
Aldi menghentikan pergerakkan tangannya yang tengah memijit kaki Ria. Dia menatap sang istri sudah tertidur pulas. Sepertinya Ria memang benar-benar kelelahan.
"Tidur yang nyenyak ya sayang," ucap Aldi seraya mengecup kening Ria yang tampak menggeliat kecil.
Pria itu menarik selimut hingga menutupi tubuh Ria sebatas dada. Aldi bangkit dari sisi ranjang dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
"Tante dari mana?" ucap Aldi ketika berpapasan dengan Alyssa. Pandangan matanya menelisik barang bawaan wanita itu.
"Ya habis shopping, lah, kamu kira Tante hanya berdiam diri saja di rumah," ucapnya dengan nada ketus.
"Tapi Tante dapat uang dari mana sampai bisa belanja sebanyak ini?" Tatapan Aldi terfokus pada kalung liontin emas yang melingkar di leher Alyssa serta cincin emas permata tersemat di jari manis wanita paruh baya itu.
"Heh, kamu kira Tante ini tidak punya uang sama sekali sampai kamu bertanya seperti itu. Bahkan kalau Tante mau sesuatu, tinggal Tante beli meski harganya sangat mahal sekalipun," ucap Alyssa dengan angkuhnya.
Sementara Aldi menggeleng pelan melihat tingkah tantenya tersebut. Dia tahu betul kondisi perekonomian Alyssa sekarang.
"Ooh iya, apa besok kamu pergi bekerja?"
Kening Aldi mengkerut mendengar pertanyaan Alyssa. Tidak biasanya Alyssa menanyakan hal itu.
"Iya, besok aku harus bekerja dan berangkat pagi. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, Tante hanya ingin bertanya saja. Dan bagaimana keadaan Ria, tadi Tante lihat dia sepertinya tidak enak badan."
"Dia baik-baik saja, Tante. Mungkin hanya butuh istirahat saja.
Alyssa manggut-manggut. Namun Ia menyeringai, tentu pertanyaan yang Ia lontarkan pada Aldi bukan hanya basa-basi semata tapi ada maksud lain yang terselubung.
*****
Aldi yang kembali masuk kamar sedikit kaget melihat Ria baru saja keluar dari kamar mandi. Padahal saat Ia tinggal keluar kamar wanita itu baru saja tertidur.
"Mas kira kamu masih tidur, Sayang." Aldi melangkah mendekati Ria yang diam terpaku menatap suaminya.
"Masih sakit kakinya?" tanya Aldi dan Ria menggeleng lemah.
Wanita itu melangkah maju mengikis jarak dengan Aldi dan memeluk tubuh besar suaminya. Ia menenggelamkan wajahnya di dada kokoh Aldi.
"Sebaiknya kamu istirahat lagi. Atau kamu lapar, hmm?" tanya Aldi. Satu tangannya mengusap punggung Ria lembut dan tangan yang lain merengkuh pinggang sang istri.
Hening.
Tidak ada percakapan lagi. Ria masih diam, tak ada niat untuk menyahuti ucapan suaminya. Dan sekarang Ia begitu nyaman dengan posisinya sekarang. Sebenarnya Ia ingin sekali mengadukan semua keburukan Alyssa padanya saat Aldi tidak ada di rumah. Tapi di sisi lain Ia tidak ingin membuat hubungan antara tante dan keponakan itu merenggang.
"Apa kamu ingin menceritakan sesuatu dengan Mas?" Ucapan Aldi membuat Ria melepaskan pelukannya dan menatap lekat Revin.
"Bercerita apa?" Ria balik bertanya seolah tidak paham maksud suaminya.
"Ya...menceritakan sesuatu yang mungkin saat ini tengah membebani pikiran kamu," balas Aldi.
Wanita itu tersenyum tipis." Tidak ada." Ria menundukkan kepalanya sejenak dan kembali menatap Aldi."Mas, aku lapar."
__ADS_1
"Kalau begitu Mas minta bibi membuatkan makanan untuk kamu dulu ya. Kamu mau makan apa?"
"Aku maunya Mas Aldi yang membuatkan makanan untuk ku. Aku ingin makan masakan buatan Mas," ucap Ria dengan tatapan memohon.
"Baiklah, Mas akan membuatkan makanan spesial untuk kamu. Sekarang kamu duduk yang manis atau berbaring di kasur sambil menunggu Mas buatkan makanan untuk kamu." Ria mengangguk dengan mata berbinar.
*****
"Den Aldi, mau makan? Sini biar Bibi yang masakkan makanannya," ucap bi Ina ketika mendapati majikannya---Aldi----tengah sibuk memotong bawang di dapur.
"Tidak usah, Bi. Ini permintaan Ria yang ingin makan masakan saya. Kalau Bibi yang masakin takutnya Ria tidak mau makan," balas Aldi dengan senyuman segaris di bibirnya.
"Ooh begitu ya, Den. Kalau begitu Bibi siapkan bahan-bahan masakkannya ya, Den. Memangnya Den Aldi mau masak apa?" bi Ina kembali melontarkan pertanyaan dan sekilas menatap beberapa bawang putih yang sudah di kuliti majikannya tersebut.
"Sepertinya nasi goreng, Bi. Karna hanya itu yang bisa saya masak."
"Ya sudah, Bibi siapkan dulu nasinya." bi Ina mengambil piring dan membuka Rice cooker , mengambil nasi yang baru saja Ia masak secukupnya.
"Ini, Den," bi Ina meletakkan piring yang sudah berisi nasi di dekat Aldi."Mau Bibi bantu masak nasi gorengnya?"
"Tidak usah, Bi. Sebaiknya Bi Ina istirahat. Kasihan Bibi sudah seharian mengurus rumah," balas Aldi menolak bantuan bi Ina.
"Kalau begitu Bibi ke kamar. Tapi kalau Aden Aldi butuh sesuatu panggil saja Bibi." Aldi mengangguk.
Setelah kepergian pembantunya tersebut, Aldi kembali fokus pada nasi goreng yang tengah Ia buat. Pria itu juga memasukkan bumbu nasi goreng instan. Setelah nasi goreng yang Ia buat sudah siap, Aldi menyajikannya ke dalam piring dengan porsi yang cukup banyak. Ia yakin pasti Ria sangat kelaparan di tambah ada makhluk kecil yang juga butuh asupan makanan dalam rahim istrinya tersebut.
Senyuman lebar merekah lebar di bibir pria tampan tersebut.
"Kamu makan dulu, Mas buatkan nasi goreng. Sedang baca apa?" tanya Aldi melirik sebuah majalah yang dipegang Ria.
"Lagi baca majalah tentang bayi. Sebentar lagi, kan, aku akan melahirkan," jawab Ria disertai senyuman manisnya.
Aldi manggut-manggut sambil tersenyum."Sekarang makan dulu."
Aldi meletakkan nampan tersebut di atas meja dekat kasur.
"Biar Mas menyuapi kamu," ucap Aldi ketika Ria hendak mengambil alih piring berisi nasi goreng ditangannya.
"Buka mulutnya." Ria membuka mulutnya, menerima suapan yang suaminya berikan. Wanita itu kembali fokus pada majalah yang Ia pegang dan kembali membuka mulutnya ketika makanan yang di kunyah sudah Ia telan.
Sementara Aldi menatap lekat wajah Ria yang tampak tidak menyadari dengan tatapan yang suaminya berikan. Wanita itu terlalu fokus pada majalah yang dua hari lalu dibelikan suaminya.
"Apa kamu bahagia menikah dengan Mas, Sayang?" celetuk Aldi dan Ria menoleh menatap suaminya. Wanita itu menelan kasar makanan dalam mulutnya sebelum menjawab pertanyaan suaminya.
"Lebih dari itu Mas. Bukan hanya kebahagiaan yang aku dapatkan tapi juga cinta dan kasih sayang yang Mas Aldi berikan. Aku kira tidak akan ada laki-laki yang mau menerima aku beserta masalalu kelam ku. Bolehkah aku mengatakan, kalau aku sangat bersyukur mas Rayyan menitipkan aku dengan Mas Aldi," tutur Ria dengan pelupuk mata yang mulai merembun. Semuanya yang Ia ucapkan murni dari lubuk hatinya.
Sementara Aldi tampak terdiam setelah mendengar penuturan Ria. Ada letupan dihatinya yang membuat rasa bahagia dan kesedihan membaur dalam benaknya saat ini.
"Sini, peluk Mas dulu," ucap Aldi seraya menarik lembut pergelangan tangan Ria agar mendekat.
Ria langsung menyusupkan dirinya dalam pelukan hangat Aldi yang selalu membuat perasaannya tenang. Usapan yang begitu nyaman wanita itu rasanya di pucuk kepalanya serta kecupan basah yang suaminya berikan di keningnya.
__ADS_1
"Mas juga sangat bahagia dan bersyukur dititipkan Rayyan wanita seperti kamu, Sayang." Aldi semakin erat memeluk tubuh mungil sang istri seolah takut kehilangan Ria.
Keduanya larut dalam pelukan hangat dan perasaan mereka masing-masing. Tidak ada yang lebih membahagiakan dan menenangkan ketika dua jiwa yang saling mencintai bersatu.
****
"Mas, pergi dulu ya Sayang." Aldi mengecup bibir mungil Ria yang tampak kaget menerima ciuman mendadak suaminya. Hari ini Aldi berangkat ke perusahaan cukup pagi karna ada rapat penting setelah itu baru ke rumah sakit untuk praktek.
"Ayah pergi dulu, Nak. Jaga Bunda baik-baik." Aldi mencium pipi gembul Raja yang tampak tertawa menerima ciuman dari ayah sambungnya itu.
"Mas, nanti pulangnya jangan larut malam," ucap Ria.
"Iya, Sayang. Jaga diri baik-baik." Lagi, pria itu kembali mencium Ria.
Pria yang mengenakan kemeja abu-abu dengan menenteng tas kerjanya bergegas menuju ke pintu keluar. Ia tidak ingin terlambat datang ke rapat yang cukup penting.
Kini, tinggal, lah, Ria dan Raja di meja makan. Mereka berdua tengah menikmati sarapan pagi seperti biasanya. Raja tampak lahap mengunyah tahu putih yang dimasakan bi Ina. Sementara Ria sibuk dengan lamunannya setelah kepergian Aldi. Tiba-tiba perasaan langsung diselimuti kegelisahan.
*****
Ria tertawa melihat tingkah lucu Raja apalagi saat Ia sengaja memasangkan kaca mata bening milik Aldi pada anaknya lelakinya itu. Sementara balita berusia dua tahun itu ikut tertawa. Mereka berdua tentang berada di kamar dan sedang duduk di atas kasur. Namun, tawa Ria langsung lenyap ketika suara pintu kamar terbuka. Tentu, wanita itu langsung menatap pada sosok pria yang kini berdiri di ambang pintu dengan senyuman yang sulit diartikan.
Ria langsung menarik putranya---Raja---ke dalam pelukannya.
"Kau...pergi dari sini!" usir Ria dengan suara yang nyaring dan tubuh bergemetar karna ketakutan menatap sosok Kenzo yang menatap lekat dirinya.
Sementara Kenzo semakin melebarkan senyumannya menatap wajah ketakutan Ria, terlihat begitu menggemaskan.
"Langsung saja kau bawa dia, terserah mau kau apa, kan," ucap Alyssa yang muncul di balik tubuh besar Kenzo.
Ria terperangah mendengar ucapan Alyssa dan syok. Apakah ini bagian dari rencana Alyssa hingga Kenzo dengan mudahnya bisa masuk rumah ini.
"Aku salah apa sama Tante? Aku tidak pernah menganggu kehidupan Tante atau mencari masalah dengan Tante Alyssa! Dengan seenaknya Tante menyuruh laki-laki brengsek ini membawa ku!" ucap Ria dengan suara meninggi dan terdengar bergetar.
Alyssa terkekeh pelan." Tidak perlu aku jawab, kau sudah tahu alasan ku membenci kamu."
"Cepat bawa dia Kenzo, sebelum Aldi datang," titah Alyssa mewanti-wanti.
"Aku tidak mau ikut dia!" teriak Ria semakin mendekap kuat tubuh mungil Raja yang menangis kencang.
Kenzo melangkah mendekati Ria yang semakin mundur menjauh.
______________
Hay-hay semuanya. Maaf lama tidak update ya🙏 walaupun begitu aku akan tetap menyelesaikan cerita ku ini.
Terima kasih yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.
Dan cerita dari sequel Hanu dan Zana belum bisa publish. Mungkin yang publish duluan sequel dari anak Devan dan Dinda🙏
Doakan semoga semangat nulis ku kembali lagi🤕
__ADS_1