Sejenak Aldi memejamkan matanya dengan tangan terkepal kuat, hingga kukunya memutih dan rahang yang mengetat.
"Lain kali tempatkan satpam di bagian koridor itu. Andai ada seseorang berjaga di sana istri saya tidak akan seperti ini.Dan satu lagi...batalkan kerja dengan perusahaan pak Irwan. Karna kita tidak tahu Liona akan berbuat hal buruk apa lagi dengan istri saya. Dan kasus ini harus di bawa ke jalur hukum. Tidak ada kata ampun untuk orang yang sudah berani menyentuh wanita saya."ucap Aldi tegas dan penuh penekanan.
"Tapi...apa anda yakin, Tuan. Perusahaan pak Irwan..... "
"Turuti apa yang saya perintahkan bukan meminta kamu untuk berpendapat dalam masalah ini.Perusahaan kita tidak akan bangkrut karna memutuskan kerja sama." sela Aldi.
Pria itu bangkit dari sofa.Dengan satu tangan yang di masukkan ke dalam saku celana.Aldi berjalan mendekati brankar, tempat Ria berbaring sekarang.
Tangan Aldi terulur, memberikan usapan lembut di kepala Ria yang tengah tertidur lelah, setelah meminum obat pereda nyeri di perutnya.
Cup
Aldi memberikan satu kecupan cukup lama di kening Ria dengan perasaan yang tulus.Ia benar-benar mencintai wanita itu.
Dennis memperhatikan itu.Entah sejak kapan Aldi bisa bersikap semanis dan sesayang itu pada seorang wanita.
"Dennis,tolong belikan makanan dan buahan untuk istri saya.Saya tidak bisa meninggalkan Ria seorang diri. Takut dia kenapa-napa," ujar Aldi yang tidak mengalihkan pandangan matanya dari wajah Ria.
"Ba-baik Tuan Aldi. Kalau begitu saya permisi." ucapnya.
"Hmm..."
Setelah kepergian Dennis, Aldi menarik kursi dan duduk di dekat brankar. Matanya tidak pernah bosan memandangi Ria.Satu tangannya mengenggam tangan Ria yang terasa dingin.
"Cepat sembuh ya sayang.Mas mencintai kamu."
__ADS_1
Aldi mencium dengan mesra punggung tangan Ria, seutas senyum tercipta di bibir pria tersebut.
πππππ
"Kenapa kamu membatalkan kerja sama kita, Aldi?" tanya Irwan. Terlihat jelas bila pria tersebut tidak Terima dengan keputusan sepihak Aldi.
"Saya tidak akan mungkin memutuskan hubungan kerja sama kita bila Liona tidak mencelakai istri saya hampir keguguran." ujarnya tegas.
Irwan mengerutkan keningnya."Maksud kamu Liona mencelakai istri kamu?"ulang Irwan dan di balas deheman datar oleh Aldi.
"Kamu sudah menikah Aldi?" tanya Irwan tidak menyangka.
"Iya, saya sudah lama menikah.Dan sebab itu saya tidak merespon keinginan anda untuk menjodohkan dengan Liona."
"Tapi Aldi...ini masalah pribadi dan mungkin hanya sebuah kecelakaan yang tidak di sengaja.Mana mungkin Liona tega berbuat hal yang jahat seperti itu apalagi sampai membuat istri kamu keguguran." Irwan seolah yakin bila Liona tidak sengaja, bahkan tak yakin putrinya seperti itu.
Aldi tertawa pelan, membuat Irwan heran melihatnya."Anda pikir saya berbohong, hmm?Dan anda pikir Liona yang anda banggakan tidak melakukan hal itu?"
Aldi mengeluarkan ponsel di saku celananya.Tangannya dengan lihai menggulir layar ponsel tersebut.Tidak lama suara dering notifikasi dari ponsel Irwan berbunyi. Pria itu mengambil benda pipih itu di atas meja dan membuka pesan yang di kirim Aldi.
"Saya sudah mentransfer uang ke rekening anda.Sebagai uang finalti karna saya membatalkan kerja sama kita secara sepihak. Tapi saya akan tetap membawa kasus Liona ke jalur hukum."
Setelah mengucapkan itu Aldi bangkit dari tempat duduknya. Irwan mematung dengan wajah yang tegang mendengar ucapan Aldi yang sudah melenggang pergi meninggalkan dirinya di cafe yang tidak jauh dari rumah sakit tempat Ria di rawat sekarang.
πππππ
Ria hanya bisa memperhatikan Raja yang tengah sibuk dengan mainannya. Dia sangat merindukan putranya dan ingin memeluk Raja tapi sayang saat ini beberapa alat medis menancap di punggung tangannya, membuat ia membatasi pergerakannya.
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Zavier pada Ria yang terus menatap Raja.
"Tidak, tapi aku ingin memeluk Raja dan menggendongnya," ucap Ria jujur.
Zavier yang lagi-lagi menjadi pengasuh dadakan atas perintah Aldi. Membawa Raja ke dekat Ria yang tersenyum ke arahnya dengan mata yang berbinar.
"Hati-hati,tapi jangan lama memegang Raja nanti ketahuan Aldi. Pria itu akan marah," ujar Zavier dengan pelan meletakkan Raja di pangkuan Ria.
"Iya,terima Xavier," ucap Ria.
__ADS_1
"Heh, nama ku bukan Xavier tapi Zavier," koleksi Zavier dan Ria tersenyum malu salah menyebut nama Zavier.
"Unda, cacit ya?"Raja mendongak menatap Ria.
" Iya, sayang. Bunda sedang sakit. Semoga Bunda cepat sembuh supaya cepat pulang."jawab Ria.
"Cacian Unda. Aja icis lihat Unda cepelti ini." celotehnya.
Zavier tertawa ngakak mendengar kata-kata Raja yang sulit di terjemahkan.
"Om Apiel diam!" bentak Raja dengan mata melotot menatap Zavier yang masih menertawakan balita tersebut.
"Unda lihat Om Apiel tawa-tawa," adu Raja menunjuk Zavier yang langsung terdiam.
"Om Zavier tidak ketawain kamu, sayang. Tapi gemas melihat kamu," ujar Ria memberikan pengertian.
"Hmm..."
Deheman yang sedikit keras membuat Ria dan Zavier menatap ke arah Aldi yang berdiri tegap di ambang pintu. Senyuman Ria merekah melihat kehadiran suaminya.
Zavier segera mengambil Raja di pangkuan Ria. Aldi berjalan mendekati sang istri.
"Bagaimana keadaan kamu? Apa ada yang sakit?" tanya Aldi yang di balas gelengan oleh Ria.
Tangan Aldi terulur membelai pipi Ria dengan mesra.Tanpa di duga pria tersebut memgecup bibir Ria yang langsung membelalakan matanya.Zavier melotot melihat pemandangan tersebut dengan cepat menutup mata Raja.
"Astaga, kamu berdosa sekali Aldi bermesraan di depan ku." ucap Zavier mendramatis seakan tidak suka dan rasa iri yang menggerogoti hatinya.
"Makanya segera menikahlah, agar kau bisa merasakan." ujar Aldi terkekeh.
Ria tertunduk dalam dengan rasa malu yang teramat apalagi Aldi melakukannya di hadapan Zavier. Pipi wanita langsung memanas dengan semburat merah di pipinya.
"Ck! Kau kira mencari istri seperti mencari baju di pasar," balas Zavier.
"Kalau kau ingin segera mendapatkan istri ya harus di cari yang menurut mu baik dan bisa menerima kamu apa adanya dan kamu pun harus menerima dia apa adanya juga," nasehat Aldi.
...Wah tidak terasa cerita ini akan tamatπ’...
__ADS_1