
Hallo semuanya. Maaf baru update yaπ. Lagi marathon menyelesaikan novel satunya yang sebentar lagi tamat. InsyaAllah, besok update lagi.
Happy reading....
Setelah amarah Ria sudah mereda. Aldi membawa wanita tersebut kembali ke ruangannya.Dia mendudukkan Ria di sofa. Aldi mengambilkan satu botol air minum untuk sang istri, sekiranya membuat Ria lebih tenang lagi.
Wajar bila mood ibu hamil berubah-ubah. Apalagi wanita yang trauma akan kehilangan seseorang.
"Sekarang minum dulu, tenggorokan kamu pasti kering, " ujar Aldi. Dia memberikan air botol tersebut pada Ria yang menyambutnya.
Wanita itu meminum air dalam botol tersebut, hingga tinggal setengah.
"Kamu mau makan apa?" tanya Aldi yang sudah membuka aplikasi berwarna hijau di ponselnya.
"Aku tidak mau makan. Maunya pulang," jawab Ria.
Aldi menghela napas pelan.
"Sayang, makan dulu ya. Kamu baru saja sampai ke sini, masa langsung pulang. Kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana, hmm? Kamu juga sedang hamil."
Aldi mengusap kepala Ria lembut. Wanita itu langsung menelusupkan dirinya memeluk Aldi yang tampak terdiam kala mendapat sebuah pelukan dari Ria.
"Tapi setelah makan aku mau pulang," rengek Ria mendongakΒ menatap Aldi yang tersenyum.
"Iya, sayang. Nanti setelah makan kita langsung pulang.Hari ini Mas tidak banyak pekerjaan juga," ujar Aldi.
"Kamu kalau capek, tidur saja di brankar. Mas sebentar lagi ada pemeriksaan di ruang sebelah, " lanjutnya.
"Tapi jangan lama-lama," ujar Ria sembari memainkan kancing baju Aldi.
"Iya, sayang. Sekarang kamu tidur di brankar, nanti kalau Mas sudah selesai pemeriksaannya, Mas bangunin," ujar Aldi.
Ria bangkit dari sofa di bantu oleh Aldi yang merangkul pinggangnya. Dia naik ke brankar dan berbaring di sana. Tidak lupa suaminya itu membalut tubuhnya sebatas dada dengan selimut.
"Sekarang, kamu istirahat. Jangan kemana-mana. Nanti ada suster yang mengantarkan makanan yang Mas pesan."
"Iya, tapi jangan lama-lama," ujar Ria mengingatkan lagi.
"Iya, sayang. Mas tidak akan lama. Sepertinya kamu tidak bisa jauh dari Mas," ujar Aldi sedikit menggoda.
Ria mengerucutkan bibirnya."Mungkin bawaan anak kamu,"sahut Ria mengusap perutnya.
"Wah, anak kita sepertinya menginginkan kita selalu menempel. Pintar banget sih, anak Ayah. Kalau begitu tidak ada alasan buat kamu untuk kabur dari Mas, Ria. " Aldi terkekeh dan mendapat pelototan dari sang empu.
"Iih, jangan panggil Ria! Panggil sayang, panggil aku sayang! " sarkas Ria dengan raut wajah merengut.
"Iya, Ria... " Aldi makin gencar membuat sang istri semakin meraju.
__ADS_1
"Tuh, kan. Jangan panggil Ria hiks...aku mau di panggil sayang."
"Jangan nangis,Ri-eh sayang. "
Aldi gelagapan sendiri melihat Ria tiba-tiba menangis. Dia langsung memeluk wanita tersebut. Menepuk-nepuk dengan pelan punggung Ria. Tidak menyangka bila istrinya akan sensitif seperti ini. Hanya perkara nama panggilan.
πππππ
Di sebuah Bar, seorang gadis mengisap batang rokok yang terapit di sela-sela jarinya. Asap rokok di hembuskan ke wajah Zavier yang terbatuk-batuk. Dadanya begitu sesak menghirup asap rokok itu.
"Aku baru tahu, bila Aldi mengatas namakan seluruh hartanya untuk wanita miskin itu," Klarissa membuka suara sembari meminum wine.
Zavier tersenyum lancip.Sambil meneguk wine hingga tandas.
"Setidaknya itu bukti cinta Aldi pada Ria. Semua perempuan butuh sebuah pembuktian bila seorang laki-laki benar-benar mencintainya, bukan hanya ucapan kata-kata manis yang di lontarkan," sahut Zavier.
Klarissa memalingkan wajahnya berdecih.
"Kenapa Aldi harus memilih Ria? Kenapa tidak aku saja, seseorang yang dulu pernah ada di hatinya. Dengan mudah Aldi mencintai wanita itu, padahal Ria bekas pela----mmmph."
Zavier langsung membekap mulut Klarissa, menghentikan ucapan terakhir yang akan di ucapkan gadis tersebut.
"Iih, Zavier! Kamu kurang ajar ya! Tangan kamu bau terasi!" bentak Klarissa, setelah berhasil melepaskan tangan pria tersebut dari depan mulutnya.
"Maaf, " ucapnya cengengesan sembari mencium aroma harum dari tangannya yang tadi pagi makan sambal terasi di temani seperangkat ayam panggang dan nasi.
"Kenapa mulut ku harus di bekap seperti itu, hah?! "
"Kau jangan berani-berani mengatakan Ria wanita bekas ataupun pelacur. Nanti Aldi marah besar padaku,karna mengungkapkan siapa Ria di masa lalu. "
"Bukannya bagus. Bisa untuk jadi boomerang untuk menghancurkan wanita tersebut agar menjauh dari Aldi. Sangat aneh sekali, Aldi mau menikah dengan wanita seperti itu. Dan lebih gila lagi memberikan semua hartanya pada Ria. Aku curiga Ria menggunakan pelet ******," ujar Klarissa sangat yakin dengan argumennya.
Lain halnya dengan Zavier yang tertawa terbahak-bahak, membuat Klarissa menatap heran dan aneh.
"Mana mungkin Ria menggunakan itu. Kalau pelet bisa membuat Aldi bertengkuk lutut, sudah dari dulu para wanita yang mengejar Aldi menggunakan itu. Lagi pula Klarissa, jodoh Aldi memang Ria. Seburuk apapun masa lalu Ria bila Aldi sudah cinta,dia akan menerima apa adanya, " ujar Zavier bijak.
Klarissa menghembuskan napas panjang dan kembali meminum wine. Dia begitu iri pada Ria. Andai waktu itu ia menerima cinta Aldi, pasti pria tersebut akan memperlakukan dirinya seperti ratu layaknya Ria.
"Jangan melamun," sentak Zavier. Membuat lamunan Klarissa buyar.
"Enak ya jadi Ria. Dapat suami baik dan semua harta milik Aldi jatuh ke tangannya. Sedangkan aku... harus mati-matian bekerja di club... " gumam lirih Klarissa.
Zavier terdiam. Tidak ada niat untuk menanggapi.
ππππππ
Sebuah kecupan basah di leher, membuat tidur nyenyak Ria terusik. Dia membuka matanya dan mendapati Aldi sudah berbaring di sampingnya.
__ADS_1
"Sudah selesai? " tanya Ria, membuat aktivitas Aldi terhenti.
"Sudah lama. Kamu terlalu nyenyak tidurnya. Mas tidak tega bangunin kamu, " ujar Aldi yang bangun dari tidurannya.
Ria merenggangkan badannya. Tidurnya benar-benar nyenyak hari ini. Wanita itu meraba-raba bagian dadanya.Ria melirik Aldi yang berjalan ke arah meja kerjanya mengambil air minum.
"Mas baju aku kemana? Kenapa aku hanya pakai tanktop? " Ria memperhatikan dirinya yang hanya memakai pakaian d*lam.
Aldi hanya tersenyum mesum."Maaf khilaf. Kamu buat Mas pengen nyosor terus,"ucapnya dengan frontal.
Satu hal yang Ria tahu dari Aldi. Pria itu mesum.
******
Ria memperhatikan makanan yang tersusun di meja. Aldi begitu banyak memesan makanan.
"Mas, kenapa banyak sekali makanan yang di pesan. Memangnya siapa yang memakan ini semua? " tanya Ria. Matanya masih terfokus pada semua makanan di depannya.
"Kamu, sayang. Si cebong juga butuh asupan makanan, " ujar Aldi.
"Ce-cebong siapa? " tanya Ria. Dia merasa di ruangan ini hanya ada mereka berdua.
Aldi mengusap perut rata Ria yang hanya ber'oh' setelah tahu.
"Kenapa harus cebong. Namanya jelek. " ujar Ria.
"Cebong itu artinya kecebong kebanggaan.Nanti kalau sudah lahir baru di siapkan nama untuknya. Tapi untuk sekarang cebong dulu," ujar Aldi sembari melahap paha ayam sekali suapan.
"Minggu depan Mas harus pergi keluar kota, karna ada jadwal operasi mata. Jadi kamu pintar-pintar jaga diri, " ujar Aldi.
Raut wajah Ria tiba-tiba berubah suram.
"Aku mau ikut, " pinta Ria menatap Aldi.
"Tidak bisa, sayang. Perjalanannya sangat jauh. Nanti, kandungan kamu kenapa-kenapa, bagaimana? " ujar Aldi membalas tatapan Ria.
"Kenapa harus seperti itu? " ujar Ria.
"Memang seperti itu," jawab Aldi asal.
"Aku tetap mau ikut. Memangnya kamu akan pergi kemana? " tanya Ria.
"Ke Jakarta," jawab Aldi.
"Ya sudah aku ikut. Sekalian berziarah ke makam Mas Rayyan. Sudah lama aku tidak ke sana, " ujar Ria.
Aldi hanya tersembunyi pasrah. Tidak ada gunanya menolak. Ria akan tetap kekeh ikut.
__ADS_1
Bersambung...