Menikahi Pewaris Tunggal

Menikahi Pewaris Tunggal
Sarah II


__ADS_3

Sarah sudah bersiap siap untuk berangkat ke kota, dengan tas yang sedikit besar muat untuk baju nya beberapa hari untuk menginap disana.


Sarah berangkat menggunakan kereta. Pagi ini tidak terlalu ramai orang menunggu ke kereta di stasiun itu. Mungkin memang hari ini adalah Akhir Pekan, yang biasa nya orang berdesak desak kan untuk berangkat kerja. Sarah duduk di pinggir kaca, menatap jauh keluar jendela. Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, Sarah pun sampai di kota tujuan nya dan bergegas turun.


Sarah sudah memberitahu Suchi saat tadi hendak berangkat. Seseorang melambaikan tangan nya ke arah Sarah.


"Kenapa menjemputku, kan sudah kubilang tadi tidak usah repot repot." Ujar Sarah.


"Sudahlah jangan banyak protes, aku sudah sangat rindu sekali padamu." Saut Suchi sambil mengambil Tas kain yang ada di tangan Sarah dan menggandeng Sarah menuju mobil di parkiran.


Suchi berbincang panjang lebar di perjalanan. Sarah hanya mendengar dan merespon nya sesekali.


"Tapi Sar, kamu baik baik saja kan?". Suchi memperhatikan wajah Sarah yang agak pucat.


"Ahh, aku hanya tidak enak badan sedikit kok. "


"Benarkah?". Suchi berusaha meyakinkan lagi.


"Iya, kau jangan berlebihan."


"Syukurlah kalau begitu".


"Suchi, bisakah kita mampir dulu sebentar ke Mall. Aku ingin membelikan sesuatu untuk Kirana sebagai ucapan selamat pernikahan nya." Ujar Sarah antusias, berbeda sekali dengan tadi yang wajah nya lesu menjadi ceria saat mengingat Kirana.


"Ahh tentu saja, apa kamu sudah menemui nya?". Tanya Suchi.


"Belum."


"Lalu ? Bagaimana cara kau memberikan kado itu ?".


"Hhmm aku belum tahu bagaimana cara nya, mungkin nanti aku titip kan saja di depan toko nya. "


"Sarah, apa tidak sebaik nya kamu bertemu langsung saja dengan nya, lalu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku yakin Kirana adalah anak yang baik, dia akan memaafkanmy dan menerima mu kembali. Lagipula sampai kapan kamu akan bersembunyi begini darinya." Suchi yang sedang mengemudikan mobil, melaju pelan. Dan berusaha untuk menasihati Sarah sahabatnya itu.


"Entahlah, tidak mungkin rasanya jika tiba tiba aku datang di kehidupan nya yang sudah bahagia sekarang. Aku tidak mau membuat nya bersedih dan terbebani hanya karena diriku yang tal berguna ini. Lagipula aku tidak pantas berada di sisi Kirana. Aku gagal menjadi ibu baginya. " Suara Sarah bergetar menahan sesak di dada nya.


"Sarah, bagaimana pun buruk nya seorang ibu, tapi ibu tetap lah ibu. Tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Aku yakin Kirana pasti sangat merindukan dan membutuhkan mu. "


Sarah hanya menunduk dan meneteskan airmata, ia tak tau harus berkata apa lagi. Semua yang di katakan Suchi memang benar. Namun Sarah pun tidak tahu harus memulai darimana untuk memperbaiki hubungan nya dengan anaknya.

__ADS_1


***


Mobil pun berhenti di sebuah Mall besar di kota itu, Mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke Lobby utama Mall.


"Menurutmu, apa yang bagus untuk kuberikan pada Kirana ya." Sarah bertanya dengan wajah yang berseri dan antusias.


"Hhmm, aku tidak tahu. Terserah saja, apa pun itu pasti Kirana sangat menyukai nya."


Mereka berdua masuk ke dalam sebuah Toko perhiasan yang ada disana. Setelah beberapa lama melihat Sarah memutuskan untuk membelikan sebuah kalung dengan liontin berbentuk KupuKupu berukuran kecil. Sangat cantik bila dipakai Kirana begitulah yang dibayangkan Sarah.


"Apa masih ada yang mau kau beli lagi ?". Ujar Suchi saat mereka selesai melakukan pembayaran di kasir.


"Hhm tidak, sudah ini saja."


"Kalau begitu, mumpung kita disini ayo kita Shopping dulu. heheheh." Suchi menarik tangan Sarah menuju ke subuah toko pakaian ternama.


Sarah hanya tersenyum senyum melihat antusias sahabatnya itu, dan mengikut saja saat Suchi menarik nya ke dalam sebuah toko.


"Sarah, coba kau pakai ini. " Suchi sudah memegang sebuah gaun dan menyuruh Sarah mencoba nya.


"Ahh, kenapa aku. Kamu saja, aku tidak berniat untuk beli baju."


Sampai di depan ruang ganti, Sarah melihat seorang pria tinggi dan gagah berdiri di depan salah satu bilik ganti nya. Dan pria itu pun juga tak sengaja melihat hingga pandangan mereka bertemu.


"Bu Sarah ! ". Ujar Tama dan mendekat ke arah Ibu Sarah.


"Hah iya, Nak Tama".


"Wahh, kebetulan sekali kita bertemu disini. Ibu sedang apa datang ke kota ? tumben sekali." Ujar Tama tersenyum manis dan ramah.


"Ahh itu ibu hanya ada keperluan sedikit."


Dari bilik ruangan di depan Tama, seorang perempuan keluar dan itu adalah Kirana.


"Ahh, sayang bagaimana dengan ini." Sungut nya dengan wajah yang sedikit manyun karena sedari tadi sudah lelah bergonta ganti pakaian. Tentu saja itu atas suruhan Tama.


"Hhmm.." Tama memperhatikan Kirana dari atas sampai bawah seperti sedang berpikir.


"Sudah lah, aku sudah lelah dari tadi mencoba ini itu..... eh, ibu." Seketika Kirana memalingkan wajah nya dan mendapati Bu Sarah berdiri di samping suami nya. dan menundukkan kepala nya.

__ADS_1


Hati Sarah berdegub kencang saat Kirana memanggil nya dengan kata "Ibu", ia merasa sangat bahagia dan matanya berkaca kaca.


"I...ya, nak Kirana." Saut nya dengan terbata bata.


Kirana tersenyum ramah kepada nya.


Tiba tiba dari arah luar Suchi datang untuk menghampiri Sarah


"Sarah, apa kamu sudah....." Belum selesai ia bicara, ia melihat Sarah masih berdiri di luar dan juga melihat Kirana ada disana.


"Ahh, aku belum mencoba, baiklah aku coba dulu." Saut Sarah berusaha menghindar dari Kirana dan Tama dan masuk ke dalam ruang ganti.


Di luar,


"Ahh, Hallo Kirana." Sapa Suchi tersenyum menyapa kedua nya.


"Loh, tante kenal dengan saya. ?" Kirana merasa heran karena dia tidak mengenali sama sekali Suchi.


"Ahh.. anu..." Suchi gelagapan bingung menjawab nya. Karena memang ia tak mengenal langsung Kirana. Belum sempat Suchi menjawab Sarah keluar dari ruang ganti dan meminta pendapat teman nya otu tentang baju yang ia kenakan.


"Suchi bagaimana bagus kah ?"


Seperti mendapat pertolongan, Suchi pun beralih pada Sarah dan menghindar dari pertanyaan Kirana.


"Hhmm seperti nya kurang bagus, ayo kita cari lagi yang lain." Ujar Suchi lalu menarik tangan Sarah.


"Aaa tunggu dulu, aku ganti lagi dengan baju ku dulu." Ujar Sarah.


Tama dan Kirana hanya memperhatikan kedua orang itu saja. "Hmm Bu Sarah, nanti kita bertemu lagi ya, mumpung ibu disini. Tama akan hubungi ibu lagi nanti." Ujar Tama.


"Aaa itu, bukan nya ibu tidak mau. Tapi ibu cuma sebentar disini." Saut nya berusah menolak.


"Pokok nya aku tidak mau tahu, nanti aku akan hubungi ibu lagi. Kalau begitu saya dan istri saya pamit duluan. Sampai jumpa nanti." Tama pamit dan Kirana pun juga ikut pamit pada keduanya.


Setelah keduanya pergi, Suchi mendekat pada Sarah. "Sarah, kau jangan keras kepala lagi. Tuhan saja sudah memberi tanda untuk menyatukan mu kembali dengan anakmu. ditambah lagi yang menjadi suami Kirana adalah orang yang kamu kenal dengan baik juga. Lalu alasan apalagi yang lau tunggu ?" Celoteh suchi pada Sarah.


Sarah hanya murung dan mendengarkan nya saja.


.....

__ADS_1


__ADS_2