
...Menikah itu bagian dari hidup bukan tujuan dari hidup....
...~Happy Reading~...
Angin bertiup kencang disertai hujan yang sangat deras di luar sana. Aldi semakin mendekap tubuh mungil Ria yang tidur begitu nyenyak dalam dekapan suaminya. Tangan Aldi terus mengusap punggung Ria. Dan sesekali mencium kening wanita itu. Emosinya belum mereda setelah mendengar pernyataan Ria, bagaimana pun Ia tidak sudi dan tak rela miliknya di sentuh.
"Belum tidur?" tanya Ria serak yang terjaga tidurnya. Ia mendongak menatap suaminya.
"Mas belum mengantuk, Sayang. Kenapa bangun, hmm? Lapar?" Ria mengangguk. Entah kenapa setiap malam Ia selalu merasa lapar, mungkin karna tengah mengandung.
"Kamu mau makan apa?" tanya Aldi lembut tanpa menghentikan usapannya di punggung sang istri.
"Terserah."
"Tunggu sebentar ya, Mas cek dulu di dapur. Mungkin masih ada makanan yang masih tersisa di meja makan." Aldi melepaskan dekapannya pada Ria dan bangun dari kasur.
"Mas, aku ikut."
"Tidak usah Sayang. Tetap di sini, Mas hanya sebentar."
Ria mencebikkan bibirnya. Aldi segera melangkah keluar kamar dan berjalan menuju ke dapur yang pencahayaan nya remang-remang. Pria itu menyalakan skelar lampu.
"Masih bisa di panaskan," gumam Aldi setelah membuka tudung saji dan mendapati tiga ayam goreng.
Aldi memasukkan tiga ayam goreng tersebut ke dalam microwave, bila di goreng kembali untuk memanaskan nya mungkin waktunya akan sedikit lama. Sambil menunggu ayam yang dipanaskan di microwave, Ia mengambil nasi di rich cooker.
"Masih lama?"
"Ria...!" Aldi terperanjat kaget melihat sang istri sudah berdiri di sampingnya. Wanita itu tampak terkekeh melihat raut keterkejutan suaminya.
"Jangan muncul mendadak seperti itu, Mas kaget."
"Maaf, aku sudah sangat lapar."
"Duduk di kursi, sebentar lagi ayamnya selesai di panaskan." titah Aldi.
Dengan patuh Ria mendudukkan dirinya di kursi. Senyumannya mengembang dan mata yang berbinar melihat Aldi meletakkan piring berisi nasi dan ayam goreng. Asap mengepul dari daging ayam yang Aldi potong-potong kecil untuk memudahkan sang istri memakannya.
__ADS_1
Wanita itu melepaskan gelang karet yang melingkar di pergelangan tangannya dan mengingatkan gelang karet tersebut ke rambutnya yang selalu Ia gerai.
"Ayo di makan." ucap Aldi. Ria mengangguk dan segera memasukkan nasi serta daging ayam itu ke mulutnya. Aldi mengambil segelas air putih hangat dan meletakkannya di dekat Ria. Ia duduk di samping Ria yang begitu lahap memakan hidangan yang tersedia di hadapannya sekarang.
Wanita itu tidak terlalu menuntut soal makanan. Apapun yang bi Ina buat Ria selalu memakannya tanpa banyak protes, contohnya seperti ini. Aldi bersyukur setelah usia kandungan Ria memasuki enam bulan, istrinya tidak mengalami mual ataupun kepala yang tiba-tiba pusing seperti awal hamil.
"Besok kamu ikut Mas ke rumah sakit ya?" ucap Aldi dan Ria menghentikan kunyahannya.
"Kenapa aku harus ikut dengan Mas?" tanya Ria menelan kasar makanannya.
"Hanya takut terjadi sesuatu dengan kamu bila Mas tinggalkan di rumah. Walaupun ada bi Ina di rumah tapi Mas tetap tidak tenang meninggalkan kamu dan Raja," papar Aldi. Kejadian tadi pagi sudah membuat Ia lebih memperkuat penjagaannya pada sang istri termasuk pada buah hati yang kini dalam kandungan Ria.
Ria terdiam sejenak sambil mengaduk-aduk makanannya." Memangnya kalau aku ikut Mas ke tempat kerja apa tidak mengganggu?"
"Tentu tidak Sayang. Mas akan lebih tenang kalau kamu bersama Mas," balas Aldi tersenyum." Cepat habiskan makanannya supaya lekas tidur."
Ria mengangguk.
Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut wanita itu. Aldi tampak tak bosan-bosannya memandangi wajah Ria yang fokus menikmati makanannya. Wanita itu tampak sangat mengemaskan bagi Aldi. Apalagi tubuh Ria semakin berisi, membuat Ia terlihat lucu. Dan jangan lupakan pipi bulatnya.
"Sudah besar tapi masih saja blepotan," ucap Aldi terkekeh seraya mengambil butiran nasi yang melekat di sudut bibir Ria. Wanita itu hanya tersenyum kecil seraya mengambil air putih di dekatnya.
Ria sedikit tersentak kala Aldi mengikis jarak dengannya. Hingga perut buncitnya menyentuh bagian tubuh suaminya. Aroma mint tercium jelas dari hembusan napas Aldi.
Cup
Pria itu mengecup bibir ranum Ria yang basah setelah meneguk air putih. Tangan kekarnya merengkuh pinggang Ria bersamaan bibirnya mel*mat lembut benda kenyal itu.
"Mmhhpp...berhenti." Ria mendorong dada kokoh Aldi hingga tautan bibir mereka berdua terlepas. Ada rasa tidak rela bagi Aldi ketika ciuman mereka terlepas.
"Ja...jangan di sini. Kita ke kamar saja," cicitnya malu-malu dan semburat merah terlihat jelas di kedua pipi chubby nya.
Ria segera beranjak dari kursi dan melangkah cepat ke kamar . Aldi dengan tidak sabaran menyusul sang istri. Sudah beberapa hari Ia tidak melakukannya dengan Ria. Tentu Ia sangat merindukan kehangatan tubuh sang istri.
•
•
__ADS_1
"Sedikit menunduk Mas," ucap Ria yang kesulitan memasangkan dasi di leher suaminya karna badan Aldi begitu tinggi baginya . Aldi menunduk hingga tinggi badannya setara dengan Ria.
Wanita itu tampak serius memasangkan dasi di leher suaminya.
"Kamu jangan lupa siap-siap juga, bawa keperluan Raja. Nanti setelah pulang dari rumah sakit, Mas akan mengajak kalian berdua ke taman," ucap Aldi.
"Kenapa harus ke taman?" tanya Ria yang baru saja selesai memasangkan dasi pada suaminya.
"Memangnya kamu mau ke mana, hmm? Di taman kita bisa beli jajanan ke sukaan kamu. Kalau Mas mengajak ke restoran terus yang ada kamu bosan apalagi pergi ke mall. Setidaknya kita meluangkan waktu dan bersenang-senang meski ke tempat yang menurut kamu atau orang lain biasa saja." Aldi kembali mendudukkan kepalanya dan mencium bibir ranum Ria." Selalu manis."
Ria mengulum senyumannya mendengar itu.
Setelah menghabiskan waktu hampir 25 menit diperjalanan, kini ketiganya sudah sampai di rumah sakit yang sudah terlihat suster dan pengunjung rumah sakit yang berlalu lalang di lorong. Aldi menggendong Raja yang tampak fokus pada mainannya yang Ia pegang dan terkadang mengemuti mainan itu. Sementara Ria menatap sekitar rumah sakit, tangannya di genggam erat Aldi. Mereka bertiga terlihat seperti keluarga yang sangat harmonis.
"Kalian tunggu di sini sebentar ya?" ucap Aldi meletakkan Raja di atas brankar.
"Mas mau ke mana?" tanya Ria.
"Absen dulu, Sayang." Aldi tersenyum tipis.
"Maiza, apa ada operasi hari ini?" tanya Aldi ketika asistennya baru masuk ke ruangannya.
"Tidak ada, Pak. Hanya ada sepuluh pasien yang akan anda periksa dan sudah mengatur pertemuan dengan anda hari ini," jawabnya.
"Baik. Saya titip istri dan anak saya dulu," ucap Aldi dan Maiza mengangguk dengan senyuman manisnya.
Setelah kepergian Aldi, Maiza melirik sinis Ria. Tangan kanannya terkepal. Pandangan matanya melihat Ria dari atas sampai bawah seolah menilai. Menurutnya Ia lebih baik dibanding Ria tentu dari segi bentuk tubuh dan kecantikan yang Ia miliki. Ia sudah tiga tahun menjadi asisten Aldi, tapi pria itu tidak pernah melirik atau memperhatikannya, dan gilanya lagi Aldi lebih memilih Ria yang sudah memiliki anak.
"Jangan menyentuh barang-barang yang ada di meja dokter Aldi..." tegur Maiza sedikit ketus pada Ria yang hendak mengambil sesuatu di laci suaminya.
"I...iya," balas Ria mengurungkan niatnya.
"Perempuan rendahan..." gumam Maiza berdecih sinis dan tatapan yang seolah merendahkan.
_______________
Hay-hay semuanya!^^
__ADS_1
Maaf agak telat updatenya ya. Dan terima kasih sudah mampir ke karya ku.
Jangan lupa mampir ke akun instagram ku @khazana_va tempat aku mengupdate informasi tentang cerita ini.