
Jangan lupa kasih like, komen, vote dan juga hadiah. Saya sangat berterima dengan hal itu.
Jangan jadi readers numpang baca tanpa meninggalkan jejak, ok😉
Happy reading
Tangan keduanya saling bertautan. Aldi menggengam tangan Ria dengan erat. Tampak pria itu mengulas senyum kala berpapasan dengan pengunjung dan para petugas rumah sakit. Sama halnya dengan Ria yang tersenyum ketika setiap orang yang mereka berdua lewati melemparkan senyum, mungkin karna Aldi dokter di rumah sakit ini dan banyak yang mengenal Aldi.
Mereka berdua sudah sampai di parkiran. Ria di perbolehkan pulang karna kondisinya yang sudah berangsur-angsur pulih. Aldi membukakan pintu mobil untuk Ria yang tampak tertegun dengan perlakuan pria tersebut padanya.
"Ayo, masuk Ria, " suruh Aldi,Ria yang tersadar dari lamunannya segera masuk ke dalam mobil, lalu di susul oleh pria tersebut.
Di sepanjang perjalanan, sepasang suami-istri itu hanya diam, tidak ada yang memulai percakapan ataupun mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya deru mesin mobil yang mengisi keheningan.Ria melirik Aldi yang fokus menyetir ,ada rasa canggung di benaknya dengan keheningan ini apalagi ia tipe orang yang akan bicara bila tidak di mulai oleh lawan bicaranya.
"Kamu mau mampir ke mini market? " tanya Aldi memecahkan keheningan, Ria menoleh ke arah suaminya.
Ria menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak.Kita langsung pulang, " jawab Ria yang langsung di angguki oleh Aldi.
Kini, mobil tersebut sudah terparkir di pekarangan rumah. Aldi lebih dulu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Ria dan lagi-lagi membuat wanita itu tertegun seolah kaget dengan perhatian kecil yang di berikan oleh suaminya.Selama ia menjalani perawatan di rumah sakit ,Aldi yang selalu menjaganya hingga tidak masuk kerja.
"Ayo kita masuk rumah, udara di luar sangat dingin nanti kamu masuk angin, " ujar Aldi . Cuaca tiba-tiba mendung di sertai angin kencang yang dingin dan begitu menusuk ke kulit.
Ria masuk ke dalam rumah. Pandangannya mengedar melihat sekitar dalam rumah yang tampak sepi. Ia menoleh, melihat ke arah Aldi yang menutup pintu.
"Raja mana? "
"Dia aku titipkan ke Zavier. Untuk sementara waktu kamu harus fokus untuk pemulihan tubuh kamu.Jangan memikirkan Raja, dia baik-baik saja dengan Zavier, sayang." ujar Aldi menangkup pipi Ria. Wanita itu menatap netra jernih suaminya. Kehangatan dengan cepat menjalar di pipi Ria kala Aldi memberikan usapan lembut.
Semburat merah di pipi Ria tidak bisa di sembunyikan lagi. Pipinya memanas dengan perlakuan Aldi padanya, apalagi panggilan 'sayang' yang di sematkan pria tersebut untuknya.
__ADS_1
*******
Ria terus memperhatikan Aldi yang tengah berkutat di dapur. Sedangkan dirinya duduk di dekat meja pantry.Aldi ingin membuatkannya sup cream instan . Padahal ia merasa badannya sudah sangat membaik dan bisa menjalani aktivitas seperti biasa. Namun, Aldi terlalu mengkhawatirkan keadaannya. Mungkin seperti ini rasanya di perhatikan oleh orang yang mencintai kita dan sebaliknya.
"Sup nya sudah siap, " ujar Aldi, meletakkan mangkok berisi sup tersebut di depan Ria, tidak lupa memberikan toping yang sama persis di gambar kemasan.
"Ayo makan dulu, mau saya suapin? " tawar Aldi yang sudah duduk di samping Ria.
"Tidak.Aku bisa makan sendiri. Mas , tidak ingin makan ini juga, " ujar Ria dan Aldi membalas menggelengkan kepala.
"Tidak.Kamu saja yang memakannya, karna kamu lebih penting, " ujar Aldi sedikit menyelipkan gombalan di dalamnya tanpa di sadari Ria.
Ria mulai memakan sup tersebut, baru beberapa detik. Ia menjatuhkan sendok di genggamannya dan mengibaskan tangan di depan mulutnya karna sup tersebut masih terlalu panas.
"Astaga, Ria!Itu masih panas kenapa langsung di makan seharusnya di tiup dulu, " Aldi memberikan segelas air putih dingin untuk menetralkan rasa panas dan kebas di lidah sang istri.
Wanita itu meneguk air yang di berikan Aldi.
Aldi meniup-niup sup dan menyuapi Ria yang tampak ragu-ragu menerimanya, takut lidahnya akan terbakar lagi karna kepanasan.
"Buka mulutnya, ini sup nya tidak panas, " ujar Aldi dan Ria menerima suapan pria tersebut.
Aldi kembali menyuapi Ria, namun sebuah ide jail terlintas di pikiran Aldi.Ia menjauhkan sendoknya kala wanita itu akan menerima suapan darinya. Seolah hendak menjaili Ria yang memajukan badannya mendekat pada Aldi .Tanpa sadar wanita itu makin mendekatkan wajahnya pada pria tersebut hingga___ Sebuah kecupan di layangkan Aldi pada bibir tipis tersebut.
Deg
Badan Ria menegang sempurna. Jantungnya seolah berhenti berdetak beberapa detik. Ia menatap Aldi yang tersenyum lebar tanpa ada rasa malu di raut wajahnya yang tampan itu.
"M-mas jangan jail, " Ria memukul dada Aldi pelan, menutupi kegugupan yang luar biasa.
__ADS_1
"Memang kenapa? Bukankah kamu istri saya jadi tidak ada masalah dengan hal ini. Sebuah keromantisan dan perlakuan manis harus di terapkan dalam rumah tangga kita. Karna saya benar-benar ingin menjalani pernikahan ini dari awal . Saya ingin serius dengan kamu, Ria."
"Apa Mas yakin ingin serius dengan ku? Apakah Mas tidak masalah dengan masa lalu aku yang buruk, aku bukan wanita baik-baik dan aku memiliki anak dari hasil yang salah... " lirih Ria dengan genangan air mata di pelupuk matanya.
Aldi menangkup kedua pipi Ria. Ia menatap lekat pupil mata sang istri yang menjatuhkan kristal bening.
"Jangan mengingatkan saya dengan masa lalu kamu agar saya mengurungkan niat saya, Ria. Dan setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah menjadi versi yang lebih baik lagi. Setiap orang memiliki masa lalu yang kelam.Bukankah kamu mengatakan tidak suka bila seseorang mengungkit masa lalu buruk kamu? Jadi ,jangan mengingat itu lagi bila itu makin menyakiti kamu. Kamu sekarang milik saya wanita yang berharga bagi saya, "
Aldi memeluk Ria, mencium kening wanita itu dengan ketulusan di dalamnya. Perlahan Ria melingkarkan tangannya di pinggang Aldi . Ia menenggelamkan wajahnya di dada kokoh yang memberikan kenyamanan padanya.
Aroma parfum Woody yang di pakai Aldi menambah kecanduan memeluk suaminya.
"Jangan lagi mengungkit masa lalu kamu. Saya tidak suka melihat kamu sedih setiap menceritakan hal buruk di masa lalu, "
Aldi menguraikan pelukannya. Dan menatap Ria yang tersenyum cerah seolah kesedihan itu telah sirna.
"Aku harap Mas adalah pria terakhir dalam hidupku, " ujar Ria serak.
"Itu pasti ,sayang.Dan saya pastikan kamu wanita yang pertama dan terakhir dalam hidup saya, " sahut Aldi yang tertawa pelan.
Hueek hueekk
Ria tiba-tiba memuntahkan isi dalam perutnya ,hingga mengenai baju Aldi. Ia langsung berlari ke wastafel memuntahkan semua isi dalam perutnya yang begitu bergejolak dengan rasa pusing yang menjalar di kepalanya.
Aldi memberikan usapan lembut di tengkuk Ria. Hingga hanya cairan bening kental yang di muntahkan wanita tersebut. Badan Ria langsung lemas, tenaganya seolah terserap. Sebuah tangan kekar melingkar di perutnya, menahan badannya yang akan merosot ke lantai.
"Kita ke rumah sakit ya? Badan kamu dingin dan wajah kamu sangat pucat, Ria, " ujar Aldi yang panik bercampur khawatir.
Ria menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak usah aku mau ke kamar, "
__ADS_1
Dengan sigap Aldi menggendong Ria, melangkahkan kakinya menuju ke kamar mereka.
Bersambung...