
Ria tersentak kaget kala sepasang tangan kekar melingkar di perutnya. Hembusan napas hangat menerpa permukaan lehernya.
Aldi yang baru masuk kamar, setelah bergelut seharian dengan pekerjaannya di rumah sakit tampak sangat letih. Pria itu langsung memeluk Ria dan menenggelamkan wajah di ceruk leher sang istri.
"Saya sangat letih hari ini, " adu Aldi dengan suara parau, membuat Ria jadi merinding sendiri mendengarnya di tambah dengan jantung yang berdegum dengan kencang.
Semenjak mereka memilih untuk memulai pernikahan ini dari awal, Aldi menunjukkan sikap manjanya walau tetap terlihat dingin bagi Ria.
"Mas, sekarang duduk dulu di sofa, aku buatin teh ya, " tawar Ria yang berbalik menatap ke arah Aldi yang menatap dirinya sayu.
Seperti anak kecil yang penurut, Aldi menganggukkan kepalanya,patuh.Sebelum duduk ke sofa,pria itu mengecup bibir ranum Ria sekilas, membuat wanita itu terbelalak kaget dengan apa yang dilakukan suaminya. Dia memegangi permukaannya bibir yang sedikit bibir basah.
Ria langsung keluar dari kamar untuk membuatkan Aldi teh hangat sekalian memanaskan makanan yang ia masak sendiri. Jujur, jantungnya benar-benar berdegub sangat kencang, badannya begitu lemas dan gemetaran kala Aldi mengecup bibirnya.
Sementara Aldi, melepaskan baju atasannya. Bibirnya berkedut, membentuk senyuman melihat Raja yang menatap kearahnya, balita itu tidak pakai baju sama sekali hanya handuk yang membalut tubuhnya. Sepertinya Ria baru saja memandikan Raja.
"Kenapa, hmm? Liatin Ayah seperti itu? " Aldi langsung menarik kedua kaki mungil itu, membuat Raja mendekat kearah Aldi .
"Yah.... Angen, " celoteh Raja sembari bertepuk tangan seolah begitu senang melihat Aldi yang sudah dianggap Ayah.
"Kamu kangen sama, Ayah ya? " tebak Aldi membuat Raja menganggukkan kepalanya lucu, membuat pria itu jadi gemas.
Aldi menangkup kedua pipi tembem Raja dan memberikan ciuman bertubi-tubi, apalagi aroma khas bayi membuat Aldi tidak henti menciuminya.
"Kamu kenapa gemesin gitu?" ujar Aldi yang mencubit pipi seperti bakpao itu.
"Yah.... Angan.....Ipi Aja cacit, "gerutu Raja, menjauhkan tangan Aldi dari kedua pipinya, membuat Aldi tertawa.
******
__ADS_1
Ria menatap makanan yang baru ia panaskan. Tidak lama Aldi muncul sambil menggendong Raja yang sudah di pakaikan baju. Pria itu duduk di kursi, matanya menelisik makanan yang ada di atas meja .
" Tumben masaknya banyak? "ujar Aldi, biasanya Ria hanya memasak dua menu makanan tapi sekarang empat.
" Supaya kamu tidak bosan saja, kalau aku masak yang bermacam-macam kamu bisa milih mana yang kamu suka, "ujar Ria sembari menarik kursi dan duduk di sebelah Aldi yang tengah memangku Raja yang tengah mengemuti potongan apel.
" Sini, Rajanya biar aku yang gendong ,Mas makan dulu, "ujar Ria yang mengambil Raja dari pangkuan Aldi.
" Kamu sudah makan? "tanya Aldi yang sudah mengambil nasi dan beberapa lauk di piring.
Ria menggelengkan kepalanya pelan, " Aku makannya mendahulukan, Mas. Serasa tidak sopan bila aku makan mendahului, Mas, "jawab Ria begitu lembut. Aldi tersenyum tampak kagum.
" Jangan seperti itu. Kamu kalau lapar langsung makan jangan menunggu saya yang tidak tentu pulang jam berapa. Jangan di biasakan seperti itu nanti kamu sakit, sekarang ayo makan,atau mau saya suapi, "ujar Aldi.
" Tidak usah_____"ucapan Ria terjeda kala Aldi menyuapi Ria yang terpaksa menerimanya.
"Kamu harus banyak makan, badan kamu terlihat sangat kurus akhir-akhir ini, " ujar Aldi kembali menyuapi Ria.
"Mas, sudah. Sekarang Mas juga makan jangan suapi aku terus. Mas, 'kan seharian kerja pasti sangat lapar, " ujar Ria mendorong tangan Aldi pelan ketika hendak menyuapi makanan kepadanya.
"Tapi saya harus memastikan kamu kenyang dulu. Karna jadi ibu rumah tangga lebih sulit lagi, Ria. Saya cuma sibuk kerja satu macam di rumah sakit, sedangkan kamu bermacam-macam pekerjaan di rumah ini, "papar Aldi kembali menyuapi Ria.
" Saya tahu kamu juga sangat kelelahan mengurus rumah dan juga Raja. Jadi, nanti saya carikan pembantu untuk bantu-bantu kamu, "lanjut Aldi . Ria tersenyum tipis, begitu senang melihat bagaimana perhatiannya Aldi pada dirinya.
Apa seperti ini rasanya di perhatian oleh pasangan atau suami. Kalau iya, mungkin setiap harinya Ria akan selalu bahagia dan bersyukur karna sudah di persatukan oleh Aldi yang awalnya begitu tidak menyukainya.
" Kamu kenapa senyum-senyum? "Aldi menatap heran dan Ria langsung menormalkan mimik mukanya.
" Tidak. Cuma senang karna kamu akan memperkerjakan pembantu di rumah ini. Jadi aku ada temannya, "ujar Ria, yang memang kesepian di rumah saat Aldi pergi kerja.
__ADS_1
🍄🍄🍄🍄🍄
Senandung kecil mengiringi Ria yang tengah mencuci piring kotor. Hatinya begitu dipenuhi kebahagiaan yang begitu membuncah. Wanita mana yang tidak bahagia saat di perlakukan sangat manis oleh seorang pria apalagi orang tersebut suaminya.
Sungguh, ini benar-benar membahagiakan bagi Ria, walau Aldi hanya memberikan perhatian kecil namun berefek besar pada dirinya.
Seorang pria berjalan sangat pelan, agar tidak menimbulkan suara langkah kakinya oleh Ria yang tengah sibuk dengan kegiatannya. Pria tersebut menyeringai dibalik masker hitam di balik wajahnya. Ini waktu yang tepat untuk menyingkirkan wanita tersebut.
Mata Ria melotot dan kesadaran seakan perlahan mulai menghilang. Sebuah sapu tangan yang sudah disemprotkan cairan bius membekap Ria dengan sangat kuat.
Prang!!
Piring yang dipegang Ria jatuh ke lantai. Bersamaan dengan Ria yang sudah pingsan dalam pelukan pria berjaket hitam tersebut. Pria itu langsung menggendong Ria dan keluar lewat pintu belakang yang menjadi aksesnya keluar masuk dari rumah ini.
"Ria! Kamu kenapa?! " teriak Aldi yang ada di rumah tamu. Pasalnya ia mendengar suara benda jatuh.
Karna takut terjadi apa-apa, Aldi langsung pergi ke dapur meninggalkan Raja seorang diri di ruang tamu.
"Ria, kamu dimana?! Ria! " Aldi melihat disekeliling ruangan dapur yang kosong dan hening. Hanya pecahan piring yang berserakan di lantai dan air keran yang masih menyala di wastafel tempat cucian piring kotor.
Jantung Aldi berhenti berdetak seperkian detik melihat pintu belakang terbuka,dimana pintu itu tidak pernah dibuka sama sekali karna kuncinya ada di tangannya. Ingatannya tentang ucapan Ria yang mengadu ada pria misterius yang selalu berkeliaran dalam rumah mereka, membuat Aldi menduga Ria di culik pria misterius tersebut.
Aldi, aku mohon jaga Ria dan anakku Raja. Tolong bawa mereka berdua keluar dari kota ini. Aku tidak ingin Ria mendapatkan kekerasan lagi dari Mamahku.
Sepenggal ingatan surat wasiat Rayyan ,membuat dugaan Aldi makin kuat. Mungkin ada campur tangan tante Rima,orang yang begitu membenci Ria.
Bersambung...
Tandai kalau typo.
__ADS_1