MENIKAH KARNA WASIAT

MENIKAH KARNA WASIAT
Part 32


__ADS_3

...Hallo semuanya. Maaf bila cerita saya tidak sebagus dan sebaik yang lain. Tapi tolong kalau tidak suka novel saya silahkan pergi. ...


...Kita adalah dua luka yang di persatukan. Untuk saling menguatkan. ...


...{Aldi}...


Happy reading


Aldi masuk ke dalam ruangan, tempat Ria di rawat sekarang. Pria tersebut di perbolehkan masuk setelah melakukan penanganan intensif pada wanita yang tengah terbaring di brankar. Aldi mengusap kepala istrinya dengan lembut.


Aldi menarik kursi dan duduk di dekat brankar. Tangannya terulur menggenggam tangan mungil Ria yang terasa dingin. Wajah wanita tersebut terlihat sangat pucat namun tetap cantik di mata Aldi saat ini.


"Maaf, sayang. Mas harus egois demi anak yang kamu kandung sekarang. Mas sangat mencintai kamu dan anak kita," ujar Aldi mengecup punggung tangan Ria.


Dokter Arumi kembali masuk ke dalam ruangan. Dia berjalan mendekati Aldi yang terus memandangi Ria.


"Hmm... " Deheman dokter Arumi membuat perhatian Aldi teralihkan.


"Dokter Arumi," ucap Aldi yang bangkit dari tempat duduknya, tersenyum ramah di balas senyuman jua oleh dokter wanita tersebut.


"Saya ke sini, memberikan obat pereda nyeri pada istri anda, Ria. Karna dia akan merasakan sakit di bagian perutnya.Dan setelah pulang dari rumah sakit, jangan biarkan istri anda melakukan aktivasi berlebihan atau pun yang berat karna akan bermasalah pada kandungannya yang sangat lemah." tutur dokter Arumi.


Aldi menerima obat pemberian dokter Arumi.


"Terima kasih, Dok. Nanti akan saya berikan obat ini pada Ria saat rasa sakit di perutnya kambuh," ujar Aldi.


Dokter Arumi diam sejenak memperhatikan Ria yang masih belum sadarkan diri.


"Maaf, Dokter Aldi. Mungkin saya agak lancang bertanya seperti ini. Apa tidak kasihan dengan Ria, istri anda. Karna rasa sakitnya begitu menyiksa,Apalagi usia kandungnya yang makin bertambah maka rasa sakitnya berkali-kali lipat.Dan Ria tidak bisa melahirkan secara normal, kemungkinan melakukan tindakan operasi caesar."tutur dokter Arumi.


Aldi menghela napas kasar, menatap dokter Arumi.


"Anda tahu?Saya juga dokter.Walau bukan spesialis kandungan. Tapi yang saya tahu bila terjadi kerusakan pada bagian leher rahim atau terbentuknya jaringan perut pada bagian dinding rahim karna keguguran. Kedua hal ini bisa mengakibatkan wanita lebih sulit mengalami kehamilan, bahkan berisiko terjadi infertilitas.Dan saya tidak ingin Ria jadi sulit hamil."tutur Aldi dengan rinci.


"Secinta apapun seorang suami, bila istrinya tidak bisa memberikan anak buat apa?Tujuan menikah untuk membina sebuah rumah tangga dengan orang yang di cintai dan keturunan. Anak adalah sebuah pelengkap dan mempererat dalam sebuah pernikahan."sambung Aldi.


Dokter Arumi terdiam. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ucapan Aldi adalah sebuah kebenaran yang selalu di jadi alasan oleh seorang suami agar bisa berpoligami karna menginginkan anak.


"Tapi tidak semua lelaki selalu mengutamakan anak. Banyak laki-laki yang tetap bertahan dengan istrinya hingga tua, meski tidak bisa memberikan anak," ucap dokter Arumi.


"Memang.Itu karna rasa cintanya terlalu besar. Sedangkan saya menginginkan seorang anak. Saya bukan orang yang selalu memendam apapun yang saya inginkan karna memikirkan orang lain,"ujar Aldi.


Dokter Arumi berdecih. Ternyata Aldi egois.


" Eugh..."Suara lenguhan membuat keduanya menatap ke arah Ria yang mengerjapkan matanya.


Aldi langsung mendekati Ria yang perlahan membuka matanya.

__ADS_1


"Ada yang sakit, sayang?" tanya Aldi mengusap kepala Ria.


Dokter Arumi hanya memperhatikan keduanya. Entahlah, dia bingung dengan sikap Aldi yang benar-benar mencintai istrinya atau hanya terobsesi semata.


"H-haus, Mas..." gumam Ria. Tenggorokannya terasa kering. Dengan cepat Aldi mengambilkan air minum. Ia membatu Ria bangkit agar mudah minum.


Dengan hati-hati pria tersebut kembali membaringkan Ria di brankas.


"Mas, apa aku keguguran?" tanya Ria begitu lirih dan mata yang mulai berkaca-kaca.


Ria meraba perutnya.Rasa nyeri dan sakit di perut, membuat wanita tersebut meringis kesakitan.


"Kamu tidak keguguran. Anak kita selamat." ujar Aldi tersenyum.


Namun senyuman itu lenyap seketika melihat Ria yang merintih kesakitan.


"Ria, kamu kenapa?" tanya Aldi tampak khawatir.


"Perut aku sakit, Mas."ucapnya, meremas perutnya di balik baju.


Aldi memberikan obat pereda nyeri yang di berikan oleh dokter Arumi yang hanya memperhatikan keduanya.


" Minum dulu, sayang."ujar Aldi.


Ria menatap tiga jenis pil obat yang di berikan padanya.


Ria memeluk perutnya.Tampak ragu untuk meminumnya.


"Kamu minum saja obatnya.Tidak usah khawatir karna pil obat tersebut tidak membahayakan kandungan kamu," ujar dokter Arumi.


Ria yang percaya dengan ucapan dokter Arumi, mengambil obat tersebut dari tangan Aldi. Dia memasukkan obat itu ke mulutnya, dan Aldi langsung memberikan segelas air putih.


"Kamu harus banyak-banyak istirahat. Kalau bisa jangan banyak beraktivitas, karna bila kelelahan akan berpengaruh pada kandungan kamu," ujar dokter Arumi dan Ria menganggukkan kepala.


"Kalau begitu saya permisi. Bila butuh apapun silahkan tekan bel yang ada di samping brankar.Nanti ,suster akan datang." ujar dokter Arumi.


"Baik," jawab Aldi singkat.


Setelah kepergian dokter Arumi. Aldi menyingkap baju Ria sebatas dada. Tangan besar nan hangat itu mengusap perut Ria yang masih tampak rata.


"Masih sakit perutnya?" tanya Aldi.


"Sedikit," jawab Ria.


"Mas, aku pikir, kandungan ku tidak selamat. Aku takut nanti harus kehilangan calon anak kita. Aku takut nanti kamu marah..." ucapnya di akhiri dengan suara yang lirih.


Aldi tersenyum. Dia kembali mengusap perut Ria.

__ADS_1


"Anak kita kuat.Kalaupun kamu harus keguguran itu berarti bukan rezeki kita." ujar Aldi menghibur.


"Sekarang coba cerita. Kenapa kamu hampir keguguran. Bukannya kantin tidak jauh dari ruangan ,Mas.Tapi kamu malah berada di koridor dekat gudang?" tanya Aldi menatap Ria yang memgingat-ngingat kejadian itu.


Ria menghela napas berat.Mengingat wanita asing yang tiba-tiba datang padanya dan langsung mendorong  bahkan merendahkan dirinya. Entahlah, mungkin wanita asing itu menyukai suaminya.


"Saat aku ingin ke kantin. Wanita asing tiba-tiba menarik ku dan membawa ku ke tempat yang sepi. Dia  mendorong ku dan mengatai aku wanita bayaran untuk melayani, Mas." tutur Ria dengan bibir melengkung ke bawah.


"Kamu ingat wajahnya atau Mas ada ketemu dengan dia?Bagaimana pun dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya yang sudah keterlaluan. Dia hampir membahayakan kamu dan anak kita," ujar Aldi mengusap perut Ria.


"Wanita yang mengantarkan ponsel milik Mas ke ruang kerja tadi.Dia yang mendorong aku..." ucap Ria lirih.


Aldi mengepalkan tangannya kuat, hingga buku-buku kukunya memutih. Rahang pria itu mengeras bersamaan amarah yang langsung memuncak. Namun, Aldi berusaha terlihat tenang di hadapan Ria.


"Harus berapa wanita lagi yang harus aku hadapi, Mas.Yang berusaha merebut kamu dari aku. Mereka selalu mengatakan aku tidak pantas bersama kamu... apa karna aku hanya wanita sederhana dan tidak pantas bersanding dengan kamu yang merupakan orang terpandang dan berasal dari keluarga yang berada... "


Tumpah sudah air mata Ria.Bersamaan rasa sesak di dadanya yang membuat ia kesulitan bernapas.


"Bagaimana pun, pasti aku akan kehilangan kamu, Mas. Begitu banyak wanita yang memiliki derajat yang lebih tinggi dari pada aku untuk memiliki kamu. Aku lelah harus di hantui rada takut kehilangan setelah Mas Rayyan meninggalkan aku... aku lelah hiks... "


Ria menangis tersedu-sedu. Traumanya atas kehilangan Ayah, Ibu dan Rayyan belum juga sembuh.Tapi sekarang traumanya kembali di tekan semakin kuat oleh orang-orang sekitar, membuat ia selalu ketakutan kehilangan Aldi. Hanya Aldi satu-satunya orang yang ia miliki sekarang.


Aldi menghapus lembut air mata Ria di wajah."Kamu jangan bicara seperti itu, sayang.Mas tidak akan meninggalkan kamu.Kita akan selalu bersama. Sebanyak apapun wanita datang untuk menggoda, Mas. Kamu tetap yang pertama dan pemenangnya."ujar Aldi menarik Ria yang berbaring di brankar berpindah ke pelukannya.


Sama halnya dengan Ria. Aldi juga harus merasakan kehilangan orang tuanya saat ia butuh kasih sayang seorang ibu dan peran seorang ayah yang memberikan perlindungan, dan menjadikan ayah sebagai tempat diskusi untuk membuat anak laki-lakinya bersikap lebih tegas.


Jadi jangan salahkan Aldi bila dia bersikap egois. Dia bukan hanya mencintai Ria tapi terobsesi untuk memiliki anak agar istrinya makin terikat dengannya.Walaupun anak bukanlah sumber utama agar pernikahan tetap utuh dan tidak ada kata cerai.


Aldi mengeluarkan ponsel dari saku celananya, sembari tangan yang lain memeluk Ria erat.


"Dennis batalkan kerja sama dengan pak Irwan. Dan siapkan pengacara terbaik di kota ini, jangan lupa barang bukti yang ada di CCTV," titah Aldi di sambungan telpon.


"....... "


"Saya tidak peduli perusahaan kita rugi besar ataupun perkembangan perusahaan kita menurun. Bila sudah menyangkut keselamatan Ria dan anak saya apapun di saya lakukan,"


"...... "


"Sudah Dennis!Perusahaan kita hanya rugi besar bukannya bangkrut.Masih banyak investor yang ingin bekerja sama dengan perusahaan kita."ujarnya tegas penuh penekanan.


Aldi langsung mematikan sambungan telpon sepihak.


Ria mendongak menatap suaminya sebentar dan kembali memeluk tubuh besar nan hangat Aldi yang selalu menjadi pelindungnya.


Rayyan tidak salah menitipkan Ria pada Aldi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2