
Kirana dan nenek tinggal di lantai atas sebuah bangunan. dan lantai bawah di jadikan toko bunga yang mereka kelola.
sejak Kirana sampai di rumah tadi tiba tiba gerimis datang dan setelah itu hujan tidak henti henti nya turun kebumi sampai sekarang.
Terlihat wajah murung gadis manis itu dengan mata sayu menatap keluar jendela. Entah apa yang sedang Kirana pikirkan saat itu.
tiba tiba dari luar kamar terdengar Nenek mengetuk pintu "tok tok tok,"
"sayang apa kau sudah tidur" terdengar suara nenek sayup sayup di iringi suara gemercik air hujan.
Kirana terbangun dari lamunan nya segera melangkah kan kaki nya ke depan pintu dan membukanya.
"belum nek, nenek kenapa belum tidur juga?" jawab kirana, dan menanyakan hal sama kepada nenek nya.
" nenek belum mengantuk sayang" nenek berjalan masuk ke dalam kamar kirana, dan duduk di atas ranjang milik Kirana.
"kenapa, apa nenek sakit?" tanya kirana khawatir sambil menggenggam tangan keriput nenek nya, dan mendudukan diri di samping nenek.
"Tidak sayang, nenek baik baik saja". jawab nenek menenangkan.
"sayang ada yang ingin nenek bicarakan dengan mu nak" nenek berbicara lirih seolah ada yang sedang ia tahan di dalam hatinya.
"ada apa nek? bicaralah, aku mendengarkan" jawab kiran tenang dan mendengar ucapan nenek dengan seksama.
" Nak tadi nenek baru saja mendapatkan surat dari ibumu nak" Nenek bicara menatap mata kirana baik baik.
__ADS_1
" Apa? apa nenek tidak bercanda" pekik kirana tiba tiba setelah mendengar penuturan nenek, ia sangat senang hingga mata nya berkaca kaca.
"Apa ibu baik baik saja nek? apa ibu menanyakan tentang aku nek? Apa dia memberi tahu dia dimana sekarang? " Kirana menodong nenek dengan pertanyaan pertanyaan nya, tampak jelas sekali dia begitu penasaran nya apa isi surat tersebut.
Dengan hati hati nenek bicara perlahan "tidak nak, dia sama sekali tidak menanyakan kabarmu ataupun aku" nenek terlihat sendu menuturkan kata katanya kepada kirana.
" Ibumu hanya memberi tahu bahwa dia segera menikah, dan dia meminta uang untuk biaya pernikahan nya" jelas nenek kepada kirana dengan mimik muka yang sangat kecewa.
setelah mendengar kata kata nenek seketika Kirana memalingkan wajah nya dengan air yang berlinang di pelupuk matanya.
"sungguh ibu sangat tidak menyayangiku sama sekali" lirih kirana getir ketika air mata nya hatuh mengaliri pipi nya itu.
"sayang, jangan menangis nak, nenek juga sangat kecewa sekali kepada ibumu" tutur nenek mengusap airmata kirana.
sungguh sebenarnya nenek tidak ingin membuat cucunya itu bersedih. Di lubuk hati nya nenek juga merasakan hal sama dengan Kirana.
"Apa? kamu yakin nak, bukan kah uang itu kamu kumpulkan untuk biaya kamu masuk kuliah nak" nenek terlihat terkejut mendengar penuturan kirana.
" Iya nek, asal itu membuat ibu bahagia, aku rela memberikan apa yang aku bisa untuk ibu nek" jawab kirana berusaha meyakinkan nenek.
"sungguh mulia sekali hatimu nak, setelah apa yang terjadi dalam hidupmu, namun kau selalu sabar dan menerima kenyataan pahit dalam hidup mu" gumam nenek dalam hati seraya mengusap rambut panjang Kirana.
"Nak coba kau pikirkan lagi baik baik nak" Ujar nenek.
"Tidak nek, aku sudah memikirkan nya, lagipula kita bisa menabung lagi untuk kuliahku" Kirana menyiratkan senyuman nya agar nenek tidak khawatir.
__ADS_1
" Baiklah nak jika itu maumu, besok nenek akan ke bank untuk mengirimkan nya" jawab nenek mengalah kepada kirana.
" apa ibu tidak mengundang kita ke pernikahan nya nek?" kirana bertanya dengan masih menyisip kan sedikit harapan.
"Tidak nak, bahkan ibumu berpesan agar tidak usah mencari tau keberadaan nya" jawab nenek lirih.
"Baiklah nek jika itu mau ibu". kirana menundukkan kepala nya.
***
Setelah nenek keluar dari kamarnya, Kirana kembali hanyut dalam lamunan nya. Dan tanpa ia sadari kembali air jatuh dari pelupuk matanya.
Dalam hatinya, ia terasa sesak. Kenapa ibu sangat membenci nya, apa salah nya? Kirana bertanya kepada dirinya sendiri.
Walaupun begitu tapi Kirana tetap menyayangi ibu yang tidak pernah ia tahu Rupa nya seperti apa.
Bagi nya Ibu adalah perempuan yang telah melahirkan nya ke dunia, yang telah memberi kehidupan baginya. Tanpa ibu dia tidak mungkin bisa bernafas hingga saat ini.
Terimakasih Ibu telah melahirkan ku, dan membiarkan aku mengenal dunia ini. Walau kau tak memberi kesempatan untuk ku mengenal dirimu. Bahkan untuk kau marahi saat aku nakal.
Ibu semoga kau bahagia disana, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Akan aku lakukan apa yang aku bisa untuk membantu mu. Mungkin hanya dengan cara itulah aku bisa menunjukkan rasa sayangku kepadamu. Tidak sedikit pun aku membencimu Ibu.
Begitulah pikiran Kirana malam itu saat memikirkan ibu nya hingga ia terlelap dengan mata yang sembab.
Sungguh Kirana mengalami hidup yang pahit selama hidupnya, untung selalu ada Rendy dan Nenek yang salalu menyayanginya dan melindunginya.
__ADS_1
Mungkin jika tanpa mereka, entah apa yang akan terjadi dalam hidup Kirana yang malang itu.
....