
Tante Ratih masuk ke dalam rumah sesaat setelah Kiran berlalu.
"selamat pagi Mama" sapa seorang laki laki yang terlihat kusut baru bangun tidur menghampiri dan memeluk tante Ratih.
"selamat pagi sayang, muaach" saut tante ratih sambil mencium kening laki laki itu.
Laki laki tinggi berwajah tampan itu adalah anaknya Tante ratih, yaitu Tama Wijaya.
"pulang jam berapa kau semalam nak?" tanya tante ratih menatap Tama yang terlihat menguap.
"Mungkin sekitar jam 02.00 ma" jawab Tama singkat.
"Memang nya kau kemana sampai pulang larut sekali?" tanya Ratih lagi.
"Tama menghadiri pesta ulangtahun teman ma." jawab Tama seraya berlalu ke dapur.
Ratih mengikuti langkah anak nya dari belakang.
"Nak sampai kapan kau bermain main seperti ini ?" tanya tante ratih pelan.
"memang nya aku kenapa sih ma" seraya Tama menuangkan minum ke dalam gelas yang sudah ia ambil tadi.
"Nak kamu sudah dewasa, sudah saat nya kamu membantu papa menjalankan bisnis, lagipula sekarang papa dan mama sudah mulai tua" ujar tante ratih mengernyitkan dahi nya.
"Iya ma... iya, beri Tama waktu sedikit lagi" saut tama yang tak terlalu acuh.
"Tama, bukan nya mama mau memaksa kamu, tapi kamu tau kan sekarang papa juga sudah mulai sakit sakit an, kalau bukan kamu yang mengurus perusahaan siapa lagi." Ratih mulai bicara serius.
Tama berpikir sejenak dan menunduk kan kepala nya, dia tidak ingin melihat orang tua nya sedih apalagi terluka.
Dibalik sikap Tama yang angkuh, dia adalah laki laki yang sangat mencintai dan menghormati orangtua nya, apalagi ibu nya.
Mendengar mama nya bicara seperti itu, Tama merasa bahwa dirinya belum becus menerima semua tanggung jawab yang akan di hibah kan padanya.
Apalagi saat ini dia masih ingin bermain main, dan berkencan dengan wanita wanita cantik di luar sana, Tama takut kalau nanti dia tidak bisa lagi bermain main jika sudah mengemban tanggung jawab perusahaan.
__ADS_1
" hmm... ma jangan khawatir begitu, nanti aku akan memikirkan nya lagi" saut tama setelah berapa lama berpikir.
"Baiklah sayang, mama tau bahwa kamu adalah anak yang bertanggung jawab nak" seraya Ratih mengecup kening tama, dan berlalu meninggal kan tama menuju kamar nya.
***
Tama terlihat sangat tampan siang itu, ia mengenakan baju kaos putih di padukan dengan jaket kulit hitam serta celana jeans.
Ratih terlihat sedang membaca majalah di ruang tengah.
"Ma.. tama pergi keluar sebentar ya" pamit tama sambil mencium kening ibunya itu.
"kamu mau kemana lagi nak" Ratih menoleh melihat tama sudah rapih bersiap untuk pergi.
"Tama ada janji sebentar sama teman ma," saut Tama.
"Baiklah.. kamu hati hati, jangan sampai pulang larut lagi sayang" Ratih mengingatkan anak nya.
"Iyaa mamaku yang cantik." Tama berlalu menuju keluar rumah.
Mobil mewah tama berlalu meninggalkan rumah. dia mengambil Ponsel yang ada di kantung celana nya saat itu.
Terlihat ada sebuah pesan masuk.
-sayang kamu jadikan menemaniku belanja hari ini- pesan dari Angella.
"cih, dasar perempuan sama saja, bukan aku yang kau butuhkan untuk menemani mu, tapi uangku." gumam tama dalam hati, sambil menyunggingkan bibir nya sebelah.
Tama tak membalas pesan itu, ia lebih memilih mengabaikan nya. tama kembali fokus mengendarai mobil nya.
***
Mobil tama berhenti di sebuah cafe, ia memakirkan mobil nya, dan berjalan keluar menuju kedalam cafe.
Tampak disana sudah ada beberapa teman nya yang sudah menunggu sedari tadi. disana juga ada Rendy.
__ADS_1
Rendy dan tama adalah teman dalam sebuah perkumpulan Motor Gede di kota itu.
Mereka terlihat saling menyapa dan berbincang bincang ketika sudah duduk dan memesan minuman.
"hey Rendy bagaimana dengan selingkuhan mu yang kemarin itu" ujar Tama tiba tiba pada rendy yang saat itu memang duduk di sebelah nya, teman teman nya yang lain sibuk berbincang bincang satu sama lain.
"Bicara apa kau tama.. dia bukan selingkuhan ku" Rendy terlihat kesal dan mngernyitkan dahi nya.
"Lagipula Kirana bukan perempuan seperti yang kau pikirkan, dia adalah sahabat kecil ku sejak kecil." lanjut Rendy menjelaskan.
"hahah... sudahlah Ren, mana ada antara laki laki dan perempuan bersahabat, tapi kau sepertinya harus berhati hati dengan dia, aku punya firasat buruk tentangnya, takut nya nanti dia hanya memanfaatkan mu dengan kekayaan mu" ketus Tama menyeringai sinis.
"Heyy... jaga mulut mu itu ! " Rendy berteriak dan langsung berdiri menggenggam leher baju Tama. dia tidak terima tama menjelek jelek an Kirana, apalagi tama tidak mengenal Kiran.
seketika yang ada di sana terkejut dan langsung memegangi tangan rendy yang sudah hampir memukul wajah tampan tama.
"apa apaan kau ini, aku hanya memperingati mu saja dari wanita jahat itu ! " teriak Tama tak kalah emosi nya melihat tindakan rendy terhadap nya.
"Kau... jika tak tahu pasti tentang seseorang, jangan berani berani nya kau menuduh yang bukan bukan, apalagi tentang Kirana, aku tidak segan segan untuk menghajarmu ! " Teriak Rendy sambil menunjuk ke muka Tama.
"cih, kau pikir aku takut dengan gertakan mu ! " tantang tama pada Rendy.
"Awas saja kau nanti..." sambung tama sambil berlalu meninggalkan Cafe dengan wajah geram nya.
***
Tama melajukan mobil nya dengan kencang sambil mengepalkan tangan nya yang sedang memegang setir mobil nya, sesekali dia memukulkan setir mobilnya melampiaskan kekesal hatinya.
"memang nya siapa dia, berani berani nya di menggertak ku seperti itu" gumam Tama kesal.
"kalau bukan selingkuhan nya siapa lagi, padahal aku tidak peduli juga jika memang dia berselingkuh, bisa saja aku memberi tahukan nya pada samira, tapi tak ada gunanya bagiku" tama semakin kesal memikirkan nya.
Ya, samira adalah sepupu Tama, jadi wajar saja sebenarnya jika dia marah, tapi bukan itu point nya yang membuat dia kesal jika memang ternyata Rendy berselingkuh dengan Kirana. tapi entah kenapa Tama sangat kesal sekali kepada kirana sejak insedent beberapa waktu lalu.
...
__ADS_1