Menikahi Pewaris Tunggal

Menikahi Pewaris Tunggal
Hari yang melelahkan


__ADS_3

Kirana menyenderkan kepalanya ke belakang kursi mobil, mata nya mulai mengantuk. Lampu mobil menembus gelap nya jalanan. Tama mengemudikan mobil nya dengan kecepatan yang cukup kencang, sesekali ia melirik ke arah istrinya yang sudah mulai menguap.


"Sayang, apa kau mengantuk?" Ujar Tama.


"Sedikit, aku merasa lelah sekali hari ini." Kirana menutup mulut nya yang menguap.


"Yasudah kau tidur saja dulu."


Tak ada jawaban dari Kirana, Tama melirik istrinya yang ternyata sudah tertidur pulas di sebelah nya.


"Cihh dasar, memang istriku seperti kerbau. Kenapa kau gampang sekali tertidur begitu, tapi kalau dibangunkan sangat susah." Gumam Tama tersenyum melirik istrinya.


Setelah menempuh perjalanan 2 Jam akhirnya mereka pun sampai di rumah. Tama melihat Kirana masih tertidur lelap, ia tidak tega untuk membangunkan nya. Tama lalu membuka pintu mobil Kirana lalu menggendong nya hingga ke kamar.


"Huft.. Kenapa kau berat sekali, padahal badanmu kecil seperti ini." Ujar Tama setelah meletakkan Kirana di atas Kasur dan merenggangkan pinggang nya yang sakit, entah memang karena menggendong Kirana atau karena mengemudi cukup lama hari ini.


Tama tersenyum menatap Kirana yang tertidur lelap. "Kenapa rasanya aku sangat beruntung memilikimu." Gumam Tama. Lalu setelah nya Tama menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan mengganti pakaian an nya.


Tama berbaring di sebelah Kirana lalu memeluk nya dengan hangat. Mungkin karena lelah Tama pun tertidur dengan pulas nya.


***


Pagi hari Kirana bangun lebih dulu dari Tama, berbeda dari biasanya. Rasanya tidur nya semalam sangat nyenyak dan ia merasa ada suatu kelegaan di dalam hati nya. Entah apa itu dia pun tidak tau. Kirana melihat ke arah suami nya yang masih tertidur.


"Tapi, bagaimana aku bisa berjalan ke kamar ya semalam. aku tidak ingat kapan kami sampai." Gumam Kirana sambil keheranan.


"Aku menggendongmu sampai ke kamar." Saut Tama yang mata nya masih terpejam.


"Aaa, kau selalu mengagetkanku, aku tidak tahu kapan kau tertidur benaran atau tidak." Ujarnya dengan wajah kaget.


"Hhmmm sini, letakkan tanganmu di pinggangku, kau harus memijitku. Karena badanku sakit menggendong tubuh kecilmu yang sangat berat itu." Tama menarik tangan Kirana lalu meletakkan bukannya di pinggang namun di area yang sedikit sensitif.


Kirana terkejut lalu menarik kembali tangan nya, Tama hanya tersenyum melihat reaksi Kirana. Tama mendekap Kirana erat dan menciumi hingga dia puas.


"Sayang, ini sudah pagi. Kau pasti telat nanti berangkat ke kantor." Kirana menepis tangan Tama yang mulai nakal menyentuh area sensitif nya.

__ADS_1


Kirana menarik tangan Tama lalu memaksanya masuk ke dalam kamar mandi. "Sudah sana kau mandi dulu." Ujarnya.


"Apa kau tak ingin mandi bersamaku." Goda Tama dengan tatapan mata yang nakal.


"Tidak." Kirana langsung menutup pintu kamar mandi. Lalu wajah nya merona memerah.


"Dasar kau, kenapa kekanak kanakan begitu sih." Gumam nya di balik pintu.


Kirana menyiapkan Baju yang akan di pakai Tama untuk ke kantor nanti. Setelah Tama selesai mandi, Kirana pun bergantian masuk ke kamar mandi dan membersihkan badan nya yang sudah terasa lengket karena semalam ia tidak sempat membersihkan badan nya.


Kirana pun bersiap siap untuk pergi ke toko. Setelah sarapan Tama berpamit pada Ibu dan istrinya. "Sayang apa kau hari ini akan ke toko juga?" Tanya Tama ketika Kirana mengantarkan nya ke depan mobil.


Kirana menganggukkan kepalanya.


"Apa kau sebaiknya tidak usah ketoko lagi, aku kan sudah memberikan semua kebutuhanmu. Jadi kau tidak usah repot repot lagi membuka tokomu itu. " Ujar Tama.


"Sayang, Ini bukan masalah uang atau apa. Aku hanya ingin berada di toko karena disana lah aku dan nenek menghabiskan banyak waktu. Terlalu banyak kenangan disana." Kirana menjelaskan dengan mimik wajah yang sedih.


"Baiklah, baiklah terserah kau saja. Aku hanya tidak ingin melihatmu kelelahan dan sakit karena terlalu banyak bekerja." Ujar Tama.


Tama hanyan terkekeh melihat tingkah Kirana, lalu ia berpamit untuk berangkat ke kanto. Kirana pun juga ikut berangkat setelah Tama pergi. Ia pergi di antarkan oleh supir, Karena motor nya masih berada di toko.


Seperti biasa Kirana bersiap siap untuk membuka toko nya hari ini. Waktu pun berlalu cukup cepat hari ini. Cukup banyak pelanggan yang datang. Tak terasa sudah sore saja, kirana melihat ke arah jam tangan nya. Tiba tiba ponsel nya berdering. Ia melihat siapa yang menelfon nya.


"Suamiku."


"cihh, sejak kapan dia menuliskan namanya begini di ponselku." Ujar Kirana tersenyum senyum melihatnya.


"Hallo."


"Apa kau sudah mau pulang?" ujar Tama dari seberang telfon.


"Iya, aku barusaja mau menutup toko. Apa kau sudah mau pulang juga ?"


"hhm sayang, sepertinya hari ini aku akan pulang terlambat. Karena ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu."


"Yasudah, kau hati hati. aku sudah menelfon pak Budi untuk menjemputmu." Ujar Tama lalu menutup telfon nya.


"Kenapa harus menelfon supir segala sih, aku kan bisa pulang sendiri dengan motorku." Ujarnya sedikit kesal.


Setelah selesai membereskan segalanya, Kirana menutup tokonya. Lalu berjalan ke arah mobil yang sudah menunggu beberapa saat yang lalu.


***


Kirana membersihkan dirinya lalu turun ke bawah. Mama Ratih terlihat sedang membaca majalah di ruang keluarga.


"Mama sedang apa.?" Ujar Kirana mendekat dan duduk di samping ibu mertua nya itu.


"Hay sayang, mama hanya melihat lihat majalah." Saut nya dan menutup majalah itu dan meletakkan nya di atas meja.


"Sayang, apa kau sudah menunjukkan tanda tanda ?" Mama Ratih menjadi lebih antusias dan menatap Kirana lekat lekat.


"Maksud mama ? tanda tanda apa?." Kirana keheranan dengan pertanyaan mama Ratih yang tidak ia mengerti maksdunya.


" Apa kau sudah ada tanda tanda hamil sayang." Ulang mama Ratih dengan lebih memperjelas pertanyaan nya.


"Uhuk uhuk.." Kirana terbatuk ketika mendengar pertanyaan mam Ratih.


Mama Ratih menepuk punggung Kirana dan memberikan minum." Mama kenapa tiba tiba menanyakan hal itu." Ujar nya setelah selesai meneguk minuman.


"Mama sudah tidak sabar lagi untuk menggendong cucu nak, Mam harap kamu dan Tama tidak menunda soal itu."


"Iya ma, Kirana dan Tam tidak menunda nya kok, hanya saja bagi Kirana itu masih terlalu cepat."


"Hhmm yasudah kalau begitu." Mama Ratih menunjukkan wajah yang sedikit kecewa.


Kirana tidak enak hati melihat hal itu. Ia mengalihkan pembicaraan nya mengenai hal yang lain.


....

__ADS_1


__ADS_2