Menikahi Pewaris Tunggal

Menikahi Pewaris Tunggal
Bulan Madu 3


__ADS_3

Kirana terkejut karena tiba tiba Tama menarik tangan nya, dan membalikkan tubuh nya mendekap ke badan Tama. Kirana menatap mata Tama dan jantung nya mulai berdegub kencang.


Kirana berusaha melepaskan dekapan tiba tiba Tama namun tidak bisa, Tubuh Tama yang kekar sangat kuat mendekap nya.


"Kau... Kenapa kau tiba...." Belum sempat Kirana melanjutkan bicara nya bibir Tama sudah mulai mencium bibirnya.


Kirana terpaku sementara lalu tersadar dan berusaha melepaskan diri nya namun tidam bisa. Tama berjalan dan mendorong tubuh Kirana ke dinding Kamar tanpa melepaskan ciuman nya.


"Kau, salah sendiri kenapa kau menggoda ku hah ?" Ujar Tama ketika sudah melepaskan ciuman nya.


Kirana terengah engah mulai mengatur nafas nya. " Aku.. ? Kapan aku menggoda mu." Ujar Kirana agak Keras dan masih berusaha melepaskan tangan Tama yang mengunci nya di dinding.


"Lalu, kenapa kau pakai baju seperti ini ?" Ujar Tama dengan melirik dari atas sampai bawah tubuh Kirana.


Kirana menyilangkan tangan nya di dada nya yang sedikit terbuka itu." i..tu, tidak ada lagi pakaian yang lain. Pelayan rumah mu membawakan baju yang seperti ini semua. aku juga tidak mau memakai nya, tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin kan aku tidak memakai baju." Jelas Kirana, jantung nya semakin berdegub kencang dan memalingkan wajah nya yang mulai memerah.


Tama menyeringai tak bersuara dan menatap wajah Kirana lekat lekat. "Lalu kenapa kau mengikat rambut mu seperti ini ?" lanjut nya dengan melirik leher jenjang Kirana yang putih dan mulus.


"Kau sengaja kan ? Kau mau menggoda ku kan ?" Tama tak mengalihkan pandangan nya dari wajah Kirana. dan tangan nya mengelus elus rambut samping telinga nya.


"Tidak.. aku tidak menggodamu." Jawab Kirana yang kini sudah mulai gugup.


"Kau menginginkan aku kan.? Ayo bilang, sebenarnya kau menginginkan aku kan.?" Bisik Tama di telinga nya.

__ADS_1


Kirana menelan ludah nya. Jantung nya berdegub kencang dan ia agak sulit bernafas karena Tama semakin mendekatkan tubuhnya. Peluh pun sudah mulai membasahi dahi nya karena gugub.


Tama kembali mencium bibir Kirana, dan memegang pinggang nya agar lebih mendekatkan tubuh Kirana. Tama melanjutkan ciuman nya ke leher dan Kirana sedikit demi sedikit mulai terengah engah dan sulit mengatur nafas nya.


Tubuh Tama mulai semakin panas dan berkeringat. Mungkin karena pengaruh minuman nya tadi, Tama menjadi lebih bergairah. Ditambah dengan melihat penampilan Kirana malam ini.


Kirana yang sudah mulai pasrah dan ikut hanyut dalam permainan Tama. Tama menarik tubuh nya ke atas kasur dan menindih nya. Malam ini benar benar menjadi Malam pertama dan Bulan Madu bagi mereka. Kirana mulai menikmati segala sentuhan yang diberikan oleh Tama.


***


Pagi pagi sekali Kirana terbangun dan melihat tubuh nya sudah tidak berpakaian lagi di balik selimut. Kirana semakin kaget melihat Tama yang tertidur pulas di samping nya dengan melingkarkan tangan di tubuh nya.


Kirana memaki dirinya sendiri mengingat kejadian semalam. "Bodoh sekali kau Kirana, Sekarang kau sudah benar benar kehilangan harga dirimu." Maki Kirana dalam hati kepada dirinya sendiri, Ia memukul kepala nya sendiri dan mngacak acak rambut nya.


Kirana masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci dirinya dari dalam. Ia tak henti henti nya memaki dirinya sendiri dan menghentak hentak kan kaki nya. Ia menyalakan Shower dan mandi di bawah nya. Kirana benar benar merasa sudah kotor, merasa sudah hina sekali. Hal yang ia pertahankan selama ini sudah di renggut oleh Tama yang tak lain adalah suami nya sendiri.


Tama yang sudah mulai terbangun membuka matanya, ia melihat kesamping sudah tidak ada Kirana. "Apa yang sudah aku lakukan !" Gumam Tama dalam hati dan mengacak acak rambut nya sendiri.


Tama sendiri juga sepenuh nya tidak sadar atas apa yang di lakukan nya semalam, ia terpengaruh minuman. Dan Tama mengingat ingat kejadian semalam dan semakin membuat nya gusar. Tama menarik selimut dari tubuh nya dan mengambil pakaian nya.


Tama menoleh ke arah seprai dan melihat ada bercak darah di sana. "Ternyata kau baru pertama kali melakukan nya ya. " Gumam nya dalam hati. Tama merasa sedikit sesal dan bersalah di hati nya. Ia keluar dari kamar dan menuju kamar yang lain nya untuk membersihkan badan nya disana. Karena ia tahu bahwa Kirana sedang mandi di dalam kamar mereka.


***

__ADS_1


Sarapan Pagi menjadi sangat canggung, mereka tidak bicara sedikit pun. Memang selama ini pun mereka jarang bicara, tapi kali ini berbeda. Kemarin yang mungkin saling cuek, kini terasa sangat canggung dan saling membuang muka ketika mata mereka bertemu pandang.


Seusai Sarapan, Kirana lebih memilih berjalan jalan di pinggir pantai. Ia meminta seorang pelayan wanita untuk menemani nya berjalan jalan dan berkeliling. Kirana ingin melupakan sejenak kejadian semalam dan tentu saja juga untuk menghindari bertemu Tama.


"Bibi, Kenapa di pulau ini sepi sekali bi. Tidak ada pengunjung lain yang datang kesini.?" Tanya Kirana ketika berjalan di pinggir pantai dan memerhatikan sekeliling.


"Iya Non, disini memang tidak ada pengunjung lain. Karena ini kan pulau pribadi milik Keluarga besar Tuan muda non." Jelas Pelayan itu.


"aahh begitu." Saut kirana mengangguk angguk kan kepala nya.


Ia berbincang panjang lebar dengan pelayan itu. Ia bertanya banyak tentang keluarga, anak, dan kehidupan si pelayan. Dan pelayan pun tidak sungkan untuk menceritakan nya.


Sedangkan Tama lebih memilih berenang di kolam renang di Villa. Ia pun berusaha untuk melupakan kejadin semalam. Namun masih saja terbayang bayang.


Malam Hari nya Mereka memilih untuk tidak tidur sekamar, kedua nya benar benar merasa canggung dan saling menghindari untuk tidak berpapasan.


Lima Hari mereka lalui di pulau itu untuk berbulan madu, dan saat nya mereka untuk pulang kembali ke rumah. Diperjalanan pun mereka memilih tidak saling berpandangan dan bicara sepatah katapun.


Di dalam pesawat Tama mulai membuka pembicaraan nya. "Maaf soal malam itu."


Kirana menoleh nya seketika lalu menalingkan wajah nya kembali, ia tidak menjawab. Namun airmata telah begenang di pelupuknya.


Tama pun juga menjadi salah tingkah, dan merasa bersalah terhadap Kirana. Padahal sebetul nya itu bukan suatu kesalahan, toh mereka sudah sah menjadi suami istri. Mungkin hanya tidak kesiapan batin masing masing.

__ADS_1


...


__ADS_2