Menikahi Pewaris Tunggal

Menikahi Pewaris Tunggal
Menghadiri Pesta II


__ADS_3

Mama Ratih mengajak Kirana untuk mengobrol dan mengenalkan nya pada beberapa teman yang ada disana. Mama Ratih terlihay seperti sedikit memamerkan menantu nya itu. Tidak sedikit diantaranya memuji kecantikan dan keramahan Kirana. Tante Ratna yang memang berada disitu terlihat sedikit sinis pada Kirana, menurut nya mereka hanya terlalu berlebihan dan me elu elu kan Kirana.


"Kirana, kamu pasti sangat beruntung mendapat mertua seperti Ratih kan. Aku tahu betul bagaimana dia." Ujar salah seorang teman mama Ratih yang ada disana.


"Tentu saja tante, Kirana tak akan pernah menemukan wanita yang lebih baik dari mama Ratih." Jawab Kirana berkata jujur dan bangga nya.


Tampak tante Ratna hanya menyengir sedikit, seakan mencemooh nya. "Pandai sekali gadis ini mencari muka pada semua orang." Gumam nya dalam hati. Entah lah, entah apa yang membuat nya begitu tidak menyukai Kirana.


"Ratna, kalau saja kau punya anak. Pasti sekarang pun kau sudah mempunyai menantu." Ujar salah seorang teman nya, yang membuat semua orang yang ada disana jadi merasa canggung. Mereka tidak pernah menyinggung masalah itu di depan Ratna, Karena itu akan membuat Ratna tersinggung.


Semua orang disitu melirik dan menatap ke arah wanita yang baru saja mengucapkan kalimat itu. Dia tampak menutup mulut nya sendiri seakan tidak sadar apa yang baru saja ia ucapkan.


"Aaa sudah lah, ayo kita ambil makanan dulu. Aku sudah lapar." Ujar seseorang mengalihkan pembicaraan, dan menarik lengan teman nya yang baru saja bicara.


Ratna terlihat sangat kesal sekali, wajah nya berubah menjadi merah padam menahan malu ataupum emosi. Ratna memang tidak memiliki seorang anak pun sejak ia menikah dengan Farhan 23 tahun yang lalu. Ia pun tidak mempunyai anak angkat atau semacam nya. Mungkin karena memang tidak mempunyai anak, Penampilan nya memang sedikit lebih elegan dan Muda dari teman teman seumuran nya.


Mama Ratih mencoba mencairkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan. "Ratna, bagaimana kabar tante Susi. Aku dengar keadaan nya semakin membaik. Maaf aku belum sempat menjenguk beliau." Ujar mama Ratih.


Ratna hanya menatap nya dan tertawa kecil lalu pergi meninggalkan Kirana dan Ratih disana.


"Ma, apa benar tante Ratna tidak mempunyai anak ?". Kirana bertanya dengan penasaran.


" Iya itu sudah lama sekali sejak ia menikah dengan farhan." Ujar mama Ratih terlihat sedikit kasihan.


Mereka berdua kembali menghampiri Papa Danu dan Tama yang sedang berbincang dengan om Farhan. Acara puncak nya sudah dari tadi di adakan, sekarang hanya tinggal menikmati makanan yang sudah tersedia untuk semua tamu undangan.


"Sayang, apa kamu sudah selesai berbincang dengan ibu ibu sosialita itu. Kamu terlihat cocok sekali bergaul bersama mereka". Ujar Tama mengejek istri nya yang sudah berdiri disamping. Semua yang ada disana terlihat tertawa mendengat guyonan Tama itu.

__ADS_1


"Aaa, kau ini." Kirana mencubit pinggang Tama, terlihat Tama sedikit meringis dan memegangi pinggang nya.


"Kirana, aku dengar kamu mempunyai toko bunga ya. Dan bunga bunga yang ada disini kamu yang merangkai semua nya.?" Om Farhan bertanya pada Kirana dengan senyum yang ramah.


"Iya om, Kirana hanya melanjutkan menjalankan toko mendiang Nenek. " Jelasnya.


"Aaa, tapi kamu terlihat sangat terampil sekali ya. Terlihat dari rangkaian bunga ini." Puji om Farhan tersenyum dan menunjuk rangakaian bunga yang ada di dalam pot.


"Terimakasih om."


"Tentu saja om, Kirana juga sangat terampil merawat Tama." Ujar Tama tersenyum penuh arti pada Kirana. Kirana memukul pundak Tama dan tersipu malu.


Mereka semua memutuskan untuk makan bersama di salah satu meja. Disana juga ada tante Ratna tentu nya. Keluarga Wijaya memang dekat dengan keluarga om Farhan sejak dulu. Karena tidak bisa di pungkiri kesuksesan yang di raih oleh keluarga Wijaya tidak sedikit di bantu oleh keluarga om Farhan.


Mereka menghabiskan makan malam dengan penuh gelak tawa. Kirana juga sudah bisa menyesuaikan diri disana. Tama tak henti nya memamerkan Kirana, sampai membuat nya sangat malu.


"Aaa baik om, Kalau Kirana tidak sibuk di toko. Nanti kirana sempatkan untuk mampir kesini." Ujar Kirana basi basi.


"Kamu tidak usah sungkan pada om, dari kecil pun Tama sudah sering bermain kesini bahkan menginap disini. Mungkin karena om dan tante Tatna tidak mempunyai anak, jadi om sudah menganggap Tama seperti anak sendiri." Ujar Om Farhan melihat kecangunggan Kirana pada dirinya.


"Ahh iya."


"Ngomong ngomong, keluarga mu tinggal dimana.?" Tanya nya yang sudah penasaran sejak tadi ingin menanyakan soal itu.


" Hhm, Kirana sudah tidak memiliki keluarga om. Nenek satu satu nya keluarga Kirana sudah meninggal beberapa bulan yang lalu." Ujar nya murung.


"Ahh, maaf bukan maksud om membuat mu sedih. Lalu kedua orangtuamu.?"

__ADS_1


"Kirana tidak tahu kemana ibu ataupun ayah kirana, karena sejak kecil kirana sudah ditinggal kan oleh mereka. Bahkan Kirana tidak pernah tahu bagaimana wajah mereka." Mata Kirana tampak berlinang menahan air mata yang akan jatuh.


"Maaf kirana, om ikut sedih mendengar nya. Tapi dari yang om lihat kamu adalah anak yang sangat mandiri dan kuat. Kamu tumbuh dengan baik nak." Om Farhan menepuk pundak kirana pelan.


Kirana hanya tersenyum dan mengangguk kan kepala nya perlahan. Tiba tiba Tama datang dari belakang menghampiri keduanya.


"Sayang, aku mencari mu dari tadi." Ujar Tama.


"Ahh iya, kenapa ? " saut Kirana terkejut dan berusah mengusap mata nya yang sudah tergenang airmata tadi.


"Hey kau kenapa ? kenapa terlihat sedih begitu." Tama mengangkat wajah kirana dan memerhatikan matanya yang memerah itu.


"Tidak aku tidak apa apa."


"Om, kenapa kirana menangis. ?" Tanyanya pada om farhan karena tidak mendapat jawaban pasti dari kirana.


"Aa itu tadi....."


"Itu tadi om farhan menceritakan tentang seekor kancil yang membuatku sedih dan terharu." Potong Kirana sebelum om farhan menjelaskan pada Tama.


"Cihh, dasar istri bodohku. Kenapa hal semacam kancil saja bisa membuat mu menangis sih." Ujar Tama menyengir dan mengusap usap lembut rambut Kirana.


"Aa sayang, jangan mengacak rambutku, kau tak tau berapa lama tadi pelayan menata rambutku." Kirana menepis tangan Tama dan menghentikan untuk mengacak rambut nya.


Om farhan hanya tertawa melihat tingkah kedua nya. Mereka menuju menghampiri papad Danu dan mama Ratih di dalam rumah, Beberapa tamu sudah terlihat membubarkan diri dan berpamit pada tuan rumah.


Keluarga Wijaya pun ikut pamit pulang, di antar oleh om Farhan dan tante Ratna ke depan mobil. Tama dan Kirana menaiki mobil yang sama, sedangkan mama Ratih ikut mobil Papa Danu.

__ADS_1


....


__ADS_2