Menikahi Pewaris Tunggal

Menikahi Pewaris Tunggal
Ziarah


__ADS_3

Esok pagi nya Tama sudah bangun terlebih dahulu. Ia melihat Kirana masih tertidur lelap. Tama dengan lembut nya mengusap pipi Kirana dan membangunkan nya.


"Sayang, ayo bangun."


"Hhmmm." Kirana mengeliat setelah beberapa kali Tama membangunkan nya. Kirana membuka mata nya dan menatap suami nya yang sedang ada dihadapan nya sekarang.


"Kau sudah bangun.?" Tanya nya.


"Aku sudah dari tadi bangun, membangunkanmu susah sekali. " Cemberut Tama pada Kirana.


"Heheh iya maaf, Mimpiku indah sekali hingga aku malas bangun." Jawab Kirana.


"Kau memimpi kan apa memang nya.?"


"Aku bermimpi Nenek sedang membuatkan aku Teh andalan nya yang paling enak buatku. Nenek tampak sehat dan Bahagia sekali di mimpiku." Kirana tersenyum membayangkan mimpi nya semalam.


"Apa hari ini kita jadi pergi ke makam nenek.?" Tanya Kirana.


"Iya jadi, makanya kau sana mandi dulu dan bersiap siap. Apa kau ingin aku yang memandikanmu ?" Goda Tama dengan mata dan senyum jahil nya.


"Tidak usah, aku sendiri saja." Kirana tanpa aba aba langsung berdiri dan menuju kamar mandi. Kirana langsung mengunci pintunya takut nanti Tama masuk lagi seperti kemarin.


Tama hanya tersenyum melihat tingkah Istrinya itu. Tama merasa sangat bahagia saat ini. Ia tidak menyangka bahwa orang yang dulu nya sangat tidak dia harapkan akan membuatnya jatuh cinta begini. "Terimakasih mama kau telah membuat aku menikah dengan Kiran." Gumam Tama dalam hati berterimakasih pada mama nya.


Kirana sudah selesai mandi dan mengganti pakaian nya , Ia menunggu Tama di bawah di meja makana untuk sarapan setelah menyiapkan baju untuk Tama di atas kasur. Tama yang melihat hal itu hanya tersenyum senyum saja. "Setelah beberapa bulan menikah baru kali ini kau menyiapkan baju untukku." Gumam Tama dengan senang nya memakai baju itu.


Mereka semua sarapan pagi bersama di meja makan. Papa Danu sudah berangkat ke kantor pagi pagi sekali, Papa memang jarang terlihat karena terlalu sibuk mengurusi urusan kantor. Tama belum benar benar bisa di andalkan untuk mengurua semuanya, karena dia masih dalam tahap belajar.

__ADS_1


"Ma, mama sudah siap ? Kita berangkat sekarang." Ujar Tama ketika sudah selasai sarapan dan menghabiskan kopi nya.


"Iya sayang, mama sudah siap kok. " Sambil mama Ratih mengambil Tas nya yang di letakkan di atas meja.


Mereka berangkat menggunakan mobil, Tama mengemudikan mobil nya dengan kecepatang sedang, tidak beberapa lama menempuh perjalanan mereka sampai di depan Tempat Pemakaman Umum dimana nenek nya di makam kan.


Kirana terheran ketika melihat ada bunga yang masih segar bertaburan di atas makam nenek. "Siapa yang datang kesini ya.?" Ujar Kirana masih berpikir menebak nebak.


"Mungkin kerabat nenek." Timpal mama Ratih.


"Tidak mungkin ma, di keluarga nenek sudah tidak ada lagi yang tinggal di kota ini, hanya aku dan nenek saja disini. Lagipula kerabat nenek sudah lama tidak berkunjung kesini." Jelas Kirana.


"Yasudah, nanti kita tanya saja pada penjaga makam, " Saut Tama.


Setelah membacakan doa, kirana menabur bunga di atas makam nenek. "Nek, kirana datang bersama mama Ratih dan Tama suami Kirana nek. " Ujar Kirana berbicara seolah olah nenek ada disana mendengarkan nya. "Nenek pasti sudah tahu Tama kan, dulu sebelum Kirana menikah, kirana sudah kesini memberitahu nenek tentang dia, Tapi ada kata kata Kirana yang ingin Kirana ralat nek. Nanti aku sampaikan saja dalam mimpi ya. " Lanjut Kirana.


"Kau tidak boleh tahu, itu rahasiaku dan nenek." Ujar Kirana.


"Huh dasar, awas saja kau membicarakan yang buruk buruk tentangku pada nenek."


Kirana hanya tersenyum menanggapi ucapan Tama, Setelah lumayan lama mereka disana, Mereka keluar dari perkarangan kuburan, di depan Mereka bertemu dengan penjaga kuburan dan Tama pun bertanya perihal yang tadi.


"Bapak yang menjaga di pemakaman ini ?"


"Iya tuan, saya yang menjaga disini, ada apa ya.?" Ujar penjaga makam.


"Bapak tahu siapa yang datang ziarah pada makam yang disana.?" Sambil menunjuk arah makam nenek.

__ADS_1


"Owwh itu, iya saya tau. Katanya dia adalah anak dari mendiang, Umurnya mungkin hampir sama dengan nyonya ini. " Ujar Penjaga makam menunjuk ke arah mama Ratih.


"Anaknya ? apa dia perempuan pak ?" Tanya Kirana Penasaran.


"Iya non, dan dia agak mirip dengan Nona." Lanjut penjaga makam dengan sedikit mengingat ingat wajahnya.


Kirana tertegun mendengarnya, Di dalam mobil ia hanya diam saja menatap kosong keluar jendela mobil.


"Kirana, kau kenapa. ?" Tanya Tama yang sedari tadi memperhatikan.


Kirana tersadar dari lamunannya, "Ahh tidak, aku tidak apa apa." Jawab nya singkat.


Kirana masih berpikir, apa mungkin yang datang itu adalah ibunya. Nenek hanya mempunyai satu orang anak yaitu ibunya Kirana. "Kalu memang benar, berarti ibu ada di kota ini sekarang.? Lalu kenapa dia tidak menemuiku. apa dia begitu sangat membenciku.?" Lirih Kirana dalam hati.


Setelah dari makam, Kirana langsung menuju ke dalam kamar. Tama mengganti pakaian nya dengan pakaian kantor. "Kiran, aku akan ke kantor sekarang, ada hal yang harus aku urus, tadi papa memintaku untuk datang." Ujar Tama ketika sudah siap untuk berangkat.


"Baiklah, kau hati hati. " Jawab nya, Tama mengecup kening Kirana, lalu berangkat ke kantor.


Pikiran Kirana masih tidak karuan saja, ia masih memikirkan keberadaan ibunya. "Ibu, kenapa kau tidak mencariku sama sekali, aku hanya ingin bertemu dengan ibu sekali saja, aku hanya ingin melihat wajahmu sebentar saja. " Kirana mulai meneteskan air mata nya yang sedari ia tahan,


"Kirana tidak membenci ibu sama sekali, Kirana sangat merindukan ibu. "


Kirana menangis tersedu sedu sampai matanya membengkak. Selama ini dia tidak pernah sekalipun melihat wajah sang ibu walaupun hanya dari foto saja. Nenek hanya menggambarkan bahwa ibu sangat mirip dengan dirinya, apalagi matanya.


Kirana pernah bertanya pada nenek kenapa ibunya meninggalkan nya sendirian. Namun nenek hanya menjelaskan bahwa ibunya pergi meninggalkan nya karena dia tidak ingin mengenang masa lalu nya bersama ayah Kirana. Ayah kirana pergi meninggalkan ibu kirana pada saat sedang hamil. Tapi Kirana tidak pernah tahu alasan kedua nya berpisah karena nenek hanya menceritakan soal itu saja.


Kirana juga tidak pernah tahu siapa Ayahnya dan bagaimana rupanya, bahkan dia tidak tahu apakah ayahnya masih hidup atau tidak. Tapi hanya ada satu nama yang masih melekat dalam hati nya, yaitu nama sang ibu. Walaupun Kirana sudah di tinggalkan begitu saja oleh orangtuanya namun dia tidak pernah membencinya, bahkan Kirana selalu menyelipkan doa untuk keduanya agar selalu di lindungi dan diberi kesehatan dan selalu bahagia di hidup mereka.

__ADS_1


....


__ADS_2