
Jangan lupa kasih like, vote dan beri hadiah ya. Terima kasih ❤
Happy reading
Derap langkah tegap Aldi dengan aura dingin yang menguar dalam dirinya, memasuki ruang rapat yang terdapat beberapa orang. Sorot mata yang tajam dan fokus pada satu orang yang tersenyum tipis padanya.
"Bagaimana dengan kabar mu, Aldi?" tanya Irwan.Pria paruh baya itu merupakan teman dekat almarhum ayah Aldi.
Irwan berencana akan bekerja sama dengan perusahaan Aldi yang bergerak di bidang jasa.Rencananya Irwan akan mengajak bekerjasama untuk pembangunan hotel di Bali.
"Saya baik," jawab Aldi singkat.
"Om, sampai lupa. Perkenalkan ini Liona, putri Om." ujar Irwan, memperkenalkan gadis cantik, tinggi semampai bak model dengan lekukan tubuh yang nyaris sempurna.
Liona mengulurkan tangannya yang di sambut Aldi.
"Aldi."
"Liona," ucap Liona dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
tapi tautan tangan mereka berdua tidak berlangsung lama hanya seperkian detik Aldi langsung melepaskan tautannya.
Irwan tersenyum melihat keduanya. Sebenarnya ia berkeinginan untuk menjodohkan Aldi dengan putrinya. Dulu, ayah Aldi berwasiat ingin menjodohkan putranya dengan Liona.
"Silakan, duduk." ucap Aldi.
Setelah semua orang duduk di kursi masing-masing.Aldi membuka suara.
"Jadi Om ingin menjalin kerjasama dengan perusahaan saya?"tanya Aldi menatap Irwan.
" Tentu, Aldi.Karna bila kita bekerjasama, maka kamu akan mendapatkan keuntungan yang cukup besar."ujar Irwan. Aldi tampak diam dengan bertopang dagu di kedua tangannya.
"Berapa persen keuntungan saya dapatkan, bila kita resmi bekerja sama? Karna saya hanya takut ucapan Om tidak sesuai dengan apa yang di ekspetasi'kan," ujar Aldi tegas.
"Keuntungan yang nanti akan kau dapatkan sekitar 60% dan Om 40%," jawab Irwan."Bukan hanya itu tapi juga keuntungan kenaikkan ekuitas atau aktiva bersih."
Aldi terdiam dengan satu alis yang terangkat, tampak berpikir. Keuntungan yang Irwan janjikan cukup menggiurkan.Tapi Aldi merasa ada maksud lain,Irwan mengajaknya untuk bekerja sama. Tentu ,berhubungan dengan Liona yang tiba-tiba di ajak ke ruang rapat yang tidak ada peran apapun di rapat kali ini.
"Baiklah, saya akan terima tawaran kerja sama, Om." jawab Aldi, membuat senyuman Irwan mengembang.
__ADS_1
"Syukur bila kau menyetujui kerjasama ini. Bukan hanya keuntungan yang kita dapatkan tapi untuk menjalin kedekatan ,Aldi. Semenjak orang tua mu meninggal. Kita jarang bertemu bahkan tidak bertemu sama sekali," ujar Irwan melirik Liona yang tersenyum sembari mencuri pandang dengan Aldi.
Bagaimana mungkin para wanita tidak terpesona termasuk Liona dengan Aldi yang memiliki paras yang sangat tampan, alis tebal yang hampir menyatu, hidung mancung, rahang yang kuat dengan garis wajah tegas dan warna kulit kuning langsat.
🍄🍄🍄🍄🍄
Ria dengan sangat pelan meletakkan Raja yang sudah tertidur pulas di kamar pribadi Aldi yang ada di ruangan itu. Tidak lupa membalut tubuh kecil itu dengan selimut sebatas dada.
"Semakin besar wajah Raja malah mirip seperti Aldi," gumam Ria memperhatikan wajah Raja lekat.
Ria turun dari kasur yang hanya cukup untuk satu orang itu. Dia keluar dari kamar.Ria mengambil mangkok bakso yang sudah habis ia makan. Tangannya merogoh sesuatu di dress nya.
"Mas Aldi belum memberikan aku uang," menolog Ria.
Pandang mata Ria mengedar, memperhatikan setiap jengkal ruang kerja Aldi.Ruangan yang di dominasi warna coklat dan hitam bahkan aroma maskulin yang menguar, menusuk indra penciumannya. Kakinya melangkah ke kursi kebesaran berwarna hitam tersebut.
Ria mendudukkan dirinya di sana. Rasanya sangat nyaman dan tentu, empuk sekali. Senyuman tercipta di bibir ranum Ria.
"Jadi seperti ini rasanya jadi CEO. Hanya duduk-duduk saja dan tanda tangan kertas, " monolog Ria.
"Kalau pekerjaannya, hanya seperti ini. Aku juga bisa. Orang kaya memang enak kalau urusan bekerja. Bahkan mencari uang pun tidak harus bersusah-payah... " ujar Ria yang kini suaranya terdengar sendu.
"Apakah aku akan tetap bersama, Mas Aldi? Aku takut dia meninggalkan aku dan memilih bersama wanita lain."
Ria menundukkan kepalanya. Kristal bening jatuh dari manik mata indahnya.
"Hmm... " Suara deheman seseorang membuat lamunan Ria buyar.
Ria mengangkat kepalanya.Pandangan matanya langsung bertemu dengan netra hitam pekat milik Aldi. Pria itu berjalan ke arah Ria dengan satu tangan yang di masukkan ke saku celana. Matanya masih fokus menatap sang istri.
Ria mendongak kala Aldi berdiri di hadapannya yang masih dalam posisi duduk. Pria itu merendahkan tubuhnya sejajar dengan Ria.
"Kamu kenapa, hmm?" Aldi menyentuh dagu Ria.
"A-aku tidak apa-apa," jawab Ria, kembali menundukkan kepalanya. Menyembunyikan pipi yang sudah merah dengan mengulum senyuman.
"Eh... "
Ria tersentak kala Aldi menarik tangannya ,refleks ia berdiri dari kursi kebesaran dari pria tersebut. Apakah Aldi marah? Karna dia duduk di kursi itu.
__ADS_1
Ria kembali tersentak kaget. Aldi menarik tangannya hingga ia jatuh dalam pangkuan Aldi yang duduk di kursi.
"Kenapa melamun ? Kepala pusing atau tidak enak badan? "Beberapa pertanyaan Aldi lontarkan pada Ria.
" Tidak. Hanya takut Mas marah karna sudah lancang duduk di kursi ini,"cicit Ria pelan.
Ada terselip rasa bersalah dibenak Aldi. Mungkin dia keterlaluan pada Ria tadi pagi, bersikap acuh dan seolah tidak peduli.Hingga wanita ini ketakutan.
"Hei, Mas tidak marah sayang. Kamu boleh duduk di sini setiap saat. Apa perlu kursi ini di bawa pulang ke rumah,agar kamu leluasa mendudukinya," ujar Aldi.
"Memang boleh?" tanya Ria dengan mata berbinar.
"Tentu.Mas tinggal beli lagi."
Aldi membelai pipi Ria lembut. Tangannya menyentuh bibir mungil yang menjadi candunya.
"Tapi, aku mau punya ruangan seperti ini di rumah. Aku juga ingin seperti Mas Aldi.Jadi CEO, yang hanya duduk dan tanda tangan saja," ucapnya polos.
Karna Ria sering membaca novel. Yang dia tahu menjadi CEO merupakan pekerjaan yang ringan bahkan sangat enak.
"Astaga, sayang. Jadi pemimpin perusahaan itu tidaklah mudah. Tanggung jawabnya besar dan tidak asal tanda tangan berkas ,sayang." tutur Aldi gemas dengan wanitanya.
Ria menatap bibir tebal Aldi. Dia meneguk ludahnya kasar seolah ada hasrat untuk mencicipi bibir tersebut.
Tanpa ada rasa malu. Ria mendekatkan wajahnya dengan Aldi. Hingga bibir keduanya menyatu. Tubuh Aldi langsung menegang dengan apa yang istrinya lakukan. Ria memagut bibir Aldi dengan rakus, seakan itu bukan diri Ria yang sebenarnya.
Ria melepaskan tautan bibirnya hingga saliva miliknya menetes di celana Aldi.
"Mas, kenapa tidak balas?" gerutu Ria.
"Balas apa, sayang?"tanya Aldi seolah tidak paham.
" Itu, ciuman aku kenapa tidak balas, ih.Aku lagi pengen ciuman, Mas."rengek Ria.
"Coba memohon dulu, nanti Mas kasih," ujar Aldi dan Ria merengut.
"Mas Aldi, aku mau ini. Mau cium."pinta Ria dengan bibir di majukan.
Sungguh, Aldi ingin tertawa sekeras-kerasnya. Ria nya jadi agresif seperti ini.
__ADS_1
Bersambung...