MENIKAH KARNA WASIAT

MENIKAH KARNA WASIAT
Part 35


__ADS_3

...~Happy reading~...


Dengan hati-hati Ria turun dari motor tersebut,tangannya di pegang Aldi yang masih duduk di jok motor.


"Pelan-pelan,Ria."peringat Aldi.


Setelah memastikan Ria turun dengan aman dari atas motor.Aldi memarkirkan kendaraan roda dua itu di depan teras rumah.


Aldi berjalan mendekati Ria dan menggenggam tangannya.


TokΒ  tok


Aldi mengetuk-ngetuk pintu beberapa kali,tidak lama seorang wanita paruh baya membuka pintu tersebut.


"Bi,tolong buatkan teh hangat dan antar ke kamar,"titah Aldi yang di angguki bi Asih.


Ria berjalan di belakang Aldi dengan tangan yang saling bertautan.Keduanya masuk ke dalam kamar.


" Lepas dulu jaketnya,"Aldi membuka resleting jaket milik Ria.


Pria itu meletakkan jaket yang di kenakan Ria tadi ke tempat pakaian kotor bersamaan dengan jaket miliknya juga.


"Kamu duduk dulu di sofa, jangan berbaring di kasur."


Ria hanya menganggukkan kepalanya patuh.Sementara Aldi masuk ke kamar mandi dan tidak lama kembali keluar dengan handuk kecil yang sudah di basahi dengan air hangat di kamar mandi.


Aldi berjongkok di hadapan sang istri dan mulai melap kaki Ria dengan telaten.


"Kenapa kaki aku di lap,Mas?" tanya Ria heran.


Aldi mendongak menatap Ria."Kamu habis dari luar dan pasti banyak debu yang menempel di kaki,"tutur Aldi yang masih setiap melap kaki Ria.


TokΒ  tok


Suara ketukan dari luar pintu,membuat perhatian Aldi dan Ria teralihkan.


"Masuk!" ucap Aldi sedikit meninggikan suaranya.


Bi Asih masuk ke dalam kamar dengan membawa secangkir teh hangat sesuai permintaan Aldi.


"Ini Den Aldi tehnya."


"Letakkan di meja, Bi." ucap Aldi yang bangkit setelah selesai melap kaki Ria.


"Bi, tolong jaga Raja yang tidur di kamar sebelah.Kalau bisa Bibi juga tidur di sana." ujar Aldi dan bi Asih menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu saya permisi, Den Aldi."


"Hmm... "


Setelah kepergian bi Asih.Aldi mengambil cangkir teh tersebut dari meja dan memberikannya pada Ria.


"Minum dulu."


Ria mengambil cangkir teh yang di sodorkan Aldi padanya.Meminum beberapa teguk dan meletakkan di meja sampingnya.


"Mas,kenapa akhir-akhir ini perut ku sering sakit? Lalu, kenapa Mas Aldi selalu memberikan aku obat setiap sakit perut ku kambuh, bukannya ibu hamil tidak boleh terlalu sering minum obat-obatan ya?"


Pertanyaan Ria berhasil membuat tubuh Aldi membeku.Namun,sedetik kemudian ia tersenyum.Mengusap puncak kepala Ria lembut.


"Kemaren kamu hampir keguguran, sayang.Dan dokter memberikan obat untuk pemulihan," ujar Aldi.


"Sekarang, kamu tidur."

__ADS_1


Aldi menggendong Ria yang tersentak kaget.Dia berjalan mendekati ranjang dan membaringkan Ria di kasur dengan pelan-pelan.


"Mas, mau ke mana?" tanya Ria yang mencekal pergelangan tangan Aldi yang hendak beranjak.


"Mas mau cek Raja di kamar sebelah.Takutnya dia ke bangun tidurnya," ujar Aldi.


Ria mengangguk dan melepaskan cekalan tangannya.Aldi beranjak, keluar dari dalam kamar.


*****


"Astaga!"


Bi Asih mengusap dadanya kaget,kala Aldi tiba-tiba sudah berada di sampingnya yang tengah mencuci piring kotor.


"Bi,nanti kalau saya tidak ada di rumah.Dan Ria mengeluh sakit perut berikan obat ini."


Aldi mengeluarkan dua botol kecil obat berbentuk kapsul.Dua jenis obat itu merupakan menghilangkan nyeri di perut dan penguat kandung lemah.


Bi Asih menerima dua botol kecil tersebut dari Aldi.Tanpa ingin bertanya tentang obat tersebut. Tugasnya hanya menjalankan apa yang di perintah majikannya.


"Kalau Ria bertanya tentang obat ini,katakan saja ini obat vitamin atau obat pereda sakit."


Lagi-lagi bi Asih hanya manggut-manggut dengan apa yang Aldi perintahkan.


****


Aldi tersenyum kala masuk ke dalam kamar.Dia berjalan mendekati Ria yang sudah tertidur lelap.Satu kecupan pria itu berikan di kening sang istri.


"Tidur yang nyenyak istri ku."


Setelah itu Aldi berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh wajah dan kaki


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


"Eugh... "


Ria melenguh,tangannya meraba-raba kasur di sebelahnya yang kosong.Ia mengocek matanya dan bangun dari tidurannya.


"Mas Aldi mana?" gumam Ria,yang tidak mendapati sosok suaminya di kamar ini.


Ria bangkit dari kasur, sesekali menguap karna rasa kantuk yang masih tersisa.Dia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan pipis.


*****


Suara langkah kaki terdengar jelas ketika Ria menuruni anak tangga.Dia berjalan ke meja makan yang sudah tersedia beberapa jenis makanan untuk sarapan pagi.


"Selamat pagi Non Ria."sapa bi Asih sembari meletakkan soup ayam di meja.


" Pagi juga, Bi."


"Bi, Mas Aldi di mana.Tadi di kamar sudah tidak ada,"ujar Ria,seraya mengambil piring kosong di dekatnya.


" Den Aldi pagi-pagi sekali sudah berangkat.Katanya ada operasi mendadak,"ucap bi Asih. Ria hanya ber'oh'saja dengan kepala manggut-manggut.


"Bi,kenapa masaknya banyak sekali.Apa tidak mubazir?" tanya Ria menatap makanan yang ada di atas meja.


"Oh,ini Den Aldi yang menyuruh Bibi masak yang banyak untuk Non Ria.Katanya Ibu hamil harus makan yang banyak dan sehat-sehat."


"Aku sampai lupa,Bi.Nama Bibi siapa? Dari tadi aku ngobrol dengan Bibi tapi tidak tahu namanya." ujar Ria tersenyum.


"Panggil saja Bi Asih, Non."


"Salam kenal ya Bibi," ucap Ria terkekeh pelan dan bi Asih tersenyum.

__ADS_1


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Aldi duduk bersandar di kursi, sorot mata yang tajam mengarah pada Liona yang duduk di sebrang.


Gadis itu pagi-pagi sekali sudah berada di depan ruang kerja Aldi.Dia ingin bertemu dan minta maaf pada pria tersebut agar kasus yang menjeratnya segera selesai dan ia tidak harus berurusan dengan pihak polisi.


"Aku minta maaf telah mencelakai,Ria.Aku tidak sengaja melakukan itu.Aku hanya cemburu dan marah kau berdekatan dengan Ria yang ternyata istri mu,Aldi."


Liona tertunduk sertai menahan tangisnya.Dia tidak berani menatap balik Aldi karna tatapan tajam yang di berikan pria tersebut.


Aldi memalingkan wajahnya dan berdecih."Kau kira dengan kata maaf bisa membuat semua masalah yang kau timbulkan akan terselesaikan!Istri ku hampir keguguran dan itu karna kau!"cetus Aldi dengan kasar.


Liona menatap Aldi dengan wajah yang sudah di banjiri air mata."Aku mengaku salah.Tapi itu ketidak sengajaan.Aku kira Ria itu wanita bayaran mu."


Brak!


Aldi mengebrak meja dengan kasar membuat Liona terperanjat kaget sekaligus ketakutan.


"Kau bilang tidak sengaja, hah?!Kalau pun Ria bukan istri ku.Bukan berarti kau bisa bersikap sekasar itu pada orang lain."


"Kalaupun saya belum menikah,gadis yang akan saya nikahi bukan kamu!Kamu cemburu saya berdekatan dengan wanita lain, sedangkan kau tidak memiliki hubungan apapun dengan saya!" ucap Aldi penuh penekan dan intonasi suara yang meninggi.


Liona yang mendengar itu langsung tertohok.Dia mengigit bibir bawahnya kuat menahan tangisannya dengan rasa sakit luar biasa dalam hatinya.


"Keluar dari ruangan saya!" bentaknya dengan wajah merah padam di wajah Aldi karna emosi.


"Ta-tapi aku mohon,tolong cabut tuntutan kamu,Aldi." mohon Liona.


"Keluar!" bentaknya lagi tidak memperdulikan ucapan Liona.


Dengan berat hati serta ketakutan.Liona keluar dari ruangan Aldi.


Sementara Aldi langsung menjatuhkan tubuhnya ke kursi dengan napas yang memburu.Pagi-pagi emosinya sudah tersulut.


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Ria mencengkram perutnya di balik baju.Sambil mengunyah makanan,dia merintih kesakitan yang tertahan.


Nyeri di perutnya yang makin menjadi-jadi.Tak terasa air mata jatuh tanpa diinginkan Ria.


"Non Ria kenapa?" tanya bi Asih memperhatikan wajah Ria pucat pasi dan berkeringat.


"Pe-perut aku sakit,Bi."jawab Ria.


Bi Asih yang mendengar jawaban Ria, langsung bergegas ke dapur mengambil obat yang di berikan Aldi untuk Ria bila sakit perutnya kambuh.


" Non Ria, minum dulu obat ini ya."


Bi Asih menyodorkan dua pil obat pada Ria.


"Kenapa aku harus mengonsumsi obat itu terus?Kenapa perut ku jadi sering sakit." batin Ria bertanya-tanya.


Ria mengambil dua pil obat yang di berikan bi Asih.


"Ayo Non ,di minum dulu obatnya supaya tidak sakit lagi perutnya."


Bi Asih masih setia berdiri di samping Ria,seakan mengawasi bila majikannya itu meminum obat itu.


"Bi, tolong kupaskan buah apel,biasanya lidah ku pahit setelah minum obat." ucap Ria.


"Baik Non Ria."Bibi Asih segera pergi ke dapur.


Sementara Ria bangkit dari tempat duduknya.Dia membuang pil obat yang di berikan bi Asih tapi ke bak sampah.

__ADS_1


" Aku tidak ingin mengonsumsi obat terus."gumamnya, kembali ke tempat duduk dengan langkah pelan, menahan sakit di perut.


__ADS_2