
Assalamu'alaikum, semuanya😆
Saya ucapkan selamat hari raya idul fitri. Mohon maaf lahir dan bathin bila saya banyak salah pada kalian, melalui tulisan saya yang menyinggung kalian mohon maaf ya🙏
Happy reading
Suara decapan dan erangan terdengar jelas di ruangan yang terdapat sepasang suami-istri yang tengah bercumbu. Siapa lagi bila bukan Aldi dan Ria. Pria itu semakin mencengkram pinggang dan merapatkan Ria pada tubuhnya.
Aldi makin memperdalam ciumannya, menyalurkan emosi dan perasaan cintanya pada Ria yang bukan hanya n*fsu semata.
Rambut yang berantakkan dan kancing baju yang terbuka menggambarkan keadaan Ria saat ini. Aldi terus mencumbui Ria yang duduk di pangkuannya. Ria mendorong Aldi hingga menjauh dari wajahnya. Napas yang tersengal-sengal dan memburu setelah ciuman panas mereka berdua. Beruntung Raja tidak bangun dari tidurnya.
"Ih, Mas Aldi. Bibir aku jadi perih. Mas ganas." celetuk Ria yang memegangi bibirnya yang membengkak.Aldi terkekeh
Pria itu mengusap lembut bibir Ria yang terlihat sexy, begitu merekah dan merah. Aldi mendaratkan kecupan di bibir Ria yang sudah menjadi candunya.
"Kamu yang mulai dan Mas sangat sulit untuk berhenti melakukannya. Ingin melanjutkan ke hal yang lebih lagi?" tawar Aldi dengan seringaian mesumnya.
Ria memukul dada Aldi pelan dengan bibir mengerucut. Membuat pria tersebut tampak gemas melihatnya. Tidak sabar untuk menerkam wanitanya.
"Malu, kalau melakukannya di kantor," cicit Ria menundukkan kepalanya dengan pipi yang memerah karna malu.
"Kita bisa melakukannya di kamar," bisik Aldi, membuat Ria tubuh menegang dan meremang mendengar suara berat dan serak suaminya.
Ria melihat Aldi yang menatap dirinya dengan tatapan sayu.
"Eh... "
Ria kaget kala Aldi mengecup rahangnya dan kembali menatap dirinya. Seolah menunggu jawaban darinya.
"Di kamar tidak bisa. Ada Raja yang sedang tidur di sana, " bisik Ria.
"Kalau begitu di sofa," bisik Aldi yang langsung mendapat cubitan dari Ria di pinggangnya.
"Aww! Sakit, sayang." ucapnya, sedangkan Ria tersenyum melihatnya.
Tok tok
Suara ketukan pintu dari luar membuat atensi keduanya teralihkan.
"Masuk!" ujar Aldi dengan suara yang sedikit keras.
__ADS_1
Ria segera turun dari pangkuan Aldi. Namun, pria itu menahan pinggangnya hingga Ria tidak bisa turun dari pangkuan Aldi yang memeluk tubuhnya.
Liona yang masuk ke dalam ruangan Aldi. Wanita itu tampak kaget, melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Seorang wanita duduk di pangkuan Aldi dengan penampilan yang sedikit kacau. Ria menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aldi.
"Ada apa? " Pertanyaan Aldi lontarkan, membuat Liona tersadar dari lamunannya.
"A-aku ke sini,ingin mengembalikan ponsel kau yang tertinggal di ruang rapat,"ujar Liona, berjalan mendekati Aldi hingga berada di depan pria tersebut yang berbatasan dengan meja.
Aldi mengambil ponsel yang di sodorkan Liona.
" Terima kasih,"ucap Aldi tersenyum tipis.
Liona pun membalas dengan senyuman manis.Tatapannya kini, terfokus pada wanita yang tengah duduk di pangkuan Aldi dan menyembunyikan wajahnya di leher pria tersebut.Ada rasa marah dan penasaran hingga yang menggerogoti hatinya pada wanita yang beruntung bisa sedekat itu dengan Aldi. Pria incarannya.
"Apa masih ada hal penting lagi?"tanya Aldi pada Liona yang masih berdiri di depannya.
" Ti-tidak ada. Kalau begitu aku permisi."Liona segera keluar dari ruangan Aldi dengan membawa rasa cemburu dan marah.
Ria melepaskan pelukannya pada Aldi dan turun dari pangkuan Aldi yang melepaskan rengkuhan tangannya di pinggang sang istri.
"Sekarang, kamu cuci muka dulu di kamar mandi. Mas baru ingat ada sedikit kerjaan lagi," ujar Aldi yang di angguki Ria.
Wanita itu berjalan mendekati Aldi yang terlihat serius menatap kertas putih di depannya.
"Mas, aku boleh jajan di kantin. Perut aku lapar, ingin makan lagi," keluh Ria memegangi perut.
Aldi mengalihkan perhatiannya pada Ria yang langsung menampilkan senyuman cerahnya.
"Tapi makannya di sini.Jangan lama-lama," ujar Aldi sembari mengeluarkan dompet di saku celananya. Pria itu memberikan satu lembar uang berwarna merah pada Ria yang berbinar.
"Terima kasih, Mas." ucap Ria yang sumringah.
Wanita itu segera keluar dari ruangan Aldi dengan membawa mangkok bakso yang belum ia kembalikan.
Baru saja keluar dari ruangan. Seseorang menarik pergelangan tangan Ria, membawa ke tempat yang sepi.
Buk...
Punggung Ria di benturkan dengan keras ke tembok. Dia meringis kesakitan merasakan sakit di punggungnya.
Liona memperhatikan Ria dari atas sampai bawah. Tampilan wanita ini terlihat biasa saja sangat jauh dari berbeda dengan dirinya yang lebih cantik dan menarik. Lalu, kenapa Aldi bisa tertarik dengan wanita semacam ini.
__ADS_1
"Lepaskan, aku." Ria melepaskan Liona yang mencengkram lehernya. Membuat ia sulit bernapas.
"Berapa Aldi membayar kau, hmm?" tanya Liona. Matanya terfokus pada tanda kissmark di leher Ria.
"Apa maksud kamu? Tolong lepaskan aku!" sentak Ria dengan wajah yang terlihat marah dan tersinggung dengan ucapan Liona.
"Berapa Aldi membayar mu. Aku akan membayar mu lebih mahal dari Aldi. Asal tinggalkan dia. Aku tidak menyangka Aldi ternyata suka membawa wanita panggilan untuk melayaninya," ucap Liona menatap rendah pada Ria yang menggeram kesal.
"Aku bukan wanita panggilan ataupun yang kau pikirkan. Aku istri Aldi!" sarkas Ria tegas. Membuat ekpresi Liona langsung berubah terkejut.
Namun, sedetik kemudian suara tawa terdengar dari Liona yang menatap mengejek pada Ria.
"Kau... istri Aldi? Apa aku tidak salah dengar. Mana mau Aldi dengan wanita jelek dan berpenampilan sederhana seperti orang miskin," cela Liona.
Ria menundukkan kepalanya. Matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya perih dan sesak mendengar ucapan Liona yang begitu jahat.
Brak
Ria melempar mangkok bakso yang di pegang pada Liona yang dengan cepat menghindar.
"Kau... " Liona menggeram marah dengan tatapan nyalang.
Liona berjalan cepat ke arah Ria. Menerjang wanita tersebut hingga kembali terbentur tembok. Suasana yang tampak sepi, membuat Liona leluasa melakukan sesuatu pada Ria.
"Rasakan itu. Aku bahkan bisa lebih dari ini!" ujar Liona menatap Ria yang merintih kesakitan sembari memegangi perutnya.
Liona membelalakan matanya, melihat darah segar keluar dari atas kaki Ria yang memakai celana kulot putih menampakkan dengan jelas darah yang membasahi celana tersebut.
"Kau hamil?" tanya Liona yang tak di gubris oleh Ria yang tengah merasakan kesakitan di perutnya.
Darah terus keluar mengalir hingga menetes di lantai.
"Tolong aku hiks... aku tidak ingin keguguran."
Ria mengulurkan tangannya pada Liona yang mundur beberapa langkah.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Liona langsung pergi meninggalkan Ria.Dia takut anak yang di kandung wanita tersebut merupakan anak Aldi atau mungkin wanita itu memang istri Aldi.
Badan Ria langsung meluruh ke lantai. Wanita itu mengigit bibir bawahnya menahan sakit di perutnya dengan keringat yang membasahi wajahnya.
Bersambung...
__ADS_1