
Beberapa Minggu kemudian.
Terlihat seorang pria tinggi besar sedang berbicara dengan om Farhan. Pria itu terlihat memberikan sebuah amplop kuning. Lalu pergi setelah nya.
Om Farhan masuk ke dalam mobil lalu menyuruh sopir untuk menjalan kan mobil nya. Di dalam mobil om Farhan membuka amplop kuning itu dan melihat isinya dan mengeluarkan nya.
"Akhirnya, setelah sekian lama. " Om Farhan tersenyum melihat sebuah foto yang ada di dalam amplop tadi.
"Pak San, Kita ke RSJ ya." Perintah om Farhan pada sopir nya.
"Baik pak."
Om Farhan terlihat sangat bahagia sekali, sesekali ia terlihat tersenyum.
Setelah menempuh perjalanan yg cukup jauh. Akhirnya om Farhan sampai di sebuah gedung dan memakirkan mobil nya di parkiran. Om Farhan turun darisana, dan masuk ke dalam rumah sakit.
Disebuah kamar terlihat seorang Pria paruh baya sedang duduk di atas ranjang nya.
"Kak, bagaimana kabarmu ? ". Om Farhan duduk di samping ranjang dan menggenggam tangan pria itu dengan lembut.
Namun tidak ada jawaban dari pria itu, dia hanya menatap om Farhan dengan mata yang sayu. Badan nya terlihat kurus, dan sedikit berantakan. Walaupun banyak suster pengurus disana namun tetap saja penampilan memang layak nya orang yang kehilangan akal. Dia adalah Reihan Dewa Brata yang tak lain adalah kakak nya om Farhan.
"Kak, kakak harus segera sembuh. Dan harus banyak makan dan minum obat. Aku dengar dari suster katanya kakak masih sering mengamuk dan tidak mau makan dan minum obat." Om Farhan menatap kakak nya dengan penuh rasa iba dan kasihan.
" Kak, akhirnya setelah sekian lama. Aku berhasil menemukan keberadaan kak Sarah." Ujar om Farhan dengan mata yang berbinar binar.
Mendengar nama Sarah, Dewa langsung menatap om Farhan dengan penuh arti dan berlinang air mata.
__ADS_1
"Sarah ? Sarah ? Saraaaahhhh..! ". Teriak nya histeris.
"Kak, kak tenanglah dulu. Tenanglah !". Farhan berusaha menenangkan kakak nya yang tiba tiba saja histeris.
Mendengar keributan dari dalam kamar, dokter dan suster pun datang untuk membantu menenangkan Dewa. Dengan terpaksa mereka menyuntikkan obat penenang kepadanya, karena keadaan yang semakin tidak kondusif.
Dokter memberitahukan pada om Farhan, agar tidak berbicara tentang hal yang sangat sensitif untuk kakak nya. Karena akan bisa membuat ia melukai dirinya sendiri jika hal itu terjadi. Om Farhan hanya mengiyakan, daj kembali meminta izin untuk berbicara kepada kakak nya sebentar lagi.
Setelah dokter keluar, keadaan Dewa sudah kembali kondusif dan mulai tenang. Dengan perlahan om Farhan berbicara.
"Kak, aku mohon kepadamu. Minum obatmu dan ikuti perkataan dokter, jika tidak sampai kapan kakak akan begini. Aku janji kak, aku janji akan mempertemukan mu kembali dengan kak Sarah dan anakmu. Tapi tidak dengan keadaan kakak yang seperti ini. Jadi aku mohon sekali lagi, berusaha lah untuk sembuh." Om Farhan berbicara dengan nada yang sangat getir, airmata mulai berlinang di pelupuk matanya.
Setelah itu, om Farhan keluar dari ruangan. Di sana terlihat Dewa meneteskan airmata nya. Raut wajah terlihat sangat sendu sekali, sudah bertahun tahun dia seperti ini. Terkurung di dalam ruangan, dan kadang pun ia sering di ikat tangan nya oleh dokter jika tiba tiba ia mengamuk dan hilang kendali.
***
"Pak san, Kita pergi ke tempat ini." Perintah om Farhan pada sopir nya sambil memberikan sebuah alamat.
"Baik pak, tapi tempat ini lumayan jauh pak dari sini. Bisa memakan waktu 2 jam. Apa bapak tidak lelah ?". Ujar sang sopir meyakinkan tuan nya sekali lagi.
" Tidak apa apa, seberapa pun jauh nya pasti akan ku tempuh. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan lagi." Jawab om Farhan.
Perjalanan nya memang cukup jauh, namun itu tak menjadi masalah bagi om Farhan. Karena ada hal yang lebih penting dari itu. Ia tidak mau kehilangan kesempatan lagi. Mobil nya berhenti di sebuah warung pinggir jalan, di pinggiran kota. Setelah di bukakan pintu mobil, om Farhan turun dan melihat ke sekeliling lingkungan.
Hari memang sudah sore sekitar jam 5 an, cuaca disana lumayan bagus. Hingga bisa di lihat matahari yang mulai turun di antara pohon pohon. om Farhan melangkah kan kaki nya masuk ke dalam warung itu. Seorang perempuan paruh baya menyambut nya dengan hangat.
Om Farhan menatap lekat ke arah nya, dengan mata yang berbinar dan terharu.
__ADS_1
"Silahkan tuan, mau pesan apa. Seperti nya tuan datang dari kota ya ?". Tanya bu Sarah dengan ramah.
Om farhan tak langsung menjawab nya, ia terdiam sesaat. " Ahh iya. Boleh saya pesan menu andalan disini." Saut om Farhan.
Bu Sarah mengiyakan lalu menyiapkannya, dan meletakkan nya di atas meja dimana om Farhan duduk. " Silahkan tuan, diminum dulu." Bu sarah hendak beranjak dari sana namun om Farhan menghentikan nya.
"Maaf bu, apa boleh kita mengobrol sebentar." Ujar om Farhan.
Dengan wajah yang keheranan, bu Sarah mengiyakan nya saja. Dan ikut duduk di hadapan om Farhan. " Ada apa ya tuan ? Apa tuan mengenal saya ?". Tanya nya penasaran.
Om Farhan mengangguk kan kepalanya. Membuat Bu Sarah semakin bingung. " Apa kita pernah bertemu eebelum nya ?".
" Tidak, kita tidak pernah bertemu sebelum nya. Namun saya mengenal kak Sarah." Ujar om Farhan dengan perlahan.
" Apa ? Kenal saya darimana, lalu kenapa tuan memanggil saya dengan panggilan "kak" ?". Bu Sarah sangat kebingungan sekali mendengar penuturan om Farhan.
" Ahh maafkan saya kak membuat kakak bingung, perkenalkan saya Farhan Aditya Brata. Saya adik nya kak Dewa kak, Kak Sarah sudah lama sekali aku mencari kak Sarah. Namun hari ini akhirnya aku menemukan kakak." Om Farhan mulai menjelaskan nya.
Bak di sambar petir, Bu Sarah sangat terkejut mendengar hal itu. Seketika ia terdiam, dan tanpa sadar airmata mulai mengalir di pipi nya. Seakan penuturan pria itu membawa nya kembali pada masa lalu, Saat mendengar nama Dewa.
"Mau apa kamu kesini ! Jangan ganggu hidup ku lagi, aku sudah tidak mau berurusan lagi dengan keluarga Brata yang terhormat itu." Teriak Bu Sarah yang sudah mulai kehilangan kestabilan nya. Ia meledak ketika mendengar nama keluarga Brata.
"Kak Sarah, dengarkan aku dulu kak. Aku mengerti jika kakak begitu membenci keluarga ku. Tapi aku mohon untuk mendengarkan semua penjelasanku dulu. Kak Dewa tidak pernah benar benar meninggalkan kak Sarah dan bayi kalian. Ia sangat terpaksa dan tertekan saat tau bahwa kalian mendengar kalian meningggal dalam kecelakaan kebakaran." Jelas om Farhan menjelaskan.
"Apa ? kau jangan mengada ngada, kecelakaan apa maksudmu. Aku tidak pernah mengalami kecelakaan." Ujar Bu Sarah dengan penuh emosi.
.....
__ADS_1